Dinasti Umayyah (14): Era Keemasan

in Sejarah

Last updated on March 7th, 2018 07:05 am

Dengan suksesnya serangkaian penaklukan ini, tak ayal dinasti Umayyah kebanjiran harta. Berton-ton upeti datang dari segala penjuru. Sudah sangat wajar bila pembangunan demi pembangunan pun berlangsung pada masa ini.”

—Ο—

 

Setelah Abdul Malik Wafat, ia menunjukkan putranya Al Walid bin Abdul Malik sebagai penggantinya untuk menduduki kursi khalifah. Naiknya Al Walid ke posisi tertinggi ini sebenarnya juga tidak disengaja. Karena sebaimana amanat ayah mereka, Marwan bin Hakam, kursi khalifah setelahnya akan diwariskan secara bergantian diantara putra-putranya, yaitu Abdul Malik dan Abdul Aziz. Jadi sebenarnya, bukan Al Walid yang seharusnya menjadi khalifah setelah wafatnya Abdul Malik, tapi adik Abdul Malik – yaitu Abdul Aziz, yang sebelumnya menjabat sebagai gubernur di Mesir. Abdul Aziz adalah sosok yang berpengaruh, dan tidak sedikit masyarakat yang mengharapkan ia naik menjadi khalifah menggantikan kakaknya.

Menurut Tabari, Abdul Malik sebenarnya sempat berpikir untuk melanggar wasiat ayahnya dengan merayu Abdul Aziz agar mundur dari kedudukannya sebagai putra mahkota dan menyerahkannya kepada Al Walid. Tapi proposal itu ditolak, dan sejak itu Abdul Aziz tidak pernah lagi memintanya. Hingga akhirnya tersiar kabar, bahwa Abdul Aziz wafat. Mendengar berita ini, Abdul Malik langsung mengambil alih kesempatan ini dengan mendapuk putra pertamanya, Al Walid sebagai putra mahkota untuk menggantikan dirinya.[1] Kelak sebagaimana ayahnya, Abdul Malik juga berwasiat serupa pada Al Walid, bahwa kursi khalifah harus digilir di antara putra-putranya. Dalam urutannya, setelah Al Walid, adalah Sulaiman bin Abdul Malik. Setelah Abdul Malik wafat, maka keluarga tidak memiliki lagi pilihan selain memberikan bai’atnya pada Al Walid.

Al Walid bin Abdul Malik

Namanya adalah Abul Abbas Walid bin Abdul Malik bin Marwan. Lahir di Madinah pada tahun 50 H. Ia naik tahta di usia 36 tahun pada 86 H, atau bertepatan dengan tahun 705 M. Di antara banyak tokoh bani Umayyah, dia bukanlah yang paling terkemuka, bahkan sebaliknya, ia dikenal tidak berpendidikan baik dan tidak pandai bicara. Hanya saja dia diuntungkan oleh zaman. Ketika itu, oposisi dinasti Umayyah nyaris tidak ada lagi kekuatannya. Di samping itu dia juga didampingi oleh sejumlah gubernur yang kuat.[2]

Di Madinah ada Umar bin Abdul Aziz yang merupakan saudara sepupunya, dan dikenal shaleh di kalangan para pemuka agama di Hijaz. Di wilayah barat, dia memiliki sosok Hajjaj bin Yusuf yang sebelumnya menjadi gubernur di Hijaz setelah berhasil menghancurkan kekuatan Abdullah bin Zubair pada masa pemerintahan Abdul Malik. Dan di wilayah barat, ia memiliki Musa bin Nusayr yang berkuasa di Afrika Utara. Sedang di Damaskus sendiri, ia diwariskan sebuah sistem manajemen tata negara yang sudah autopilot. Dan dalam bidang kemiliteran dia memiliki panglima yang demikian terkenal bernama Maslamah bin Abdul Malik. Ia adalah adik Al Walid dari ibu yang berbeda.

