Dinasti Abbasiyah (24): Al-Mahdi (4)

in Sejarah

Last updated on April 3rd, 2019 09:23 am

Di era pemerintahan Al-Mahdi sejumlah pembangunan infrastruktur digalakkan, mulai dari renovasi terhadap Masjidil Haram, hingga pembangunan jalan yang menghubungkan Irak dengan Hijaz. Di era ini juga mesin pembuatan kertas telah mencapai inovasi yang menakjubkan. Mereka sudah cukup berhasil membuat kertas yang lebih kuat dan diproduksi dalam skala massif. Inilah basis material yang menunjang lahirnya zaman keemasan Islam

Gambar ilustrasi. Sumber:
kiblat.net

Pada tahun 160 H, Al-Mahdi menunaikan ibadah haji. Dalam perjalanan tersebut, dia melihat berbagai kendala yang dialami oleh jamaah haji selama perjalanan dari Baghdad ke Mekkah. Dan ketika tiba di Mekkah, suasananya pun tak kalah mengkhawatirkan. Para panjaga Ka’bah menyatakan kekhawatiran mereka tentang banyaknya penutup (kiswah) yang menempel di dinding dan atas Ka’bah. Selain tidak elok, hal ini lama kelamaaan bisa merusak Ka’bah.[1]

Menangapi mengaduan ini, Al-Mahdi langsung memerintahkan agar Ka’bah dibersihkan dari penutup-penutup yang memberatkan itu, lalu dipasangi sehelai penutup (Kiswah) saja yang melingkupi seluruh bangunan Ka’bah. Dia juga memerintahkan agar seluruh wilayah Masjidil Haram ditaburi parfum. Setelah itu dia memerintahkan agar sejumlah infrastruktur di Mekah segera dibangun. [2]

Pada tahun 161 H, dimulailah proses renovasi besar-besaran terhadap Masjidil Haram dan Kota Mekkah. Al-Mahdi memerintahkan agar dibangun jalan-jalan yang luas di samping Masjidil Haram dan membuat banyak tempat air untuk mempermudah pelayanan haji. Dia juga memerintahkan agar memendekkan mimbar masjid dan menjadikannya sebagaimana mimbar Rasulullah Saw. Proses renovasi ini berlangsung bertahun-tahun. Pada tahun 167 H, Al-Mahdi memerintahkan agar memperluas areal Masjidil Haram dengan memperlebar ruangannya.[3]

Di samping renovasi besar-besaran terhadap Masjidil Haram, Al-Mahdi juga memberikan perhatian pada jalur haji dari Irak ke Mekkah. Sejak Irak menjadi pusat pemerintahan Islam dan seiring meningkatkan kemakmuran kota-kota seperti Baghdad dan Basrah, aktifitas perjalanan dari Irak ke Hijaz juga makin meningkat. Terutama ketika musim haji, jamaah haji dari Irak terbilang cukup banyak. Dengan demikian pembangunan infrastruktur yang bisa menopang perjalanan tersebut perlu juga dibuat.[4]

Atas dasar pertimbangan itulah, pada tahun 160 H atau sesaat setelah pulang dari haji, Al-Mahdi memerintahkan agar segera membangun sejumlah infrastruktur di sepanjang jalan menuju Mekkah. Beberapa di antaranya, dia memerintahkan agar dibangun sejumlah pos pemberhentian (semacam rest area sekarang) di beberapa titik.[5] Di tempat itu dibangunlah kastil, tangki air, sumur, kolam/waduk, termasuk menara api untuk menjadi semacam mercusuar ketika di malam hari. Al-Mahdi bahkan mengangkat wali yang bertanggungjawab atas perbaikan dan pengembangan jalur ini. Proses pengerjaan proyek ini terus belangsung hingga tahun 171 H, dan akan disempurnakan oleh Zubaidah, istri Harun Al-Rasyid.[6] Sehingga jalur ini kelak dikenal dengan nama Darb Zubaidah.[7]

Selain renovasi terhadap Masjidil Haram, Al-Mahdi juga melakukan renovasi terhadap sejumlah masjid lain, seperti di Basrah dan Baghdad. Dia pun memerintahkan kepada para gubernurnya di berbagai wilayah agar memendekkan semua mimbar masjid sehingga sama dengan mimbarnya Rasulullah Saw. Hal yang sama juga berlaku bagi infrastruktur, selain membangun infrastruktur haji, Al-Mahdi juga yang pertama-tama membangun jalur pos dari Irak ke Hijaz (Madinah, Mekkah, Yaman, sampai ke Hadramaut).[8] Dengan adanya infrastruktur ini, sirkulasi komunikasi, barang dan jasa antar wilayah Kekhalifahan Abbasiyah berlangsung semakin cepat.

Selain membangun infrastruktur wilayah, Al-Mahdi juga dikenal sebagai khalifah yang memiliki konsern pada pengembangan ilmu pengetahun. Di masa pemerintahannya, proyek penulis kitab dan ilmu pengetahun digalakkan secara lebih intensif dari tahun-tahun sebelumnya. Menurut Nadirsyah Hosen, Kebijakan Al-Mahdi yang pro ilmu pengetahuan juga didukung oleh penemuan kertas dari China. Sebelumnya yang digunakan itu papirus dari Mesir. Sejak penemuan kertas, kota Baghdad menjadi ramai dengan pabrik kertas yang digunakan sebagai bahan untuk menulis kitab.[9]

