Dinasti Abbasiyah (17): Abdullah Abu Ja’far (Al-Manshur) (2)

in Sejarah

Abu Muslim al Khurasani terbunuh pada tahun 137 H/755 M. Dia seorang jenderal yang sangat mumpuni, tapi juga terkenal kejam. Menurut Tabari, tak kurang dari 600.000 jiwa yang sudah dibunuh oleh Abu Muslim selama karir kemiliterannya. Pengaruhnya setara seorang khalifah. Ini sebabnya, kematian Abu Muslim seakan mengafirmasi kedaulatan Bani Abbas di tengah kaum Muslim.

Panglima Militer Abbasiyah Abu Muslim Al Khurasani. Sumber photo:
NusantaraNews

Membunuh Abu Muslim al Khurasani

Hanya sesaat setelah pelantikannya, Al-Manshur sudah mengalami gesekan politik dengan salah satu orang terkuat dan berpengaruh dalam tubuh Dinasti Abbasiyah, yaitu Abu Muslim al Khurasani. Gesekan antara kedua orang ini sebenarnya sudah berlangsung jauh sebelum wafatnya As-Saffah. Hanya saja, ketika Al-Manshur resmi menjabat sebagai khalifah, gesekan ini makin memanas. Al-Manshur merasa kursi kekuasaannya tidak akan pernah tenang selama Abu Muslim masih eksis dengan pengaruh dan kekuatannya yang demikian besar di kalangan pendukung Bani Abbas. Dengan kata lain, Abu Muslim untuk saat ini adalah satu-satunya orang yang paling berpotensi mendelegitimasi posisinya sebagai khalifah. Dan ini tidak bisa dibiarkan.

Pada awal tahun 137 H, sebuah pemberontakan pecah di Damaskus. Pemberontakan ini dipimpin oleh paman Al-Manshur bernama Abdullah bin Ali. Sebagaimana sudah kita ulas sebelumnya, Abdullah bin Ali adalah sosok yang sebelumnya berhasil menaklukkan kekuatan terakhir Bani Umayyah dalam pertempuran Zab. Atas keberhasilan ini, dia merasa berhak atas jabatan tinggi, termasuk jabatan khalifah. Dan ketika Abdullah bin Ali mendengar kabar wafatnya As-Saffah, dia langsung mendeklarasikan diri sebagai khalifah kaum Muslimin.[1]

Sayangnya, ketika wafatnya As-Saffah, Al-Manshur sedang tidak ada di tempat, karena dia sedang memimpin jamaah haji. Sepulangnya dari haji, Al-Manshur membawa setumpuk kegelisahan, khususnya tentang bagaimana mengukuhkan legitimasi Dinasti Abbasiyah di tengah kaum Muslimin. Dan ketika mendengar pamannya melakukan pemberontakan, dia langsung melihat kesempatan di sini. Segera dia mengelurkan perintah untuk memadamkan pemberontakan tersebut. Dan orang yang dipilih untuk melaksanakan tugas tersebut tidak lain adalah Abu Muslim al Khurasani.[2]

Menariknya, Abu Muslim pun mematuhi perintah tersebut. Beberapa pengamat mengatakan bahwa kepatuan Abu Muslim pada perintah Al-Manshur adalah upayanya menunjukkan kesetiannya pada Bani Abbas. Meski demikian, menurut riwayat Tabari, Abu Muslim agak ragu berangkat berperang menghadapi Abdullah bin Ali. Ketika pasukannya sudah melaju hingga ke daerah Harran,[3] dia sempat menghentikan langkahnya. Namun kemudian Al-Manshur yang mengetahui hal ini segera mengirim lagi perintah, dan  mengatakan, “Kamu atau aku yang akan pergi (menghadapi Abdullah)?!”, kemudian Abu Muslim kembali bergerak melanjutkan langkahnya.[4]  

