Dinasti Fatimiyah (10): Era Pemerintahan Para Wazir

in Sejarah

Last updated on April 28th, 2018 04:16 am

Ini adalah periode paling mengerikan dalam sejarah Dinasti Fatimiyah. Situasi berlangsung seperti anarki, dimana khalifah tak ubahnya sebagai lambang negara. Kekuasaan sepenuhnya dipegang oleh para Wazir (penasehat/perdana menteri). Dan mereka saling membunuh satu sama lain.

—Ο—

 

Setelah Al Qasim wafat pada 1101 M, Dinasti Fatimiyah dipenuhi dengan gejolak politik yang tidak menentu. Para khalifah tidak memiliki kuasa dan pengaruh. Mereka hanya menjadi simbol kenegaraan, sedang tampuk pemerintahan dikendalikan penuh oleh para wazir.[1] Berbeda dengan Dinasti Umayyah dan Abbasiyah, dimana perebutan tahta khalifah menjadi isu politik paling utama. Pada Dinasti Fatimiyah, para khalifah tak ubahnya seperti “lambang negara”. Dinamika politik justru bergejolak di level wazir – yang sejak diduduki oleh Malik Al Afdal – posisi ini menjelma menjadi pusat otoritas semua urusan Dinasti Fatimiyah.

Khalifah pengganti Al Qasim adalah putranya bernama Abu Ali Mansur al-Amir bi Ahkam Allah atau dipanggil Abu Ali. Ketika menjabat, usianya masih 5 tahun. Praktis semua urusan kenegaraan dikelola seluruhnya oleh Malik Al Afdal, yang tidak lain adalah pamannya. Pada masa ini, Malik Al Afdal bertindak layaknya khalifah itu sendiri. Ia mengelola keuangan Negara, membangun angkatan militer, dan mengeluarkan kebijakan atas namanya. Praktis semua otoritas berakumulasi di tangannya. Pada titik inilah posisi wazir menjadi sangat sentral, dan menjadi intaian para pesaingnya.[2]

Pada tahun 1121 M, Malik AL Afdal terbunuh. Ketika itu, Abu Ali yang belum cakap untuk mengelola pemerintahan. Hal ini lebih disebabkan karena sejak dini, ia sudah dijauhkan dari urusan-urusan pemerintahan. Alhasil, ia membutuhkan sosok wazir yang mampu menggantikan Al Afdal. Tak lama, ia menunjukkan wazir bernama Jalal Al-Islam untuk mengantikan kedudukan tersebut. Tapi hanya berapa tahun saja ia sanggup bertahan di kursi panas tersebut. Jalal kemudian di bunuh oleh saudaranya sendiri bernama Mu’taman, yang kemudian menggantikan posisinya sebagai wazir.

Pada tahun-tahun berikutnya, situasi perebutan kursi wazir menjadi semakin memuncak, hingga pada tahun 1130 M, khalifah Abu Ali terbunuh.[3] Ia wafat ketika istrinya masih mengandung anak pertamanya. Karena tidak adanya kepastian bahwa anak tersebut laki-laki, maka posisi khalifah kemudian digantikan oleh sepupu Abu Ali yang bernama ‘Abdul Majid Al Hafiz. Pada tahap ini, garis kepemimpinan Bani Fatimiyah dianggap terputus, atau berakhir. Kedudukan Khalifah, yang selama ini diyakini para pendukung Ismailiyah sebagai Imam, tidak berlaku lagi pada masa Al Hafiz.[4]

Terkait dengan anak yang dikandung oleh istri Abu Ali, beberapa riwayat mengatakan bahwa anak tersebut adalah perempuan. Tapi menurut riwayat lainnya, anak tersebut adalah laki-laki, bernama Qasim al-Tayyib, yang secara otomatis dianggap sebagai imam dan khalifah yang sah bagi kaum Fatimiyah. Pada pendapat kedua, terdapat narasi bahwa putra Abu Ali yang lahir tersebut kemudian diburu oleh al Hafiz, tapi berhasil diselamatkan oleh para pengikut Abu Ali. Tapi sampai hari ini anak tersebut tidak diketahui keberadaannya. Para pengikutnya mempercayai bahwa beliau tetap hidup hingga hari ini. Namun ada juga yang mengatakan bahwa anak tersebut berhasil ditemukan oleh Al Hafiz dan kemudian dibunuh.[5]

