Ekspresi Islam Nusantara dalam Susastra Jawa-Islam (2)

in Islam Nusantara

Last updated on December 27th, 2017 05:30 am

 

Oleh: Khairul Imam

“Peradaban literasi tidak pernah mati. Ia menjadi penyambung lidah antargenerasi. Ia pun senantiasa  hidup dalam sanubari pengkajinya. Ia, bahkan menjadi perantara penyadaran tentang realitas yang hakiki. Di tangan para ulama Nusantara inilah, warisan paripurna dari Sang Nabi selalu terjaga. Mereka menorehkan nasihat dalam bentuk laku spiritual yang khas, yang mereka tulis dalam lembaran-lembaran hikmah dan kisah yang tak akan pernah punah.”

 —Ο—

 

Dalam perkembangannya, khazanah susastra Pesisir menjelma karya-karya yang ditulis dalam bahasa Jawa Madya, Madura, dan Jawa Baru, dan dapat dikelompokkan menurut jenis dan coraknya, salah satunya karangan-karangan yang bercorak tasawuf. Tidak jarang karya model tersebut dituangkan dalam bentuk kisah perumpamaan atau alegori. Dalam bentuk kisah perumpamaan dapat dimasukkan kisah-kisah didaktis, di antaranya yang mengandung ajaran tasawuf dan roman yang sering digubah menjadi alegori sufi. Karangan-karangan bercorak tasawuf disebut suluk dan lazim ditulis dalam bentuk puisi atau tembang.[1]

Biasanya, suluk berisi ajaran tentang Tuhan, manusia, dan alam, serta bagaimana manusia berhubungan dengan Tuhan. Persoalan yang diajukan terkadang tentang bagaimana wujud Tuhan, bagaimana hubungan wujud Tuhan dengan wujud manusia, apakah keanekaragaman itu satu wujud ataukah bukan satu wujud; bagaimana alam itu diciptakan, apakah dicipta dari ketiadaan atau bukan; siapakah manusia itu, dan bagaimana struktur ruhani manusia. Sementara jawaban-jawaban dari sederet pertanyaan ini menjadi dasar berpijak bagaimana membangun hubungan antara manusia dengan Tuhan.[2]

Sebagaimana diungkapkan J.J. Ras, di antara dua teks Jawa Baru yang tertua adalah Kitab Primbon, yaitu semacam catatan keagamaan ringkas dari seorang guru sufi ortodoks;  dan Peringatan Seh Bari atau Kitab Bonang, atau serangkaian perdebatan tentang dasar-dasar mistik Islam.[3] Lain halnya dengan Poerbatjaraka, seperti dikutip TH. Pigeaud bahwa Suluk Sukarsa dan Suluk Wujil termasuk yang tertua yang ditulis pada awal abad ke-17, atau bisa jadi lebih awal lagi.[4]

Ada juga Kitab Musawaratan Wali Sanga yang dikemas dalam bentuk puisi. Berisi rekaman perdebatan perihal Khalik dan makhluk antara para ulama ortodoks dan heterodoks. Peristiwa ini terjadi pada kurun awal Islam di Jawa. Kitab ini kemudian masyhur sebagai bentuk ikhtisar mistik rakyat. Selain sebagai ikhtisar mistik rakyat, kemungkinan kitab ini juga mengandung langgam mistik. Dikatakan pula bahwa Kitab Musawaratan Wali Sanga ini adalah karya Islam pertama yang ditulis dalam bentuk bait-bait macapat.[5]

Selain itu, ada Suluk Walisana atau Wali Sanga. Suluk ini berisi tentang kisah masuknya para wali dari tanah Arab ke Jawa, hingga berdirinya kerajaan Islam di tanah Jawa. Secara lebih spesifik, Suluk Walisana menceritakan: Pertama, asal-usul kedatangan para wali ke Jawa, yang diikuti oleh saudara-saudaranya dari tanah Arab; kedua, kisah runtuhnya kekuasaan Majapahit; ketiga, berdirinya kerajaan Demak-Bintara; keempat, cerita tentang Ki Ageng Pengging, Ki Ageng Butuh, dan Ki Ageng Gugur. Seluruhnya digubah dalam ragam bahasa tembang sepanjang 58 pupuh yang terperinci dalam 1846 bait.[6]

Dalam Suluk Walisana dikisahkan pula tentang kronik-kronik dalam politik yang tidak lepas dari perjalanan para wali yang berperan dalam islamisasi tanah Jawa. Sehingga aspek-aspek politik turut bermain sekaligus tertoreh dalam sastra suluk awal ini. Misalnya, bagaimana intrik politik dalam pertikaian antara para pemuka wali yang menyebabkan beberapa tokohnya menjadi korban, seperti dalam kasus Syeh Siti Jenar atau Syeh Lemah Abang, yang konon harus mengalami eksekusi mati di tangan para wali yang lain. Meski beberapa penulis, seperti Agus Sunyoto dan Muhammad Sholihin merasa keberatan dengan mitologi semacam ini, yang disebut Sunyoto sebagai ulah Belanda.

