Mozaik Peradaban Islam

Ziarah Makam Wali (8): Syekh Siti Jenar (2)

in Budaya Islam

“Petilasan atau makam sejatinya hanyalah media-simbolis untuk mendoakan ahli kubur. Kemantaban duduk bersila dan berdekatan dengan makam merupakan aspek eksternal yang diharapkan mampu menguatkan panjatan-panjatan doa. Namun yang terpenting adalah kehadiran hati dan ketundukan total pada Allah yang sanggup menjadikan akal-hati untuk terus menerus mengingat kematian, berdoa, mendoa, dan berdekatan dengan orang-orang saleh yang tak mati di sisi Tuhannya.”

–O–

Alex Abbad bermain peran menjadi Syekh Siti Jenar. Photo: alexabbad/Instagram

 

Membaca ragam hikayat tentang Syekh Siti Jenar semakin mentahbiskan kekayaan khazanah Islam yang dihayati oleh masyarakat Nusantara. Hal ini sekaligus memberikan gambaran secara gamblang berbagai pendekatan dan kecenderungan yang dilakukan para wali dalam upaya islamisasi di wilayah masing-masing. Jika dirunut ke belakang, Tarekat Akmaliyah yang ditekuni oleh Syekh Siti Jenar ternyata memiliki garis kesamaan dengan apa yang diamalkan oleh Ibnu Araby dan Abu Mansyur al-Hallaj. Ajaran-ajaran dalam tarekat tersebut rupanya sangat mempengaruhi pemikiran dan pandangan Syekh Siti Jenar, terutama mengenai konsep hulul. Sebuah konsep tentang penyerapan ruh ilahiah ke dalam diri manusia. Bahwa Allah hendak menyaksikan diri-Nya di luar diri-Nya, melalui alam semesta dan manusia.

Konsep hulul ini diformulasikan oleh Syekh Siti Jenar menjadi ajaran Sasahidan yang bermuara pada keyakinan bahwa di dalam diri manusia tersimpan anasir al-Haqq, yang kemudian dijadikan sebagai landasan doktrin manunggaling kawulo-Gusti. Bermula dari pembabaran ajaran ini, maka lahirlah kronik teologis yang menyeret Syekh Siti Jenar dan beberapa muridnya ke dalam mitos-mitos eksekusi oleh para wali. Seperti dalam kronik sejarah Wali Songo diceritakan bahwa pergolakan politik yang melibatkan para pemuka spiritual ini mengakibatkan Syeh Siti Jenar, yang dalam beberapa sumber dikatakan sebagai putra tertua Raden Rahmat di Ngampel dan Pangeran Panggung, kakak Sultan Trenggana di Demak (kira-kira tahun 1540) divonis mati karena menyebarkan ajaran yang menyimpang.[1]

Berdasarkan cerita yang diungkap dalam Suluk Walisana,[2] Pangeran Panggung, murid Syekh Siti Jenar dituduh mengajarkan shalat da’im (baca: shalat secara batin) dan mempunyai dua ekor anjing kecil yang  terpisah dari tuannya yang diberi nama Iman dan Tokid. Karena itulah, Pangeran Panggung dipanggil Sultan Demak dan ditanya perihal kenapa ia mengajarkan shalat da’im  tersebut. Ia lantas menjawab daripada membicarakan sarak (syariat agama), akan lebih baik langsung menuju intinya saja. Selanjutnya, ia pun menerangkan perihal ilmu yang diyakininya kepada Sultan Demak. Bahwa anjing kecil yang ia beri nama Iman dan Tokid masuk ke dalam api yang telah disiapkan atas perintah sultan Demak untuk membuktikan keyakinian Pangeran Panggung. Iman dan Tokid pun tidak terbakar. Setelah kedua anjing itu keluar dari api, Sultan Demak menghendaki Pangeran Panggung sendiri yang masuk ke dalam api. Maka, Pangeran Panggung masuk ke dalam api unggun sambil membawa pena dan kertas. Di dalam api itulah Pangeran Panggung menulis kitab Suluk Malang Sumirang.

