Mozaik Peradaban Islam

Asal-Usul Dinasti Mamluk (6): Terbunuhnya Qutuz dan Kelangsungan Dinasti Mamluk

in Monumental

“Setelah menang perang dengan Mongol, Qutuz tewas dibunuh oleh Baibars, loyalis Shajar ad-Durr. Dapatkah Mamluk bertahan melalui turbulensi politik yang terus-menerus?”

–O–

Pertemuan antara Mamluk dan Mongol di Ain Jalut adalah salah satu pertempuran paling penting dalam sejarah dunia – setara dengan pertempuran Marathon, Salamis, Lepanto, Chalons, dan Turisme. Tidak hanya bagi dunia Islam dan Timur Tengah saja, tetapi juga dunia Barat, seandainya bangsa Mongol berhasil menaklukkan Mesir, mereka mungkin bisa saja, sekembalinya Hulagu, untuk melanjutkan perjalanan melintasi Afrika Utara ke Selat Gibraltar dan tiba di semenanjung Iberia.

Apabila hal itu terjadi, maka Eropa akan dikepung dari Polandia hingga Spanyol. Dan dalam keadaan seperti itu, mungkinkah Renaisans Eropa terjadi? Pondasi bangsa Eropa akan menjadi lemah, dan wajah dunia, mungkin saja saat ini merupakan sesuatu yang berbeda.[1]

Setelah mendengar kekalahan pasukan Mongol dan kematian Kitbuqa, Hulagu Marah besar dan bertekad untuk membalas. Namun pada kenyataannya invasi Mongol lainnya ke dunia Muslim tidak pernah terjadi. Hulagu disibukkan oleh segala urusan dalam negeri dan tidak pernah bisa meluncurkan invasi lainnya lagi.

Setelah kematian Hulagu, Kekaisaran Mongol Gerombolan Emas (Golden Horde) memerintah wilayah terbesar pada saat itu yang membentang dari China sampai ke Muscovy (Moskow modern). Tetapi kecenderungan yang mulai muncul di antara orang-orang Mongol pada saat itu adalah mereka mulai melakukan konversi ke agama Islam. Dengan banyaknya keturunan Mongol, bahkan raja-raja mereka, yang masuk Islam, maka ancaman bangsa Mongol ke Dunia Islam berakhir.

Setelah kemenangan Mamluk, tentara Muslim tidak berhenti mengusir orang-orang Mongol dari Timur Tengah. Bukan hanya itu, mereka juga memberikan tekanan terakhir kepada Tentara Salib yang menduduki Acre dan Antiokhia, dengan mengalahkan kubu Tentara Salib terakhir pada tahun 1291. Tentara Muslim mengalahkan musuh-musuh mereka yang telah melemah satu demi satu, baik itu orang-orang Mongol maupun Tentara Salib. Dengan berakhirnya kekuasaan mereka, maka Mongol dan Tentara Salib tinggal menjadi sejarah di Timur Tengah.[2]

Karena itu, Mamluk tidak hanya menghentikan deru laju bangsa Mongol ke arah barat, tetapi — sama pentingnya — mereka juga menghancurkan mitos Mongol sebagai bangsa yang tak terkalahkan. Kepercayaan diri orang Mongol juga setelahnya tidak pernah lagi sama, dan Ain Jalut menjadi penanda akhir dari invasi bangsa Mongol di Levant.

Sedangkan Qutuz sendiri, bagaimanapun, hasil kemenangannya direnggut dengan cepat dari tangannya. Setelah Aleppo direbut kembali, Baibars meminta, bahwa sebagai pengakuan atas kontribusinya dalam pertempuran Ain Jalut, dia diberi kekuasaan untuk wilayah tersebut. Qutuz menolak, dan dia harus membayar mahal atas penolakannya tersebut.

