Yvonne Ridley (6): Pulang

in Mualaf

“Ridley melakukan perjalanan dari Jalalabad menuju Kabul. Dia sangat senang karena akan segera pulang. ‘Ibu, saya akan pulang,’ katanya. Namun kenyataannya tidak seindah yang diduga.”

–O–

Feature Image by Barnellbe

Ridley sangat gembira karena akan segera pulang, dia berkata kepada dirinya sendiri, “Ibu, saya akan pulang.”

Perjalanan ke Kabul sangat melelahkan karena memakan waktu lebih dari enam jam. Di perjalanan Ridley melihat dataran hijau yang indah, sungai-sungai dan danau, pemandangan yang megah, gunung-gunung yang menjulang tinggi, dan ribuan gua yang menjadi tempat persembunyian. Bagi Ridley, ancaman Presiden Amerika Serikat pada waktu itu, G.W. Bush, untuk membumi hanguskan Taliban sangat tidak realistis.

Lewat dari pemandangan yang indah, pemandangan berubah menjadi tanah gersang yang tandus, di sana hanya ada bebatuan dan tanah yang kering. Bagi Ridley tempat itu seperti tempat terakhir ciptaan Tuhan di muka bumi. Di tengah perjalanan rombongan berhenti beberapa kali, para pria membuang hajatnya dan melaksanakan shalat. Tidak ada seorang pun yang bertanya kepada Ridley apakah dia juga perlu ke toilet, “saya menyadari bahwa wanita di Afghanistan sama sekali tidak dianggap. Saya jelas tidak perlu buang air kecil karena belum ingin,” kata Ridley kepada dirinya sendiri.

Ridley diizinkan untuk merokok, dan meskipun rokok Afghan yang mereka belikan untuknya sangat kuat, Ridley tetap menikmatinya. Seperti kebanyakan pecandu nikotin, saat tidak ada rokok kesukaannya, maka rokok apapun jadi. Ketika perjalanan, supir sempat berhenti dan membeli sebundel tebu yang menyegarkan dan beberapa buah delima.

Mereka melanjutkan perjalanan menuju Kabul, jalan yang mereka tempuh sangat buruk, batu-batuan dan lubang di mana-mana. Lubang-lubang yang dilewati di perjalanan sangat dalam karena itu merupakan bekas bom di masa lalu, dan tidak diperbaiki. Anak-anak duduk di tepi jalan yang berdebu dan berusaha menutup lubang-lubang itu dengan tangan kosong dan sekop dengan harapan mendapatkan beberapa uang receh dari orang-orang yang melintas.

Selanjutnya mereka melewati beberapa desa yang rumah-rumahnya tidak ada satupun yang bertingkat, dan dindingnya terbuat dari tempelan batu dan lumpur. Desa-desa lainnya  benar-benar kosong dan tampak setengah dibom, dan sudah ditinggalkan sejak lama. Ridley teringat ucapan salah seorang temannya, “tujuan Taliban adalah untuk menciptakan sebuah negara yang seperti ketika Allah hadir di muka bumi.”

“Hasrat mereka yang brutal dan kejam untuk menciptakan ‘negara Muslim yang sempurna’ tampak seperti kegilaan bagi seseorang seperti saya, yang tumbuh besar dengan televisi, telepon, fasilitas air panas dan dingin, musik, menari, dan menyanyi,” kata Ridley di dalam hati.

Ketika melewati pemandangan yang lebih dramatis, Ridley berpikir bahwa Afghanistan seperti rakyatnya. Afghanistan adalah negara yang kontras,  satu waktu penduduknya sangat baik dan murah hati, tapi menit berikutnya mereka dapat menjadi keras dan brutal.

Akhirnya Ridley dan rombongan tiba di Kabul, hari sudah malam, dan Ridley hampir tidak bisa membedakan apapun di sana karena suasananya gelap. Kabul jauh dari bayangan tentang Ibu Kota yang gemerlapan. Mata Ridley dengan resah mencari-cari di mana bandara Kabul. Tapi truk tersebut bukannya ke bandara, melainkan menuju sebuah gedung yang megah, tampaknya merupakan gedung pemerintahan.

Petugas intelijen kemudian masuk ke dalam. Dia kembali setelah sekitar sepuluh menit dan mengatakan sesuatu kepada supir. Ridley diajak ke dalam dan berjalan sekitar lima menit dan kemudian memasuki sebuah bangunan bertipe benteng yang mirip dengan penjara. Ridley mengalami beberapa pengalaman buruk dengan Taliban, tapi kali ini tampaknya adalah salah satu yang terburuk. Misalnya pun ini adalah sebuah guyonan, namun ini adalah guyonan yang sangat buruk, gedung ini seperti penjara!

Ridley dibawa melewati gerbang tua dan masuk ke sebuah halaman. Hari sudah gelap dan Ridley dibawa ke koridor kumuh yang mengarah ke koridor yang besar—tapi sama suramnya. Di sana ada pintu besi yang kira-kira berukuran 1,5 meter dan seorang pria yang mengenakan serban hitam, semacam petugas pemerintahan. Pria berserban hitam itu kemudian mendorong pintu itu sampai terbuka.

Ridley melihat ke dalam dengan penasaran, di sana dia melihat ada dua wanita Afghan yang duduk bersila di lantai dengan seorang anak yang sedang menangis keras dan tampak kurang gizi. Ridley melihat kembali kepada pria berserban hitam dan perwira intelijen, dan mereka memberi isyarat kepadanya untuk masuk. Ridley sangat kebingungan dengan perintah mereka.

Dengan keras Ridley berkata, “anda pasti bercanda! Saya tidak masuk ke sana. Saya akan pulang dengan pesawat Red Crescent. Saya tidak akan masuk ke sel itu. Saya tidak melakukan kehinaan: Saya seorang jurnalis Inggris dan anda tidak dapat memperlakukan saya seperti ini. Ketika saya sampai di rumah, saya akan menulis tentang kamu—dan kamu!” dia berkata sambil menunjuk mereka satu persatu dengan telunjuknya.

“Saya menuntut untuk ditempatkan di hotel. Koran saya akan membayar untuk itu. Apa kamu pikir saya gila? Anda adalah segerombolan bajingan pembohong! Anda memberitahu saya bahwa saya akan pulang,” Ridley melanjutkan.

“Ini adalah Afghanistan. Anda telah melanggar hukum kami. Anda telah memasuki negara kami secara ilegal. Anda akan tetap di sini,” kata perwira intelijen.

Ridley sangat marah, tapi juga sekaligus sangat ketakutan, dia meraung, “Saya tidak ingin di sini. Apakah kamu mengerti? Saya orang beradab, saya orang Inggris, anda tidak bisa melakukan ini kepada saya.” (PH)

Bersambung….

Sebelumnya:

Yvonne Ridley (5): Ajakan Masuk Islam

Catatan:

Artikel ini merupakan adaptasi dan terjemahan bebas dari buku karya Yvonne Ridley, In the Hands of the Taliban: Her Extraordinary Story, (Robson Books: 2001), hlm 128-132.

 

Leave a Reply

Your email address will not be published.

*