Dalam Suluk Walisana juga dikisahkan, Syekh Siti Jenar dihukum oleh para wali. Sunan Kalijaga berperan sebagai eksekutor yang memenggal kepalanya. Darah Syekh Siti Jenar mula-mula berwarna merah, lalu menjadi putih. Mayatnya berubah menjadi kecil, lalu berubah menjadi cahaya merah, hitam, kuning, dan putih, kemudian berubah menjadi lima warna. Setelah itu, muncul cahaya putih yang membentuk kalimat “La ilaha illa Allah.” Cahaya putih itu kemudian hilang. Tak lama setelah itu, terdengar suara yang menyatakan bahwa sarak (syariat agama) ditinggalkan karena dianggap merepotkan. Sedangkan ilmu sejati tempatnya ada pada pribadi masing-masing yang harus diusahakan agar terbuka, dan ilmu utama dapat ditemukan dalam kondisi hening. Sunan Giri membenarkan adanya “suara gaib” tersebut. Akan tetapi hal itu harus tetap menjadi rahasia, dan merupakan pembicaraan untuk dunia “ukhrawi.” Lantaran itu pula, Sunan Giri menciptakan pohon pisang busuk sebagai pengganti mayat Siti Jenar.[3]

Ada pula Suluk Seh Siti Jenar, manuskrip ini dikarang tahun 1457 s = 1535, dan bukan naskah asli, tapi gubahan Sunan Giri Kadhaton. Teks ini disajikan dalam bentuk gubahan tembang macapat.[4] Dalam suluk tersebut dikisahkan, Kasan Ali Saksar atau Syekh Siti Jenar ingin memperoleh ilmu dari Sunan Giri. Tetapi ia menolak mengajarkan ilmunya lantaran Syekh Siti Jenar memiliki ilmu tenung. Ia pun menyamar menjadi katak pohon guna mengintip dan mencuri-dengar wejangan Sunan Giri. Namun, akhirnya Sunan Giri mengetahui penyamarannya, dan mengurungkan untuk memberikan wejangan.

Demikian pula dikisahkan dalam Carita Purwaka Caruban Nagari bahwa para pemuka agama tidak suka dengan Syekh Siti Jenar yang telah mengajarkan agama kepada Ki Ageng Penggging. karena Syekh Siti Jenar adalah produk Baghdad dan pernah berguru kepada ulama Syiah sekaligus dituduh penganut Syiah. Ia kemudian dibunuh oleh oleh Sunan Kudus menggunakan Keris Kanthanaga milik Susuhunan Jati Purba (Syekh Datuk Kahfi). Pembunuhannya dilakukan di dalam masjid Sang Cipta Rasa pada tahun 1505 Masehi, dan dia dimakamkan di mandala Anggaraksa, di Cirebon. Setelah dikubur di area pemakaman Anggaraksa, kemudian kuburnya dibongkar dan diganti dengan seekor anjing tetapi mayatnya berubah menjadi sekuntum melati, sehingga area makam itu dikenal dengan Pamlaten. Ada pula yang mengisahkan bahwa Syekh Lemah Abang diadili dan dieksekusi di Masjid Demak. Lalu mayatnya diganti dengan bangkai anjing.

Akan tetapi, dalam kesimpulan Agus Sunyoto merujuk sumber dari Keraton Kanoman Cirebon menyebutkan bahwa para pengikut Syekh Lemah Abang asal Pengging yang dikejar Sultan Demak sengaja dilindungi oleh Sunan Gunung Jati dengan disembunyikan di sebuah perkampungan yang disebut Kasunean (persembunyian), yaitu sebuah tempat di kota Cirebon.[5] Hal senada juga diungkap oleh Muhammad Sholikhin. Ia menegaskan bahwa tuduhan penyebaran ajaran sesat yang ditujukan kepada Syekh Lemah Abang terkait dengan perilaku kedua muridnya; San Ali Anshar dan Hasan Ali. Kedua orang ini dalam beberapa babad dan hikayat Jawa dianggap sebagai satu orang yaitu Syaikh Lemah Abang atau Siti Jenar. Padahal, keduanya memiliki konflik dan persoalan yang berbeda-beda.

