Zaha Hadid: Muslimah yang Menjadi Salah Satu Arsitek Terbesar di Era Kontemporer (4)

in Arsitektur

Meskipun pada awalnya desain karya Zaha Hadid hanya berakhir sebatas gambar, tidak pernah terealisasi ke dalam struktur bangunan. Tapi ketika akhirnya ide-ide itu dicoba, sosok Zaha Hadid langsung menjulang menjadi pioneer yang berkontribusi dalam membentuk kembali lanskap arsitektur dunia

Zaha Hadid, sering disebut sebagai arsitek wanita kontemporer paling menonjol di dunia. Bukan hanya disebabkan karena latar belakang genetisnya terbilang eksotik (Arab-Irak), tapi juga karena imajinasinya yang radikal, ketangguhan intelektualnya, dan penolakannya untuk berkompromi atas ide dan orisinalitasnya.[1]

Meskipun pada awalnya – karena kekerasaan pendiriannya tersebut – tidak sedikit dari karya Zaha Hadid yang hanya berakhir sebatas gambar, tidak pernah terealisasi ke dalam struktur bangunan. Tapi ketika akhirnya ide-ide itu dicoba, sosok Zaha Hadid langsung menjulang menjadi pioneer yang berkontribusi dalam membentuk kembali lanskap arsitektur dunia.[2]

Titik Balik

Ketika desain arsitekturnya ditolak karena alasan yang tidak objektif, Zaha Hadid merasa patah hati. Meski begitu, dia tetap berusaha tegar menghadapi kenyataan itu. Untuk mensupport mentalnya, Hadid mulai mengumpulkan orang-orang yang sepaham dengannya, mulai dari para staffnya yang juga pengagum karya-karya Hadid, kalangan ahli arsitektur, hingga pengamat biasa.[3]

Zaha Hadid tetap menggelar pameran untuk karya-karyanya. Dia tetap konsisten pada ide-idenya yang radikal, berani dan beda. Sebagian dari karya-karya tersebut dimuat di majalah arsitektur Blueprint dan mulai mendapat perhatian khalayak. Karya-karya Hadid pun mulai diiklankan untuk mencari pihak yang berminat mewujudkannya ke dalam bentuk bangunan.[4]

Karya desain arsitektur Hadid pun mendapat sambutan. Meski belum ada yang bersedia menawarnya, tapi pujian sudah berdatangan. Pujian tersebut diberikan oleh para arsitek dan pengamat arsitektur ternama. Sehingga beberapa eksekutif mulai berpikir untuk mengembangkan beberapa teori Hadid ke dalam bentuk bangunan.

Menjelang akhir dekade 90-an, usaha Hadid mulai menunjukkan hasil. Tahun 1998, rancangan Hadid untuk stasiun transit di pinggiran kota Strasbourg, Prancis, mulai dibangun. Dan setahun kemudian (1999), rancangan Hadid untuk jalur ski di puncak gunung dekat Innsbruck, Austria, juga mulai di bangun. Desain kedua bangunan ini memang cukup radikal, melawan pakem, sehingga terlihat mencolok pada masanya. Stasiun transit yang dibangun di kota Strasbourg, Prancis, di kemudian mendapat penghargaan Mies van der Rohe Award dari Uni Eropa.

Bergisel Ski Jump berdiri di atas pegunung dekat Innsbruck, Austria. Tingginya mencapai 50 meter dari permukaan tanah. Sumber gambar: https://www.innsbruck.info
Ilustrasi desain Bergisel Ski Jump, di Innsbruck, Austria. Sumber gambar: www.archdaily.com
Stasiun Transit di daerah pinggiran Strasbourg, Prancis. Sumber gambar: https://www.zaha-hadid.com
Tampak dari ketinggian, Stasiun Transit di daerah pinggiran Strasbourg, Prancis. Sumber gambar: https://www.zaha-hadid.com

Kemudian pada tahun 1998, sebuah konsorsium besar mendatangi Hadid. Mereka meminta agar Hadid merancang desain arsitektur untuk Pusat Seni Kontemporer Lois dan Richard Rosenthal di Cincinnati, Amerika Serikat (AS) yang dikenal sebagai Contemporary Arts Center. Inilah titik balik dalam karir Zaha Hadid. Dan Hadid pun tidak menyia-nyiakan kesempatan tersebut. Dia langsung mengerahkan seluruh kemampuannya untuk merancang desain yang tidak hanya artistik, tapi juga bersifat fungsional dan sesuai dengan gaya hidup masyarakat kontemporer.[5]

