Ekspresi Islam Nusantara dalam Susastra Jawa-Islam (3)

in Islam Nusantara

 

Oleh Khairul Imam

Sastra Jawa-Islam awal, merupakan produk kreatifitas yang adihulung. Dimana nilai-nilai yang rumit dalam aspek tasawuf dan filsafat yang tinggi, mampu dikemas ke dalam berbagai jenis teknik dan metode penyampaian, sehingga mampu dicerna dan diterima dengan mudah oleh masyarakat Jawa.

—Ο—

 

Terlepas dari pernyataan Agus Sunyoto dan Muhammad Sholikhin, secara umum di dalam kronik sejarah Wali Sanga diceritakan bahwa pergolakan politik yang melibatkan para pemuka spiritual ini mengakibatkan Syekh Siti Jenar, putra tertua Raden Rahmat di Ngampel dan Pangeran Panggung, kakak Sultan Trenggana di Demak (kira-kira tahun 1540) divonis mati karena menyebarkan ajaran yang menyimpang.[1] Menurut cerita yang diungkap dalam Suluk Walisana,[2] Pangeran Panggung dituduh mengajarkan shalat da’im (baca: shalat secara batin) dan mempunyai dua ekor anjing kecil yang  terpisah dari tuannya yang diberi nama Iman dan Tokid. Karena itulah, Pangeran Panggung dipanggil Sultan Demak dan ditanya perihal kenapa ia mengajarkan shalat da’im  tersebut. Ia lantas menjawab daripada membicarakan sarak (syariat agama), akan lebih baik langsung menuju intinya saja.

Selanjutnya, ia pun menerangkan perihal ilmu yang diyakininya kepada Sultan Demak. Bahwa anjing kecil yang ia beri nama Iman dan Tokid masuk ke dalam api yang telah disiapkan atas perintah sultan Demak untuk membuktikan keyakinan Pangeran Panggung. Iman dan Tokid pun tidak terbakar. Setelah kedua anjing itu keluar dari api, Sultan Demak menghendaki Pangeran Panggung sendiri yang masuk ke dalam api. Maka, Pangeran Panggung masuk ke dalam api unggun sambil membawa pena dan kertas. Di dalam api itulah Pangeran Panggung menulis kitab Suluk Malang Sumirang.

Adapun isi Suluk Malang Sumirang mengisahkan Raden Panji yang mengembara dengan cara menyamar sebagai dalang Jaruman. Pada saat menyamar, keadaannya mirip wisnu dengan Kresna. Wisnu-lah yang mahir dalam ilmu kenegaraan, bukan Kresna. Tapi Kresna dan Wisnu adalah satu. Banyak orang yang mementingkan sembahyang, puasa, terikat hukum agama, tetapi justru sembahyang dan puasa itu yang dipuja. Islam bukan orang yang sembahyang, bukan karena pakaian, bukan karena waktu, bukan karena tapa. Yang dinamakan Islam tidak menolak haram dan halal, tetapi yang dinamakan Islam yaitu orang yang mengetahui hakikat tertinggi.

Sedangkan kisah Syeh Siti Jenar tertuang pada Pupuh 51 pada Suluk Walisana. Dalam pupuh tersebut diceritakan Syekh Siti Jenar dihukum oleh para wali. Sunan Kalijaga berperan sebagai eksekutor yang memenggal kepalanya. Darah Syekh Siti Jenar mula-mula berwarna merah, lalu menjadi putih. Mayatnya berubah menjadi kecil, lalu berubah menjadi cahaya merah, hitam, kuning, dan putih, kemudian berubah menjadi lima warna. Setelah itu, muncul cahaya putih yang membentuk kalimat bertuliskan “La ilaha illa Allah.” Cahaya putih itu kemudian hilang. Tak lama setelah itu, terdengar suara yang menyatakan bahwa sarak (syariat agama) ditinggalkan karena dianggap merepotkan. Sedangkan ilmu sejati tempatnya ada pada pribadi orang masing-masing yang harus diusahakan agar terbuka, dan ilmu utama dapat ditemukan dalam kondisi hening. Sunan Giri membenarkan adanya “suara gaib” tersebut. Akan tetapi hal itu harus tetap menjadi rahasia, dan merupakan pembicaraan untuk dunia “akhirat.” Lantaran itu pula, Sunan Giri menciptakan pohon pisang busuk sebagai pengganti mayat Siti Jenar.[3]

Ada juga Suluk Seh Siti Jenar. Konon kitab ini dikarang pada tahun 1457s = 1535, dan bukan naskah asli, tapi gubahan Sunan Giri Kadhaton. Teks ini disajikan dalam bentuk gubahan tembang macapat.[4] Dalam suluk disebutkan, Kasan Ali Saksar atau Syekh Siti Jenar ingin memperoleh ilmu dari Sunan Giri. Tetapi ia menolak mengajarkan ilmunya lantaran Siti Jenar memiliki ilmu tenung. Ia pun menyamar menjadi katak pohon guna mengintip dan mencuri-dengar wejangan Sunan Giri. Namun, akhirnya Sunan Giri mengetahui penyamarannya, dan mengurungkan untuk memberikan wejangan.

Dari pandangan sekilas tentang susastra suluk, dapat dipahami beberapa kecenderungan sastra Jawa-Islam awal: Pertama, terjadinya pola perubahan dari yang semula berbentuk Kakawin menjadi bentuk tembang yang dikemas dalam hikayat, babad, serat, suluk, maupun wirid; kedua, lebih bernuansa mistik sufi dan mengandung nilai tasawuf daripada nalar teologis atau fikih praktis; ketiga, mengikuti pola sastra Timur dalam bentuk dan coraknya, seperti penggunaan alegori sufi, lakon-lakon dalam pewayangan, maupun perumpamaan-perumpamaan hewan. Sehingga nilai-nilai yang rumit dalam aspek tasawuf dan filsafat yang tinggi mampu dicerna dan diterima dengan mudah oleh masyarakat Jawa.

Bersambung…

Sebelumnya:

Ekspresi Islam Nusantara dalam Susastra Jawa-Islam (2)

Catatan kaki:

[1] J.J. Ras, Masyarakat dan Kesusastraan di Jawa., hlm. 252

[2] Untuk rujukan dan terjemahan Suluk Walisana, penulis mengacu pada penelitian Darusuprapta, dkk. Simbolisme dalam Sastra Suluk., hlm. 39-40.

[3] Ibid., hlm 42.

[4] Ibid., hlm. 60-61

Leave a Reply

Your email address will not be published.

*