Mozaik Peradaban Islam

Allamah Thabathabai: Filosof dan Mufasir Muslim Kontemporer (1)

in Tokoh

Last updated on February 9th, 2019 05:42 am

Keluarga Thabathabi secara turun-temurun memegang kuat tradisi keilmuan. Namun di antara semuanya ada satu yang paling bersinar, dialah Allamah Muhammad Husein Thabathabai.

Allamah Thabathabai. Photo: Wikimedia

Siapapun yang membaca sejarah Islam, tentu bisa menilai, bagaimana agama ini kian hari kian berkilau disinari oleh gemerlap capaian para sarjana dan ulamanya. Mereka datang berduyun-duyun tanpa henti selama lebih dari 14 abad ini. Tapi ada sedikit dari mereka yang menjadi bintang yang terang pada masanya. Mereka yang sedikit ini ibarat kompas bagi generasi sarjana lainnya, dan bagi manusia pada zamannya. Dan di era modern ini, di antara sekian banyak bintang itu, ada satu nama yang tak mungkin dilewatkan, baik oleh sarjana di Timur maupun di Barat. Dialah Allamah Muhammad Husein Thabathabai, atau lebih akrab disebut dengan Allamah Thabathabai.

Allamah Thabathabai tak ayal lagi merupakan salah satu tonggak yang berdiri tegak, stand out among the crowd, dalam sejarah pemikiran Islam. Siapa saja yang menapak-tilas sejarah pemikiran Islam selama 300 atau 400 tahun belakangan tidak mungkin melewatkan korpus Allamah Thabathabai yang membentang luas dari tema-tema filosofis yang paling bernas hingga anotasi ensiklopedia hadis Bihar Al-Anwar yang cerdas.

 

Asal usul dan latar belakang keluarga

Thabathabai bernama lengkap: al-Sayyid[1] Muhammad Husain ibn Sayyid Muhammad ibn Muhammad Husain ibn Mirza Ali Ashghar Syaikh al-Islam al-Thabathabai al-Tabrizi al-Qadhi, atau akrab disapa dengan Allamah Thabathabai. Dia dilahirkan di sebuah desa yang bernama Shadabad di dekat kota Tabriz, Iran (Persia),[2] pada tanggal 29 Dzulhijjah/ 16 Maret 1904 M. Dia datang dari rumpun keluarga ulama sekaligus akademisi yang sangat kuat memegang tradisi keilmuan.

Menurut Hamid Algar, sejak abad ke 9 atau 10 Masehi, orang-orang Iran sudah terbiasa mewariskan tradisi keilmuan secara turun temurun. Tapi hanya sedikit dari mereka yang bisa tetap konsisten menjaga tradisi itu hingga abad ke-20. Di antara yang sedikit itu adalah keluarga Allamah Thabathabai. Sejak era Dinasti Aq Qoyunlu,[3] masuk ke Dinasti Safawi, Qajar dan periode Pahlevi, sampai memasuki era Republik Islam Iran – keluarga ini tetap kukuh memegang tradisi ilmiah dan tak pernah absen menyumbangkan para pemikir dan ulama kenamaan di setiap eranya, khususnya di daerah Tabriz.[4]

Bila dirunut sampai ke atas, nasab keluarga Allamah Thabathabi bersambung hingga kepada Ali bin Abi Thalib.[5] Adapun kiprah para leluhurnya dalam berbagai bidang keilmuan, baru tercatat sekitar abad ke-14 M. Pendahulunya bernama Abd al-Wahhab Hamadani, yang lahir dan dibesarkan di Samarkan. Dia adalah putra dari Sayyid Najm al-Din Abd al-Ghaffar Thabathabai, seorang ulama yang dikenal sebagai Syaikhul Islam di Tabriz. Setelah ayahnya wafat, Abd al-Wahhab Hamadani menggantikan kedudukan ayahnya tidak lama sebelum Dinasti Safawi menggantikan Aq Qoyunlu pada tahun 907 H/1501 M. Sukses melewati kemelut politik yang terjadi selama masa transisi dua dinasti tersebut, Sayyid Abd al-Wahab mendapat kepercayaan dari penguasa Safawi untuk melakukan misi diplomatik ke Istanbul. Namun sayang, dia ditahan di sana hingga wafatnya pada tahun 930 H/1524 M.[6]

Jarak antara Sayyid Abd al-Wahab dan Allamah Thabathabai terpaut 12 generasi. Leluhurnya yang ketujuh, Mirza Muhammad Ali Qadi, adalah seorang yang menjabat sebagai qadhi al-qudhat (Hakim Agung) di Azerbaijan. Sebutan “Qadhi” itu lantas melekat pada anggota garis keturunan keluarga ini, baik ketika mereka menjalankan profesinya sebagai qadi ataupun tidak.[7]

Di antara leluhur Allamah Thabathabai yang cukup terkemuka dan relatif dekat masa kehidupannya adalah kakek buyutnya yang bernama Mirza Muhammad Taqi Qadi Thabathabi. Dia adalah murid seorang ahli Ushul Fiqh, Aqha Muhammad Baqir Bahbahani, dan murid dari Mirza Mahdi Bahr al-Ulum, seorang ahli irfan (gnostic) yang terkemuka di masanya. Adapun putra Mirza Muhammad Taqi yang bernama Mirza Ali Ashgar adalah salah sosok yang mungkin agak berbeda jalan hidupnya. Dia adalah ulama terkemuka yang bertindak sebagai Syaikhul Islam di Tabriz selama masa pemerintahan Nasir al-Din Syah. Dalam masa hidupnya, dia ikut terlibat bersama masyarakat dalam aktifitas menentang kejahatan korupsi yang dilakukan oleh Dinasti Qajar dan aparatnya.[8]

