Mozaik Peradaban Islam

Bangsa Mongol dan Dunia Islam (23): Kematian Ong Khan

in Sejarah

Last updated on March 7th, 2019 12:56 pm


Suku Kereyid kalah melawan pasukan Temujin. Pemimpin mereka, Ong Khan, lari ke wilayah suku Naiman. Karena tidak tahu orang tua compang-camping itu siapa, suku Naiman memenggal dan menginjak-injak kepalanya.

Lukisan dari abad ke-15 dari buku tentang penjelajahan Marco Polo yang bejudul Livre des Merveilles du Monde karya Rustichello da Pisa. Pelukis aslinya tidak diketahui. Lukisan ini menggambarkan Ong Khan yang sedang duduk, di sebelah kiri terdapat dua utusan Temujin yang sedang berlutut. Karena Ong Khan beragama Kristen, ketimbang berpakaian seperti seorang raja, dia digambarkan lebih mirip dengan seorang pendeta Katolik. Sementara itu di sebelah kanan, para pengikutnya sedang memegang salib.

Setelah melarikan diri dan bersembunyi di Danau Baljuna, Temujin menyusun rencananya untuk melakukan serangan balik. Temujin tahu bahwa dia harus bergerak cepat pada saat Ong Khan masih terlena karena merasa telah berhasil mengamankan dirinya dari ancaman Temujin. Temujin kemudian mengirimkan berita kepada seluruh pengikutnya yang tersebar di seluruh padang rumput tentang rencana serangan baliknya kepada Ong Khan.

Pada hari-hari berikutnya, hingga taraf yang tidak diduga oleh Temujin sendiri, pasukannya yang terdiri atas puluhan dan ratusan orang dari tiap unitnya telah mengorganisir diri dan berkumpul kembali untuk melintasi padang rumput menuju ke arah Ong Khan dan suku Kereyidnya. Dalam proses perjalanan mereka, para pengikut lainnya secara bertahap datang dan turut bergabung dalam barisan. Dan bukan hanya itu, beberapa kerabat Temujin dari sisi ibunya, Hoelun, dan sisi istrinya, Borte, yang sebelumnya merupakan pengikut setia Ong Khan, sekarang meninggalkan pemimpin Kereyid tersebut dan datang untuk bergabung dengan Temujin.

Sementara itu, untuk merayakan kemenangannya atas Temujin, Ong Khan yang masih belum tahu dengan apa yang akan segera menghampirinya, mengadakan pesta besar di tenda emasnya yang megah yang selalu dia bawa ke mana pun dia pergi. Ong Khan yang terlalu percaya diri dengan kekuatan dan jumlah pengikutnya yang begitu banyak tidak menyadari bahwa Temujin dan pasukannya sedang mendekat. Ong Khan sedang merayakan ilusi tentang pengikut Temujin yang kocar-kacir karena kehilangan pemimpinnya dan Temujin sendiri sedang dalam pelarian berada jauh di timur.

Pasukan Temujin berderap dengan kencang menuju perkemahan Ong Khan. Beberapa prajurit berangkat terlebih dahulu ke pusat-pusat penampungan kuda cadangan, sehingga ketika ada kuda yang kelelahan, kuda lainnya sudah siap untuk digunakan kembali. Dengan metode seperti ini, pasukan Temujin melaju tanpa jeda melalui kegelapan malam. Metode ini dia sebut dengan istilah “Percepatan Kilat.” Kemudian, ketika sudah semakin dekat, ketimbang mendekati perkemahan Kereyid melalui padang rumput yang terbuka dan lebih mudah untuk dilalui, Temujin memimpin pasukannya melewati jalur memutar yang lebih jauh dan sulit karena dia tahu bahwa jalur tersebut tidak akan dijaga.  

Setelah melalui perjalanan selama beberapa hari Temujin akhirnya sampai di perkemahan suku Kereyid. Dia melakukan serangan dadakan kepada suku Kereyid yang lengah karena sedang berpesta. Pasukannya menukik dengan cepat dan melakukan pengepungan terhadap orang-orang Kereyid. Meskipun kaget, namun para prajurit Kereyid masih mampu untuk mengelola diri untuk melakukan perlawanan. Pertempuran berlangsung dengan sengit selama tiga hari. Pada hari ketiga, pasukan Kereyid mesti mengakui keunggulan pasukan Temujin dan mereka memutuskan untuk mundur.

Dalam momen tersebut, banyak di antara pengikut Ong Khan yang secara mendadak menyatakan kesetiannya terhadap Temujin. Seperti yang sudah-sudah, Temujin menerima mereka, dengan syarat bahwa mereka harus berjanji untuk tidak melakukan pengkhianatan dan tidak akan melukai mantan pemimpin mereka. Bagaimanapun, Ong Khan adalah ayah angkat Temujin yang sudah melindungi dan membantunya selama bertahun-tahun. Ong Khan juga yang telah membantu Temujin untuk menyelamatkan istrinya, Borte, ketika diculik dahulu.

