Mozaik Peradaban Islam

Invasi Prancis ke Aljazair (22): Kolonialisme Total

in Monumental

Para koloni Aljazair merancang strategi khusus untuk membuat Muslim di sana benar-benar menjadi masyarakat rendahan secara total dan permanen. Identitas Keislaman dan harga diri mereka dihancurkan, dan “Muslim” menjadi istilah baru yang berarti “masyarakat rendahan”.

Setelah kerusuhan di Damaskus berakhir, Abdul Qadir tetap menepati janjinya dan tidak pernah kembali ke Aljazair. Abdul Qadir menghabiskan sisa hidupnya untuk beribadah, bermeditasi, dan menulis buku. Setelah mengalami perjalanan hidup yang begitu luar biasa, pada usianya yang ke-76, setelah mengalami masa sakit yang singkat, pada 25 Mei 1883 Abdul Qadir meninggal di Damaskus.[1]

Diiringi oleh orang-orang di sepanjang jalan, jenazah Abdul Qadir dibawa dari rumahnya menggunakan keranda yang diberikan oleh Napoleon III, Kaisar Prancis. Di pusat kota tua yang diyakini sebagai fondasi peradaban kuno Damaskus, kerumunan besar orang-orang dan para konsul Barat telah menunggunya. Dari sana dia dibawa ke Masjid Agung untuk disholatkan. Setelahnya Abdul Qadir dimakamkan di luar kota, di Desa Salihiyya, di sebelah makam guru spiritualnya, Syekh Ibnu Arabi. Abdul Qadir sendirilah yang berkeinginan untuk dimakamkan di sana, meskipun Salihiyya adalah daerah pemukiman kumuh.[2]

Makam Abdul Qadir di Salihiyya (kiri, dengan kaligrafi Arab yang berlatar belakang hijau). Latar belakangnya merupakan makam Ibnu Arabi (yang berkaca). Makam Abdul Qadir kini kosong, karena jenazahnya dibawa kembali ke Aljazair setelah negara itu merdeka. Photo: Daniel Demeter

Abdul Qadir mengembara jauh dari tanah kelahirannya, dan meninggal di tanah pengasingan. Lalu bagaimanakah nasib Aljazair itu sendiri setelah ditinggalkan Abdul Qadir?

 

Perlawanan Terakhir Rakyat Aljazair

Di Aljazair, penduduknya mengalami kesulitan dan kesengsaraan karena kekeringan, gagal panen, gangguan belalang, dan epidemi yang menyebabkan kelaparan dan kematian. Ada tahun-tahun tertentu mereka menghasilkan panen yang baik dan suku-suku di sana dapat bergeliat kembali, yang kemudian hanya untuk diikuti oleh krisis ekonomi lainnya. Pada periode 1850-an dan 1860-an beberapa kelompok sempat melakukan perlawanan terhadap Prancis, tetapi setiap pemberontakan dapat dengan mudah segera dipadamkan. Para pelakunya kemudian dihukum, desa dan hutan mereka pun turut serta dihancurkan.[3]

Lalla Fadhma n’Soumer, perempuan suku Berber yang menjadi salah satu tokoh sentral dalam pemberontakan terhadap Prancis. Photographer tidak diketahui.

Pemberontakan besar terakhir terjadi pada awal tahun 1871. Sekitar 800.000 orang bergabung dalam pemberontakan, sebagian besar dari mereka adalah orang-orang suku Berber yang miskin. Selama berbulan-bulan mereka menyerang tanah pertanian dan desa-desa dan mendirikan kamp pertahanan yang cukup luas. Prancis berhasil menghabisi pemberontakan ini pada Juni 1872, dan kali ini mereka menjatuhkan hukuman yang dimaksudkan untuk benar-benar mengakhiri segala jenis pemberontakan ke depannya. Suku-suku tersebut semuanya dihancurkan, tanah-tanah mereka dirampas, dan mereka juga dikenai hukuman denda.[4]

