Mozaik Peradaban Islam

Kitab Al-Luma’ fi At-Tashawwuf Karya Abu Nasr as-Sarraj (11): Bab 16, Hakikat Spiritual Makrifat (1)

in Pustaka


Ahmad bin Atha berkata, tak ada jalan untuk menuju makrifat Hakikat karena tidak mungkin untuk menembus keabadian Ilahi.

Foto ilustrasi: FrancisLugfran/Deviant Art

Bab 16:

Penjelasan atas Apa yang Kaum Sufi Katakan tentang Hakikat Spiritual Makrifat dan Sifat-Sifat Orang Arif

Seseorang bertanya pada Abu Said al-Kharraz,[1] semoga Allah merahmatinya, tentang makrifat. Dia menjawab, “Makrifat itu datang lewat dua sisi: pertama, dari anugerah kedermawanan Allah langsung, dan kedua, dari pengerahan segala kemampuan atau yang lebih dikenal sebagai usaha hamba.” Sementara itu, Abu Turab an-Nakhsyabi,[2]semoga Allah merahmatinya, diminta untuk menerangkan sifat ahli mistis, dia menjawab, “Ahli mistis (arif) adalah orang yang tidak terkotori oleh apa pun dan segala sesuatu akan menjadi jernih karenanya.”

Ahmad bin Atha,[3] semoga Allah merahmatinya,berkata, “Makrifat itu ada dua: makrifat al-Haq dan makrifat Hakikat. Adapun makrifat al-Haq adalah makrifat tentang keesaan-Nya yang amat sederhana melalui nama-nama dan sifat-sifat yang ditampakkan pada hamba-Nya. Sedangkan makrifat Hakikat, tak ada jalan untuk menuju ke sana karena tidak mungkin untuk menembus keabadian Ilahi, sebagaimana disebutkan dalam firman suci, Sedangkan ilmu mereka tidak dapat meliputi (memahami secara detail) Ilmu-Nya.” (QS. Thaha [20]:  110).

Ucapan Ahmad “tak ada jalan untuk menuju ke sana” artinya tidak ada metode menuju makrifat Hakikat karena Allah Taala hanya menampakkan pelbagai Nama dan Sifat yang sesuai dengan daya tangkap seluruh makhluk-Nya. Sebab, makhluk tidak akan sanggup memakrifati Hakikat Mutlak Tuhan, biarpun hanya sebesar atom. Makhluk-makhluk akan binasa menatap bagian terkecil dan terendah dari daya melipah yang timbul akibat keagungan Ilahi.

Siapa yang bisa memakrifati Wujud dengan Sifat-sifat seperti itu? Karena itulah, ada orang berpendapat tak ada selain Dia yang sanggup memakrifati-Nya, dan tak ada yang sanggup mencintai-Nya selain Dia sendiri, karena transendensi Ilahinya tak mungkin dapat dipahami dan disadari manusia. Allah Swt. berfirman, Dan mereka tidak mengetahui apa-apa dari ilmu Allah melainkan apa yang dikehendaki-Nya. (QS. Al-Baqarah [2]: 255).

Sejalan dengan itu, ada riwayat dari Abu Bakr Al-Shiddiq[4] ra yang pernah berkata, “Mahasuci Zat Yang tidak membuka jalan bagi semua makhluk untuk memakrifati-Nya kecuali dengan ketidaksanggupan untuk mengenali-Nya.” Seseorang bertanya pada asy-Syibli,[5] “Kapan seorang arif mengalami Allah?” Dia menjawab, “Tatkala (pengalaman tunggalnya dalam) menyaksikan mengemuka, dan bukti-bukti (yang majemuk) menghilang, yakni tatkala segenap indra sirna dan pengindraan meluluh.”

Orang itu bertanya lagi, “Apa awal dan akhir kondisi semacam ini?” Dia menjawab, “Awalnya adalah makrifat tentang-Nya dan akhirnya adalah tauhid kepada-Nya.” Dia melanjutkan, “Salah satu tanda makrifat adalah melihat diri dalam genggaman keagungan Ilahi, dan tenggelam dalam peliputan Ilahi.”  Ciri lain makrifat adalah rasa cinta; sebab, orang yang memakrifati-Nya tentu akan mencintai-Nya.

Abu Yazid Thaifur bin Isa al-Bisthami,[6]semoga Allah merahmatinya,per­nah ditanya tentang sifat orang arif. Dia menjawab, “Warna air itu sangat dipengaruhi oleh warna wadah yang ditempatinya. Jika air engkau tuangkan dalam wadah berwarna putih, maka engkau akan menduganya berwarna putih. Jika engkau tuangkan dalam wadah berwarna hitam, maka engkau akan menduganya berwarna hitam. Dan demikian pula jika engkau tuangkan dalam wadah berwarna kuning dan merah. Dia selalu diubah oleh berbagai kondisi. Sesungguhnya keadaan spiritual itu silih berganti, tetapi pengendali semua keadaan adalah Pemiliknya.”

Syaikh Abu Nashr as-Sarraj, semoga Allah merahmatinya, menjelaskan: Arti kalimat ini—hanya Allah Yang Mahatahu—bahwa mengingat kejernihannya yang sedemikian itu, air menyerap warna wadah yang ditempatinya. Warna wadah bisa saja berubah, tetapi tidak demikian dengan kemurnian dan keadaan sejati airnya. Pengamat akan mengiranya berwarna putih atau hitam, seolah-olah air itu menyatu dengan warna wadahnya. Demikian pula keadaan orang arif dan berbagai karakteristiknya dalam hubungannya bersama dengan Allah Azza wa Jalla: meskipun keadaan-keadaan spiritualnya berubah-ubah, sukma tersembunyi seorang mistikus tiadalah berubah dan tetap sama.