Pasukan Ong Khan tidak dikalahkan sepenuhnya oleh pasukan Temujin, banyak di antara mereka yang melarikan diri ke arah yang berbeda, sibuk untuk menyelamatkan dirinya masing-masing. Anak laki-laki Ong Khan melarikan diri ke arah selatan, dan setelah ditinggalkan oleh pelayannya, dia dikabarkan tewas di padang pasir karena kehausan. Sementara itu Jamuka dan para pengikutnya melarikan diri ke arah barat menuju ke wilayah suku Naiman, satu dari tiga suku besar di padang rumput yang belum dikalahkan oleh Temujin – dua lainnya adalah suku Tatar dan Kereyid. Ong Khan juga dilaporkan telah lari seorang diri dan mencari perlindungan kepada suku Naiman.

Karena gagal menangkap pemimpin musuh, atau bahkan anak laki-lakinya, orang-orang Mongol merasa bertanggung jawab atas kegagalan ini dan tidak dapat mengabaikannya. Para pendukung Temujin menyebarkan cerita untuk merendahkan reputasi Ong Khan dan meyakinkan orang-orang bahwa dia sudah mati dan tidak lagi menjadi ancaman.

Namun bagaimana sebenarnya nasib Ong Khan? Menurut cerita lisan yang beredar secara turun temurun di antara orang-orang Mongol, setelah sampai dengan selamat di wilayah perbatasan suku Naiman, Ong Khan bertemu dengan seorang prajurit Naiman yang sedang menjaga perbatasan. Ong Khan yang sendirian, dan dengan kondisinya yang sudah compang-camping karena perjalanan menjelaskan kepada prajurit itu bahwa dia adalah khan dari suku besar Kereyid. Prajurit tersebut tidak dapat memercayai laki-laki tua itu, dan entah karena suatu pertengkaran, akhirnya prajurit tersebut membunuh Ong Khan, memenggal kepalanya.

Ratu suku Naiman yang akhirnya mengetahui bahwa orang tua yang telah dibunuh itu adalah Ong Khan, merasa sangat bersalah. Untuk menebus kesalahannya dia lalu membawa kepala Ong Khan dan meletakkannya di atas kain putih suci dan menempatkannya dengan hormat di balik tenda, di dekat pintu masuk, di mana dia dapat mendoakannya. Sang ratu bahkan mengundang seorang musisi untuk memainkan morin huur[1] dan memerintahkan menantu perempuannya untuk menari dan bernyanyi, sementara itu dia sendiri menyelenggarakan upacara persembahan anggur untuk kepala itu, seolah-olah Ong Khan masih hidup dan dia merupakan tamu kehormatan di dalam tenda tersebut.

Namun, bagi penduduk padang rumput Mongolia tidak ada yang dapat lebih menyinggung kepekaan mereka selain darah yang tumpah, apalagi benda tersebut berada di dalam tenda, dan tidak ada yang lebih berbahaya selain dari kepala seseorang, yang mana menurut mereka merupakan pusat roh dari seseorang. Sehingga ketika Tayang Khan, penguasa suku Naiman, masuk ke dalam tenda dan melihat kepala yang terpenggal, dia panik dan berteriak dengan marah karena menurutnya kepala itu tersenyum kepadanya. Kemudian dia menendang kepala tersebut dan menginjak-injaknya sampai hancur. Cerita tentang Ong Khan ini sulit untuk dipastikan kebenarannya, namun satu yang pasti, tidak lama setelah kekalahan suku Kereyid oleh Temujin, Ong Khan memang telah mati.[2] (PH)

Bersambung ke:

Bangsa Mongol dan Dunia Islam (24): Penaklukkan Suku Naiman (1)

Sebelumnya:

Bangsa Mongol dan Dunia Islam (22): Perjanjian Baljuna

Catatan Kaki:


[1] Alat musik tradisional masyarakat padang rumput Mongola, bentuknya seperti biola, namun bagian ujung atasnya diukir dengan bentuk kepala kuda, oleh karena itu sering juga disebut sebagai Biola Kepala Kuda. Baik senar maupun alat geseknya terbuat dari ekor kuda. Lebing lengkap lihat Sonom-Ish Yundenbat, “Traditional Music of the Morin Khuur”, dari laman https://ichcourier.ichcap.org/article/traditional-music-of-the-morin-khuur/, diakses 6 Maret 2019.

[2] Jack Weatherford, Genghis Khan and the Making of the Modern World (Crown and Three Rivers Press, 2004, e-book version), Chapter 3.

Leave a Reply

Your email address will not be published.

*