Dinasti Abbasiyah (57): Abdullah Al-Makmun (6)

in Sejarah

Last updated on July 26th, 2019 06:36 am

Ali Ridha menerangkan semua masalah politik yang selama ini tersembunyi dari Al-Makmun. Tak lama setelah itu, Fadl bin Sahal tewas terbunuh. Menyusul kemudian Ali Ridha wafat dalam perjalanan di Thus (Iran sekarang). Pendukungnya percaya bahwa dia diracuni. Al-Makmun sangat berduka. Dia menguburkan jasad Ali Ridha di samping makam ayahnya, Harun Al-Rasyid.

Makam Ali Ridha di Iran. Tempat ini sekarang dikenal dengan istilah Meshed (Mash-had atau Mash-had Mukkaddas) yang artinya Makam suci (the holy sepulchre). Sumber gambar: wisgoon.com

Fase sejarah mengenai pengangkatan Ali Ridha bin Musa Al-Kazhim sebagai putra mahkota oleh Al-Makmun, adalah satu eposide sejarah yang rumit. Bukan karena kosongnya informasi mengenai hal tersebut, sebaliknya, disebabkan banyaknya informasi yang simpang siur mengenai masalah ini. Sangat mungkin, ini disebabkan terbelahnya keberpihakan dan pendapat masyarakat masa itu mengenai masalah ini.

Tabari, yang bisa dikatakan salah satu sejarawan yang cukup dekat dengan periode tersebut, menyatakan bahwa ketika datang perintah Al-Makmun agar semua birokratnya mengganti simbol warna hitam (simbol Bani Abbas) menjadi hijau (simbol pengikut keluarga Ali bin Abi Thalib), orang-orang di Baghdad terpecah ke dalam dua kubu. Yang satu langsung menyetujui dan mengajak yang lain agar mengikuti perintah khalifah, tapi yang lain justru menolak. Mereka yang menolak, umumnya adalah pendukung Bani Abbas. Alasan mereka karena mereka tidak ingin jalur kekhalifahan keluar dari trah Bani Abbas. Mereka juga menilai bahwa ini perintah yang datang akibat pengaruh dari Fadl bin Sahal.[1]

Adapun mereka yang menyetujui, tidak semua berasal dari pendukung Ahlul Bait Rasulullah Saw. Karena ketika itu, para pendukung Ahlul Bait juga mencurigai keputusan Al-Makmun dengan mengangkat Ali Radha sebagai putra mahkota. Sama seperti pedukung Bani Abbas, para pendukung Ahlul Bait juga tidak sependapat dengan kedudukan Fadl bin Sahal sebagai wazir Al-Makmun. Jadi bisa dikatakan, bahwa pada masa itu, skema persiangan politik yang berlangsung sudah jauh lebih rumit dari sekedar persaingan politik antara pendukung Ahlul Bait dengan Bani Abbas.

Para pendukung Bani Abbas yang tidak terima dengan keputusan Al-Makmun, segera melakukan pemberontakan terhadap Hasan bin Sahal, gubernur Al-Irak yang diangkat oleh Al-Makmun. Mereka kemudian membaiat seorang tokoh Bani Abbas bernama Ibrahim bin Mahdi bin Al-Manshur sebagai khalifah dan mendelegitimasi pemerintahan Al-Makmun. Maka jadilah ketika itu terdapat dua pemerintahan di Baghdad. Dimana yang satu mendelegitimasi yang lain. [2] Sehingga Baghdad tidak memiliki otoritas yang diakui, dan terjadilah anarki.

