Mozaik Peradaban Islam

Asal-Usul Dinasti Mamluk (3): Shajar ad-Durr, Sultan(a) Pertama Mamluk (2)

in Monumental

Last updated on July 12th, 2018 01:13 pm

“Karena bertentangan dengan tradisi kekhalifahan Islam, Shajar ad-Durr dituntut untuk melepaskan gelar kesultanannya. Sebagai gantinya dia menikahi Aybak, komandan Mamluk, dan mengangkatnya menjadi Sultan. Namun pernikahan ini berujung tragedi kematian yang mengenaskan.”

–O–

Solaf Fawakhergy, artis Suriah yang berperan menjadi Shajar ad-Durr dalam TV seri di Mesir. Photo: listal.com

Setelah menjadi Sultana pada 2 Mei 1250, Shajar al-Durr mengambil nama kerajaan sebagai al-Malikah Ismat ad-Din Umm-Khalil Shajar al-Durr dengan beberapa gelar tambahan seperti Malikat al-Muslimin (Ratu Muslim) dan Walidat al-Malik al -Mansur Khalil Amir al-Mu’aminin  (Ibu dari al-Malik al-Mansur Khalil, Amir para orang beriman). Selain itu, dalam ceramah shalat Jumat di masjid, namanya pun harus disebutkan termasuk dengan gelar-gelar lainnya seperti Umm al-Malik khalil (Ibu dari al-Malik Khalil) dan Sahibat al-Malik as-Salih (Istri al-Malik as-Salih).

Hal lainnya adalah koin Mesir dicetak dengan gelarnya, dan dia menandatangani surat keputusan dengan nama Walidat Khalil. Dengan terus menggunakan nama suami dan putranya yang telah meninggal, Shajar al-Durr berupaya untuk mendapatkan rasa hormat dan legitimasi untuk pemerintahannya sebagai pewaris kesultanan yang sah.[1]

Koin Shajar ad-Durr . Photo: civicegypt.org

Shajar ad-Durr jelas merupakan seorang aktor politik yang cerdas. Namun dengan hanya memenangkan dukungan dari para komandan senior Mamluk — membujuk mereka agar mau dipimpin oleh seorang wanita di dunia yang didominasi oleh pria  — itu tidaklah cukup. Shajar ad-Durr memerintah di Mesir atas namanya sendiri hanya berlangsung selama tiga bulan, tetapi bagaimanapun itu adalah periode yang paling penting bagi Mamluk dan juga sejarah Mesir.

Lain halnya dengan orang-orang Mamluk, Sultan Dinasti Abbasiyah di Baghdad menolak untuk menerima pengangkatan Shajar ad-Durr sebagai Sultana permanen. Maka sebagai komprominya, pada bulan Agustus 1250, Shajar ad-Durr setuju untuk menikah dengan Panglima Mamluk di Kairo, Aybak, dan menjadikannya sebagai sultan pengganti. Keputusan ini membuat Mamluk menjadi direstui oleh khalifah Abbasiyah, meskipun pernikahannya itu sendiri bukanlah sesuatu yang membahagiakan bagi Shajar ad-Durr.

Setelah Mamluk berkuasa, friksi politik di antara faksi-faksi yang sudah ada sejak lama di dalam tubuh Mamluk menjadi tumbuh dan berkembang. Faksi-faksi ini didasari oleh asal-usul kesukuan para anggota Mamluk yang beragam. Friksi ini kemudian semakin dipertajam ketika pengantin baru ini masing-masing mendukung dua belah faksi yang saling bertentangan satu sama lain. Baik Shajar ad-Durr dan Aybak kemudian secara terang-terangan menunjukkan rasa tidak suka atas pilihan politiknya masing-masing. Mamluk kini dilanda oleh dualisme kepemimpinan.[2]

Terlepas apakah Aybak memiliki kekuatan politik atau tidak, pada faktanya dia adalah seorang komandan berbakat yang telah mengalahkan tentara Suriah pada tahun 1252. Walaupun sebelumnya dia memposisikan dirinya sebagai seseorang yang menekan pemberontakan teman-teman Mamluknya yang lebih ambisius, namun pada akhirnya konflik dia dengan Shajar ad-Durr tidak dapat dihindari.

Selain itu Aybak memiliki istri pertama yang bernama Umm Ali yang telah memberinya seorang putra. Shajar ad-Durr dikatakan meminta Aybak agar tidak mengurusi lagi kehidupan rumah tangga lamanya. Dia juga berusaha keras agar Aybak tidak menemui lagi Umm Ali dan anaknya, dan dia juga bahkan mencoba membujuknya untuk menceraikannya.

