Mozaik Peradaban Islam

Kitab Al-Luma’ fi At-Tashawwuf Karya Abu Nasr as-Sarraj (10): Bab 12, Ilmu Batin

in Pustaka

Last updated on June 8th, 2019 07:02 am


Ilmu itu ada dua, ilmu lahir dan ilmu batin. Alquran dan hadis Rasulullah juga memiliki lahir dan batin. Begitu pula Islam, memiliki aspek lahir dan batin. Hanya orang bodoh yang tidak menyadarinya.

Foto Ilustrasi: Etc Ltd/Getty

Bab 12:

Pengukuhan atas Adanya Ilmu Batin dan Uraian tentang Kebenaran dan Argumentasinya

Syaikh Abu Nashr as-Sarraj, semoga Allah merahmatinya, berkata: Ada sekelompok orang yang hanya berkecimpung di bidang eksoteris dan tidak berurusan dengan Sufi, berkata, “Kami hanya mengetahui ilmu syariat dalam makna lahiriahnya yang dibawa oleh Alquran dan Sunah. Pemerianmu  tentang adanya ilmu batin dan pengetahuan tasawuf sesungguhnya muspra dan tak berbobot.”

Aku menjawab—semoga Allah memberi taufik: Sesungguhnya ilmu syariat adalah ilmu khusus dan nama yang mengandung dua makna: riwâyah (narasi) dan dirâyah (pemahaman). Himpunan dari kedua makna tersebut meliputi ilmu syariat yang mengajak pada berbagai amal, baik lahiriah maupun batiniah.

Tidak sepantasnya merujuk pengetahuan agama secara khusus pada aspek lahir ataupun aspek batin saja. Sebab, apabila ilmu itu bersemayam di hati, ia adalah ilmu batin, sampai ia muncul dalam bentuk ucapan. Jika telah muncul dalam bahasa lisan, maka itulah ilmu lahir.

Hanya saja kami tetap perlu mengatakan, ilmu itu ada yang batin dan ada yang lahir. Ilmu itu tak lain adalah ilmu syariat yang menunjukkan dan mengajak (kita) untuk melakukan aktivitas (amal) lahiriah dan batiniah. Adapun yang disebut dengan amal lahiriah adalah aktivitas anggota tubuh yang menyangkut ibadah dan hukum.

Yang termasuk perilaku ibadah adalah seperti bersuci, shalat, zakat, puasa, haji, jihad, dan lain-lain. Sedangkan yang menyangkut hukum meliputi hu­kum pidana, perceraian, pemerdekaan budak, jual-beli, warisan, qishâsh dan lain-lain. Ini semua berkaitan dengan anggota badan bagian luar.

Adapun yang berhubungan dengan aktivitas batiniah seperti perbuatan-perbuatan hati, yang meliputi kedudukan dan kondisi spiritual, seperti pembenaran iman itu sendiri, keyakinan, kejujuran, keikhlasan, makrifat, tawakal, wara’, cinta, ridha, zikir, syukur, inabah (kembali ke jalan Tuhan: tobat), takut, takwa, menjaga hati nurani, fikrah, itibar (mengambil pelajaran), takut siksa, berharap rahmat-Nya, sabar, puas atas bagian yang diberikan, ketundukan, kepasrahan, kedekatan diri pada Allah, rindu, suka cita dengan Allah, takut, sedih, menyesal, malu, takzim, memuliakan, dan sungkan karena kewibawaan-Nya.

Masing-masing aktivitas, baik yang bersifat lahir maupun batin memiliki ilmu, “posisi”,[1] keterangan, fiqih, pemahaman, perasaan hati, hakikat tersendiri, dan pengalaman spiritual yang menukiknya (wajd) masing-masing. Ayat-ayat Alquran dan riwayat-riwayat Rasulullah Saw. mendukung kebenaran amal lahiriah maupun ba­tiniah ini. Orang yang mengerti akan hal ini mengetahuinya; orang yang bodoh tidak akan menyadarinya.

Tatkala aku menyebut ilmu batin, maka yang aku maksudkan adalah ilmu tentang aktivitas batin yang merupakan anggota badan yang batin, yakni hati. Dan ketika aku menyebut ilmu lahir, maka yang aku maksudkan adalah ilmu tentang aktivitas lahiriah yang menyangkut semua anggota lahiriah, yaitu seluruh anggota tubuh. Allah Swt. berfirman, … dan Dia menyempurnakan untukmu nikmat-Nya lahir dan batin. (QS. Luqman [31]: 20).

Nikmat lahiriah ialah apa yang Allah karuniakan pada anggota tubuh lahiriah untuk berbuat taat, sedangkan nikmat batiniah adalah berbagai kondisi spiritual yang Allah karunia­kan pada hati. Tentu saja, sisi lahiriah tidak bisa lepas dari yang batin, dan begitu pula sebaliknya, yang batin selalu membutuhkan yang lahir.

Allah Swt. berfirman, Dan kalau mereka menyerahkannya kepada Rasul dan ulil amri di antara mereka, tentulah orang-orang yang ingin mengetahui kebenarannya (akan dapat) mengetahuinya dari mereka (Rasul dan ulil amri).” (QS. Al-Nisa’ [4]: 83). Adapun ilmu yang dipahami secara mendalam adalah ilmu batin, yaitu ilmu yang dimiliki kaum Sufi. Sebab, mereka memiliki berbagai hasil pemahaman tentang Alquran, Hadis, dan sumber-sumber lain. Sebagian dari masalah ini akan aku bahas kemudian, insya Allah.

Dengan demikian, ilmu itu ada dua, ilmu lahir dan ilmu batin. Alquran juga memiliki lahir dan batin, hadis Rasulullah Saw. juga memiliki lahir dan batin. Begitu pula Islam, memiliki aspek lahir dan batin. Untuk mendukung pemahaman ini, sahabat-sahabat kami dari kaum Sufi mengumpulkan keterangan dan argumen dari Alquran, Sunah, dan pemahaman intelektual. Mendedahkan masalah ini akan sangat panjang dan keluar dari uraian ringkas yang aku maksudkan. Apa yang aku kemukakan bisa dianggap cukup. Semoga Allah memberi taufik kepada kita.

Pada bab 13 sampai 15, Sarraj kembali membahas tasawuf dalam terma-terma yang lebih  umum (bab 13 dan 14) dan kemudian memberikan suatu bab yang lebih panjang tentang pandangan-pandangan Sufi tentang keesaan Ilahi dan proses yang dengannya manusia menjadi bersatu dengan Yang  Ilahi. Kemudian ia kembali pada subjek epistemologi Sufi, sekarang memusatkan perhatian secara spesifik pada aspek eksperiensial pengetahuan mistis, makrifat. (MK)

Bersambung ke:

Sebelumnya:

Catatan Kaki:


[1] Untuk penjelasan istilah “posisi”, lihat penjabaran dari Niffari dalam Michael Sells, Early Islamic Mysticism (Selections of Sufi Texts), (Paulist Press, 1996), hlm 281-301.

Leave a Reply

Your email address will not be published.

*