Mozaik Peradaban Islam

Henry Corbin dan Kritik Filsafat Islam Orientalis (2)

in Orientalis

“il faut sortir la philosophie islamique du ghetto d’orientalisme! (Kita harus membawa filsafat Islam keluar dari kerangkeng Orientalisme!)”

—Ο—

 

Dalam sejarah intelektual Eropa, posisi filsafat Islam hanya dianggap sebagai perantara masuknya filsafat ke Barat hingga abad ke-13. Setelah periode tersebut, selain fungsi mediasi, nyaris tak ada aspek penting dalam filsafat Islam yang memberi kontribusi bagi Barat. Pakem populer orientalis ini menilai filsafat Islam berakhir pada masa Ibn Rusyd. Dalam tinjauan Corbin, fenomena ini berawal dari pengaruh Ibn Rusyd atau “Averroism” di Barat yang selanjutnya membanjiri Eropa dengan apa yang disebut “Latin Avicennism“. Wafatnya Ibn Rusyd hanya mengakhiri yang Corbin istilahkan dengan “Peripatetisme Arab”, karena di belahan dunia Timur Ibn Rusyd bukanlah sosok yang penting, dan kematiannya justru menandai “kelahiran” tokoh seperti Suhrawardi.[1] Sebaliknya, dalam pencitraan orientalis nampak tradisi filsafat yang disampaikan ke Eropa ini sudah tidak menarik lagi bagi muslim sesudahnya, seolah aktifitas filsafat yang pernah ada berhenti begitu saja.

Bagi sebagian orientalis, aktifitas filsuf muslim apapun setelah “tenggelam” oleh Ibn Rusyd dianggap sinkretisme oriental atau dekadensi sufisme. Modus dalam upaya mendiskreditkan filsafat Islam ini selain membenturkanya dengan tasawuf juga dilawankan ortodoksi. Dalam The Encyclopedia of Islam (1927), Duncan Macdonald menilai al-Ghazali sebagai pemikir paling orisinil yang lahir dari Islam sekaligus teolog terbesar yang pernah ada.[2]

Seolah bersandar pada otoritas al-Ghazali sebagai kombinasi antara sufisme dan ortodoksi, serangan dan stigma kesesatan atas filsafat olehnya menjadi fatwa yang menandai berakhirnya filsafat Islam. Corbin dalam History of lslamic Philosophy mendedikasikan bahasan khusus tentang al-Ghazali dan kritiknya atas filsafat. Kritik ini baginya telah dijawab oleh tradisi filsafat Islam yang orisinal, secara khusus dihidupkan kembali di abad ke-16 dan dikenal dengan mazhab Isfahan, yang tidak melihat adanya konfilk antara ‘intuisi hati’ dan ‘spekulasi akal’. Mazhab ini menjadi istilah yang pertama kali dipopulerkan oleh Corbin dalam karya-karyanya. Bagi Corbin drama kehidupan al-Ghazali justru lebih menarik karena merefleksikan bagaimana petualangan seorang filsuf yang resah mencari kebenaran. Al-Ghazali bagi Corbin telah merampungkan dilema apakah menjadi filsuf vis-a-vis sufi, karena menjadi filsuf bagi Corbin adalah menjadi sufi, demikian pula sebaliknya, seorang sufi juga dituntut menjadi filsuf, sebagaimana ia temukan kombinasi keduanya dalam sosok Suhrawardi.[3]

Dikotomi konflik filsafat dan teologi yang diasumsikan oleh orientalis, termasuk hal yang memperburuk pemahaman mereka atas pencapaian filsafat Islam. Asumsi orientalis ini mengakar karena mereka menilai pertentangan serupa juga terjadi di Eropa ketika filsafat Yunani berseberangan dengan ajaran Kristen. Seakan memotret dengan bingkai konflik yang sama tanpa melihat “milieu” dunia islam, orientalis menggambarkan perjalanan filsafat di Arab bernasib sama seperti yang dialami orang-orang kristen awal di Eropa.

Corbin menjawab “framing” ini dengan fakta bahwa institusi gereja sebagai “dogmatic magisterium” tidak ada dalam Islam. Dengan argumentasi khas Platonis, Corbin memaknai agama sebagai narasi meta-historis dan primordial, sehingga ketika masuk ke dalam arena sejarah ia memiliki beragam tingkatan. Baginya agama bukanlah fenomena post-historis melainkan trans-historis. Di antara tingkatan dari fenomena yang dimaksud Corbin ialah melihat agama dengan aspek yang berbeda. Membawa penjelasan Nasir-i Khusraw, ia merangkumnya seperti ini:

“Agama positif atau syari’ah adalah aspek eksoterik dari ‘Idea’ (haqiqah), dan ‘Idea’ ini adalah aspek esoteris dari agama positif. Agama ini adalah simbol (mitsal) dan ‘Idea’ ini adalah (mamtsul).”[4]

Membingkai filsafat Islam dengan konteks sejarah peradaban ialah contoh stereotip orientalis lainnya. Pandangan historisisme seperti ini mereduksi fenomena kompleks dengan narasi yang seolah sederhana. Skema triadik “terbit, jaya, tenggelam” (rise, maturity, decline) seolah steril untuk digugat. Minat orientalis tertuju pada peran filsafat Islam dan pengusungnya mengikuti pola triadik ini dengan sedikit modifikasi. Lagi-lagi dengan mengaburkan filsafat Islam sebagai filsafat Arab, bagi mereka Arab hanyalah tempat transit, sekadar menerima dan mentransmisikan filsafat Yunani ke Eropa.