Beberapa hari setelah kemenangan di Ain Jalut dan kembalinya pasukan Mamluk ke Kairo, Baibars pergi menemui Qutuz dengan alasan untuk membicarakan masalah negara. Ketika Qutuz keluar dan menyambutnya, dengan segera Baibars menarik belatinya dan menusuk Qutuz tepat di jantungnya. Dengan kematian Qutuz, maka Baibars yang sebelumnya memang memiliki basis pendukung yang kuat, naik ke tampuk kekuasaan menjadi Sultan.[3]

Baibars akan memerintah Dinasti Mamluk selama 17 tahun, selama periode itu dia mengamankan banyak wilayah yang sudah dimenangkan. Baibarslah orang yang berjasa dalam memastikan bahwa Mamluk tidak  akan pernah diganggu lagi oleh orang Mongol ataupun Tentara Salib. Selain itu, Baibars juga menghilangkan sisa-sisa terakhir keturunan Dinasti Ayyubiyah di Suriah, dan dia menyatukan Suriah dan Mesir di bawah satu pemerintahan.

Kartu pos yang menggambarkan benteng dan masjid Kairo yang dibangun pada periode Mamluk berkuasa. Photo: mapwalk2013

Pada generasi sultan setelah Baibars, rata-rata pemerintahan seorang sultan hanya berlangsung selama tujuh tahun. Ini menyebabkan periode ketidakstabilan, dan tidak diragukan lagi banyak kekhawatiran di antara para sultan itu sendiri. Orang-orang Mamluk terkenal akan keberanian dan keterampilan mereka dalam menggunakan senjata. Secara turun-temurun orang-orang Mamluk mewarisi kemampuan militer, dan mereka terbiasa hidup dengan tradisi-tradisi militeristik.

Di Mesir yang tengah menjadi negara semi permanen, orang-orang Mamluk bertarung satu sama lain dalam pertarungan yang mematikan. Situasi ini benar-benar merusak kemampuan mereka untuk memerintah, karena satu demi satu penguasa Mamluk dibunuh oleh pesaing lainnya. Menurut beberapa sejarawan, pencapaian utama Baibars justru adalah kemampuannya untuk memimpin yang berlangsung selama 17 tahun.

Pada tahun 1517, Mamluk akhirnya ditaklukkan oleh Ottoman (Ustmaniyah), namun meskipun berada di bawah kekuasaan Ottoman, Mamluk sekali lagi akan menegaskan pengaruhnya di Mesir (secara administratif mereka berada di bawah Ottoman, namun secara faktual mereka adalah penguasa sesungguhnya). Mamluk terus bertahan dan memerintah sampai akhirnya mereka dikalahkan oleh Napoleon pada tahun 1798.

Lukisan karya Horace Vernet (1789–1863) dari abad ke-19 yang menggambarkan pembantaian orang-orang terakhir Mamluk oleh Muhammad Ali. Photo: youregypt

Mamluk baru benar-benar berakhir sekitar 13 tahun kemudian, yaitu pada tahun 1811, ketika orang-orang Mamluk yang tersisa dibantai oleh penguasa baru Mesir, Muhammad Ali, seorang tentara Ottoman Albania yang menjadi raja baru. Meskipun demikian, Mamluk telah memegang peran sentral dalam kehidupan militer dan politik Mesir — dan bagian lain dari Timur Tengah — selama hampir 600 tahun.[4] (PH)

Seri Asal-Usul Dinasti Mamluk selesai.

Sebelumnya:

Asal-Usul Dinasti Mamluk (5): Pertempuran Ain Jalut

Catatan Kaki:

[1] David W. Tschanz, “History’s Hinge ‘Ain Jalut”, dari laman http://archive.aramcoworld.com/issue/200704/history.s.hinge.ain.jalut.htm, diakses 15 Juli 2018.

[2] Robin MacArthur, Mahomet Mostapha, dan Naim al Khoury (ed), “History of Jihad against the Mongols (1050-1258)”, dari laman http://www.historyofjihad.org/mongolia.html, diakses 15 Juli 2018.

[3] David W. Tschanz, Ibid.

[4] Eamon Gearon, Turning Points in Middle Eastern History, (Virginia: The Great Courses, 2016), hlm 141, 234.

Leave a Reply

Your email address will not be published.

*