Yvonne Ridley (5): Ajakan Masuk Islam

in Mualaf

Last updated on March 28th, 2018 12:39 pm

“Apakah anda ingin masuk Islam di sini dan sekarang juga?” kata sang ulama. Ridley kebingungan untuk menjawabnya. Ridley masih merasa terancam, apabila menjawab “ya” dia akan dianggap plin-plan, dan apabila menjawab “tidak” dia khawatir akan dieksekusi oleh Taliban.

–O–

Pada tanggal 1 Oktober 2001, Yvonne Ridley kembali diinterogasi, kali ini dia ditanyai oleh dua orang Taliban lainnya yang belum pernah menemui Ridley. Mereka bertanya hal yang sama berulang-ulang, suasananya menegangkan dan Ridley merasa terintimidasi. Hamid menerjemahkan, atas permintaan interogator, untuk kesekian kalinya mereka bertanya alasan Ridley masuk ke Afghanistan, namun kali ini dengan penekanan bahwa Ridley harus mengatakan “alasan yang sebenar-benarnya”.

Saking kesalnya, Ridley mengangkat tangannya ke udara, dan berkata dengan keras, “karena saya ingin bergabung dengan Taliban.” Ridley tidak sungguh-sungguh mengatakan itu, dan sekarang dia merasa bodoh karenanya, bisa-bisa nyawanya terancam karena sembarangan berbicara. Hamid kemudian menerjemahkan dengan gugup ke bahasa Pashto. Mendengar itu, kedua interogator tubuhnya mulai terguncang, bahu mereka naik turun, dan meledaklah tawa mereka. Taliban yang terkenal dengan citra menakutkan ternyata memiliki kepekaan terhadap humor, kata Ridley.

Setelahnya mereka bertanya lagi hal yang sama berulang-ulang, mereka curiga bahwa Ridley adalah agen rahasia. Kesabaran Ridley habis, dia berkata sudah tidak dapat menjawab lagi, bahwa dirinya telah bekerja sama sepenuhnya dengan mereka. Kemudian, Ridley meminta maaf, dia mengatakan bahwa dirinya menyesal telah merepotkan, dan menghabiskan banyak waktu mereka pada saat seharusnya konsentrasi mereka difokuskan kepada hal lain (persiapan perang dengan Amerika Serikat dan sekutu). Setelah diinterogasi mereka berjanji dalam satu atau dua hari Ridley akan diizinkan untuk pulang.

Dua hari kemudian, Abdullah memberikan baju ganti untuk Ridley, Ridley sangat senang, “saya telah mengenakan baju dan celana panjang oranye siang dan malam selama hampir tujuh hari, sehingga anda dapat membayangkan betapa berkeringat dan baunya saya. Melupakan perbedaan budaya dan agama, saya memberi Abdullah pelukan besar ketika dia menyerahkan pakaian, dan dia tersenyum, tetapi tampak sedikit terkejut dengan sikap tidak tahu adat seperti itu.”

Hari itu Ridley sangat sedih, dia teringat dengan anaknya yang bernama Daisy, hari ini adalah hari ulang tahunnya yang kesembilan. Daisy adalah anak Ridley dari hasil perkawinannya dengan Daoud Zaaroura, seorang kolonel Organisasi Pembebasan Palestina (PLO) dan mantan komandan legendaris Fatah Land di Lebanon Selatan dari sejak 1972 hingga 1976, yang kemudian menjadi kepala intelijen Yasser Arafat, Presiden Palestina periode 1996-2004.[1]

Dua hari kemudian Hamid membawakan koran harian Pashtun, media massa Taliban, di halaman depan terpampang dua photo Ridley. Photo pertama adalah photo Ridley yang disebarkan ke berbagai media dunia oleh Sunday Express, media tempat Ridley bekerja, dan photo kedua adalah photo Ridley ketika ditangkap di perbatasan, dengan latar belakang bertuliskan, “Warga Negara Asing Dilarang Masuk.”