Tekanan itu rupanya membuat Aybak memikirkan rencana lain, dia berencana untuk mengambil istri ketiga, putri seorang amir terkemuka. Ketimbang memang benar-benar ingin menikah, tampaknya Aybak melakukan hal ini semata-mata demi langkah politik, dan Shajar ad-Durr melihat ini sebagai upaya untuk menggulingkannya.[3]

Pada tahun 1257, akhirnya pertikaian berdarah tidak dapat dihindarkan. Khawatir dengan posisinya, Shajar ad-Durr kemudian mengatur skenario agar Aybak dibunuh. Suatu malam, Aybak dibunuh ketika sedang berada di kamar mandi.[4] Shajar ad-Durr melakukan yang terbaik untuk mengambil kembali kekuasaan, mengklaim bahwa Aybak telah meninggal karena serangan penyakit mendadak pada malam hari.[5]

Namun para sekutu Aybak tidak dapat menerimanya, mereka kemudian membalas pembunuhan tersebut dengan segera. Dipimpin oleh Umm Ali, para pelayan dikerahkan untuk menyerang  istana. Menurut sejarawan abad ke-15, al-Maqrizi, para pelayan Shajar ad-Durr disiksa supaya mengakui bahwa merekalah pembunuh Aybak. Setelah mengakui akhirnya mereka dieksekusi.[6]

Adapun nasib Shajar ad-Durr, dia ditelanjangi dan dipukuli menggunakan sepatu kayu sampai mati oleh pelayan yang bekerja untuk putra Aybak. Tubuhnya yang luka-luka dan telanjang kemudian  ditemukan di luar Benteng. Setelah selama tiga hari dibiarkan tergeletak, akhirnya para pendukung  Shajar ad-Durr mengambil tubuhnya, dan dia dimakamkan dengan terhormat. Makam Shajar ad-Durr masih ada sampai hari ini dan dapat dikunjungi.[7]

Makam Shajar ad-Durr di Kairo. Photo: civicegypt.org

Setelah hingar-bingar berdarah tersebut usai, putra Aybak yang masih muda, Al-Mansur Ali, diangkat menjadi Sultan, meskipun dia hanya memerintah selama dua tahun sebelum dibunuh dan digantikan oleh salah satu pemimpin Mamluk lainnya.

Setelah kematiannya, kisah tentang Shajar ad-Durr terus hidup di dalam cerita rakyat masyarakat Mesir. Namun, di dalam cerita rakyat tersebut kisahnya menjadi berbeda dengan sejarah aslinya. Contohnya terdapat di dalam Sirat al-Zahir Baybars, sebuah puisi epik tentang kisah Baibars, komandan Mamluk yang nantinya akan menjadi sultan.

Di dalam puisi itu Shajar ad-Durr digambarkan sebagai seorang putri dari khalifah di Baghdad yang diutus untuk memimpin Mesir. Di Mesir Shajar ad-Durr kemudian mengangkat seorang anak yang bernama Baibars. Suatu hari Shajar ad-Durr membunuh seorang perampok yang bernama Aybak yang menyusup ke istananya. Shajar ad-Durr kemudian terjatuh dari atap kastil istana setelah dikejar-kejar oleh anak buah Aybak. [8]

Kisah-kisah dalam cerita rakyat masih banyak macam versi lainnya. Namun tidak ada satupun yang menggambarkan bahwa Shajar ad-Durr dulunya merupakan seorang budak, semuanya menggambarkan bahwa dia adalah seorang putri. Kisahnya dibuat menjadi fiksi romantis. Dan bahkan sampai di era modern ini, kisah Shajar ad-Durr beberapa kali telah diangkat ke televisi dengan berbagai macam versi yang jauh berbeda dengan sejarah aslinya.[9] (PH)

Bersambung ke:

Asal-Usul Dinasti Mamluk (4): Sultan Qutuz dan Utusan Mongol

Sebelumya:

Asal-Usul Dinasti Mamluk (2): Shajar ad-Durr, Sultan(a) Pertama Mamluk (1)

Catatan Kaki:

[1] “Shajar al-Durr”, dari laman http://www.civicegypt.org/?p=53968, diakses 7 Juli 2018.

[2] Eamon Gearon, Turning Points in Middle Eastern History, (Virginia: The Great Courses, 2016), hlm 137-138.

[3] Ciaran Conliffe, “Shajar al-Durr, Queen of Egypt”, dari laman https://www.headstuff.org/culture/history/terrible-people-from-history/shajar-al-durr-queen-egypt/, diakses 7 Juli 2018.

[4] Eamon Gearon, Ibid., hlm 137.

[5] Ciaran Conliffe, Ibid.

[6] Ibid.

[7] Eamon Gearon, Loc. Cit.

[8] Ciaran Conliffe, Ibid.

[9] “Shajar al-Durr”, Ibid.

Leave a Reply

Your email address will not be published.

*