Dinasti Abbasiyah (42): Harun Al-Rasyid (13)

in Sejarah

Pada tahun 190 H, Harun mutuskan untuk menuntaskan semua permasalahan dengan Bizantium hingga tak tersisa. Dia memimpin sendiri 135.000 bala tentara menuju Bizantium dalam sebuah ekspedisi militer musim panas. Harun berhasil membumi hanguskan Bizantium dan memaksa Nicephorus I membayar tebusan untuk keselamatan kepalanya dan putra-putranya.

Gambar ilustrasi. Sumber:pinterest.ch

Pada tahun 188 H, Nicephorus I – Kaisar Romawi yang sudah berkali-kali dikalahkan dan berkali-kali pula diampuni oleh Harun Al-Rasyid – kembali menunjukkan upaya pengkhianatan. Kali ini Harun sudah merasa tidak perlu menghadapinya secara langsung. Lagipula toh kekuatan Bizantium waktu itu sudah jauh menyusut. Harun hanya mengutus jenderalnya yang bernama Ibrahim bin Jibril untuk memimpin ekspedisi ke Bizantium.[1]

Mendengar kedatangan pasukan kaum Muslimin, Nicephorus I segera bergegas bersama puluhan ribu bala tentaranya untuk menghadapi mereka. Tapi di tengah perjalanan, Nicephorus I memutuskan untuk berbalik dan menghindari pertempuran dengan pasukan Ibrahim bin Jibril. Hanya saja dia sudah terlambat. Sewaktu akan berbalik, dia sudah dicegat oleh pasukan Abbasiyah, dan pertempuran sengit pun berlangsung.[2]

Dalam pertempuran ini, Nicephorus I menderita kekalahan sangat telak. Meski begitu, dia masih berhasil melarikan diri dengan tiga luka sabetan pedang ditubuhnya. Menurut Tabari, sebanyak 40.700 tentara Bizantium terbunuh dalam pertempuran ini, dan sekitar 4.000 binatang buas berhasil ditangkap.

Pada tahun ini juga, Al-Qasim bin Harun Al-Rasyid, putra mahkota urutan ketiga yang berjuluk Al-Mutamin, secara resmi dinobatkan sebagai penguasa wilayah Suriah. Keputusan ini menyusul ditangkapnya Abdul Malik bin Salih yang tidak lain adalah mentor Al-Mutamin karena dicurigai berkhianat. Al-Qasim juga bertanggungjawab untuk menjaga perbatasan antara Bizantium dan Abbasiyah. [3]

Pada tahun 189 H, Harun Al-Rasyid menerima baiat dari sejumlah penguasa di Laut Kaspia, dan memulihkan stabilitas keamanan di Khurasan sampai ke daerah Samarkan, Asia Tengah. Dan pada tahun 190 H, terdengar kabar bahwa pasukan Romawi berulah lagi dengan mengganggu ketentraman di wilayah perbatasan yang banyak dihuni kaum Mulimin. Kali ini, Harun mutuskan untuk menuntaskan semua permasalahan dengan Bizantium hingga tak tersisa. Dia memimpin sendiri bala tentaranya menuju Bizantium dalam sebuah ekspedisi militer musim panas. [4]

Pada waktu ini, Harun Al-Rasyid menunjukkan putra mahkota keduanya, Abdullah Al-Makmun sebagai wakilnya yang mengurusi semua masalah pemerintahan. Harun juga menulis surat kepada seluruh gubernurnya di semua wilayah hingga yang terjauh agar mematuhi semua perintah Al-Makmun layaknya dia khalifah itu sendiri. Dan Harun menyerahkan pada Al-Makmun cincin segel Al-Manshur yang juga merupakan cincin resmi khalifah. Cincin ini berukir kalimat, “Tuhan adalah pelindung ku, di tangan-Nya aku telah mempercayakan keamananku.” Karena ketika itu Al-Makmun menjabat sebagai gubernur di Raqqah, maka pusat pemerintahan kekhalifahan Abbasiyah untuk sementara berada di kota tersebut.[5]

Harun kemudian berhasil menaklukkan Heraclea, yang jaraknya sangat dekat dengan pusat kekuasaan Bizantium di Konstantinopel (lihat peta). Dari sana, dia mengirim sejumlah kontingen yang dipimpin oleh para jenderal kepercayaannya untuk menyebar ke seluruh wilayah yang dikuasai oleh Bizantium. Menurut Tabari, jumlah bala tentara Abbasiyah yang dibawa Harun Al-Rasyid ketika itu sekitar 135.000 personil.[6]


Lokasi yang diberi garis merah, diperkirakan sebagai letak Heraclea yang dimaksud dalam sejarah. Saat ini tempat tersebut bernama Karadeniz Eregli, sebuah distrik dari Propinsi Zonguldak, Turki. Sumber gambar: Wikipedia. com


