Dinasti Abbasiyah (63): Abdullah Al-Makmun (12)

in Sejarah

Last updated on July 7th, 2019 05:22 am

Dalam ekspedisi militer ke Bizantium, Al-Makmun menggunakan jasa budak-budak Turki sebagai pasukan inti. Selama pertempuran tersebut, mereka berhasil menunjukkan keberanian dan kesetiaan yang mengagumkan. Dari sini, keberadaan mereka menjadi makin penting di mata para petinggi Dinasti Abbasiyah.

Gambar ilustrasi perjanjian damai antara Al-Makmun dan Kaisar Theophilus. Sumber gambar: wikipedia.org

Setelah menikahkan putrinya yang bernama Ummu Fadl, dengan Muhammad bin Ali Ridha pada bulan Safar 215 H, Al-Makmun segera lenajutkan perjalanannya untuk menaklukkan Bizantium. Dia mengambil jalur melalui Mosul (sekarang Irak), lalu ke Manbij,[1] kemudian Dabiq,[2] ke Antiokhia (sekarang Turki) dan ke Messisah (sekarang Turki).[3] Di Messisah ini, Al-Makmun membangun basis kekuatannya. Setelah siap, dia berangkat menuju Tarsus, dan dari Tarsus dia berhasil memasuki wilayah Binzatium pada pertengahan Jumadil Awal 215 H/ Juli 830 M.[4]

Ekspedisi militer yang dipimpin oleh Al-Makmun ini cukup terkenal dalam sejarah. Sepanjang perjalanannya, Al-Makmun dan pasukannya melakukan beberapa seri pertempuran melawan Bizantium. Sebagaimana sudah dikisahkan pada edisi sebelumnya, Bizantium ketika itu didukung tidak hanya didukung oleh sejumlah pasukan dari Eropa, tapi juga oleh pasukan dari sekte pimpinan Babak Khurmi. Dalam pertempuran ini, pasukan Abbasiyah berhasil meraih kemenangan gemilang. Satu per satu benteng yang dikuasai Romawi berhasil ditaklukkan.[5]

Gambar ilustrasi peta wilayah perbatasan antara kekaisaran Bizantium dengan kekhalifahan Abbasiyah sekitar Abad 9 Masehi. Titik-titik hitam menandai kota dan benteng pertahanan Bizantium. mandegar.info

Salah satu pertempuran yang paling sengit terjadi ketika Al-Makmun menaklukkan benteng yang bernama Qurrah. Benteng ini terletak di wilayah Cappadocia (sekarang Turki), dan menjadi titik kunci pertahanan Bizantium. Setelah berhasil di taklukkan, Al-Makmun memerintahkan benteng tersebut dihancurkan. Sebelumnya, Al-Makmun juga sudah menghancurkan Benteng Majidah yang juga terletak di kawasan Cappadocia. Berbeda dengan Benteng Qurrah, di Benteng Majidah, Al-Makmun memerintahkan agar mengosongkan benteng tersebut sebelum akhirnya dihancurkan.[6]

Setelah berhasil menaklukkan kedua benteng tersebut, jalan penaklukkan ke Bizantium terbuka lebar. Al-Makmun memutuskan kembali ke Damaskus, dan memerintahkan agar adiknya, Abu Ishak bersama pasukannya merupaka orang-orang Turki yang ketika itu dikenal dengan nama ashinas[7] melanjutkan penaklukkan.[8] Di momen ekspedisi ini, budak-budak Turki tersebut menunjukkan keberanian dan kesetiaan yang mengagumkan. Dari sini, keberadaan mereka menjadi makin penting di mata para petinggi Dinasti Abbasiyah.

Al-Makmun berhasil meraih kemenangan gemilang atas Bizantium. Dari hasil kemenangannya ini, dia berhasil menggondol banyak literatur klasik bangsa Romawi dan Yunani. Tapi menurut Syed Ameer Ali, penaklukkan gemilang Al-Makmun atas Bizantium ini telah menggores luka dan permusuhan yang mematikan antara orang-orang Eropa dan Arab.[9]

Di tahun 216 H, Al-Makmun mendengar kabar bahwa pasukan Bizantium kembali menyerang wilayah yang sebelumnya sudah diduduki oleh pasukan Abbasiyah. Menurut Tabari, sekitar 1.600 orang penduduk Tarsus dan Massisah dibunuh oleh pasukan Bizantium. Hal ini memaksa Al-Makmun kembali menyerang Bizantium untuk menyelesaikan urusan tersebut.[10]

Menurut Tabari, selain alasan itu, kepergian Al-Makmun kembali ke Romawi juga karena dipicu oleh ulah Kaisar Theophilus yang menulis namanya sendiri terlebih dahulu dalam suratnya (Surat Perjanjian Damai). Ketika surat itu sampai ke Al-Makmun, dia tidak membacanya, tapi langsung marah dan berangkat ke Bizantium. Al-Makmun bertemu dengan utusan kaisar Theophilus di wilayah  yang bernama Adana. Di sana utusan Theophilus tersebut menyerahkan lima ratus tawanan Muslim kepada Al-Makmun sebagai syarat perjanjian damai.[11]

Dikisahkan Tabari, bahwa ketika Al-Makmun dan pasukannya kembali ke Bizantium, dia nyaris tidak mendapat perlawanan yang berarti. Setelah perjanjian damai ditandatangani oleh Theophilus dan Al-Makmun, satu persatu wilayah taklukannya berhasil diambil alih kembali. Al-Makmun mengirim Abu Ishak untuk melanjutkan pengambil-alihan wilayah. Abu Ishak berhasil mengambil setidaknya tiga puluh benteng dan gudang di sejumlah wilayah. Setelah  berhasil mengamankan perjanjian damai, Al-Makmun dan Abu Ishak kembali ke Damaskus.[12] (AL)

Bersambung…

Sebelumnya:

Catatan kaki:


[1] Kota ini terletak di tepi Sungai Eufrat, di atas Raqqah, Suriah.

[2] Kota ini terletak di sebelah utara Suriah.

[3] Pada masa lalu, Kota ini masuk dalam teritori imperium Armenia yang bernama Celicia. Kota ini terletak di daerah pesisir selatan Asia Kecil, sebelah setalah dataran tinggi Anatolia tengah. Daerah ini adalah suatu entitas politik sejak masa bangsa Hittit sampai Kekaisaran Bizantium. Cilicia pada masa lalu mencakup dari pesisir Turki modern sampai mencapai sebelah utara dan timur laut Siprus.

[4] Lihat, The History of al-Tabari (Tarikh al-rusul wa l-muluk), VOLUME XXXII, The Reunification of The `Abbasid Caliphate, translated and annotated by C.E. Bosworth, (THE UNIVERSITY OF MANCHESTER: State University of New York Press, 1987), hal. 185

[5] Ibid

[6] Ibid

[7] Uraian terkait penggunaan jasa budak Turki oleh Abu Ishaq, bisa mengakses link berikut: https://ganaislamika.com/dinasti-abbasiyah-57-abdullah-al-makmun-6/

[8] Lihat, The History of al-Tabari (Tarikh al-rusul wa l-muluk), VOLUME XXXII, Op Cit, hal. 186

[9] Lihat, Syeed Ameer Ali, A Short History Of The Saracens,(London: MacMillian And Co., Limited ST. Martin’s Street, 1916), hal. 272

[10] Lihat, The History of al-Tabari (Tarikh al-rusul wa l-muluk), VOLUME XXXII, Op Cit, hal. 187

[11] Ibid, hal. 188

[12] Ibid 3

Leave a Reply

Your email address will not be published.

*