Dinasti Umayyah (2); Asal Usul

in Sejarah

Muawiyah bin Abu Sufyan telah memasukkan kembali semangat ashobiyah ke dalam sistem politik kaum Muslimin, ketika ia mewarisi tampuk kekuasaan kepada putranya yang tidak kompeten untuk memimpin, dan terus mewarisinya diantara para keturunannya. Dialah yang menyempurnakan transformasi dari Umayyah, menjadi Bani Umayyah, hingga menjelma menjadi Dinasti Umayyah.”

—Ο—

 

Khalifah pertama Dinasti Umayyah bernama Muawiyah bin Abu Sufyan bin Harb bin Umayyah. Nama dinasti ini diambil dari nama kakek buyutnya Muawiyah, Umayyah bin Abd Asy-Syam. Umayyah adalah putra dari Abd Asy-Syam bin Abd Manaf, yang juga adalah ayah dari Hasyim, kakek buyut Rasulullah SAW. Dengan kata lain, secara nasab, sebenarnya masih terdapat pertalian kekeluargaan antara Bani Hasyim dengan Bani Umayyah pada diri Abd Manaf. Namun sejarah mencatat terjadi persaingan yang begitu sengit antara Bani Hasyim dangan Bani Umayyah – setidaknya bagi Bani Umayyah. Persaingan ini sudah berlangsung bahkan sejak masa Umayyah dengan Hasyim, dan terus berlanjut hingga ke masa Muawiyah dan anak keturunannya.[1] Abu Sufyan adalah sosok yang begitu mewakili warna permusuhan ini. Terlebih setelah Rasululllah SAW memulai dakwahnya, kedengkian Abu Sufyan semakin menjadi-jadi. Dan alasan dasar munculnya kedengkian ini tidak lain semangat kesukuan (ashobiyah) yang begitu besar.

Sejak Qushai bin Kilab – leluhur Nabi Muhammad SAW – mendirikan kota Mekkah 200 tahun sebelum Hijrah, anak keturunannya mewarisi kehormatan yang begitu tinggi di kota ini dari klan-klan lain di sekitarnya. Kepemimpinan kota Mekkah kemudian mewaris secara genetis dari Qushai hingga masa kelahiran Rasulullah SAW. Tapi jangan dibayangkan apa yang diwariskan oleh Qushai tersebut seperti hak seorang kekaisaran sebagaimana di banyak peradaban lain masa itu. Tidak ada hak kebangsawanan apalagi upeti. Sebaliknya, pemimpin ini akan menjadi pemegang kunci Ka’bah, pelayan jamaah haji, dan menjadi penengah dari semua ketegangan yang terjadi.

Sama halnya dengan masyarakat Madinah yang tidak pernah ditundukkan oleh bangsa manapun, masyarakat Mekkah juga demikian. Tidak ada satupun catatan sejarah bangsa ini bisa ditundukkan, apalagi dikooptasi oleh satu bangsapun di dunia. Masyarakat Arab Mekkah bukan masyarakat yang bisa ditundukkan dengan cara demikian. Harga diri mereka yang begitu tinggi, tidak memungkinkan siapapun untuk menjinakkan klan-klan yang ada di tempat ini. Oleh sebab itu, hanya kebijaksanaan, keadilan, dan keberanianlah yang menjadi syarat utama kepemimpinan di antara mereka.

Sejak mendirikan kota Mekkah, Qushai secara bersamaan membangun Darun Nadwah, sebuah balai pertemuan yang menjadi tempat untuk membahas dan memecahkan semua urusan yang terjadi di antara klan di kota Mekkah. Setiap suku akan bersikeras pada padangannya sambil menyombongkan nama besar sukunya di tempat ini. Hanya orang-orang yang memiliki kebijaksanaan tinggi yang bisa menundukkan semua ego primordial tersebut dan mengkonversinya menjadi sebuah solusi yang dapat diterima semua pihak. Kesalahan sedikit saja, akan fatal akibatnya, seperti terjadinya perang saudara yang berlarut-larut. Ini sebabnya, kualifikasi sosok pewaris Qushai bin Kilab tidak pernah turun standarnya, bahkan terus meningkat dari satu generasi ke generasi lain.

Qushai dikaruiai 4 orang putra, diantaranya Abdud-Dar, Abd Manaf, Abd, dan Abdul Uzza[2]. Setelah Qushai bin Kilab, tongkat kepemimpinan Mekkah diwariskan kepada putra tertuanya, Abdud-Dar. Di masa pemerintahannya, kondisi masyarakat berlangsung aman dan damai, tidak ada masalah. Setelah Abdud-Dar wafat, masalah pewaris tongkat kepemimpinan Mekkah mulai mencuat. Terjadi keributan antara anak-anak Abdud-Dar dengan anak-anak Abd Manaf, adiknya. Pertikaian ini menyeret tetangga dan klan-klan sekitar untuk memihak satu sama lain. Namun ketegangan ini berhasil direda melalui perundingan. Mereka akhirnya sepakat untuk membagi tugas kemasyarakat di kota Mekkah; seperti tanggungjawab untuk memungut pajak (rifada); mengurus air dan mengkoordinsikannya bagi kepentingan bersama, khususnya bagi jamaah haji (sikaya); memegang kunci Ka’bah (hijabah), dan pemegang panji pada saat perang (liwa). Adapun keturunan Abd Manaf mewarisi tanggungjawab rifada dan sikaya, sedang sisanya tetap dipegang oleh keturunan Abdud Dar.[3]