Untuk beberapa tahun, rakyat Aljazair mendapat angin segar karena Napoleon III naik tahta menjadi Kaisar Prancis. Oleh orang Prancis sendiri, Napoleon III dianggap sosok bermasalah, karena kebijakan luar negerinya yang tidak bijaksana. Ketika Abdul Qadir masih di pengasingan di Prancis, Napoleon III bersahabat baik dengannya, dan dia menyetujui pendapat Abdul Qadir tentang Aljazair. Napoleon III menyerukan kebijakan “kesetaraan penuh antara penduduk asli dengan orang Eropa,” termasuk mendapatkan hak pendidikan publik dan akses ke pekerjaan sipil dan militer, dia juga berjanji akan melindungi penduduk pribumi. Dia ingin menghentikan perampasan tanah Muslim yang sedang berlangsung dan menjadikan Aljazair negara yang lebih baik untuk semua orang.[5]

Tetapi visi Napoleon III mesti terhenti. Pada bulan Juli 1870, situasi di Eropa memanas, di antara negara-negara Eropa sendiri terjadi persaingan dan perebutan pengaruh. Prancis terlibat peperangan singkat dengan Kekaisaran Prusia (Jerman) dan harus menenggak pil kekalahan.[6] Napoleon III menyerah terhadap Prusia, dia ditangkap dan diasingkan ke Inggris sampai dengan akhir hayatnya. Kekaisaran Prancis telah runtuh, dan untuk ketiga kalinya Prancis menjadi negara republik lagi.[7]

 

Kolonialisme Total di Aljazair

Orang-orang Eropa yang menetap di Aljazair (kolon) senang dengan hasil perang Prancis-Prusia. Karena dengan itu, Administrasi Militer Prancis di Aljazair berakhir, dan sekarang jalan menjadi terbuka bagi mereka untuk menguasai Aljazair sepenuhnya. Para kolon bukan hanya orang Prancis, mereka berasal dari beberapa negara Mediterania dan Eropa. Mereka menyebut diri mereka sebagai “orang Aljazair,” sementara itu orang-orang Arab dan suku asli Berber, secara simplistis mereka sebut sebagai “Muslim.” Orang-orang Muslim kini hidup sebagai masyarakat kelas dua dan hidup terpinggirkan.[8]

“Orang-orang Aljazair” baru ini,  mengatasi penduduk asli dengan tiga cara utama. Pertama, merebut tanah Muslim dengan segala cara yang memungkinkan, dan mendesak Muslim untuk menyingkir ke daerah pedesaan terpencil yang tanahnya lebih kering dan kurang produktif. Kedua, perwakilan mereka di Parlemen Prancis membuat kebijakan-kebijakan yang menggerogoti kekuatan masyarakat dan identitas Muslim. Dengan cara ini, elit tradisional Aljazair kehilangan semua kekuatannya. Marabout, golongan sufi kelompoknya Abdul Qadir, diberi status yang agak lebih baik, tetapi mereka kehilangan rasa hormat dari masyarakat karena dianggap sebagai kolaborator kolonial. Sistem peradilan Islam sangat dibatasi, dan bahkan hampir tidak ada sama sekali.[9]

Langkah ketiga yang mereka lakukan adalah merendahkan dan mendiskriminasikan Muslim. Masyarakat Muslim menjadi sasaran berbagai tuntutan dan hukuman dengan cara yang tidak pernah diterapkan pada orang Eropa. Mereka juga dipaksa untuk membayar pajak yang sangat tinggi, yang hanya diberlakukan kepada mereka. Singkatnya, para kolon bermaksud mereduksi peran Muslim dan menjadikan mereka sebagai masyarakat kelas bawah secara permanen dan tak berdaya, dan sebagai sumber tenaga kerja yang murah, tidak lebih.[10] (PH)

Bersambung ke:

Invasi Prancis ke Aljazair (23): Skema Besar Eropa

Sebelumnya:

Invasi Prancis ke Aljazair (21): Abdul Qadir (18)

Catatan Kaki:

[1] Elsa Marston, The Compassionate Warrior: Abd el-Kader of Algeria (Wisdom Tales, 2013), hlm 108.

[2] Ibid.

[3] Ibid., hlm 109.

[4] Ibid.

[5] Ibid., hlm 109-110.

[6] “Franco-German War”, dari laman https://www.britannica.com/event/Franco-German-War, diakses 12 Januari 2019.

[7] Heinrich Gustav Euler, “Napoleon III”, dari laman https://www.britannica.com/biography/Napoleon-III-emperor-of-France, diakses 12 Januari 2019.

[8] Ibid., hlm 110.

[9] Ibid., hlm 111.

[10] Ibid.

Leave a Reply

Your email address will not be published.

*