Kesultanan Malaka (4): Transformasi Kekuasaan

in Sejarah

Last updated on March 9th, 2019 08:11 am

Pada tahun 1446 M, terjadi pemberontakan yang mengakibatkan tewasnya Sultan keempat, Raja Ibrahim. Kaum pemberontak tersebut lantas menunjukkan Raja Kassim sebagai Sultan selanjutnya. Mereka memegang tampuk kekuasaan yang luas, hingga praktis mengendalikan semua urusan negara.


Gambar ilustrasi. Sumber: sudutsekolah.com


Raja Parameswara wafat pada tahun 1414 M. Menurut M.C. Ricklefs,  bahwa sebelum wafatnya, Parameswara sudah memeluk agama Islam, dan mengganti namanya menjadi Sultan Iskandar Syah.[1] Namun hal ini sulit dikonfirmasi lebih jauh. Mengingat minimnya bukti sejarah yang bisa memastikan hal tersebut. Satu-satunya pijakan asumsi terkuat mengenai hal ini adalah nama Iskandar Syah sendiri, yang merupakan nama khas Islam.

Masih menurut M.C. Ricklefs, Sultan Malaka yang cukup disepakati keislamannya adalah para pengganti Parameswara. Dimulai dari penggantinya pertama, yang bergelar Megas Iskandar Syah. Dia memerintah dari selama 10 tahun, dari 1414 M sampai 1424 M.[2]

Menurut Prof. Dr. Slamet Mulyana, keislaman Megat Iskandar Syah terjadi ketika dia menikah dengan putri Sultan Pasai yang beragama Islam. Kebetulan kesultanan Pasai ketika itu menganut Mahzab Syafi’i, sehingga Megat Iskandar Syah juga mengikuti mahzab ini. Pada tahap selanjutnya, keislaman Sultan Malaka ini ternyata berpengaruh besar dalam mendorong penyebaran Islam di tengah masyarakat Melayu. Dalam waktu cepat, Islam seperti menjadi agama negara dikarenakan banyaknya pemeluk agama Islam di Malaka waktu itu.[3]

Status keislaman Kesultanan Malaka, ternyata berdampak pada bidang perdagangan. Para pedagang Arab, India dan Persia yang juga mayoritas Islam, menjadi tertarik untuk singgah ke pelabuhan ini. Di sisi lain, guna lebih meningkatkan reputasi mereka, Sultan Malaka mulia mengundang dan membiayai hidup para ulama dari berbagai kawasan di Samudera Hindia, guna mengajar dan menjaga fungsi hukum Islam.[4]

Di masa Megat Iskandar Syah, Bandar Malaka mulai menemukan identitas barunya sebagai bandar pelabuhan internasional. Meskipun pada masa ini Malaka sudah melekat identitas keislamannya, tapi Malaka bisa dikatakan sebagai wilayah yang terbuka dan cair. Toleransi berkembang dan tumbuh subur di Malaka, sehingga masyarakat dari berbagai rumpun etnis dan agama tidak merasa risih berada di sana. Para pedagang tersebut bahkan banyak yang bersedia membuka kantor perdagangan di sana. Dan Sultan Malaka pun sangat suka dengan kehadiran mereka. Karena bagaimanapun, keberadaan mereka adalah sumber ekonomi utama Kesultanan Malaka.[5]

Menurut Prof. Dr. Slamet Mulyana, tak jarang bahkan, para perwakilan dagang dan pelancong dari mancanegara ini saling bertukar ilmu pengetahuan dan budaya, bahkan tidak sedikit di antara mereka yang akhirnya menikah dengan masyarakat setempat. Semua sistem interaksi ini menjadikan Malaka demikian kaya – tidak hanya secara ekonomi – tapi juga secara sosial dan kultural. Meski demikian, warna dominan dan paling unggul di Malaka tetaplah agama Islam, khususnya Mahzab Syafi’i.[6]

Pada tahun 1424, Sultan Megat Iskandar Syah wafat. Dia digantikan oleh putranya yang bernama Muhammad Syah. Untuk pertama kalinya, Sultan Malaka yang beragama Islam mengambil gelar Sri Maharaja. Sangat mungkin ini dilakukan sebagai upaya untuk meningkatkan legitimasinya di antara negara-negara di Nusantara. Sebagaimana pendapat Prof. Dr. Slamet Mulyana, dasar pengambilan gelar Sri Maharaja oleh Muhammad Syah, karena dia mendapuk dirinya sebagai pewaris Dinasti Sailendra, yang berasal dari Sriwijaya, dan merupakan keturunan Raja Balaputradewa.[7]