Richard Walzer dalam karyanya Greek into Arabic, menganggap apa saja yang diungkapkan oleh para filsuf Arab adalah “pinjaman” dari tradisi filsafat Yunani.[5] Masih menurut Walzer, jika apa yang diutarakan para filsuf Arab ini tidak kita temukan sumber teks asalnya, dapat secara aman diasumsikan bahwa sumber yang dicatut dari Yunani ini teks orisinalnya sudah raib. Corbin menilai banyak hal yang lebih serius daripada sekadar menedefinisikan aktifitas intelektual filsuf dengan referensi kronologis atau geografis.

Sebagian orientalis menilai bahwa filsafat Islam, hanya bermakna ketika mewakili kepentingan para akademisi Barat. Mengadopsinya berarti sesuai dengan wilayah kerja mereka dan cocok dengan terminologi teknis khususnya mereka dengan tradisi empirisisme. Jika tidak memenuhi kriteria demikian, maka filsafat masuk kategori mistisme. Bias kognitif ini pula yang menjadi problem dunia akademik Barat, kategori apakah yang membuat filsafat Islam ‘keluar’ dari jurusan filsafat (Anglo-American) dan ‘masuk’ menjadi subjek pembahasan jurusan studi agama?.[6]

Modus fragmentasi seperti ini dapat dilacak akarnya dalam skolastisisme Latin di Eropa abad Pertengahan. Dalam pandangan Corbin, periode tersebut menandai untuk pertama kalinya “sekularisasi metafisika” sebagai dampak pemisahan antara iman dan pengetahuan, dengan puncaknya diwakili oleh teori kebenaran ganda “double truth“. Kritik tajam Corbin ini sekaligus mengarah pada Ibn Rusyd atau ‘Averroism’ sebagai pengusungnya, inilah pangkal yang berujung pada reduksionisme, sikap dualistik khas Barat. Posisi demikian bagi Corbin telah mengeluarkan Ibn Rusyd dan averroism dari filsafat Islam yang orisinil, yang sesungguhnya tidak terpisahkan dengan apa yang Corbin sebut sebagai ‘prophetic philosophy‘.[7]

Corbin meninggal di Paris 7 Oktober 1978. Setidaknya hingga tahun 1981—belum termasuk karya anumertanya—tercatat lebih dari 305 judul publikasi karya Corbin dalam bibliografinya.[8] Hingga kini, karya Corbin, karya tentang Corbin dan yang dipengaruhi olehnya dirawat oleh teman, kolega dan murid-muridnya. Di antara upaya ini ialah mereka mendedikasikan beberapa situs yang khusus melestarikan peninggalan Corbin, berikut simposium rutin dan konferensi tahunan yang diadakan untuk merayakan hari lahirnya—nama Henry Corbin juga diabadikan menjadi nama jalan di Teheran. Melihat pengaruh diseminasi corpus Corbin dalam kesarjanaan Barat, sebagian melihat gejala dan dampaknya seperti fenomena Michele Foucault dan Jacques Derrida dalam tradisi intelektual Amerika Utara, ketika karya mereka memberi efek kejut intelektual yang begitu luas hanya dalam waktu beberapa dekade.[9]

Sebuah jalan di Taheran, Iran, yang diabadikan sebagai monument untuk mengenang Henry Corbin. Sumber gambar: http://henrycorbinproject.blogspot.com

Disposisi Corbin menjadikannya intelektual ‘avant-garde‘ yang secara radilkal mereposisi pandangan orientalis terhadap filsafat Islam. Banyak Jasa Corbin bagi filsafat Islam, barangkali yang terpenting ialah memanjangkan aktifitas filsafat Islam di Barat dengan nuansa baru, yang sebelum era Corbin, istilah ‘hikmah’ beserta figur-figurnya nyaris tidak dikenal dalam kesarjanaan Barat, dan Corbinlah yang membuka mata mereka. James Morris mengisahkan saat ia menjadi mahasiswa Corbin, di tahun-tahun terakhir hidupnya—seolah berwasiat—ia kenang Corbin selalu mengulang kalimat “il faut sortir la philosophie islamique du ghetto d’orientalisme! (Kita harus membawa filsafat Islam keluar dari kerangkeng Orientalisme!).[10] (GI)

Selesai

Sebelumnya:

Henry Corbin dan Kritik Filsafat Islam Orientalis (1)

Catatan kaki:

[1] Henry Corbin, History of lslamic Philosophy, London and New York, Kegan Paul International, 1993. hal 251.

[2] Hermann Landolt, Henry Corbin, 1903-1978: Between Philosophy and Orientalism dalam Journal of the American Oriental Society, Vol. 119, No. 3 (1999), hal 484.

[3] Henry Corbin, Op.cit, hal 253.

[4] Ibid, hal 4.

[5] Ubai Nooruddin, Orientalism and Islamic Philosophy dalam Routledge Encyclopedia of Philosophy, Version 1.0, London and New York, Routledge, 1998. Diakses dari CD-ROM

[6] James Winston Morris, Religion after Religions: Henry Corbin and the Future Study of Religion dalam Colloque Henry Corbin, Université de Paris IV: Paris-Sorbonne, 2003, hal 31.

[7] Henry Corbin, Op.cit. hal 5.

[8] Daryush Shayegan. Henry Corbin dalam EncycIopedia Iranica. Diakses 15 Juli 2018 dari http://www.iranicaonline.org/articles/corbin-henry-b.

[9] James Winston Morris, Religion after Religions: Henry Corbin and the Future Study of Religion dalam Colloque Henry Corbin, Université de Paris IV: Paris-Sorbonne, 2003, hal 30.

[10] James Winston Morris, Op.cit, hal 29.