Dinasti Abbasiyah (19): Abdullah Abu Ja’far (Al-Manshur) (4)

in Sejarah

Last updated on March 18th, 2019 05:46 am

Imam As-Suyuthi menyatakan, “Al-Manshur adalah orang pertama yang memicu fitnah antara golongan Abbasiyah dan Alawiyah, padahal sebelumnya mereka hidup dengan rukun. Al-Manshur telah menyiksa sejumlah besar ulama yang menyertai Muhammad dan Ibrahim dalam pemberontakannya. Sebagian di antara mereka ada yang dibunuh dan ada yang di siksa, di antaranya Abu Hanifah (pendiri Mahzab Hanafi), Abdul Hamid bin Ja’far, dan Ibnu Ajian.”


Gambar ilustrasi. Sumber: deviantart.com


Setelah berhasil menghancurkan pesaing terberatnya, Abu Muslim al Khurasani, termasuk semua pemberontakan yang muncul dari pendukung Abu Muslim, Al-Manshur mendapat perlawanan yang cukup sengit dari kelompok Ahlul Bait yang dipimpin oleh sosok bernama Muhammad dan Ibrahim. Keduanya adalah anak keturunan Ali bin Abi Thalib dari Sayyidina Hasan. Pemberontakan ini terjadi pada tahun 145 H, dan menjadi salah satu tragedi paling menyesakkan dalam peta politik Islam kala itu.

Sebagaimana diketahui, bahwa Bani Abbas berhasil menaiki puncak kekuasaan karena didukung oleh kalangan pecinta Ahlul Bait Rasulullah Saw, baik yang ada di Persia maupun di Khurasan. Setelah dilantiknya As-Saffah, para pendukung Ahlul Bait terpecah menjadi dua kelompok, yaitu yang mendukung Bani Abbas dan yang mendukung anak keturunan Ali bin Abi Thalib. Di masa pemerintahan As-Saffah semua perbedaan ini tidak menjadi masalah bagi kedua belah pihak. Meski begitu, Bani Abbas sebenarnya memahami bahwa pesing sejati mereka dalam hal legitimasi, tidak lain adalah anak keturunan Ali bin Thalib. Adapun semua kekuatan, bahkan yang sebesar Abu Muslim sekalipun, tidak akan banyak berarti selama mereka mendapat dukungan dan legitimasi dari rakyat. Untuk itu, ketika muncul kecurigaan Al-Manshur pada anak keturunan Ali bin Abi Thalib, dia langsung menanggapi dengan serius, bahkan melampui batas.

Muhammad, nama lengkapnya adalah Muhammad bin Abdullah bin Hasan al-Muthanna bin Hasan bin Ali bin Abi Thalib. Dia dikenal dengan julukan An-Nafsuz Zakiyah.[1] Awalnya, Al-Manshur memerintahkan kepada gubernur Madinah agar mencari Muhammad dan Ibrahim untuk di bawa menghadap Al-Manshur. Menurut Tabari, sebenarnya tidak ada satu hal yang terlalu serius dengan perintah ini. Tapi aparaturnya mencari dengan seksama kedua orang tesebut seperti mencari seorang buronan. Melihat ini, Muhammad dan Ibrahim curiga dengan proses yang terjadi begitu janggal. Akhirnya mereka memilih bersembunyi dari satu tempat ke tempat lain.[2]

Sedikit catatan, kekhawatiran Muhammad dan Ibrahim sebenarnya beralasan. Karena sejak As-Saffah hingga Al-Manshur, para aparatur Abbasiyah memang kerap berindak melampaui batas ketika melaksanakan perintah dari atasannya. Ini sangat bertentangan dengan janji politik Bani Abbas ketika As-Saffah dibaiat sebagai khalifah. Tentang kekejaman para apartur Dinasti Abbasiyah ini sebenarnya sudah banyak diprotes oleh masyarakat. Mereka merasa tertipu, terlebih sebagian para keturunan Ali bin Abi Thalib yang dulunya juga mendukung gerakan revolusi mereka.

Sebelumnya banyak juga para tokoh yang merasa dicurangi dan menyatakan protesnya. Seperti Ibrahim bin Maimun, seorang ahli fiqih terkemuka dari Khurasan. Dia ikut mendukung gerakan Abu Muslim ketika dia berjanji akan mendirikan negara dengan asas Al Quran dan Sunnah. Mendengar ini, Ibrahim bin Maimun begitu bersemangat mendukung gerakan revolusi Abbasiyah. Dia bahkan diangkat menjadi tangan kanannya Abu Muslim. Tapi ketika revolusi sudah berhasil, dia tidak melihat adanya perubahan, dan tak terlihat tanda-tanda perbaikan sedang terjadi. Akhirnya di mengajukan protes pada Abu Muslim yang ketika itu menjabat sebagai gubernur di Khurasan. Dia menuntut agar Bani Abbas segera menegakkan hukum-hukum Allah, dan melarang tindakan-tindakan yang melanggar kitab Allah dan Sunah RasulNya. Namun segera setelah itu dia ditangkap dan dihukum mati oleh Abu Muslim.[3]