Lebih lanjut Sunyoto menyatakan, pada dasarnya yang berkonflik bukan Syekh Siti Jenar lawan Wali Songo, tapi Siti Jenar dengan Sultan Trenggono, putra Raden Patah yang pendiri Kesultanan Demak itu. Syekh Lemah Abang yang merupakan hasil didikan Baghdad itu merasa jengah melihat orang-orang Jawa begitu feodalnya hingga memperlakukan para penguasanya layaknya Tuhan. Sebagai contoh, kalau menghadap raja, rakyat harus sujud. Lalu kata “ing sun” yang artinya “aku” hanya berhak diucapkan oleh raja, rakyat hanya boleh memakai kata “kawulo” yang artinya budak. Nah, Syekh Siti Jenar merasa perilaku itu “mengotori” ketauhidan seorang Muslim. Ia lantas mbalelo (berontak), dengan cara sengaja mempraktikkan kata “ing sun” untuk dirinya dan para pengikutnya serta menolak mentah-mentah untuk bersujud kepada raja. Dalam pandangan politik Sultan Trenggono hal ini merupakan perilaku subversif, sehingga ia dikejar-kejar dan dianggap musuh negara dan agama.[7]

Berkaitan dengan pemancungan Syekh Siti Jenar, Sunyoto, dengan merujuk pada sumber dari Keraton Kanoman Cirebon menyebutkan bahwa para pengikut Syekh Lemah Abang asal Pengging yang dikejar Sultan Demak sengaja dilindungi oleh Sunan Gunung Jati dengan disembunyikan di sebuah perkampungan yang disebut Kasunyean (persembunyian), yaitu sebuah tempat di kota Cirebon.[8]

Ungkapan senada juga dipaparkan Muhammad Sholikhin bahwa tuduhan penyebaran ajaran sesat yang ditujukan kepada Syekh Lemah Abang terkait dengan perilaku kedua muridnya; San Ali Anshar dan Hasan Ali. Kedua orang ini dalam beberapa babad dan hikayat Jawa dianggap sebagai satu orang yaitu Syekh Lemah Abang atau Siti Jenar. Padahal, keduanya memiliki konflik dan persoalan yang berbeda-beda. Sejak sebelum kedua orang itu menemui ajalnya dalam hukuman mati, Syekh Siti Jenar sudah berada dalam dukuh uzlah-nya yang berada di salah satu kawasan hutan bambu di sebelah selatan dukuh Lemah Abang, Cirebon. Identitas dan keberadaannya oleh para Wali Songo sengaja disembunyikan karena kondisi dirinya yang selalu berada dalam tataran majdzub (jadzb). Syekh Siti Jenar kemudian meninggal dunia secara wajar dan disemayamkan di sebuah di sebelah selatan dukuh Lemah Abang di Cirebon. Jasadnya dikuburkan secara terhormat oleh para wali di Astana Kemlaten. Lain versi menyatakan Syekh Siti Jenar wafat secara mokswa, dalam arti jasadnya ikut hilang terserap menjadi ruh, dan berada di sisi Ilahi.[9]

Bersambung ke:

Ekspresi Islam Nusantara dalam Susastra Jawa-Islam (3)

Sebelumnya:

Ekspresi Islam Nusantara dalam Susastra Jawa-Islam (1)

Catatan kaki:

[1] Abdul Hadi WM, “Sastra Pesisir Jawa Timur dan Suluk-suluk Sunan Bonang” dalam Adab dan Adat: Refleksi Sastra Nusantara (Jakarta: Pusat Bahasa, Departemen  Pendidikan Nasional, 2003)

[2] Wasim Bilal, Mistik dalam Suluk Pesisiran (Yogyakarta: Yayasan Ilmu Pengetahun dan Kebudayaan “Panunggalan” Lembaga Javanologi, 1988), hlm. 8.

[3] Ibid., hlm. 251.

[4] TH. Pigeaud, Literature of Java., hlm. 86.

[5] Ibid., hlm. 84.

[6] Darussuprapta, dkk. Simbolisme dalam Sastra Suluk (Yogyakarta: Fakultas Sastra UGM Yogyakarta, 1986), hlm. 19

[7] Hendijo, “Agus Sunyoto: Mitologisasi Wali Songo itu Ulah Belanda”  dalam http://arsipindonesia.com akses 4 Mei 2015

[8] Agus Sunyoto, Atlas Walisongo (Depok: Pustaka IIMAN, 2012), hlm. 276

[9] Muhammad Sholikhin, Ternyata Syekh Siti Jenar Tidak Dieksekusi Wali Songo (Jakarta: Erlangga, 2001), hlm. 107-113

Leave a Reply

Your email address will not be published.

*