Abd Manaf diketahui memiliki empat orang putra, yaitu Abd Asy Syam, Hasyim, Muthalib, dan Naufal. Awalnya Abd Asy Syam yang dipercaya mewarisi tanggungjawab kepemimpinan. Namun kemudian hak tersebut diberikannya pada Hasyim, adiknya yang dikenal memiliki kebijaksanaan dan kedermawanan yang begitu tinggi di tengah masyarakat. Hasyim juga merupakan seorang pedagang sukses. Dialah yang mula-mula membuka jalur perdagangan ekspor-impor masyarakat Mekkah ke berbagai wilayah seperti Suriah dan Yaman. Di masa kepemimpinannya-lah kesejahteraan masyarakat Mekkah meningkat pesat.[4]

Setelah Hasyim wafat, masalah perebutan tahta Mekkah kembali meruncing. Kali ini Umayyah yang tidak lain putra dari Abd Asy Syam menuntut kembali hak ayahnya dari Bani Hasyim. Di pihak Bani Hasyim sendiri, tampuk kepemimpinan dipegang oleh Muthalib, adik Hasyim dan Abd Asy Syam. Setelah Muthalib meninggal dunia, kepemimpinan kemudian dialihkan ke Abdul Muthalib yang cahaya kebijaksaannya tidak bisa dilawan oleh kedengkian Bani Umayyah. Masyarakat Mekkah sepakat dengan kepemimpinan Abdul Muthalib. Namun Bani Umayyah yang saat itu sudah masuk pada generasi Harb bin Umayyah tetap menjadi oposisi dari Abdul Muthalib.[5]

Setelah Abdul Muthalib, kepemimpinan Mekkah kemudian beralih kepada Abu Thalib, paman Rasulullah SAW. Dan ambisi Bani Umayyah untuk mengambil alih kepemimpinan Mekkah baru terjadi setelah Abu Thalib wafat, yang kemudian digantikan oleh Abu Sufyan bin Harb. Sayangnya, ketika Abu Sufyan mengambil alih tongkat kepemimpinan Mekkah, Rasulullah SAW sudah membatalkan semua prinsip-prinsip ashobiyah di tengah masyarakat Mekkah. Hal ini tentu saja melipat-gandakan kekesalan Abu Sufyan dan Bani Umayyah kepada Rasulullah SAW dan seluruh klan Bani Hasyim.

Selama bertahun-tahun Abu Sufyan melakukan perlawanan yang sengit kepada dakwah Rasulullah SAW. Hampir di semua pertempuran yang dihadapi kaum Muslimin, selalu ada andil Abu Sufyan di pihak musuhnya. Mulai dari menyewa petarung ternama, mengutus telik sandi yang handal, hingga berkoalisi dengan kaum Yahudi Khaibar, semua dilakukannya demi memadamkan syi’ar dakwah Rasulullah SAW.

Namun pada akhirnya, Abu Sufyan harus mengaku kalah, setelah Mekkah sudah dikepung dari semua penjuru dan ditaklukkan oleh kaum Muslimin pada 18 Ramadhan 8 Hijriah atau 8 Januari 630 Masehi. Abu Sufyan tidak memiliki pilihan selain mengucapkan syahadat, dan Rasulullah SAW memberikan amnesti umum kepada penduduk Mekkah dengan mengatakan bahwa siapapun yang berlindung di rumah Abu Sufyan aman, yang berlindung di Ka’bah aman, dan yang tetap tinggal di rumah masing-masing juga dijamin keamanannya.

Seharusnya, nuansa persaingan antara klan Bani Umayyah dengan Bani Hasyim selesai sampai di sini. Namun ternyata tidak demikian yang terjadi. Hanya sekitar 30 tahun kemudian, Muawiyah bin Abu Sufyan telah secara tidak langsung merusak semua tananan ini ketika ia mewarisi tampuk kekuasaan kepada putranya yang tidak kompeten untuk memimpin, dan terus mewarisinya diantara para keturunannya. Muawiyah telah berhasil menyempurnakan transformasi nilai-nilai ashobiyah, dari Umayyah seorang diri, menjadi Bani Umayyah, dan akhirnya menjelma menjadi Dinasti Umayyah. (AL)

Sisilah Bani Umayah dan Bani Hasyim. Sumber gambar: KisahIslam.Net

 

Bersambung…

Dinasti Umayyah (3); Langkah Monumental Muawiyah

Sebelumnya

Dinasti Umayyah (1); Dinasti Pertama Dalam Sejarah Islam

Catatan kaki

[1] Terkait dengan masalah ashobiyah ini, Lihat. Muhammad bin Khaldun, Al-Allamah Abdurrahman, dalam Mukaddimah Ibnu Khaldun; Pasal 47,  Jakarta, Pustaka Al Kautsar, 2011, Hal. 523-628

[2] Dari Abdul Uzza kelak lahir klan Asad yang melahirkan tokoh-tokoh seperti Sayyidah Khadijah, Waraqah dan Zubair bin Awwam.

[3] Lihat, Syed Ameer Ali, The Spirit of Islam, Yogyakarta, Navila, 2008, Hal. 6-7

[4] Lihat, Ibid

[5] Lihat, Akbar Shah Najeebabadi, The History Of Islam; Volume One, Riyadh, Darussalam, 2000, Hal. 62