Dinasti Abbasiyah (50): Muhammad Al-Amin (7)

in Sejarah

Last updated on May 29th, 2019 07:44 am


Al-Amin ingin mengingat tentang nasib tragis orang-orang yang dulu berkorban demi kejayaan Dinsati Abbasiyah seperti Abu Muslim Al-Khurasani, Yahya bin Khalid Al-Barmaki, dan lain-lain. Maka dia menulis surat pada Tahir bin Husein yang isinya, “Wahai Tahir, tak seorang pun yang membantu hak-hak kami, kecuali menerima balasan kami berupa pedang! Karena itu, hendaknya engkau berpikir ulang atau tinggalkan perkara ini segera!”

Gambar ilustrasi. Sumber: eyeni.ru

Pada tahun 196 H, Husein bin Ali bin Isa bin Mahan tiba di Baghdad bersama pasukannya dari Suriah. Al-Amin yang menyangka pasukan ini seperti yang dijanjikan oleh Abdul Malik bin Saleh, memerintahkan pada mereka untuk menghadap. Tapi permintaan ini ditolak dengan kata-kata yang mengejek oleh Husein bin Ali. Dia berkata pada utusan Al-Amin,”Demi Tuhan, saya bukan penyanyi, teman malam, atau pelawak. Saya belum mengambil alih provinsi apa pun untuknya, saya juga belum mengumpulkan uang untuknya. Mengapa dia menginginkan saya pada jam ini? Pergi! Saat pagi, aku akan datang lebih awal kepadanya, insya Allah.”[1]

Keesokan paginya, Husein bin Ali memasuki Kota Baghdad bersama seluruh pasukannya. Dia langsung memerintahkan agar menutup semua akses yang menuju ke istana Al-Amin. Dia juga memerintahkan agar sejumlah gerbang kota di tutup, salah satunya adalah gerbang Khurasan yang merupakan gerbang masuk orang-orang yang datang dari kawasan Khurasan. [2]

Ketika itu, pasukan Husein bin Ali mendapat perlawanan cukup sengit dari pasukan Al-Amin. Namun dalam waktu singkat perlawanan mereka dapat dipatahkan. Husein bin Ali pun melenggang memasuki istana dan meringkus Al-Amin berserta keluarga dan juga ibunya, Zubaidah bin Al-Manshur. Husein bin Ali kemudian menyatakan pencopotan khalifah Al-Amin dan menyatakan setia pada Abdullah Al-Makmun.[3]

Di tempat yang berbeda, Al-Makmun memerintakan Tahir bin Husein agar teratur melakukan penaklukkan. Ini sebabnya dia tidak langsung menuju Baghdad, tapi menundukkan satu persatu seluruh wilayah kekuasaan Dinasti Abbasiyah. Secara perlahan, Tahir bin Husein berhasil mengambil baiat dari sejumlah kawasan, mulai dari Khurasan, Persia, hingga Hijaz.[4]

Di sisi lain, Al-Makmun agaknya sudah membaca akhir dari pertempurannya dengan Al-Amin. Dia sudah mengangkat sejumlah orang untuk menduduki posisi-posisi penting di dalam pemerintahannya kelak. Dia menetapkan Fadl bin Sahal sebagai wazirnya, sekaligus penguasa seluruh wilayah timur Abbasiyah yang mencakup Khurasan, India, hingga ke tepi pegunungan Tibet. Dia juga mengangkat sejumlah penanggungjawab administratif, panglima perang, dan juga bendahara negara yang bertugas memungut pajak dari seluruh negeri. Intinya, Al-Makmun sudah siap untuk suatu revolusi.[5]

Di Baghdad, masyarakat marah begitu mendengar Husein bin Ali menyandera khalifah. Mereka melakukan pemberontakan di dalam kota dan menyerang setiap prajurit Husein bin Ali. Bentrokan pun terjadi. Pasukan Husein bin Ali – yang tidak tahu cara menghadapi amukan rakyat sipil – kocar kacir dan akhirnya kalah oleh amukan masyarakat. Setelah itu mereka berbalik meringkus Husein bin Ali dan membebaskan Al-Amin beserta keluarganya. Kemudian masyarakat kembali memberikan baiatnya pada Al-Amin.[6]

Husein bin Ali bin Isa bin Mahan diborgol dengan rantai dan dibawa ke hadapan Al-Amin. Tapi Al-Amin ternyata memberi ampunan padanya dan berkata, “Segera tebus kesalahan mu dengan pergi berperang melawan Tahir bin Husein. Kalahkan dia dan kembalikan kehormatan mu.” Husein bin Ali pun menyetujui syarat yang diberikan khalifah. Kemudian masyarakat pun berbalik menghormatinya, dan mengiringi kepergian Husein bin Ali beserta pasukannya yang saat itu sudah menyusut jumlahnya.[7]