Demikianlah yang terjadi kala itu. Maka menjadi wajar ketika ada upaya dari gubernur Abbasiyah, orang-orang mencurigai itu sebagai upaya penangkapan. Dan ketika sudah lama berusahan mencari Muhammad dan Ibrahim, keduanya belum juga ditemukan. Al-Manshur panik, dan memerintahkan agar segera menemukan mereka, apapun caranya. Prajurit Al-Manshur pun mulai mencari dan memburu seluruh sanak keluarga Muhammad dan Ibrahim untuk dimintai keterangan. Di antara mereka yang ditangkap adalah Abdallah bin Hasan, yang merupakan ayah mereka. Kemudian pamannya Hasan bin Hasan, Dawud bin Hasan, Ibrahim bin Hasan, dan Muhammad bin Abdallah bin Amr bin Utsman bin Affan. Di samping itu, Al-Manshur juga memerintahkan agar menahan semua sanak keluarga mereka yang lainnya. Mereka kemudian digendang ke hadapan Al-Manshur dan diinterogasi.[4]

Setelah berhasil membawa sanak keluarga Muhammad dan Ibrahim, pencarian terhadap mereka terus dilanjutkan secara lebih intensif. Menurut Al-Tabari, bahwa ketika itu kondisi Muhammad dan Ibrahim makin terdesak, hal inilah yang akhirnya membuat mereka memberontak.[5]

Kisah tentang perburuan aparatur Abbasiyah terhadap dua keturunan Hasan bin Ali tersebut segera menyebar. Dalam waktu singkat, dukungan pun bermunculan terhadap mereka. Muhammad bin Abdullah pun bangkit memimpin pemberontakan. Menariknya, ketika berita tentang pemberontakan Muhammad bin Abdullah sampai ke telinga Al-Manshur, dia langsung berguman, “Aku Abu Ja’far, aku telah memancing rubah dari sarangnya.”[6]

Al-Manshur langsung mengerahkan pasukannnya untuk memadamkan pemberontakan Muhammad. Dan dalam waktu singkat, pemberontakan tersebut bisa dijinakannya. Tanpa ampun, Al-Manshur memperlakukan musuh-musuhnya ini dengan cara di luar batas. Ibrahim dan Muhammad bin Abdullah gugur dalam peperangan. Kepalanya dipenggal lalu di arak ke seluruh Kota Madinah. Kemudian mereka menggantung jasadnya dan juga jasad para pengikutnya selama tiga hari di hadapan orang yang berlalu lalang. Setelah itu, jasad-jasad tersebut mereka lemparkan ke pekuburan orang Yahudi di dekat Gunung Sila.[7]

Adapun para kerabat Muhammad dan Ibrahim yang sebelumnya ditahan, mereka di belenggu kemudian di paksa berjalan kaki dari Madinah hingga ke Kufah. Harta-harta mereka dirampas, lalu dilelang. Sesampainya di Kufah, para kerabat Muhammad dan Ibrahim di jebloskan ke penjara dan disiksa sedemikian rupa. Semua prilaku ini, disaksikan oleh banyak mata kaum Muslimin.[8] Banyak yang tidak menyangka bagaimana Al-Manshur tega memperlakukan anak keturunan Ali bin Abi Thalib sedemikian mengerikan. Padahal mereka ini sebenarnya masih sanak keluarganya.

Sejak saat itu, muncullah fitnah atau perpecahan antara kalangan Abbasiyah dan Alawiyah (pendukung keluarga Ali bin Abi Thalib). Sebagaimana riwayat Tabari, sejumlah anak keturunan Ali bin Abi Thalib yang ikut dalam pemberontakan Muhammad bin Abdullah antara lain: Hamzah bin Abdallah bin Muhammad bin Ali bin Husain bin Ali bin Abi Thalib; Ali dan Zaid, anak-anak Hasan bin Zaid bin Hasan bin Ali bin Abi Thalib; Yazid dan Salih, keduanya adalah putra dari Mu`awiyah bin Abdallah bin Ja`far bin Abi Thalib; serta Husein dan lsa, keduanya adalah putra dari Zaid bin Ali bin Husein bin Ali bin Abi Thalib.[9]

Imam As-Suyuthi menyatakan, “Al-Manshur adalah orang pertama yang memicu fitnah antara golongan Abbasiyah dan Alawiyah, padahal sebelumnya mereka hidup dengan rukun. Al-Manshur telah menyiksa sejumlah besar ulama yang menyertai Muhammad dan Ibrahim dalam pemberontakannya. Sebagian di antara mereka ada yang dibunuh dan ada yang di siksa, diantaranya Abu Hanifah (pendiri Mahzab Hanafi), Abdul Hamid bin Ja’far, dan Ibnu Ajian.”[10]  (AL)

Bersambung…

Sebelumnya:

Catatan kaki:  


[1] Lihat, Abul A’la Al-Maududi, “Khalifah dan Kerajaan; Konsep Pemerintahan Islam serta Studi Kritis terhadap ‘Kerajaan’ Bani Umayyah dan Abbasiyah.” Bandung, Kharisma, 2007, hal. 229

[2] Lihat, The History of al-Tabari, Abbasid Authority Affirmed, Volume XXVIII, Translated by Jane Dammen McAuliffe, State University of New York Press, 1995. Hal. 138

[3] Lihat, Abul A’la Al-Maududi, Op Cit

[4] Lihat, The History of al-Tabari, Abbasid Authority Affirmed, Op Cit, hal. 139

[5] Ibid, hal. 142-143

[6] Ibid, hal. 163

[7] Lihat, Abul A’la Al-Maududi, Op Cit, hal. 230

[8] Ibid. hal 229

[9] Lihat, The History of al-Tabari, Abbasid Authority Affirmed, Op Cit, hal. 223-224

[10] Lihat, Imam As-Suyuthi, Tarikh Khulafa’; Sejarah Para Khalifah, Jakarta, Qisthi Press, 2017, hal. 283 5

Leave a Reply

Your email address will not be published.

*