Dinasti Abbasiyah (25): Al-Mahdi (5)

in Sejarah

Last updated on April 4th, 2019 07:02 am

Selain membangun infrastruktur sebagai basis material bagi tegaknya peradaban besar, Al-Mahdi juga melakukan serangkaian ekspansi ke sejumlah wilayah di dunia. Dimana hal ini menjadi sesuatu prasyarat yang tak terpisahkan dalam rangka mewujudkan mimpi sebagai adidaya dunia.

Gambar ilustrasi. Sumber: okezone.com

Pada 160 H, atau di tahun keduanya sebagai khalifah, Al-Mahdi sudah mengirimkan sebuah ekspedisi militer ke India, yang dipimpin oleh jenderal bernama Abdul Malik bin Shahab Masmai. Mereka berhasil mencapai pantai India, di sebuah tempat bernama Arbad/Barbad. Di tempat itu mereka bertempur dengan pasukan setempat, dan berhasil mendapat kemenangan gemilang.[1]

Tapi tak lama setelah itu, mereka terserang wabah, yang merenggut nyawa sekitar 1000 orang tentara Abbasiyah. Kondisi ini membuat Abdul Malik memutuskan tidak melanjutkan ekspedisi lebih jauh dan memilih kembali ke Persia. Tapi dalam perjalanan pulang, ketika hendak mencapai pantai Persia, mereka diserang badai, yang menyebabkan beberapa kapal mereka tenggelam. Hanya sedikit pasukan yang kembali dari ekspedisi ini. Dan ekspedisi itupun tidak dilanjutkan.[2]

Pada tahun 162 H, datang kabar dari wilayah Asia Kecil – yang ketika itu merupakan perbatasan antara Kekhalifahan Abbasiyah dengan Kekasiran Romawi – bahwa pasukan Bizantium berhasil merangsek masuk ke wilayah teritori Abbasiyah. Mereka bahkan telah berhasil menguasai sejumlah kota di wilayah tersebut. Mendengar kabar ini, pada 163 H, Al-Mahdi mendeklarasikan jihad melawan Romawi. Dia memanggil sejumlah pasukan dari Khurasan dan provinsi lainnya untuk ikut serta dalam ekspedisi tersebut. Kali ini, Al-Mahdi sendiri yang memimpin pasukan. Dia didampingi oleh putranya bernama Harun bin Al-Mahdi. Sedangkan putra mahkota, Musa bin Al-Mahdi, dia tugaskan menjalankan roda pemerintahan selama kepergiannya.[3]

Banyak tokoh militer dan prajurit kenamaan yang dibawa Al-Mahdi dalam ekspedisi ini. Mulai dari Isa bin Musa (mantan putra mahkota) hingga Hasan bin Qahtaba yang merupakan jenderal perang Khurasan pada masa revolusi Abbasiyah. Tapi yang terjadi kemudian, ekspedisi ini menjadi panggung bagi Harun bin Al-Mahdi menunjukkan kebolehannya di tengah para jenderal perang Abbasiyah. Dia dipercaya Al-Mahdi untuk mengkomandoi pasukan, dan memimpin mereka menaklukkan kembali kota-kota yang sudah dikuasai oleh Romawi. Harun berhasil mengambil alih wilayah Abbasiyah, namun dia tidak bergerak lebih jauh lagi. Meski begitu, Al-Mahdi sangat bangga dengan keberhasilan ini. Dia mengangkat Harun menjadi penguasa Azarbaijan, Armenia dan seluruh wilayah barat.[4]

Pada tahun 165 H, Harun kembali diperintahkan ayahnya untuk menyerang Bizantium. Kali ini dia dampingi oleh Al-Rabi, orang kepercayaan Al-Mahdi, berserta 100.000 prajurit terpilih. Dengan modal kekuatan sebesar ini, Harun berhasil menembus pertahanan Bizantium dan menghancurkan satu persatu kota mereka. Kemenangan yang dicapai Harun terbilang luar biasa. Ketika akhirnya mencapai Konstantinopel, ibu kota Bizantium, dia masih memiliki 95,793 prajurit, dengan hasil harta rampasan sebesar 194.450 dinar dalam bentuk emas, dan 21.414.800 dirham dalam bentuk perak. [5] 

Kala itu pemimpin tertinggi Romawi adalah Ratu Augusta (Barat: Irine), yang merupakan janda dari Kaisar Leo. Ratu Augusta terpaksa memimpin Romawi, karena putranya, yang tidak lain adalah pewaris tahta, masih berusia sangat muda. Sehingga dia untuk sementara waktu menggantikan tugas-tugas pemerintahan. Melihat kekuatannya sudah terdesak, Ratu Augusta memutuskan berdamai. Harun pun memenuhi permintaan tersebut dengan syarat, bahwa Ratu akan memberikan akses seluas-luasnya pada kaum Muslimin untuk berdagang di wilayah kekuasaannya. Di samping itu, Bizantium dikenai kewajiban membayar upeti sebenar 90.000 atau 70.000 Dinar setiap tahun kepada Abbasiyah.[6]

Maka demikianlah, ekspedisi militer yang pimpin Harun bin Al-Mahdi bisa dikatakan penaklukkan terbesar di era pemerintahan Al-Mahdi. Tidak main-main, yang ditaklukkannya adalah sebuah adidaya dunia yang sudah bertahan lebih 500 tahun. Dari hasil penaklukkan ini Harun berhasil menggondol berton-ton harta kekayaan, termasuk juga hewan buas terlatih, kuda-kuda yang jumlahnya mencapai 20.000 ekor, ribuan sapi dan kambing, tekstil, hingga segala jenis persenjataan.[7] Keberhasilan dalam ekspedisi ini membuat Harun menjadi bintang baru dalam peta politik Abbasiyah. Namanya mulai dikenal luas dan sangat populer baik di kalangan rakyat dan juga elit Abbasiyah.