Sejak sebelum kedua orang itu menemui ajalnya dalam hukuman mati, Syekh Siti Jenar sudah berada dalam dukuh uzlah-nya yang berada di salah satu kawasan hutan bambu di sebelah selatan dukuh Lemah Abang, Cirebon. Identitas dan keberadaannya oleh para wali Songo sengaja disembunyikan karena kondisi dirinya selalu berada dalam tataran majzub (jazb).[6] Syekh Siti Jenar kemudian meninggal dunia secara wajar dan disemayamkan di sebuah dukuh terpencil sebelah selatan dukuh Lemah Abang di Cirebon. Jasadnya dikuburkan secara terhormat oleh para wali di Astana Kemlaten. Salah satu versi menyatakan bahwa Syekh Siti Jenar wafat secara mokswa, dalam arti jasadnya ikut hilang terserap menjadi ruh, dan berada di sisi Ilahi.[7]

Tidak hanya ketika hidup, bahkan kematian dan makamnya sekalipun tidak dapat dipastikan keberadaannya. Setidaknya ada lima pendapat mengenai persemayaman terakhir Syekh Siti Jenar. Di Cirebon terdapat dua makam yang diduga kuat sebagai makam Sang Syekh. Satu di komplek pemakaman Kemlaten di kota Cirebon, dan satu lagi di bukit Amparan Jati dekat dengan makam Syekh Datuk Kahfi. Sedangkan masyarakat Jepara meyakini bahwa makan Syekh Siti Jenar berada di desa Lemah Abang, Jepara. Adapun penduduk Tuban meyakini makamnya terletak di Tuban, Jawa Timur. Dan pendapat terakhir sebagaimana dikisahkan oleh para pengikut Tareka Akmaliyah bahwa makam Syekh Siti Jenar dinyatakan hilang. Pendapat terakhir ini sesuai dengan wasiat beliau agar kuburannya kelak tidak diberi tanda supaya tidak dijadikan tempat peziarahan.[8]

Salah satu makam di Cirebon yang diduga sebagai makam Syekh Siti Jenar. Photo: malaya.or.id

Alhasil, masyarakat tetap mempercayai bahwa makam-makam yang ada merupakan makam Syekh Siti Jenar, dan menjadikannya sebagai tempat ziarah, berdoa, dan mendoakannya. Petilasan atau makam sejatinya hanyalah media-simbolis untuk mendoakan ahli kubur. Kemantaban duduk bersila dan berdekatan dengan makam merupakan aspek ekstrenal yang diharapkan mampu menguatkan panjatan-panjatan doa. Namun yang terpenting adalah kehadiran hati dan ketundukan total pada Allah yang sanggup menjadikan akal-hati untuk terus menerus mengingat kematian, berdoa, mendoa, dan berdekatan dengan orang-orang saleh yang tak mati di sisi Tuhannya. [KHI]

Bersambung….

Sebelumnya:

Ziarah Makam Wali (8): Syekh Siti Jenar (1)

Catatan Kaki:

[1] J.J. Ras, Masyarakat dan Kesusastraan di Jawa., hlm. 252

[2] Untuk rujukan dan terjemahan Suluk Walisana, penulis mengacu pada penelitian Darusuprapta, dkk. Simbolisme dalam Sastra Suluk., hlm. 39-40.

[3] Ibid., hlm 42.

[4] Ibid., hlm. 60-61

[5] Agus Sunyoto, Atlas Walisongo (Depok: Pustaka IIMAN, 2012), hlm. 276

[6] Muhammad Sholikhin, Ternyata Syekh Siti Jenar Tidak Dieksekusi Wali Songo (Jakarta: Erlangga, 2001), hlm. 113

[7] Muhammad Sholikhin, Ternyata Syekh Siti Jenar Tidak Dieksekusi Wali Songo (Jakarta: Erlangga, 2001), hlm. 107-113

[8] Agus Sunyoto, Atlas Walisongo., hlm.  315.