Mozaik Peradaban Islam

Hamzah bin Abdul Muthalib (15): Nyanyian Hindun binti Utbah

in Tokoh

Last updated on December 30th, 2020 03:01 pm

Hindun memotong hidung dan telinga Hamzah, menjadikannya gelang kaki dan kalung. Dia juga merobek perut Hamzah, mengeluar hatinya dan mengunyahnya.

Adegan Hindun binti Utbah yang hendak memutilasi Hamzah dalam film ar-Risalah.

Perang Uhud akhirnya selesai, dan kedua belah pihak pun berpisah. Pada perang kali ini kerugian kaum Muslim tiga kali lebih besar ketimbang Quraisy. Ini adalah satu-satunya perang di antara Muslim Madinah dan Quraisy Makkah di mana Muslim tidak memenanginya.[1]

Korban dari pihak Muslim sebanyak 70 orang, yang kebanyakan berasal dari kaum Ansar. Rinciannya adalah kaum Ansar sebanyak 65 orang, Muhajirin 4 orang, dan Yahudi 1 orang. Mengenai orang Yahudi ini, dia bernama Mukhairiq, dia satu-satunya orang Yahudi yang mau ikut dalam perang Uhud. Sementara korban dari pihak Quraisy, menurut Ibnu Ishaq jumlahnya hanya 20 orang.[2]

Sebelum pulang ke Makkah, para wanita Quraisy menyempatkan diri untuk mencari-cari jenazah para syuhada Muslim yang terbunuh. Ibnu Ishaq meriwayatkan dari Salih bin Kaisan:

Hindun binti Utbah dan para wanita yang bersamanya berhenti untuk memutilasi jenazah para sahabat Nabi. Mereka memotong telinga dan hidung mereka, dan Hindun membuatnya menjadi gelang kaki dan kalung, dan memberikan gelang kaki dan kalung serta liontinnya (yaitu perhiasan-perhiasan yang sebelumnya telah dia janjikan) kepada Wahsyi (pembunuh Hamzah), budak Jubair bin Mutham.

Dia memotong dan mengeluarkan hati Hamzah dan mengunyahnya,[3] tetapi dia tidak mampu menelannya dan membuangnya. Lalu dia menaiki batu yang tinggi dan berteriak sekeras mungkin:

Kami telah membayarmu kembali atas (kekalahan pada Perang) Badar

Dan perang yang mendatangkan perang selalu disertai kekerasan.

Aku tidak tahan kehilangan Utbah (ayah Hindun)

Juga saudara laki-lakiku dan pamannya, dan anak sulungku.

Aku telah melaksanakan pembalasanku dan memenuhi sumpahku.

Engkau, wahai Wahsyi, telah meredakan rasa terbakar di dadaku.

Aku akan berterima kasih kepada Wahsyi sepanjang hidupku

Sampai tulangku membusuk di kuburan.

Hindun binti Uthatha bin Abbad bin al-Muthalib[4] membalasnya:

Engkau dipermalukan di Badar dan setelah Badar,

Wahai putri seorang laki-laki tercela, yang hebat hanya dalam kekafiran.

Allah membawamu pada dini hari

Seorang lelaki tinggi dan berkulit putih dari (Bani) Hasyim,

Semua orang menebas dengan pedang tajamnya:

Hamzah singaku dan Ali elangku.

Saat Syaibah (paman Hindun) dan ayahmu berencana menyerangku

Mereka membuat merah dada mereka dengan darah (maksudnya Ali dan Hamzah telah membunuh ayah dan paman Hindun pada perang Badar).

Sumpah jahatmu adalah sumpah yang terburuk.

Hindun binti Utbah juga berkata:

Aku melaksanakan pembalasanku kepada Hamzah di Uhud.

Aku membelah perutnya untuk mendapatkan hatinya.

(Perbuatan) ini mengangkat dariku (penderitaan) apa yang telah aku rasakan

Tentang kesedihan yang membakar dan rasa sakit yang luar biasa.

Perang akan menghantammu dengan sangat keras

Datang kepadamu sebagaimana singa menyerang.[5]

Al-Hulais bin Zabban, yang saat itu adalah komandan tentara kulit hitam, melewati Abu Sufyan sambil menusuk bagian pinggir mulut Hamzah dengan ujung tombaknya, berkata, “Rasakan itu, engkau pemberontak!”