Al-Mahdi sangat gembira dan bangga pada putra keduanya ini. Pada tahun 166 H, atau segera setelah Harun kembali dari ekspedisi tersebut, dia segara dinobatkan sebagai putra mahkota yang kelak akan mengantikan kakaknya Musa bin Al-Mahdi. Al-Mahdi meminta semua kalangan – khususnya para komandan militer – agar mematuhi wasiatnya ini, dan mulai sekarang sudah bersumpah setia pada putranya. Ketika itu pula, Harun mendapat julukan baru dari ayahnya, yaitu “Al-Rasyid”.[8]

Pada tahun 167 H, dua penguasa wilayah Tabaristan bernama Wandahurmuz dan Sharvin, melakukan pemberontakan pada Dinasti Abbasiyah. Kali ini, Al-Mahdi mengirim putra mahkota Abbasiyah, Musa bin Al-Mahdi untuk memadamkannya. Menurut Tabari, selama pemerintahan Al-Mahdi, belum ada ekspedisi militer yang demikian diatur secara langsung oleh khalifah sebagaimana pasukan ini. Pasukan yang dibawa Musa bin Al-Mahdi dilengkapi dengan senjata lengkap, dan berjumlah sangat besar. Selain itu, Al-Mahdi juga menunjukkan para jenderal dan aparatur terbaik untuk membantu Musa. Tak ayal, pasukan ini dengan sangat mudah memadamkan pemberontakan yang terjadi. Dalam waktu singkat, Musa berhasil mengendalikan seluruh wilayah tersebut dan menghukum semua pemberontak.[9]

Tapi di tahun 169 H, dilema merasuki pikiran Al-Mahdi. Dia menilai dari kedua putranya, bahwa Harun lah yang sebenarnya lebih layak terlebih dahulu diangkat sebagai khalifah. Ide ini kemudian dia sampaikan ke hadapan pemuka Bani Abbas, dan mereka menyetujui. Ketika itu Musa bin Al-Mahdi masih berada di Jurjan dan baru selesai membereskan semua hal di wilayah tersebut pasca pemberontakan di Tabaristan. Lalu datanglah kurir yang membawa surat dari ayahnya yang memerintahkan agar dia segera pulang untuk menerima keputusan ini. Tapi Musa menolak, dan memukuli kurir yang membawa surat tersebut.[10]

Mendengar tanggapan dari putranya, Al-Mahdi memutuskan untuk mendatangi langsung Musa bin Al-Mahdi ke Jurjan. Tapi dia tidak pernah sampai ke Jurjan menemui putranya, karena Al-Mahdi keburu menghembuskan napas terakhirnya.

Menurut Imam As-Suyuthi, konon penyebab kematiannya berawal saat dia mengejar binatang buruan dengan berkuda. Binatang buruan itu memasuki reruntuhan sebuah bangunan. Sementara itu, seokor kuda berlari di belakangnya lalu menyeruduk punggungnya hingga dia tewas seketika.[11] Tapi ada juga yang mengatakan bahwa dia meninggal karena diracun oleh budak perempuannya. Menurut riwayat Tabari, Al-Mahdi wafat pada tanggal 2 Muharram 169 H/ 785 M, di usia 43 tahun. Dia memerintah selama sekitar 10 tahun. Jenazahnya dishalatkan dan dikebumikan oleh putranya yang kedua, Harun Al-Rasyid. [12] (AL)

Bersambung…

Sebelumnya:

Catatan kaki:


[1] Lihat, Akbar Shah Najeebabadi, The History Of Islam; Volume Two, Riyadh, Darussalam, 2000, hal. 329

[2] Ibid

[3] Lihat, The History of al-Tabari, VOLUME XXIX, Al-Mansur and al-Mahdi, translated and annotated by Hugh Kennedy, State University of New York Press, 1995, hal. 209

[4] Ibid, hal. 215

[5] Ibid, hal. 220

[6] Ibid, hal. 221

[7] Ibid

[8] Ibid, hal. 223

[9] Ibid, hal. 236-237

[10] Ibid, hal. 242-243

[11] Lihat, Imam As-Suyuthi, Tarikh Khulafa’; Sejarah Para Khalifah, Jakarta, Qisthi Press, 2017, hal. 296

[12] Lihat, The History of al-Tabari, VOLUME XXIX, Op Cit, hal. 244 

Leave a Reply

Your email address will not be published.

*