Photo Yvonne Ridley yang disebarkan oleh Sunday Express ke berbagai media. Photo: Mark Kehoe/AP

“Semua orang tahu siapa anda. Anda terkenal. Wajahmu terpampang dimana-mana di Jalalabad,” kata Hamid. Ridley bertanya kepada Hamid, apa arti judul di halaman depan koran tersebut. “Yvonne Ridley sangat bahagia,” kata Hamid sambil tertawa.

Abdullah kemudian datang, dia mengatakan akan mengantarkan Ridley ke bandara Kabul, mengantarnya pulang. Hamid mengatakan dia tidak bisa ikut mengantar. Ridley kemudian memakan sepotong roti yang diberikan oleh mereka, hal itu membuat kedua “teman” Ridley tersebut senang.

 

Tawaran Masuk Islam

Sebelum berangkat Ridley kedatangan tamu, seorang ulama yang bernama Maulana. Dia bertubuh tinggi, berjanggut, matanya kecil berwarna coklat, dan kulitnya mulus. Dia menanyakan apa agama Ridley, dan apa pendapatnya tentang Islam, “saya seorang Kristen Protestan,” kata Ridley. Mendengar itu sang ulama tersenyum sinis. Ridley melanjutkan, “saya pikir Islam adalah agama yang menarik dan (saya) mengagumi cara para pengikutnya (yang) memiliki semangat dan keyakinan yang begitu besar. Saya akan menjadikannya agenda saya untuk mempelajari agama ini lebih lanjut saat saya kembali ke London,” mendengar itu sang ulama tersenyum.

“Apakah anda ingin masuk Islam di sini dan sekarang juga?” kata sang ulama. Ridley kebingungan untuk menjawabnya. Ridley masih merasa terancam, apabila menjawab “ya” dia akan dianggap plin-plan, dan apabila menjawab “tidak” dia khawatir akan dieksekusi oleh Taliban. Akhirnya Ridley menjawab, “saya berterimakasih atas tawaran anda, tapi saya tidak dapat membuat keputusan penting tentang hidup dalam kondisi kekacauan dan kebingunan. Sekali lagi saya mengucapkan terimakasih.” Ulama tersebut kemudian tersenyum, berdiri, dan kemudian pergi. Setelah ulama tersebut pergi, tubuh Ridley bergetar karena ketakutan.

Hamid kemudian kembali, dengan nada memaksa dia meminta Ridley untuk mengenakan burqa sebelum perjalanan pulang. Ketika sedang berjalan menuju truk angkutan, Ridley melewati sekitar 40 tentara Taliban, kebanyakan dari mereka tersenyum kepada Ridley, dan Ridley tersenyum balik. Ridley menyadari, di antara mereka ada dua orang pemandu Ridley yang sebelumnya ditangkap bersama-sama Ridley. Ridley merasa tidak enak melihat mereka, karena tubuh mereka dirantai.

Ridley duduk di kursi depan dengan dua tentara bersenjata Taliban dan seorang perwira intelijen yang terlihat terpelajar. Bagi Ridley itu adalah momen yang sangat emosional, Ridley berusaha keras menahan air matanya. Abdullah, untuk pertama kalinya berbicara bahasa Inggris, dia berteriak, “good bye! (selamat tinggal)”. Ridley jadi menduga-menduga, jangan-jangan selama ini Abdullah sebenarnya mengerti bahasa Inggris. Ridley melihat kembali ke “rumah teka-teki”, begitulah dia menyebutnya, tempat dia ditahan selama ini. Begitu truk melaju, air mata mengalir deras di pipi Ridley. (PH)

Bersambung ke:

Yvonne Ridley (6): Pulang

Sebelumnya:

Yvonne Ridley (4): Tentang Taliban

Catatan:

Artikel ini merupakan adaptasi dan terjemahan bebas dari buku karya Yvonne Ridley, In the Hands of the Taliban: Her Extraordinary Story, (Robson Books: 2001), hlm 118-128. Adapun informasi lain yang bukan didapat dari buku tersebut dicantumkan di dalam catatan kaki.

Catatan Kaki:

[1] Alain Gresh, “Yasser Arafat”, dari laman https://www.britannica.com/biography/Yasser-Arafat, diakses 26 Maret 2018.

Leave a Reply

Your email address will not be published.

*