Menurut Eamon Gearon, pertemuan peradaban Islam dengan teknologi pembuatan kertas ini terjadi pada tahun 133H /751M, dalam sebuah pertempuran di daerah Talas. Ketika itu, Dinasti Abbasiyah baru saja berdiri. Mereka melakukan ekspedisi militer hingga titik terjauh, yaitu daerah Talas yang sekarang merupakan bagian dari wilayah Negara Kirgistan, di kawasan Asia Tengah. Di sinilah batas terakhir kekaisaran China di Timur dengan Abbasiyah di Barat bertemu. [10]

Setelah lima hari berlangsung, pertempuran ini akhirnya dimenangi secara mutlak oleh pasukan Abbasiyah. Pertempuran Talas sendiri sebenarnya tidak cukup krusial bagi masing-masing pihak (China dan Abbasiyah). Tapi menjadi monumental disebabkan dalam pertempuran inilah kaum Muslimin untuk pertama kalinya mulai mengenal teknologi pembuatan kertas China. Menurut Eamon Gearon, dalam pertempuran yang berlangsung 5 hari tersebut ribuan pasukan China dan Abbasiyah tewas, dan ribuan lainnya menjadi tawanan. Adapun diantara pasukan China yang ditawan tersebut terdapat dua orang diantaranya yang memiliki pemahaman yang tinggi tentang teknologi pembuatan kertas.[11]

Memang sebagian kritikus banyak yang mempertanyakan pertempuran ini sebagai momentum berkembangnya kertas di dunia Islam. Karena semua ini tampak terlalu sederhana untuk dikatakan berpengaruh sebesar itu. Namun Eammon Gearon membantah, sebab pada kenyataannya, sebelum terjadinya pertempuran ini, masyarakt Timur Tengah tidak banyak yang menggunakan kertas, dan bisa dipastikan mereka belum memiliki pengatahuan untuk memproduksinya.[12]


Ilustrasi teknik dan alat pembuatan kertas oleh kaum Muslimin. Sumber Gambar: www.1001inventions.com

Lebih jauh, pabrik pembuatan kertas yang pertama ditemukan dalam dunia Islam adalah di Samarkan, yang hanya berjarak 300 Mil dari Talas, dan waktunya sangat berdekatan dengan waktu pasca terjadinya pertempuran Talas. Dalam skala yang lebih besar, produksi kertas tercatat mulai berkembang di Baghdad pada tahun 793 M, di Kairo pada tahun 900 M, dan di Maroko pada tahun 1100 M.[13]


Dua halaman folio (239b – 241b) dari manuskrip di Perpustakaan Universitas Leiden, yang mungkin merupakan naskah Arab tertua yang diketahui di atas kertas (tertanggal Dhu al-Qa’da 252 H/ 866 M.) Sumber Gambar: Muslim Heritage:
 …


Ketika era pemerintahan Al-Mahdi, mesin pembuatan kertas telah mencapai inovasi yang menakjubkan. Mereka sudah cukup berhasil membuat kertas yang lebih kuat dan diproduksi dalam skala massif. Inilah kelak yang menjadi salah satu infrastruktur utama yang menunjang lahirnya zaman keemasan Islam, dimana kertas menjadi alat bagi ilmuwan Muslim untuk menulis, menerjemahkan, menyebarkan, dan menyimpan kekayaan pengetahuan yang luar biasa, sehingga mereka dikenal di seluruh dunia. Maka boleh dikatakan bahwa masa Al-Mahdi ini sebagai pengantar akan kejayaan atau masa emas dari Dinasti Abbasiyah. (AL)

Bersambung…

Sebelumnya:

Catatan kaki:


[1] Lihat, The History of al-Tabari, VOLUME XXIX, Al-Mansur and al-Mahdi, translated and annotated by Hugh Kennedy, State University of New York Press, 1995, hal. 194

[2] Ibid

[3] Lihat, Imam As-Suyuthi, Tarikh Khulafa’; Sejarah Para Khalifah, Jakarta, Qisthi Press, 2017, hal. 296

[4] Lihat, Hugh Kennedy, catatan kaki No. 645, dalam The History of al-Tabari, VOLUME XXIX, Al-Mansur and al-Mahdi, Op Cit, hal. 198

[5] Lihat, The History of al-Tabari, VOLUME XXIX, Al-Mansur and al-Mahdi, Ibid

[6] Ibid

[7] Uraian lebih jauh mengenai Zubaidah dan Darb Zubaidah yang dibangunnya, redaksi ganaislamika.com pernah menerbitkan artikel berjudul “Beberapa Muslimah Hebat Dari Abad Pertengahan,” edisi tentang Zubaidah bisa diakses melalui link berikut: https://ganaislamika.com/beberapa-muslimah-hebat-dari-abad-pertengahan/

[8] Adz-Dzahabi berkata, “Dia (Al-Mahdi) adalah khalifah pertama yang membangun jaringan pos antara Irak dan Hijaz.” Lihat, Lihat, Imam As-Suyuthi, Op Cit

[9] Lihat, Nadirsyah Hosen, Kontroversi Khalifah Al-Mahdi dan Abbasiyah, https://nadirhosen.net/tsaqofah/tarikh/kontroversi-khalifah-al-mahdi-dan-abbasiyah, diakses 19 Maret 2019

[10] Uraian lebih jauh mengenai Pertempuran Talas, redaksi ganaislamika.com pernah penulis serial artikel berjudul “Pertempuran Talas”. Untuk membaca bisa mengakses link berikut: https://ganaislamika.com/pertempuran-talas-751-m-1-pertempuran-dinasti-abbasiyah-melawan-dinasti-tang-titik-balik-peradaban-islam/

[11] Lihat, Eamon Gearon, Turning Points in Middle Eastern History, Virginia: The Great Courses, 2016), chapter 7, hal.

[12] Ibid

[13] Ibid e

Leave a Reply

Your email address will not be published.

*