Menurut Imam Al-Suyuthi, dari semua kontingen yang dikirim oleh Harun Al-Rasyid, semuanya berhasil pulang dengan membawa berita kemenangan. Syurahbil bin Maan bin Zindah berhasil menaklukkan benteng Sisilia; Yazid bin Makhland berhasil menaklukkan Malqunia; adapun Hamid bin Mayuf yang diperintahkan menuju Siprus, berhasil menghancurkan dan membakar wilayah itu, serta memperbudak tak kurang dari 16.000 penduduknya.[7]

Dari pusat komandonya di Heraclea, Harun Al-Rasyid membumihanguskan kekuatan Bizantium hingga ke titik terendah. Kali ini Nicephorus I sudah kehabisan cara untuk melawan. Dia pun mengaku kalah dan mengirim upeti kepada Harun Al-Rasyid sebagai tanda penyerahan diri. Termasuk dalam kiriman itu terdapat uang tebusan untuk keselamatan kepalanya, dan juga kepala putra-putranya. Tabari mengatakan, total sekitar 50.000 Dinar uang yang dia kirimkan kepada Harun melalui dua orang bangsawan Romawi yang paling tekemuka. Dalam kesempatan itu juga, Nicephorus I mengirimkan sebuah surat yang isinya  permohonan agar Harun memilihkan budak perempuannya untuk dijadikan istri bagi anak laki-laki Nicephorus I. [8]  Surat tersebut berisi sebagai berikut:

Kepada Harun, hamba Tuhan, pemimpin kaum beriman, dari Nicephorus penguasa Bizantium, salam!

Wahai Raja, aku memiliki sebuah permohonan padamu, yang (permohonan) itu tidak akan mengakibatkan kerusakan apapun baik pada iman mu atau pun pada kesejahteraan mu di dunia karena demikian sepele dan tidak signifikannya (permohonanku ini). Sudi kiranya dikau mengaruniai putra ku seorang budak perempuan, seorang gadis Heraclea yang bisa dinikahi oleh putra ku.  Jika anda menilai perlu untuk memenuhi kebutuhan ku ini, maka aku akan sangat berterima kasih sekali. Salam sejahtera bagimu, dan rahmat serta berkah tuhan (untuk mu).”[9]

Secara nyata, surat ini menunjukkan sebuah penyerahan total Nicephorus kepada Harun Al-Rasyid. Dia bahkan bersedia merendahkan kekuasaannya dengan memohon seorang budak Harun Al-Rasyid untuk dinikahkan dengan putranya yang suatu saat nanti akan mewarisi tahta kekaisaran Bizantium. Menanggapi permohonan ini, Harun Al-Rasyid langsung memerintahkan pada anak buahnya untuk mencari budak yang dimaksud. Setelah ditemukan, Harun menyuruh agar budak tersebut diperlakukan sebaik mungkin layaknya seorang pengantin perempuan yang akan dinikahkan. Budak tersebut kemudian dikirim ke Istana Bizantium, lengkap dengan tandu dan iring-iringan layaknya pengantin.[10]

Setelah prosesi diplomatik yang unik ini berlangsung dan berjalan lancar, maka dimulailah proses negosiasi yang sesungguhnya. Nicephorus diminta untuk berhenti mengganggu kaum Muslimin yang bermukim di wilayahnya dengan alasan apapun. Sementara Harun Al-Rasyid berjanji akan menghentikan ekspedisinya sebatas Heraclea. Harun juga diminta agar membuat benteng pembatas di Heraclia yang menjadi penanda batas kedua negara. Dan Nicephorus berjanji akan menyerahkan upeti sebesar 300.000 Dinar setiap tahun kepada Abbasiyah.[11] (AL)

Bersambung…

Sebelumnya:

Catatan kaki:


[1] Lihat, Akbar Shah Najeebabadi, The History Of Islam; Volume Two, (Riyadh, Darussalam, 2000), hal. 371

[2] Lihat, Syed Ameer Ali, A Short History of The Saracens, (London: Macmillan And Co., Limited St. Martin’s Street, 1916), hal. 248

[3] Ibid, hal. 248

[4] Lihat, The History of al-Tabari, VOLUME XXX, The Abbasid Caliphate in Equilibrium, translated and annotated by C. E. Bosworth, (USA: State University of New York Press, 1995), hal. 254-256

[5] Ibid, hal. 261

[6] Ibid, hal. 262

[7] Lihat, Imam As-Suyuthi, Tarikh Khulafa’; Sejarah Para Khalifah, (Jakarta: Qisthi Press, 2017), hal. 309.

[8] Lihat, The History of al-Tabari, VOLUME XXX, Op Cit, hal. 263

[9] Ibid, 264

[10] Ibid

[11] Ibid

Leave a Reply

Your email address will not be published.

*