Kesultanan Malaka (3)

in Sejarah

Last updated on March 6th, 2019 05:36 am

Selain karena didukung oleh kekuatan adidaya Tiongkok, Kesultanan Malaka memiliki dua keuntungan alamiah, yaitu letaknya yang strategis dan peredaran Angin Muson, yang menjadi instrumen penting dalam navigasi pelayaran kuno.


Gambar Ilustrasi. Sumber: Flickr

Berkat persahabatannya dengan kekaisaran Tiongkok, kedudukan raja Parameswara kian hari kian kuat di Selat Malaka. Untuk memastikan kelanggengan hubungan diplomatiknya, Parameswara berkali-kali mengirim utusan ke Tiongkok. Bahkan setelah wafatnya Paramewara, jalinan kerjasama antar kedua negara tetap baik dan dilestarikan oleh raja-raja selanjutnya. Sejarah mencatat, telah terjadi beberapa kunjungan penguasa Malaka ke Tiongkok, di antaranya pada 1411, 1414, 1419, 1424, dan 1433. Kerjasama yang erat dengan negara adidaya seperti Tiongkok inilah yang menjadi sumber kekuatan dan legitimasinya Kesultanan Malaka di awal-awal masa berdirinya.[1]

Perlahan-lahan Parameswara mulai meluaskan wilayah kekuasaannya hingga menguasai sepenuhnya jalur laut di sepanjang Selat Malaka, mulai dari Singapura (Selat Philip), hingga ke Laut Andaman di utara.[2] Posisi geografisnya yang terletak di jalur pelayaran paling penting dunia, membuat negara baru ini makin diperhitungkan secara strategis. Dalam sekejap, Kesultanan Malaka pun menjadi bintang baru dalam peta perdagangan dan politik di Nusantara.

Sebelum berdirinya Kesultanan Malaka, Selat Malaka dikenal sebagai salah satu jalur laut paling berbahaya di dunia. Karena di tempat ini sering terjadi perompakan. Selama berabad-abad sebelumnya, dunia sudah mengenal tentang keganasan lanun Selat Malaka.[3] Kondisi perairan Selat Malaka yang tenang, dengan jarak tempuh yang cukup panjang, membuat para perompak leluasa menjalankan misinya. Ditambah lagi, hampir seluruh dataran di pesisir Selat Malaka diliputi kawasan hutan yang rimbun, sehingga memudahkan bagi perompak bersembunyi setelah melakukan aksinya.

Tapi kendala ini berhasil dijawab oleh Parameswara. Sejak dia menjadi penguasa legitimate di kawasan tersebut, jalur ini menjadi aman. Tidak tanggung-tanggung, dia membangun bandar pelabuhan dan pusat kekuasaannya justru di titik tersempit Selat Malaka. Parameswara melengkapi bandarnya dengan semua keperluan yang dibutuhkan oleh para pelancong dan pedagang. Tak ayal, tempat yang semula sangat angker bagi para pelaut, kini menjadi demikian nyaman di lalui. Sehingga tidak ada alasan bagi mereka untuk tidak melempar sauh di Malaka.[4]

Satu hal lagi yang membuat Malaka demikian eksotik bagi para pengguna jalur pelayaran dunia. Selat ini adalah wilayah yang cocok untuk menunggu pergantian angin muson yang merupakan alat navigasi utama kapal-kapal di sepanjang jalur pelayaran dari Samudera Hindia hingga ke China.

Ilustrasi jalur pelayaran kuno, dan sistem navigasi angin muson. Sumber gambar: thinglink.com


Dalam tradisi pelayaran kuno, angin adalah salah satu faktor terpenting yang perlu diperhatikan sebelum berlayar, khususnya di Samudera Hindia. Para pedagang Arab, dan pelaut-pelaut di sepanjang pesisir Samudera Hindia selalu memperhatikan peredaran angin muson ini dalam setiap perencanaan pelayarannya. Pada sekitar bulan April hingga September, Angin Barat Laut berhembus dari selatan bumi ke bagian utara. Para pedagang yang berasal dari Barat, termasuk bangsa Arab, umumnya memanfaatkan angin ini untuk melakukan pelayaran ke Timur. Adapun dalam pelayaran pulang, para pelaut ini menunggu datangnya Angin Timur Laut yang berhembus dari bulan November hingga Februari dari utara ke selatan bumi. Di antara waktu-waktu menunggu pergantian angin inilah terkadang mereka menetap di suatu tempat di sepanjang perjalanan ke China ataupun sebaliknya. Dan salah satu choke point paling strategis yang dipilih untuk menunggu peredaran angin ini adalah Selat Malaka. Sistem peredaran angin ini seakan menjadi keuntungan alamiah bagi Parameswara. [5]