Apa yang terjadi di Baghdad, dalam waktu cepat menyebar ke kota lain di sekitarnya. Kejahatan berkembang cepat, bahkan perampokan dan pembunuhan berlangsung di siang hari secara terbuka. Melihat situasi ini, para elit dari kelas-kelas terhormat akhirnya membuat sebuah komite khusus untuk melindungi harta mereka. Komite ini menjadi satu-satunya badan yang bisa diharapkan untuk mencari keadilan dan memelihara ketertiban. Para perusuh yang tertangkap melakukan kejahatan langsung dihukum dengan cara dibuang ke padang pasir. Dengan adanya komite ini, untuk sementara tingkat kejahatan di Baghdad sedikitnya bisa dikurangi.[3]

Di tengah situasi yang tidak menentu ini, kemudian muncul pula kelompok Khawarij yang mengusung warna putih. Mereka melakukan pemberontakan di beberapa kota di Al-Iraq. Adalah Abu Ishaq bin Harun Al-Rasyid[4] yang kemudian berhasil memadamkan pemberontakan mereka. Sebagai catatan, dalam misi inilah untuk pertama kalinya petinggi Abbasiyah menggunakan jasa budak dari Turki (ghilman) sebagai prajurit. Mereka ini kemudian dikenal dengan banyak nama. Salah satunya adalah “Mamluk”.[5] Para budak dari Turki ini sangat setia pada Abu Ishaq. Tabari mengisahkan, bahwa ketika Abu Ishaq ditodong tombak oleh Kaum Khawarij, salah satu budak Turki ini langsung memasang badan di depan Abu Ishaq dan berdiri tepat di ujung tombak tersebut, sambil berkata;” “ashinas ma-ra [kenali aku]!” Sejak kejadian itu, Abu Ishaq sangat terkesan dengan kesetiaan budak tersebut, dan menyebutnya dengan panggilan Ashinas.[6]

Tapi dengan berakhirnya pemberontakan Khawarij tersebut, bukan berarti situasi kembali normal. Sebaliknya, kekacauan makin meluas.  Di wilayah lain, seperti Irak selatan, Yaman dan Hijaz, di sana berlangsung anarki yang sama hebatnya. Baik Ibrahim bin Mahdi maupun Hasan bin Sahal tidak memiliki daya untuk mengendalikan situasi.[7]

Melihat kegentingan ini, akhirnya – sebagaimana dikisahkan oleh Tabari – Ali Ridha mengambil inisiatif untuk mengabarkan semua situasi ini kepada Al-Makmun. Dia menceritakan bagaimana Fadl bin Sahal tidak kompeten menjalankan pemerintahan. Bahwa selama ini Fadl telah menyembunyikan informasi penting tentang situasi politik yang berlangsung selama masa pemerintahannya. Bahwa saat ini Ibrahim bin Mahdi sudah membelokkan kesetiaan kaum Abbasiyah dari Al-Makmun, dan mendapuk dirinya sebagai khalifah.[8]

Mendengar apa yang diucapkan oleh Ali Ridha, Al-Makmun kebingungan, dan bertanya, “siapa komandan militer ku yang mengetahu mengenai hal ini?” Kemudian Ali Ridha menyebutkan nama-nama mereka yang mengetahui secara pasti tentang semua apa yang dijelaskan tersebut. Merekapun dipanggil menghadap khalifah. Awalnya mereka enggan bersuara. Hingga akhirnya Al-Makmun menjamin keselamatan mereka dengan menulis surat jaminan secara khusus. Setelah itu, barulah mereka bercerita.[9]

Menurut Tabari, mereka tidak hanya menceritakan tentang situasi politik yang terjadi sekarang, bahkan juga menceritakan kondisi politik sejak awal jatuhnya Al-Amin dari kursi kekhalifahan. Termasuk kesalahan Al-Makmun dengan memenjarakan Harsamah bin Ayun. Dimana kematian Harsamah, adalah kerugian besar bagi kekhaifah Abbasiyah.[10] Mendapati kenyataan ini, Al-Makmun memeras otaknya. Dia mengatakan pada Ali Ridha bahwa bukan hal mudah baginya menghukum Fadl bin Sahal.