Terlepas dari semua perdebatan tersebut, di masa pemerintahan Al Hafiz, Dinasti Fatimiyah tidak mengalami banyak perubahan. Al Hafiz membunuh banyak wazir dan menteri di dalam kerajaannya, dan memerintah sendiri tanpa penasehat. Ia lalu mulai merancang ulang garis kepemimpinan di Mesir dari dirinya. Ia wafat pada tahun 1149 M, setelah memerintah 19 tahun, dan mewarisi kepemimpinan para putranya bernama Abu Mansur Ismail yang bergelar Zafir Billah. Ia kemudian memulihkan kembali posisi wazir dalam pemerintahannya.

Namun lagi-lagi, terjadi persaingan yang tidak sehat dalam dinamika perebutan posisi ini. Berbagai intrik terjadi, dan mereka saling bunuh demi mendapatkan kepercayaan khalifah untuk menduduki posisi tersebut. Hingga puncaknya, khalifah Al Zafir dibunuh oleh Nasir, putra Abbas bin Abi Al-Futuh. Sebelum membunuh Al Zafir, Nasir juga sudah membunuh terlebih dahulu wazir Al Zafir yang bernama ‘Adil.[6] Al Zafir memerintah tidak lama, hanya dari 1149 sampai 1154 Masehi. Ia kemudian digantikan oleh putranya bernama al Fa’iz yang bergelar Malik al Saleh, yang ketika itu masih berusia 5 tahun.[7] Bisa dibayangkan kemudian, perebutan posisi wazir semakin berkecamuk di Kairo.

Bersambung…

Dinasti Fatimiyah (11): Berakhirnya Era Fatimiyah dan Berdirinya Ayyubiyah

Sebelumnya:

Dinasti Fatimiyah (9): Perpecahan dan Perang Saudara

Catatan kaki:

[1] Lihat, https://www.britannica.com/topic/Fatimid-dynasty, diakses 20 April 2018

[2] Lihat, Akbar Shah Najeebabadi, The History Of Islam; Volume III, Riyadh, Darussalam, 2000, Hal. 260

[3] Beberapa riwayat menyatakan bahwa pembunuhnya adalah sekte Qaramitha. Lihat, Ibid, hal. 261

[4] Sebagaimana sudah diulas sebelumnya, bahwa pendirian Dinasti Fatimiyah bukan hanya didorong oleh kepentingan politik, tapi juga dorongan religious. Berbeda dengan Umayyah dan Abbasiyah, yang memisahkan kedudukan khalifah dengna Imamah, bagi Fatimiyah, kedudukan Khalifah tidak lain adalah kedudukan imam itu sendiri. Sehingga mereka sangat menghormatinya, dan mengganggap keberadaan mereka sebagai pusaka. Tapi lama kelamaan kedudukan imam itu sendiri mulai mengalami distorsi, setelah kelompok Naziriah muncul, dan puncaknya terjadi pada periode Al Hafiz.

[5] Lihat, https://en.wikipedia.org/wiki/Al-Amir_bi-Ahkami%27l-Lah, diakses 20 April 2018

[6] Lihat, Akbar Shah Najeebabadi, Op Cit, hal. 262

[7] Lihat, https://en.wikipedia.org/wiki/Al-Fa%27iz_bi-Nasr_Allah, diakses 20 April 2018

4 Comments

    • Waalaikum Salam, jika diperlukan untuk mengutip sebagai bahan rujukan, silakan copy langsung saja mas Nashir. Settingan website kami tidak diprotect, jadi bisa langsung dicopy. Terimakasih banyak jika Mas Nashir mau mencantumkan sumber rujukannya nanti. Salam -Admin

    • Waalaikum Salam, jika diperlukan untuk mengutip sebagai bahan rujukan, silakan copy langsung saja mas Nashir. Settingan website kami tidak diprotect, jadi bisa langsung dicopy. Terimakasih banyak jika Mas Nashir mau mencantumkan sumber rujukannya nanti. Salam -Admin

Leave a Reply

Your email address will not be published.

*