Bila sedikit dicermati, keputusan Al-Manshur mengirim Abu Muslim untuk memadamkan pemberontakan Abdullah, bisa dikatakan langkah yang sangat cerdik. Dengan begitu, Al-Manshur ingin membidik dua sasaran dengan satu peluru. Apapun hasil akhir pertempuran antara Abu Muslim dengan Abdullah bin Ali, keuntungannya akan tetap milik Al-Manshur. Karena pertempuran ini pasti akan menguras banyak tenaga. Siapapun yang kalah pasti akan tersingkir, dan itu berarti hilang satu ancaman bagi Al-Manshur. Adapun yang menang, kekuatannya pasti akan terkuras habis. Dan itu juga berarti berkurang satu ancaman bagi pemerintahan Al-Manshur.[5]

Maka demikianlah, pada pertengahan tahun 137 H, bertemulah dua kekuatan terbesar Bani Abbas dalam satu pertempuran. Abu Muslim, seorang pemimpin revolusi Abbasiyah dengan bala tentara dari Khurasan, melawan  Abdulah bin Ali, dengan pasukan yang pernah sukses menghancurkan kekuatan terakhir Dinasti Umayyah. Pertempuran hebat pun pecah selama berbulan-bulan antara dua kekuatan ini. Hingga akhirnya, pasukan Abdullah bin Ali takluk, dan Abdullah pun melarikan diri ke Basrah. Dan meminta perlindungan dari saudaranya bernama Sulaiman bin Ali, yang ketika itu sedang menjabat sebagai gubernur Basrah. Mendengar ini, Al-Manshur segera memecat Sulaiman, dan memaksanya menyerahkan Abdullah. Akhirnya, Abdullah pun ditangkap dan dijebloskan ke penjara, dan akhirnya dia meninggal di dalam penjara.[6]

Kematian Abdullah bin Ali ternyata memulai babak baru permusuhan antara Abu Muslim dengan Al-Manshur. Di awali dangan masalah pembagian hasil rampasan perang. Segera setelah kematian Abdullah bin Ali, Al-Manshur mengutus orang kepada Abu Muslim yang menyatakan bahwa hasil rampasan perang akan diatur oleh Al-Manshur. Mendengar ini, Abu Muslim marah. Hampir-hampir dia akan membunuh utusan Al-Manshur. Tapi dia menyadari bahwa orang dibalik keputusan ini tidak lain adalah khalifah sendiri. Sejak itu dia memahami bahwa kebijakan-kebijakan yang diberikan khalifah padanya selama ini, tidak lain dari upaya khalifah untuk menyingkirkannya. Untuk itu dia harus berhati-hati.[7]

Di sisi lain, Al-Manshur merasa tidak nyaman dengan kemarahan Abu Muslim. Dia akhirnya membujuk Abu Muslim dengan pembagian hasil rampasan perang yang banyak. Di samping itu, Al-Manshur juga menetapkan Abu Muslim sebagai penguasa wilayah Suriah dan Mesir, sebuah wilayah yang kaya dan juga strategis. Tapi ternyata arah kebijakan ini bisa dibaca oleh Abu Muslim. Al-Manshur sengaja memberikan harta yang banyak dan sebuah wilayah kekuasaan yang luas, agar memisahkan Abu Muslim dari pendukungnya yang setia di Khurasan. Dengan begitu, Abu Muslim akan kehilangan kekuatannya. Dan dia tidak lagi menjadi ancaman bagi kekuasaan.[8]

Mendengar tawaran Al-Manshur, dengan tegas Abu Muslim menolak. Setelah beberapa waktu, akhirnya Al-Manshur mengundang Abu Muslim menemuinya untuk membicarakan situasi di antara mereka. Tapi Abu Muslim menanggapi dengan surat yang berisi sebagai berikut; “Saya akan mematuhi anda dari kejahuan. Saya telah menaklukkan semua musuh-musuh anda. Sekarang setelah semua bahwa sudah berlalu, anda sudah tidak membutuhkan saya. Jika anda tidak mengganggu saya, saya akan terus menaati anda dan tetap dengan komitmen dan sumpah setia saya. Tapi jika anda malah memburu saya, saya akan mendeklarasikan pembatalan sumpah dan menentang kekuasaan anda.”[9]

Mendapat tanggapan seperti ini, Al Manshur kembali meracik cara. Dia akhirnya mengirimkan utusan ke Abu Muslim yang isinya adalah perintah agar Abu Muslim datang menemui Al-Manshur untuk menerima penetepannya sebagai Gubernur Khurasan. Mendengar alasan ini, Abu Muslim akhirnya memenuhi panggilan tersebut.[10] Dan untuk memunjukkan itikad baiknya, Al-Manshur menggelar pertemuan dengan Abu Muslim di Madain (sekarang Iran), bukan dipusat kekuasaannya.