Ilustrasi desain arsitektur Contemporary Arts Center, Cincinnati, AS. Sumber gambar: https://www.archdaily.com
Contemporary Arts Center, Cincinnati, AS (Tampak luar). Sumber gambar: https://www.archdaily.com
Bagian Interior Contemporary Arts Center, Cincinnati, AS. Sumber gambar: https://www.archdaily.com

Salah satu tantangannya, Hadid hanya disedikan lahan kecil di salah satu sudut yang sempit di tengah kota Cincinnati. Tapi melalui rancanganya, Hadid berhasil memaksimalkan lahan tersebut, bahkan membuat bangunan tersebut terkenan besar, kokoh, dan kompleks. Dia bahkan berhasil mengintegrasikan trotoar di depan Gedung, dengan interior dalam ruangan. Sehingga tampak trotoar tersebut sebagai bagian tak terpisahkan dari bangunan. Menariknya, hal ini ternyata menjadi daya tarik bagi para pengunjung, untuk masuk dan melihat-lihat isi pameran dalam bangunan.[6]

Adapun untuk interiornya, Hadid menyajikan satu model ruang galeri yang melawan konsepsi ruang pameran museum pada umumnya. Galeri-galeri yang dibuatnya memiliki bentuk dan ukuran yang berbeda, dan masing-masing tampak menyajikan sesuatu yang baru bagi mereka yang mendekat. Joseph Giovannini dari Art in America secara khusus berkomentar atas desain rancangan Hadid, “Tidak banyak orang yang secara sukarela menaiki enam lantai di mana saja. Tetapi ruang yang didesain Hadid begitu membangkitkan minat pengunjung sehingga sedikit yang berpikir untuk melewati pengalaman dengan menumpang naik lift: mereka merasa mereka akan melewatkan satu sesi menarik.”[7]

Lalu yang juga tak kalah penting dari karya monumental Hadid tersebut, biaya konstruksi bangunan ini terbilang wajar (tidak kemahalan). Sehingga secara ekonomi cukup bersahabat. Biaya konstruksinya yaitu $230 per kaki persegi, masih dianggap standar umumnya pasar. Atas karyanya ini, reputasi Zaha Hadid langsung menjulang naik ke papan atas arsitek dunia.[8]

Sejak itu, permintaan pun berdatangan ke kantor Hadid. Imajinasinya yang tanpa batas mendapat lahan eksporasi yang tak ada habisnya. Citra Hadid yang sebelumnya dinilai kasar dan sulit diajak kompromi pun mulai berubah. Kini dia dianggap sebagai perintis dalam dunia arsitektur dunia. Sebab Hadid tidak hanya merancang bangunan, tapi membuat terobosan.

Sebagai profesional, tidak berlebihan bila dikatakan, bahwa dia adalah salah satu pioneer yang berkontribusi dalam membentuk kembali lanskap arsitektur dunia kontemporer. Penghargaan demi penghargaan pun tak urung diterimanya. Bahkan oleh kerajaan Inggris – yang dulu karena alasan visi klasiknya membuang karya Hadid – di kemudian hari justru memberikan wanita Muslim keturunan Irak ini gelar bergengsi kerajaan, Dame Commander. (AL)

Bersambung…

Sebelumnya:

Catatan kaki:


[1] Lihat, Zaha Hadid Biography, https://www.notablebiographies.com/supp/Supplement-Fl-Ka/Hadid-Zaha.html#ixzz61k8PX0CB, diakses 6 Oktober 2019

[2] Ibid

[3] Ibid

[4] Ibid

[5] Lihat, https://www.archdaily.com/786968/ad-classics-rosenthal-center-for-contemporary-art-zaha-hadid-architects-usa, diakses 6 Oktober 2019

[6] Ibid

[7] Lihat, Zaha Hadid Biography, Op Cit

[8] Ibid

Leave a Reply

Your email address will not be published.

*