Ayah dari Allamah Thabathabai bernama Muhammad. Dia bukan hanya seorang ulama terkenal di Tabriz, tapi juga di berbagai daerah lainnya di Iran. Sementara kakeknya, Sayyid Muhammad Husein, adalah seorang murid terbaik dari Syaikh Muhammad Hasan pengarang al-Jawahir dan Syaikh Musa Kasyif al-Githa.[9]

Dengan tekad menapaki jejak para leluhurnya, Allamah Thabathabai dikenal sebagai sosok ulama dan akademisi yang komplit. Sayyid Hussein Nasr menggolongkan Thabathabai dalam kelompok ulama tradisional yang responsif terhadap berbagai pemikiran kontemporer. Dalam dirinya, lanjut Nasr, menyatu sosok seorang “Syaikh”; karena keakrabannya dengan ilmu-ilmu Islam klasik, sekaligus ilmuwan dengan kualifikasi di atas rata-rata.[10] Gelar “hakim” atau teosof disandangnya karena penguasaannya secara sempurna atas berbagai aliran filsafat, baik Timur maupun Barat. Selain itu, dia juga menguasai dengan baik berbagai bidang esoteris, tanpa melupakan ilmu-ilmu Syariat yang bersifat eksoteris. Karenanya, tokoh ini tidak hanya dikenal sebagai seorang faqih, tapi juga sekaligus seorang arif.[11] (MK)

Bersambung ke:

Allamah Thabathabai: Filosof dan Mufasir Muslim Kontemporer (2): Riwayat Pendidikan  (1)

Catatan Kaki:

[1] Gelar “Sayyid” merupakan panggilan kehormatan bagi orang yang memiliki hubungan keturunan dengan Nabi. Gelar ini tidak sama dengan kata “Sayyid” dalam penggunaan umum bahasa Arab yang disejajarkan dengan sebutan “Gentleman” atau “Tuan”.

[2] Penjelasan lebih komprehensif mengenai sejarah, etnograpi, bahasa, dialek dan literatur Persia modern serta perubahan nama dari Persia menjadi Iran bisa dilihat dalam, M Th. Houtsman, et al, (Eds,), (1987), First Encyclopaedia of Islam, Vol VI, Leiden: E J Brill, hal. 1038-1058. Artikel pertama ditulis oleh J.H. Kremes, “Historical and Ethnographical Survey“; yang kedua oleh H.W Bailey, “Language and Dialects“; dan ketiga ditulis oleh E Berthels, “Modern Persian Literature“.

[3] Aq Qoyunlu adalah sebuah federasi suku-suku Turki yang memerintah kawasan Persia (Irak-Iran), Azerbaijan (Asia Tengah) sampai wilayah timur Anatolia, dari tahun 1378 – 1501 Masehi. Pada masanya, wilayah Aq-Qoyunlu berbatasan dengan Dinasti Taymur di Timur, Dinasti Utsmani di Utara, dan Mamluk di Barat. Lihat, https://www.britannica.com/topic/Ak-Koyunlu, diakses 31 Desember 2018

[4] Lihat, Hamid Algar, ‘Allama Sayyid Muhammad Husayn Tabataba’i: Philosopher, Exegete, And Gnostic, (2006) Journal of Islamic Studies, University of California, Berkeley, hal. 1

[5] Silsilah nasabnya secara lengkap bisa dilihat dalam Agha Barzak Thahrani, (1370), Thabaqat A’lam al-Syiah, Jilid I, Najaf: al-Mathba’ah al-‘Ilmiyah, hal. 645.

[6] Ibid

[7] Ibid

[8] Ibid, hal. 2

[9] Wafat di Tabriz tahun 1294 H dan dimakamkan di Najaf dalam usia lebih dari 80 tahun. Dia meninggalkan beberapa karya, diantaranya, kitab fiqh (Manhaj al-Rasyad fi Syarhi al-Irsyad, Mabahis al-‘Ibadat), dan pembahasannya tentang ilmu Nahwu dalam 12 jilid. Lihat, “Pengantar Dr Husain Mahfudz”, dalam al-Kulayni, (1375), Ushul al-Kafi, Jilid I, Iran, Mathba’ah Haydar, hal. 37.

[10] Dalam konteks ini istilah “tradisional” tidak selalu berkonotasi negatif. Tidak berlebihan kiranya jika istilah ini disandang Thabathabai karena kemampuannya menguasai secara baik dan sempurna berbagai disiplin ilmu klasik. Lebih dari itu, dia bahkan mampu mengkombinasikan fiqh dan tafsir Alquran dengan filsafat, serta teosofi dengan tasawuf. Lihat Haidar Baqir, (peny), S H Nasr, “Tentang Penulis”, dalam Thabathabai, (1993), Hikmah Islam.Cet IV, teri Bandung Mizan, hal. 7-8.

[11] Lihat Sayyid Hosen Nasr, “Sang Alim dari Tabriz”, dalam Thabathabai , (1993), Menyingkap Rahasia Alquran, terj A Malik Madaniy dan Hamim Ilyas, Bandung Mizan, him 5-8. Lihat juga, Thabathabai, (1989), op.cit. hal. 13-18.

Leave a Reply

Your email address will not be published.

*