Seseorang bertanya pada Junaid,[7] semoga Allah merahmatinya, tentang apa yang bisa dipahami tentang ahli makrifat. Dia menjawab, “Mereka lenyap dari kungkungan sifat-sifat yang diberikan oleh orang-orang yang memberi sifat.” Seseorang menjawab pertanyaan tentang makrifat dengan mengatakan, “Inilah wawasan hati untuk menyelami keesaan Allah yang muncul dari kelembutan/kehalusan-Nya dalam suatu pedagogi eksperiensial.”

Junaid, semoga Allah merahmatinya, ditanya, “Wahai Abu Al-Qasim (panggilan Junaid—penerj.), apa yang diinginkan orang-orang arif  dari Allah?” Dia menjawab, “Kebutuhan mereka adalah perlindungan dan pemeliharaan-Nya pada mereka.”

Muhammad ibn Al-Fadhl Al-Samarqandi (w.319/931), semoga Allah merahmatinya, berkata, “Sebaliknya, mereka tidak menginginkan dan memilih apa-apa. Sebab, mereka telah memperoleh apa yang mereka peroleh tanpa keinginan dan pilihan. Karena orang-orang arif mewujud dalam Zat Esa Yang mewujudkan mereka, mengekal dalam Zat Esa Yang mewujudkan mereka dan meniada dalam Zat Esa Yang mewujudkan mereka.”

Seseorang bertanya kepada Muhammad ibnu Al-Fadhl, semoga Allah merahmatinya, tentang arah keinginan mistikus. Dia menjawab, “Keinginan mereka diarahkan kepada kualitas moral yang dengannya scmua kcbaikan bisa menyempurna dan yang tanpanya segala kejelekan semakin merajalela. Itulah integritas.

Yahya bin Muadz,[8]semoga Allah merahmatinya, diminta untuk menjelaskan sifat orang arif, dan dia menjawab, “Dia bisa masuk di kalangan orang banyak, namun dia terpisah dengan mereka.”[9]27 Dalam kesempatan lain, dia ditanya lagi tentang orang arif, lalu menjawab, “Dialah hamba yang ada (di tengah-tengah orang banyak) tetapi terpisah dari mereka.” (MK)

Bersambung….

Sebelumnya:

Catatan Kaki:


[1] Abu Said Ahmad bin Isa al-Kharraz dari Baghdad (wafat 277 H/890-91 M) adalah penulis risalah awal yang disebut Kitab Keaslian (Kitab as-sidq), di dalamnya dia menganalisis berbagai keadaan spiritual dan menguraikan keasliannya pada masing-masing kondisi.

[2] Askar bin Husein Abu Turab an- Nakhsyabi (wafat 245 H/859 M) adalah salah satu pengajar terkemuka Khurasani, dia ternama karena keluasan ilmu pengetahuannya.

[3] Abu-Abbas bin Muhammad Ahmad bin Atha (wafat 309 H/921-22 M atau 311 H/923-24 M) adalah sahabat dekat Hallaj sang martir-mistik.

[4] Abu Bakar (wafat 13 H/634 M) adalah seorang sahabat terkemuka dan ayah mertua Nabi Muhammad. Dia merupakan khalifah pertama, yang dikenal karena kejujurannya, dan dengan demikian dia dijuluki Al-Shiddiq.

[5] Abu Bakar bin Jahdar asy-Syibli (wafat 334 H/ 945-46 M) adalah seorang ahli fiqih Maliki, dia adalah murid Junayd dari Baghdad, teman dari Hallaj, dan guru Nasrabadhi.

[6] Umumnya dikenal sebagai Bayezid, Abu Yazid Thaifur bin Isa al-Bisthami (wafat 261 H/874-75 M), berasal dari Asia Tengah dan salah satu Sufi yang pernyataannya paling sering dikutip. Dia merupakan “teladan” bagi para sufi yang “mabuk”, ucapannya yang terkenal adalah, “Kemuliaan bagiku!”

[7] Abu-Qasim bin Muhammad al-Junaid (wafat 298 H/910-11 M) adalah Sufi arif yang telah “sadar setelah mabuk”, dia dianggap sebagai pimpinan madzhab Baghdadi, meskipun dia dilahirkan di Iran. Sebagai seorang ulama fiqih Syafii, dia mengajarkan doktrin “ketenangan kedua”, yaitu tentang pentingnya kembali ke tingkat ketenangan spiritual yang tinggi setelah mengalami ekstase (mabuk, atau kegembiraan yang luar biasa setelah “bertemu” Tuhan).

[8] Yahya bin Muadz ar-Razi (wafat 258 H/872 M) adalah seorang Sufi Iran yang dikenal karena khotbah  dan pengaruhnya dalam pembentukan sekolah tasawuf Nishapur di Khurasan bersama tokoh sentral lainnya, Abu Utsman al-Hiri (wafat 298 H/ 910 M).

[9] Yaitu, seseorang yang termasuk pemilik pengetahuan eksperiensial tentang Tuhan, sehingga kepribadiannya sebagai individu telah menghilang (karena telah “menyatu” dengan Tuhan).

Leave a Reply

Your email address will not be published.

*