Dinasti Sailendra sendiri adalah dinasti yang sangat berpengaruh di Nusantara pada awal abad pertengahan. Tapi pada akhir abad ke-13, dinasti ini hancur berkeping-keping oleh serbuan pasukan Majapahit. Sebagian dari anak keturunan mereka ada yang berlari ke Tumasik dan mendirikan kerajaan baru yang bernama Singapura. Sebagaimana yang sudah diurai dalam edisi sebelumnya, bahwa sebagian pendapat ada yang beranggapan Parameswara – pendiri Kesulatanan Malaka – adalah anak keturunan dari Kerajaan Singapura yang juga hancur karena serangan Majapahit. Pasca kehancuran itu, Parameswara kembali mendirikan kerajaan di Malaka, dan kemudian berkembang menjadi bandar pelabuhan paling penting di Nusantara. Pengambilan gelar Sri Maharaja oleh Muhammad Syah, agaknya memiliki kaitan dengan narasi historis ini.

Pada tahun 1444 M, Sultan Muhammad Syah wafat. Dia mewariskan tahta kepada putra bungsunya dari istri kedua, bernama Raja Ibrahim dan bergelar Sri Parameswara Dewa Syah. Tampaknya, keputusan ini mendapat tentangan dari keluarga istana, terutama putra pertamanya dari istri pertama yang bernama Raja Kassim. Sehingga pecahlah pemberontakan di istana Malaka pada tahun 1445 M.[8]

Pemberontakan tersebut dipimpin oleh sosok bernama Tun Ali, yang tidak lain paman dari Raja Ibrahim dan Raja Kassim. Tun Ali adalah sosok yang berpengaruh dalam komunitas Tamil yang berasal dari daratan India dan Sri Lanka. Komunitas ini umumnya beragama Islam, dan sudah menetap di wilayah Asia Tenggara sekitar abad ke 13 M.[9] Dengan kekuatan inilah dia menantang armada Kesultanan Malaka.

Pada tahun 1446 M, Tun Ali berhasil membunuh Raja Ibrahim. Dia dan pengikutnya kemudian mendaulat Raja Kassim sebagai Sultan Malaka. di sinilah kemudian muncul asumsi bahwa Raja Kassim terlibat secara tak langsung dalam upaya menggulingkan singgasana Raja Ibrahim. Sehingga sebagian pengamat menilai, bahwa pemberontakan ini adalah sebuah kudeta terselubung.[10] Namun demikian, Raja Ibrahim tetap dikebumikan secara terhormat oleh para pengikutnya, dan diberi galar Sultan Abu Syahid.

Raja Kassim naik tahta pada tahun 1446 M, yang kemudian mengganti namanya menjadi Muzaffar Syah. Adapun Tun Ali dinobatkan sebagai Bendahara. Selain bertangggungjawab atas pengelolaan harta negara, Tun Ali juga bertindak semacam perdana menteri atau wazir Kesultanan Malaka. Dengan kedudukan yang demikian berkuasa ini, Tun Ali tak ubahnya seperti sultan itu sendiri.[11] (AL)

Bersambung…

Sebelumnya:

Catatan kaki:


[1] Lihat, M.C. Ricklefs, Sejarah Indonesia Modern, Yogyakarta, Gadjah Mada University Press, 1991, hal. 28

[2] Ibid

[3] Lihat, Prof. Dr. Slamet Mulyana, Runtuhnya Kerjaan Hindu-Jawa dan Timbulnya Negara-Negara Islam di Nusantara, Yogyakarta, LkiS, 2005, hal. 149

[4] Lihat, Ismail Farjrie Alatas, Menjadi Arab: Komunitas Hadrami, Ilmu Pengetahuan Kolonial &Etnisitas, dalam L.W.C. van den Berg, Orang Arab di Nusantara, Depok, Komunitas Bambu, 2000, hal. xxx

[5] Lihat, Prof. Dr. Slamet Mulyana, Op Cit, hal. 148

[6] Ibid, hal 149

[7] Ibid

[8] Lihat, Muzaffar Shah of Malacca, https://www.revolvy.com/page/Muzaffar-Shah-of-Malacca, diakses 4 Februari 2019

[9] Ibid

[10] Lihat, M.C. Ricklefs, Op Cit

[11] Lihat, Prof. Dr. Slamet Mulyana, Op Cit

Leave a Reply

Your email address will not be published.

*