Di sisi lain, Fadl bin Sahal yang mengetahui bahwa kedoknya sudah terbuka, tidak berani menghadapi Ali Ridha yang memiliki posisi khusus di mata Al-Makmun. Fadl kemudian memberi hukuman pada para komandan militer yang membuka mulut tersebut. Penyiksaan ini diadukan kembali oleh Ali Ridha pada Al-Makmun, seraya mengingatkan bahwa dia sudah berjanji melindungi keselamatan mereka. Tapi lagi-lagi Al-Makmun berkata bahwa bukan hal mudah baginya menghukum Fadl bin Sahal.[11]

Hingga satu ketika, Al-Makmun memutuskan ke Baghdad untuk memadamkan pemberontakan di sana. Dalam ekspedisi tersebut, Al-Makmun mengajak serta Ali Ridha dan Fadl bin Sahal bersamanya. Lalu di sebuah tempat yang bernama Sarakh, Fadl tiba-tiba diserang oleh sekelompok orang tidak dikenal. Dalam serangan tersebut, Fadl bin Sahal terbunuh. Al-Makmun yang mengetahui hal ini kemudian memerintahkan agar pembunuhnya ditangkap dan dihukum. Sebelum dihukum, para pembunuh tersebut mengatakan di hadapan Al-Makmun, “Kau sendiri yang menyuruh kami membunuhnya!” Tapi Al-Makmun memenggal leher mereka.[12]

Setelah kematian Fadl bin Sahal, rombongan Al-Makmun melanjutkan perjalanan. Dari Sarakh mereka menuju Thus, kota dimana Harun Al-Rasyid dikuburkan. Di kota ini, Al-Makmun memutuskan untuk berhenti selama  beberapa hari. Dan pada satu hari selama beristirahat tersebut, Ali Ridha bin Musa Al-Kahzim menghembuskan napas terakhirnya. Menurut Tabari, dia meninggal setelah memakan buah anggur.[13] Para pendukung Ali Ridha percaya, bahwa buah tersebut telah diracuni.

Ali Ridha wafat pada akhir bulan Safar 203 H (sekitar September 818 M) di Thus (Iran sekarang). Menurut Tabari, Al-Makmun sangat terpukul ketika mendengar berita kematiannya. Al-Makmun memerintahkan agar Ali Ridha dikebumikan di samping kuburan Harun Al-Rasyid.[14] Hingga kini, lokasi pemakaman tersebut tak pernah sepi dari kunjungan para peziarah dari berbagai belahan dunia. (AL)

Bersambung…

Sebelumnya:

Catatan kaki:


[1] Lihat, The History of al-Tabari (Ta’rfkh al-rusul wa l-muluk), VOLUME XXXII, The Reunification of The `Abbasid Caliphate, translated and annotated by C.E. Bosworth, (THE UNIVERSITY OF MANCHESTER: State University of New York Press, 1987), hal. 61-62

[2] Ibid, hal. 63

[3] Lihat, Syeed Ameer Ali, A Short History Of The Saracens,(London: MacMillian And Co., Limited ST. Martin’s Street, 1916), hal. 263

[4] Abu Ishaq bin Harun Al-Rasiy bergelar Al-Muktamin. Kelak dialah yang menjadi khalifah menggantikan Al-Makmun.

[5] Uraian lebih jauh mengenai asal usul orang-orang Mamluk, bisa mengakses link berikut: https://ganaislamika.com/asal-usul-dinasti-mamluk-1-siapa-mamluk/

[6] Lihat, The History of al-Tabari (Ta’rfkh al-rusul wa l-muluk), VOLUME XXXII, Op Cit, hal. 68

[7] Lihat, Syeed Ameer Ali, Op Cit, hal. 266

[8] Lihat, The History of al-Tabari (Ta’rfkh al-rusul wa l-muluk), VOLUME XXXII, Op Cit, hal. 78

[9] Ibid, hal. 78-79

[10] Ibid

[11] Lihat, Syeed Ameer Ali, Op Cit, hal. 267

[12] Lihat, The History of al-Tabari (Ta’rfkh al-rusul wa l-muluk), VOLUME XXXII, Op Cit, hal. 80

[13] Ibid, hal. 84

[14] Ibid, hal. 85

Leave a Reply

Your email address will not be published.

*