Hampir semua sejarawan sepakat bahwa masa pemerintahan Al Walid adalah masa keemasan dinasti Umayyah. Tapi bila kita geledah lebih jauh, progresifitas ini lebih disebabkan oleh kecermerlangan para gubernurnya yang memerintah di kawasan yang jauh tersebut. Masing-masing gubernur ini diberi wewenang penuh untuk mengatur dirinya sendiri. Bahkan untuk menentukan siapa orang-orang yang bisa dipercaya menjadi penguasa di wilayah-wilayah taklukan. Di wilayah Barat, Musa bin Nusayr berhasil membangun kekuasaan yang efektif di Afrika, dan ini menjadi penopang kekuatannya untuk terus melakukan serangkaian penaklukan ke barat hingga ke tepi Selat Gibraltar. Di sinilah nanti ia mengutus panglima perang yang sangat kondang bernama Tariq bin Ziyad yang akhirnya berhasil menaklukkan daratan Eropa.[3]

 

Artikel terkait:

Penaklukan Andalusia (1)

Invasi Bangsa Arab ke Afrika Utara 639 M

 

Di wilayah timur, Hajjaj binYusuf juga tak kalah sukses. Dengan mengutus seorang gubernur yang sekaligus panglima bernama Qutaybah bin Muslim untuk mengelola kawasan Khurasan,[4] ia berhasil merentangkan areal kekuasaan bani Umayyah hingga ke kawasan Asia Selatan dan Tengah. Awalnya, ketika pertama kali Qutaybah tiba di Khurasan, beberapa raja di kawasan tersebut membangkang. Namun ini langsung ditindak cepat oleh Qutaybah. Satu persatu kawasan ini tundukan dan membayar upeti pada dinasti Umayyah. Bahkan dalam ekspedisi penaklukan ini, seorang putra dari adik kaisar China juga tak luput dari pembunuhan. Dalam catatannya, Akbar Shah Najeebabadi mengatakan setelah mendengar serangkaian ekspedisi mengagumkan yang dipimpin oleh Qutaybah, raja Sri Lanka pun ikut memberikan upeti pada dinasti Umayyah.[5]

Peta agresi dan wilayah kekuasaan Dinasty Umayyah. Sumber gambar: http://kisahmuslim.com

Dengan suksesnya serangkaian penaklukan ini, tak ayal dinasti Umayyah kebanjiran harta. Maka sudah sangat wajar bila pembangunan demi pembangunan pun berlangsung pada masa ini. Terlepas dari kekejaman Hajjaj bin Yusuf dalam memberangus kelompok oposisi, ataupun Musa bin Nusayr yang menindak tegas perlawanan dari sejumlah wilayah di Afrika Utara karena memperlakukan wilayah tersebut layaknya koloni. Intinya, berton-ton upeti berdatangan ke Damaskus. Dan dengan inilah dinasti Umayyah memasuki masa keemasannya. (AL)

Bersambung…

Dinasti Umayyah (15): Dinamika Politik di Masa Al Walid bin Abdul Malik

Sebelumnya:

Dinasti Umayyah (13): Abdul Malik bin Marwan Ayah Para Raja

Catatan kaki:

[1] Lihat, The History of al-Tabari, Vol. XXIII., The Zenith of the Marwanid House, Translated by Martin Hinds, State University of New York Press, 1990, hal. 108-109

[2] Lihat, Lihat, Akbar Shah Najeebabadi, The History Of Islam; Volume Two, Riyadh, Darussalam, 2000, Hal. 175-176

[3] Bersama 7.000 pasukan dengan menggunakan kapal-kapal perang, Thariq bin Zaid menaklukkan Gibraltar pada tahun 711 M. Pasukan Spanyol yang dipimpin oleh Roderick kocar kacir, dan Roderick pun bunuh diri. Setahun kemudian Musa bin Nusayr datang ke Spayol dengan membawa sekitar 18.000 pasukan. Bersama Thariq bin Ziyad, Musa dan pasukannya terus merangsek ke Spanyol dan berhasil menguasai wilayah Zaragoza, Terragona dan Barcelona. Rangkaian peristiwa ini demikian terkenal baik di dunia Islam maupun di Barat. Karena peristiwa ini menjadi momentum awal masuknya pengaruh Islam ke daratan Eropa.

[4] Ruang lingkup wilayah Khurasan hari ini mencakup Iran, Afganistan, Tajikistan, Turkmenistan dan Uzbekistan. Lihat, https://id.wikipedia.org/wiki/Khorasan_Raya, diakses 2 Maret 2018

[5] Lihat, Lihat, Akbar Shah Najeebabadi, Op Cit, Hal. 182

Leave a Reply

Your email address will not be published.

*