Mozaik Peradaban Islam

Al-Jahiz (2): Masa Kecil

in Tokoh

Abu Utsman adalah anak yang miskin namun rajin dan cerdas. Dia memiliki mata yang melotot keluar dan menakutkan, sampai-sampai dijuluki “Si Mata Melotot”, atau dalam bahasa setempat “Jahiz”. Dialah yang kelak dikenal sebagai al-Jahiz.

Ilustrasi wajah al-Jahiz. Foto: 1001 Inventions

Penulis yang lebih terkenal dengan nama al-Jahiz ini sebenarnya memiliki nama asli Abu Utsman Amr bin Bahr al-Kinani al-Fuqaimi al-Basri. “Al-Jahiz” sendiri adalah julukan yang disematkan kepadanya, yang artinya kurang lebih adalah “Si Mata Melotot”. Julukan ini cenderung berkonotasi negatif, sebab bukan cuma melotot, tapi juga menakutkan.[1]

Ada juga catatan lainnya yang menyebutkan bahwa dia memiliki kelainan bentuk mata,[2] sehingga mengakibatkan wajahnya menjadi buruk rupa. Mengenai keburukan wajahnya ini diakui oleh al-Jahiz sendiri di kemudian hari dalam salah satu tulisannya.

Al-Jahiz menulis, “Mereka menyebutkan namaku kepada Khalifah al-Mutawakkil (khalifah Dinasti Abbasiyah yang ke-10) untuk mendidik beberapa putranya. Ketika dia melihatku, dia mempertimbangkan keburukan wajahku dan dia memerintahkan untukku (untuk diberikan) 10.000 Dirham dan menyuruhku pergi.”[3]

Sementara itu bagian terakhir dari namanya, al-Basri, menandakan dari mana dia berasal. Al-Basri di sini mengacu ke kota Basrah, yang sekarang terletak di bagian selatan Irak. Saat ini, Basrah merupakan kota pelabuhan dan pusat produksi minyak, ia termasuk di antara kota-kota besar di Irak.

Bahkan ketika di masa al-Jahiz, Basrah adalah pusat perdagangan yang penting — dan pembelajaran — dan yang mendukung kehidupan yang berbudaya. Secara peringkat kemajuan mungkin ia hanya berada di bawah Baghdad dan mungkin juga Samarra yang berada di utara Baghdad.[4]

Berdasarkan cerita yang disampaikan di lingkungan keluarganya, disebutkan bahwa salah satu leluhurnya adalah seorang budak Afrika berkulit hitam yang telah dibebaskan.[5] Sumber lain menyebutkan leluhurnya ini berasal dari Ethiopia.[6] Sementara itu ahli tata bahasa ternama, Abu al-Abbas, menyebutkan bahwa kakek al-Jahiz adalah seorang gembala unta yang berkulit hitam.[7]

Dengan akar keluarga Afrika seperti ini, mungkin inilah yang menjelaskan mengapa al-Jahiz kemudian menulis setidaknya satu risalah penting yang menjelaskan perbedaan antara kulit hitam dan kulit putih.[8]

Keluarga al-Jahiz bukanlah keluarga yang sejahtera, dan kesulitan ekonomi yang mereka alami ini semakin menjadi-jadi setelah ayahnya meninggal waktu dia masih bayi.[9] Karena kemiskinan keluarganya ini, maka dari sejak muda al-Jahiz sudah mulai bekerja menjual ikan di pelabuhan kota.[10]

Terlepas dari keadaan keluarganya yang miskin ini, al-Jahiz bangga dengan ibunya yang entah bagaimana caranya dapat mengumpulkan cukup uang agar bisa menyekolahkannya ke sekolah Alquran setempat, di mana dia menerima pelajaran agama dan belajar membaca dan menulis.

Setelah sekolah al-Jahiz tidak langsung pulang, dia memiliki kebiasaan menghadiri ceramah-ceramah yang diberikan oleh beberapa ulama terbaik di Basrah. Dia juga menjadi pembaca yang kuat.

Dia dengan cepat menjadi tertarik dengan diskusi-diskusi tentang filologi Arab, atau sejarah dan perkembangan bahasa; leksikografi, atau kompilasi kamus dan daftar kata; dan puisi. Ini adalah subjek-subjek yang akan menyuluhi gairah ilmu pengetahuan al-Jahiz sepanjang sisa usianya yang panjang.[11] (PH)

Bersambung….

Sebelumnya:

Catatan kaki:


[1] Eamonn Gearon, The History and Achievements of the Islamic Golden Age (The Great Courses: Virginia, 2017), hlm 31.

[2] “Who Was Al-Jahiz?”, dari laman https://www.1001inventions.com/book-of-animals/bof-al-jahiz/, diakses 29 Mei 2021.

[3] I. M. N. Al-Jubouri, Islamic Thought: From Mohammed to September 11, 2001 (Xlibris Corporation: US, 2010), hlm 153.

[4] Eamonn Gearon, Loc.Cit.

[5] Ibid.

[6] Encyclopædia Britannica, “”Jāḥiẓ, al-.” (Chicago: Encyclopædia Britannica, 2014)

[7] I. M. N. Al-Jubouri, Op.Cit., hlm 152.

[8] Eamonn Gearon, Loc.Cit.

[9] Ibid., hlm 32.

[10] 1001 Inventions, “Al-Jahiz and the Book of Animals”, dari laman https://artsandculture.google.com/exhibit/al-jahiz-and-the-book-of-animals-1001-inventions/ZwLS7GSvFNVoLg?hl=en, diakses 29 Mei 2021.

[11] Eamonn Gearon, Loc.Cit.

Leave a Reply

Your email address will not be published.

*