Mozaik Peradaban Islam

Bangsa Mongol dan Dunia Islam (24): Penaklukkan Suku Naiman (1)

in Sejarah

Last updated on March 8th, 2019 02:39 pm


Jauh dari penggambaran suku Mongol yang barbar, ketika mereka menyerang suku Naiman, karena jumlah prajurit Mongol lebih sedikit, mereka menggunakan segala macam propaganda dan tipu daya yang cerdas.

Tiga suku terbesar yang memerintah di dataran padang rumput Mongolia sebelumnya adalah Kereyid di wilayah tengah, Tatar di wilayah Timur, dan Naiman di wilayah barat. Temujin telah menundukkan Tatar dan Kereyid, kini yang menjadi target selanjutnya adalah Naiman. Jika dalam banyak kisah bangsa Mongol digambarkan sebagai orang-orang haus darah yang berperang hanya dengan mengandalkan kekuatan besar, kisah perang berikutnya ini akan menepis anggapan tersebut.

Untuk menghadapi suku Naiman di wilayah mereka sendiri dengan jumlah pasukannya yang lebih besar, Temujin tidak bisa mengandalkan kekuatan semata. Sebelum perang dimulai, Temujin menggunakan propaganda dan opini publik untuk membangun citra dan semangat pasukan Mongol. Orang-orang Mongol menyebarkan cerita di antara para pendukung mereka dengan menyebarkan rumor bahwa Tayang Khan, pemimpin suku Naiman, telah tua, sehingga dia menjadi dungu dan lemah. Sementara itu istri dan anak laki-lakinya sendiri, yang membencinya, sering mempermalukannya di depan umum.

Kemudian untuk membangkitkan amarah terhadap musuh, para pemimpin Mongol menyebarkan cerita bahwa ratu Naiman memandang rendah orang-orang Mongol, memandang mereka sebagai orang-orang biadab yang kotor dan juga bau. Dengan menggunakan propaganda sebagai cara untuk membangun kepercaya dirian pasukan mereka sendiri dan untuk melemahkan tekad musuh, orang-orang Mongol juga menyebarkan cerita bahwa anak laki-lakinya sendiri memanggil Tayang Khan dengan ejekan, memanggilnya wanita tua Tayang yang tidak dapat berjalan lebih jauh dari tendanya ketimbang wanita hamil yang ingin kencing.

Pada saat yang bersamaan ketika mereka menyebarkan cerita-cerita aneh tentang keluarga penguasa Naiman, mereka juga membangkitkan semangat mereka sendiri dengan cerita-cerita tentang betapa takutnya orang-orang Naiman terhadap mereka. Karena Jamuka telah melarikan diri dan meminta perlindungan kepada suku Naiman, di sana dia dikabarkan menggambarkan kisah tentang prajurit Mongol yang mengerikan, “Orang-orang Mongol memiliki pahat untuk hidung dan penusuk tajam untuk lidah. Mereka dapat hidup dengan memakan embun dan mengendarai angin.” Tentang Temujin, mereka menjulukinya sebagai elang yang lapar, dan mengarang cerita bahwa “seluruh tubuhnya terbuat dari tembaga dan besi yang diikat dengan rapat sehingga tidak ada senjata yang dapat menembusnya.”

Ketika perang hampir dimulai, bertolak belakang dengan penggambaran orang-orang Mongol yang mengerikan, salah satu prajurit Mongol yang tertangkap oleh pasukan Naiman mengendarai kuda yang sangat kurus dengan pelana yang sangat primitif. Kuda kurus dan pelana jeleknya itu kemudian dibawa berkeliling ke tenda-tenda Naiman untuk dijadikan bahan ejekan dan tertawaan. Untuk membangkitkan moral para prajuritnya, para petinggi Naiman berusaha meyakinkan bahwa betapa konyolnya orang-orang Mongol itu.[1]

Temujin sadar bahwa pasukannya kalah jumlah, dia harus memikirkan cara lain. Kemudian salah satu perwira militer Temujin, Dodei Cerbi, berkata kepadanya, “Kitalah yang jumlahnya sedikit dan, selain sedikit, kami telah tiba di sini dengan kelelahan. Jadi, marilah kita benar-benar beristirahat dan mendirikan kemah, menyebar di padang rumput Sa’ari agar kuda-kuda dapat makan sampai kenyang. Lalu setiap orang akan menyalakan api di lima tempat yang berbeda supaya musuh ketakutan. Sementara kami membuat musuh ragu dengan api, kuda-kuda makan. Setelah mereka kenyang, kita akan menyerang prajurit bagian depan Naiman dengan keras sehingga mereka lari dan bergabung dengan pasukan utama mereka. Jika kita menyerang mereka di tengah kebingungan, bukankah kita akan mendapatkan keuntungan?”

Temujin setuju dengan pendapat Dodei Cerbi, lalu dia memberikan perintah, “Tampaknya demikian, nyalakanlah apinya!”

Photo Ilustrasi: slworking2/Flickr

Di tengah kegelapan malam, para prajurit terdepan Naiman melihat begitu banyak api di atas puncak gunung Khangkharkhan, sehingga jumlah prajurit Mongol seolah terlihat sangat banyak. Mereka berkata, “Bukankah kita diberitahu bahwa orang-orang Mongol hanya sedikit jumlahnya? Ternyata api unggun mereka lebih banyak daripada bintang-bintang!” Mereka kemudian mengirim pesan kepada Tayang Khan, “Pasukan Mongol telah mendirikan kemah sampai menutup seluruh padang rumput Sa’ari, jumlah mereka tampaknya terus bertambah setiap hari, dan api mereka lebih banyak daripada bintang-bintang.”

Ketika menerima berita tersebut, Tayang Khan mengirim pesan kepada Guculuk Khan, anak laki-lakinya, “Kuda-kuda orang Mongol memang kurus, tetapi prajurit depan mengatakan bahwa api unggun di perkemahan mereka lebih banyak daripada bintang-bintang. Orang-orang Mongol ternyata jumlahnya sangat banyak. Jika kita bertempur dan melawan mereka sampai akhir bukankah akan sulit bagi kita untuk melarikan diri?…. Mari kita bergerak, menarik mundur orang-orang kita melintasi Altai. Kita atur ulang pasukan kita dan pancing mereka untuk mengejar. Kita bergerak sampai mencapai lereng selatan Altai, di sana kita akan bertarung habis-habisan…. Ketika orang-orang Mongol tiba, kita lakukan serangan balik dan hantam tepat di wajah mereka!”

Setelah menerima pesan tersebut, Guculuk Khan berkata, “Lagi-lagi, dasar Tayang si perempuan! Dia berkata seperti itu karena telah hilang keberanian. Dari mana orang-orang Mongol yang banyak ini datang? Sebagian besar orang Mongol ada di sini bersama Jamuka. Perempuan Tayang!”[2] (PH)

Bersambung ke:

Bangsa Mongol dan Dunia Islam (25): Penaklukkan Suku Naiman (2)

Sebelumnya:

Bangsa Mongol dan Dunia Islam (23): Kematian Ong Khan

Catatan Kaki:


[1] Jack Weatherford, Genghis Khan and the Making of the Modern World (Crown and Three Rivers Press, 2004, e-book version), Chapter 3.

[2] Lihat Igor de Rachewiltz, The Secret History of the Mongols: A Mongolian Epic Chronicle of the Thirteenth Century (Western Washington University, 2015), hlm 108-110.

Leave a Reply

Your email address will not be published.

*