Yvonne Ridley (2): Dipenjarakan

in Mualaf

“Dalam kegelapan malam di penjara itu, pria Taliban itu menghampiri Ridley, dan Ridley hanya bisa menangis dan terdiam.”

–O–

Photo: Javed Khan

Menteri informasi Taliban mengatakan bahwa Yvonne Ridley, yang ditangkap setelah memasuki Afghanistan secara ilegal dan menyamar, telah melakukan kejahatan serius dan bahkan mungkin Ridley adalah anggota unit pasukan khusus yang hendak menginfiltrasi Taliban. “Tentu saja kejahatannya tingkat tinggi. Bagaimana bisa dia tiba di sini dengan situasi tanpa membawa dokumen apapun meskipun ada larangan terhadap wartawan asing di Afghanistan?” kata Qudratullah Jamal, menteri informasi Taliban.[1]

Tensi di antara Taliban dan AS pada saat itu memang sedang meninggi, situasi ketika Ridley ditangkap adalah beberapa hari menjelang pecahnya perang. “Dia pasti memiliki niat buruk, sementara Amerika dan Inggris berbicara tentang memiliki pasukan khusus mereka di Afghanistan. Dia bisa menjadi salah satu kekuatan khusus tersebut,” kata Jamal menambahkan.[2]

Hari pertama setelah tertangkap, Ridley dikurung di kantor pusat intelijen Afghanistan, direktur intelijen menemuinya, “seorang pria yang dingin dan perlente, yang wajahnya tidak menunjukkan emosi apa pun. Matanya dingin dan imajinasiku mulai kacau. Saya bertanya-tanya apakah dia melakukan penyiksaan sendiri atau salah satu dari mereka (tentara) yang pertama akan melakukannya,” kata Ridley di dalam hati.[3]

Pria itu meminta Ridley menuliskan informasi tentang biodata diri Ridley, dan Ridley mengatakan kepadanya bahwa dia adalah seorang jurnalis dari Inggris. Pria itu tetap tidak menunjukkan ekspresi apapun. “Saya punya perasaan, jika saya mengatakan bahwa saya adalah utusan yang dikirim oleh Ratu Inggris, dia masih tetap akan bertahan dengan wajah tanpa ekspresi,” Ridley mengisahkan.[4]

Ridley sebelum berangkat ke Afghanistan sudah mempelajari banyak hal tentang negara ini, termasuk sepak terjang dari Taliban. Dia juga membaca dan menonton banyak hal tentang kekejaman Taliban, bahkan terhadap rakyatnya sendiri. Ketika tertangkap, pikirannya dipenuhi dengan bayangan-bayangan kengerian yang akan menimpa dirinya. Mengingat dirinya seorang perempuan, bahkan dia terpikir bahwa dia akan diperkosa ramai-ramai.[5]

Setelah sang direktur pergi, sipir penjara yang bernama Abdullah Mounir memberi Ridley makan. Meskipun Ridley kelaparan, namun dia menolak untuk makan dan malah meminta menggunakan telepon. Ridley menyampaikannya dengan bahasa isyarat, karena Abdullah tidak mengerti bahasa Inggris. Abdullah tidak mengindahkan permintaan itu.[6]

Sang Direktur, yang mengerti sedikit bahasa Inggris, kembali dan bertanya mengapa Ridley tidak makan. Kali ini, dia datang bersama dengan tiga orang Taliban lainnya dan seorang pemuda bernama Hamid, yang menjadi penerjemah. Ridley berkata, dengan tangan terlipat, “Saya tidak akan makan apapun sampai saya bisa berbicara dengan ibu saya dan saya pasti tidak bisa makan makanan Anda sebagai tahanan. Saya akan makan dengan Taliban hanya apabila dianggap sebagai tamu mereka.”[7]

Mendengar Ridley berkata seperti itu mereka hanya menatapnya. Di dalam hati Ridley sendiri tidak mengerti kenapa dia berkata seperti itu, padahal dia dalam posisi terjepit. “Ridley, dari mana asalnya omong kosong kesombongan itu?” kata Ridley kepada dirinya sendiri sembari menyesal. Untungnya mereka tidak berbuat apapun, mereka segera pergi, meninggalkan Ridley sendirian, tanpa telepon yang dimintanya, dan juga tanpa makanan.[8]

Sampai malam, Ridley tidak ditemui oleh siapapun lagi. Dia mencoba untuk tertidur meskipun tidak nyenyak. Menjelang subuh, dalam sebuah kegelapan di ruangan itu Ridley mendengar pintu dibuka. Seketika itu juga bulu kuduknya merinding. Dalam posisi meringkuk seperti bayi, Ridley tidak bergerak, dia menyipitkan matanya untuk melihat, sambil pura-pura terus tertidur, dia melihat bayangan seorang pria di depan pintu.[9]

Pintu kemudian ditutup dan semuanya menjadi gelap gulita. Hening. Ridley hampir saja berteriak ketika tahu bahwa sebenarnya pria itu masih ada di ruangan itu, namun dia berhasil mengendalikan diri, dia tutup rapat-rapat mulutnya.[10]

Pria itu kemudian berlutut dan memperhatikan Ridley, dia menyangka bahwa Ridley sedang tertidur. Ridley terus menutup matanya dan merasakan kehadirannya di sana cukup lama. Pria itu kemudian berbaring di matras di samping Ridley, dia mengguncang tubuh Ridley dengan pelan. Ridley segera duduk dan menatapnya, air mata tidak terbendung mengalir di pipi Ridley.[11]

Meski mata Ridley sudah terbiasa dengan kegelapan, namun dia hanya bisa melihat sosok pria tersebut dalam bayangan, pria itu adalah salah seorang Taliban. Tapi tampaknya pria itu bisa melihat Ridley dengan bantuan cahaya bulan dari jendela. Kemudian pria itu tiba-tiba mengangkat lengannya dan Ridley tersentak ketakutan. Ridley hanya bisa berdoa, “Tuhan mohon, jangan….”[12] (PH)

Bersambung ke:

Yvonne Ridley (3): Interogasi

Sebelumnya:

Yvonne Ridley (1): Jurnalis Inggris yang Masuk Islam

Catatan Kaki:

[1] Jessica Hodgson, “Ridley ‘committed serious crime’, say Taliban”, dari laman https://www.theguardian.com/media/2001/oct/03/pressandpublishing.afghanistan, diakses 18 Maret 2018.

[2] Ibid.

[3] Yvonne Ridley, In the Hands of the Taliban: Her Extraordinary Story, (Robson Books: 2001), hlm 111.

[4] Ibid.

[5] Ibid., hlm 105, 111.

[6] Ibid., hlm 112.

[7] Ibid.

[8] Ibid., hlm 113.

[9] Ibid.

[10] Ibid.

[11] Ibid.

[12] Ibid.

Leave a Reply

Your email address will not be published.

*