Di Selat Malaka, para pelancong dan pedagang yang melempar sauh akan membongkar sementara barang-barang bawaannya. Lambat laun, mereka pun mulai saling tukar barang bawaan dan bertransaksi di Malaka. Secara otimatis, Kesultanan Malaka pun tumbuh menjadi salah satu kota perdagangan terbesar di nusantara, mengalahkan bandar-bandar pelabuhan Majapahit dan Sriwijaya. M.C. Ricklefs, mengutip Tome Pires, menggambarkan beberapa trayek-trayek utama dan komoditi penting yang berputar di Malaka masa itu, sebagai berikut:[6]

Malaka – pantai timur Sumatera: emas, kapur barus, lada, sutra, damar, dan hasil-hasil hutan lainnya, madu, lilin, tir, belerang, besi, kapas, rotan, beras, serta bahan bahan pangan lainnya, dan budak. Hasil-hasil itu terutama ditukarkan dengan tekstur India. Jung-jung perdagangan juga dibeli di Malaka oleh pedagang-pedagang dari beberapa daerah.

Malaka – Sunda (Jawa Barat): lada, asam jawa, budak, emas, dan bahan-bahan pangan lainnya. Hasil-hasil ini ditukarkan dengan tekstil India, pinang, air mawar, dan lain sebagainya.

Malaka – Jawa Tengah dan Jawa Timur: beras, dan bahan-bahan pangan lainnya, lada, asam jawa, batu-batuan semi permata, emas, budak, dan tekstil yang dimanfaatkan sebagai barang dagangan lebih jauh ke timur. Hasil-hasilnya ditukarkan dengan tekstil India yang baik mutunya dan barang-barang Cina.

Jawa Barat – Pantai Barat Sumatera: hasil-hasil yang sama dengan hasil-hasil dari pantai timur Sumatera dan kuda dikapalkan ke Jawa Barat. Terjadi pula perdagangan secara langsung dengan para pedagang Gujarat yang membawa tekstil.

Jawa Tengah dan Jawa Timur – Sumatera Selatan: Kapas, madu, lilin, tir, rotan, lada, dan emas dikapalkan ke Jawa.

Jawa – Bali, Lombok, Sumbawa: bahan-bahan pangan, tekstil kasar, budak, dan kuda. Hasil-hasil ini ditukarkan dengan tekstil kasar Jawa.

Bali, Lombok Sumbawa – Timor, Sumba: kayu cendana dari daerah-daerah Timor dan Sumba, ditukarkan dengan tekstil kasar India dan Jawa.

Timor, Sumba – Maluku: pala, cengkeh, dan bunga pala dari Maluku (kepulauan rempah-rempah) ditukarkan dengan tekstil kasar Sumbawa, mata uang Jawa, dan perhiasan-perhiasan India.

Jawa dan Malaka – Kalimantan Selatan: bahan-bahan pangan, Intan, emas, dan kapur barus, ditukarkan dengan tekstil India.

Sulawesi Selatan – Malaka, Jawa, Brunei, Semenanjung Malaya: budak, beras, dan emas dari Makassar ditukarkan langsung oleh orang-orang Bugis dengan tekstil India, damar, dan lain sebagainya.

Di Malaka, sistem perdagangan nusantara ini kemudian dihubungankan dengan jalur-jalur perdagangan dunia yang membentang ke barat sampai India, Persia, Arabia, Syiria, Afrika Timur dan Laut Tengah; ke Utara sampai ke Siam dan Pegu; ke Timur sampai Cina dan mungkin Jepang. Menurut M.C. Ricklefs, inilah sistem perdagangan yang terbesar di dunia pada masa itu, dan dua tempat pertukarannya yang penting adalah India barat laut dan Malaka.[7] (AL)


Ilustrasi jejaring perdagangan di Nusantara dan dunia yang menjadikan Malaka sebagai titik sentral dalam sistem tersebut. Sumber gambar: singkatsejarah.blogspot.com


Bersambung…

Sebelumnya:

Catatan kaki:


[1] Lihat, Bernard H. M. Vlekke, Nusantara; Sejarah Indonesia, Jakarta, KPG, 2008, hal. 90

[2] Lihat, M.C. Ricklefs, Sejarah Indonesia Modern, Yogyakarta, Gadjah Mada University Press, 1991, hal. 28

[3] Lihat, Bernard H. M. Vlekke, Op Cit, hal. 89

[4] Lihat, Prof. Dr. Slamet Mulyana, Runtuhnya Kerjaan Hindu-Jawa dan Timbulnya Negara-Negara Islam di Nusantara, Yogyakarta, LkiS, 2005, hal. 144

[5] Terkait penjelasan lebih jauh mengenai sistem pelayaran purba ini, redaksi ganaislamika.com pernah menerbitkan serial artikel berjudul, “Tentang Masuknya Islam ke Nusantara.” Untuk membacanya dapat mengakses link berikut: https://ganaislamika.com/tentang-masuknya-islam-ke-nusantara-3/

[6] Lihat, M.C. Ricklefs, Op Cit, hal. 29

[7] Lihat, Ibid, hal. 30

Leave a Reply

Your email address will not be published.

*