Sebagaimana seorang yang akan dilantik, Abu Muslim datang tidak dengan kekuatan penuh. Sesampainya di Madain, dia diminta menunggu, sampai tiga hari. Pada hari ketiga, dia diperintahkan masuk ke ruang Al-Manshur untuk berbicara empat mata. Sebelum memasuki ruangan, Abu Muslim diminta terlebih dahulu menyerahkan pedangnya. Tapi ternyata ketika itu para prajurit pilihan sudah disiapkan Al-Manshur dengan senjata lengkap. Mereka disuruh bersembunyi dibalik tirai. Dan ketika saatnya tepat, Al-Manshur menepuk tangannya, seketika keluarlah para prajurit tersebut. Dengan serta merta mereka menyerang Abu Muslim yang tak bersenjata, hingga tewas.[11]

Abu Muslim al Khurasani terbunuh pada tahun 137 H/755 M. Dia adalah sosok paling berjasa dalam drama revolusi Abbasiyah. Dia seorang jenderal yang sangat mumpuni, tapi juga terkenal kejam. Menurut Tabari, tak kurang dari 600.000 jiwa yang sudah dibunuh oleh Abu Muslim selama karir kemiliterannya.[12]

Ketika Dinasti Abbasiyah berdiri, pengaruhnya setara dengan khalifah. Sehingga tak ayal, dia menjadi bayang-bayang yang menakutkan bagi Bani Abbas. Ini sebabnya, kematian Abu Muslim seakan mengafirmasi kedaulatan Bani Abbas di tengah kaum Muslim. Ketika berita kematiannya sampai ke telinga Hanzala, dia langsung berkata pada Al-Manshur, “Amirul Mukminin, mulai hari ini andalah khalifah seutuhnya.”[13] (AL)

Bersambung…

Sebelumnya:

Catatan kaki:


[1] Lihat, The History of al-Tabari, Abbasid Authority Affirmed, Volume XXVIII, Translated by Jane Dammen McAuliffe, State University of New York Press, 1995. Hal. 8

[2] Ibid, hal. 9-10

[3] Al-Harran, adalah nama sebuah kota tua di jazirah Arab. Di masa pemerintahan Marwan II (khalifah terakhir Dinasti Umayyah), ibu kota Dinasti Umayyah dipindahkan dari Damaskus ke Al-Harran. Alasan pemindahan tersebut karena Marwan II merasa tidak aman berada di Damaskus. Lihat, Ibid, hal. 6

[4] Ibid, hal. 10

[5] Lihat, Huzaifa Aliyu Jangebe, The Legendary Hero of Abbasid Propaganda, IOSR Journal Of Humanities And Social Science (IOSR-JHSS) Volume 19, Issue 1, Ver. III (Jan. 2014), www.iosrjournals.org, hal. 11

[6] Ibid

[7] Ibid

[8] Ibid

[9] Lihat, Akbar Shah Najeebabadi, The History Of Islam; Volume Two, Riyadh, Darussalam, 2000, Hal. 290

[10] Lihat, The History of al-Tabari, Abbasid Authority Affirmed, Op Cit, hal. 30

[11] Lihat, Huzaifa Aliyu Jangebe, Op Cit, hal. 12

[12] Lihat, The History of al-Tabari, Abbasid Authority Affirmed, Op Cit, hal. 39

[13] Lihat, Huzaifa Aliyu Jangebe, Op Cit

Leave a Reply

Your email address will not be published.

*