Hanya saja, ketika kerumunan masyarakat sudah mulai mengecil, tiba-tiba Husein bin Ali berlari sambil menyatakan bahwa dia tetap akan memberontak kepada Al-Amin. Mendengar ini, Al-Amin segera mengirim pasukan untuk mengejarnya. Husein bin Ali hanya mampu berlari sejauh 3 mil dari gerbang Kota Baghdad. Dia kemudian ditangkap dan langsung dibunuh oleh pasukan Al-Amin. Kepalanya dipenggal dan dibawa ke hadapan Al-Amin.[8] Untuk sementara kondisi keamanan di Kota Baghdad pulih kembali.

Tapi di hari yang sama ketika terbunuhnya Husein bin Ali bin Isa bin Mahan, Fadl bin Rafi – wazir Al-Amin yang menjadi biang keladi dari semua kacauan ini – tiba-tiba menghilang secara misterius. Tidak ada seorang pun yang mengetahui keberadaannya. Al-Amin pun cemas bercampur curiga bahwa Fadl bin Rafi juga sedang merencanakan pengkhianatan kepadanya.[9]

Di tempat yang berbeda, ekspedisi militer Tahir bin Husein bersama pasukannya makin mendekati Irak. Kini dia sudah berada di wilayah Ahwaz (Sekarang Iran), dan sudah berhasil mengambil baiat dari hampir semua wilayah persia dan hijaz. Al-Amin sempat mengirim pasukannya untuk mengalahkan Tahir bin Husein di wilayah tersebut, tapi lagi-lagi upaya itu gagal. Pasukan yang dikirimnya dihabisi, dan gubernur Ahwaz yang bernama Muhammad bin Yazid Al-Muhallabi tewas terbunuh.[10]

Lokasi daerah Ahwaz dalam peta modern. Diperkirakan lokasi ini tidak banyak berubah sejak 12 Abad yang lalu. Sumber gambar: hindustantimes.com

Berita kematian Muhammad bin Yazid Al-Muhallabi menggemparkan para penguasa lokal di sekitarnya. Mereka satu persatu menyatakan tunduk dan membaiat Al-Makmun sebagai khalifah. Dari Ahwaz, Tahir bin Husein mengultimatum sejumlah gubernur di Irak, yang tidak lain adalah kerabat-kerabat Bani Abbas. Mereka pun satu persatu menyatakan keberpihakannya pada Al-Makmun dan mendelegitimasi Al-Amin.[11]

Dalam kondisi sudah terdesak, Al-Amin mengirim surat pada Tahir bin Husein yang isinya, “Wahai Tahir, tak seorang pun yang membantu hak-hak kami, kecuali menerima balasan kami berupa pedang! Karena itu, hendaknya engkau berpikir ulang atau tinggalkan perkara ini segera!”[12]

Al-Amin tampaknya ingin memberi isyarat pada Tahir tentang apa yang dulu menimpa Abu Muslim Al-Khurasani, Yahya bin Khalid Al-Barmaki, dan lain-lain. Orang-orang itu dulu berani mengorbankan nyawanya demi kejayaan Dinasti Abbasiyah, tapi pada ujungnya mereka bernasib tragis dan dihabisi secara tidak hormat. (AL)


Bersambung…


Sebelumnya:


Catatan kaki:


[1] Lihat, The History of al-Tabari (Ta’rikh al-rusul wa’I-muluk), VOLUME XXXI, The War between Brothers, translated and annotated by Michael Fishbein, (USA: State University of New York Press, 1992), hal. 109

[2] Ibid, hal. 110

[3] Ibid

[4] Lihat, Akbar Shah Najeebabadi, The History Of Islam; Volume Two, (Riyadh, Darussalam, 2000), hal. 388

[5] Lihat, The History of al-Tabari (Ta’rikh al-rusul wa’I-muluk), VOLUME XXXI, Op Cit, hal. 101-102

[6] Ibid, hal. 112

[7] Lihat, Akbar Shah Najeebabadi, Op Cit

[8] Ibid

[9] Ibid

[10] Lihat, The History of al-Tabari (Ta’rikh al-rusul wa’I-muluk), VOLUME XXXI, Op Cit, hal. 114-120

[11] Lihat, Akbar Shah Najeebabadi, Op Cit, hal. 389

[12] Lihat, Imam As-Suyuthi, Tarikh Khulafa; Sejarah Para Khalifah, (Jakarta: Qisthi Press, 2017), hal. 320

1 Comment

  1. Thank you pertaining to spreading this excellent written content on your website. I discovered it on the search engines. I may check back again if you publish extra aricles.

Leave a Reply

Your email address will not be published.

*