Hulais berseru, “Wahai Bani Kinanah! Apakah ini pemimpin Quraisy yang bertindak seperti itu, kepada sepupunya yang sudah meninggal seperti yang kalian lihat?”

Dia berkata, “Membuat kalian bingung. Jadikanlah masalah ini rahasia, karena ini adalah kesalahan.”

Ketika Abu Sufyan hendak berangkat pulang, dia naik ke puncak gunung dan berteriak dengan keras, “Kalian telah melakukan pekerjaan yang bagus; Kemenangan dalam perang berjalan bergantian. Hari ini sebagai gantinya hari (Perang Badar)! Tunjukkan kehebatanmu, Hubal,” yaitu membela agama kalian.

Nabi memerintahkan Umar (bin Khattab) untuk bangkit dan menjawabnya, dan berkata, “Allah itu Maha Tinggi dan Maha Mulia. Kita (Quraisy dan Muslim) tidak sama. Orang-orang yang mati pada sisi kami berada di surga; (orang-orang) mati (di sisi)mu berada di neraka.”

Mendengar jawaban ini Abu Sufyan berkata kepada Umar, “Kemarilah padaku.”

Nabi menyuruhnya pergi dan melihat apa yang dia inginkan. Ketika dia datang Abu Sufyan berkata, “Demi Allah, Umar, apakah kami (Quraisy) sudah membunuh Muhammad?”

“Demi Allah, tidak, beliau mendengarkan apa yang engkau katakan sekarang,” jawabnya.

Dia berkata, “Aku menganggap engkau lebih jujur dan dapat dipercaya ketimbang Ibnu Qamiah, mengacu pada klaim terakhirnya bahwa dia telah membunuh Muhammad.”

Kemudian Abu Sufyan berkata, “Ada beberapa mayat yang dimutilasi di antara yang mati di sisimu. Demi Allah, hal itu tidak memberiku kepuasan, dan tidak ada kemarahan (diriku kepada para jenazah). Aku tidak melarang mau pun memerintahkan untuk memutilasi.”[6]

Di kemudian hari karena perbuatannya ini, Hindun terkenal di kalangan kaum Muslim sebagai “Hindun si pemakan hati”, dan anak-anaknya kemudian terkenal sebagai “anak wanita pemakan hati”.[7] (PH)

Bersambung ke:

Sebelumnya:

Catatan kaki:


[1] Ja’far SubhaniAr-Risalah: Sejarah Kehidupan Rasulullah SAW, (Jakarta: Lentera, 2000), hlm 387.

[2] Shafiyyur-Rahman Al-Mubarakfury, Sirah Nabawiyah, terjemahan ke bahasa Indonesia oleh Kathur Suhardi (Jakarta: Pustaka Al-Kautsar, 2001), hlm 362, 367.

[3] Menurut A Guillaume, ini adalah praktik kaum Animisme yang masih bertahan dari sejak zaman pra-sejarah. Dengan memakan hati musuh, maka pelaku berharap dapat mendapatkan kekuatannya.

[4] Tidak diketahui dengan pasti siapa wanita ini, jika yang dimaksud al-Muthalib di sini adalah Abdul Muthalib (Kakek Nabi, Ayah Hamzah), maka secara silsilah dia tidak memiliki putra yang bernama Abbad, atau mungkin saja penerjemah salah ketik, semestinya adalah Abbas. Tapi jika memang yang dimaksud adalah Abbas, maka Abbas pun diketahui tidak memiliki putra yang bernama Uthatha, setidaknya yang secara umum diketahui.

[5] Ibnu Ishaq, Sirat Rasul Allah, diterjemahkan ke dalam bahasa Inggris oleh A Guillaume, The Life of Muhammad (Oxford University Press: Karachi, 1967), hlm 385-386.

[6] Diriwayatkan oleh Ibnu Ishaq tanpa sanad, Ibid., hlm 386.

[7] Ja’far Subhani, Op.Cit., hlm 388.

Leave a Reply

Your email address will not be published.

*