Mozaik Peradaban Islam

Invasi Prancis ke Aljazair (21): Abdul Qadir (18)

in Monumental

Last updated on January 12th, 2019 02:59 pm

Semua agama dalam kitab (Islam, Kristen, dan Yahudi) bertumpu pada dua prinsip — untuk memuji Tuhan dan memiliki kasih sayang terhadap makhluk-makhluk-Nya…. Hukum Muhammad menempatkan kepentingan terbesar pada kasih sayang dan pengampunan.

Abdul Qadir berphoto pada tahun 1860 dengan mengenakan Legiun Kehormatan dari Prancis atas jasanya menyelamatkan orang Kristen. Photo: Mayer & Pierson

Bagaimana menjelaskan pecahnya kekerasan sektarian yang begitu ganas di Damaskus pada tahun 1860? Penulis buku The Compassionate Warrior: Abdul Qadir of Algeria, Elsa Marston, mengatakan bahwa aktor intelektual di balik pecahnya kerusuhan dapat dialamatkan ke beberapa pihak. Apakah itu direncanakan oleh pemerintah Ustamaniyah (Ottoman)? Atau oleh Inggris atau Perancis, atau mungkin keduanya, untuk memperluas pengaruh politik dan ekonomi mereka di Suriah? Sedangkan bagi Muslim sendiri, faktanya sebagian besar perusuh ternyata bukan penduduk Damaskus tetapi berasal dari luar, mereka hampir-hampir seperti gerombolan yang diorganisir dengan bayaran tertentu. Bagaimanapun, kerusuhan, kemarahan, dan kekacauan itu tadinya berasal dari wilayah luar, bukan dari dalam Damaskus.[1]

Lalu bagaimana dengan orang-orang Kristen yang perilakunya kurang bijaksana di tengah situasi yang kurang menguntungkan (sebagai minoritas tapi menolak membayar pajak)? Wakil Konsul Amerika Serikat (AS) untuk Damaskus, Mishaqa, seorang Kristen, mengatakan bahwa sebagai minoritas yang tidak memiliki kekuatan besar, di tengah situasi yang bertensi tinggi, orang-orang Kristen seharusnya selalu bersikap akomodatif terhadap penguasa.[2]

Abdul Qadir juga memandang serius persoalan ini, yakni bagaimana tanggung jawab orang-orang Kristen terhadap kewajiban mereka. Mereka seharusnya mematuhi hukum dan membayar pajak mereka, yang mana jumlahnya relatif kecil, sehingga mereka dapat bebas dari wajib militer. Sekalipun pemerintah keras, Abdul Qadir percaya, bahwa hukum harus dipatuhi. Agar pemerintahan berfungsi, otoritas harus dihormati dan pajak dibayarkan. Dia tahu kebenaran itu dengan sangat baik, dari pengalaman perjuangannya sendiri ketika mengonsolidasikan suku-suku di Aljazair untuk mendirikan pemerintahan yang baru.[3]

 

Menafsirkan Peran Abdul Qadir

Di seluruh Eropa dan Amerika Serikat, baik pers dan publik, setelah mendengarkan kiprah Abdul Qadir di Damaskus, sama-sama merasa kagum. Sekarang citra Abdul Qadir sebagai pelindung orang-orang Kristen telah menghapus citra buruk yang melekat pada tahun-tahun sebelumnya – pertama, sebagai musuh bebuyutan Kristen Prancis di Aljazair, dan kedua, sebagai “elang gurun” yang dipenjarakan dengan tidak adil. The New York Times menulis: “Bukan hal yang ringan bagi sejarah untuk menuliskan bahwa prajurit yang paling tidak kenal kompromi terhadap kemerdekaan pengikut Muhammad (Muslim)…. dapat menjadi penjaga nyawa (orang) Kristen yang paling pemberani… ”

Dunia kini melihat Abdul Qadir sebagai pahlawan yang hampir tidak ada bandingannya. Namun, Abdul Qadir sendiri melihat perannya dalam sudut pandang berbeda. Ini adalah salah satu aspek paling signifikan dari tindakan Abdul Qadir dalam kerusuhan Damaskus. Abdul Qadir tidak berkeinginan untuk mendapatkan ketenaran, atau berdasarkan kebencian terhadap Ottoman, dan tentu saja bukan karena ingin mendapatkan lebih banyak uang dari Prancis. Sebaliknya, Abdul Qadir menjelaskan bahwa dia mencoba menyelamatkan nyawa yang tidak bersalah karena itu bukan hanya hal yang benar secara moral dan manusiawi untuk dilakukan, tetapi sebagai cara untuk mematuhi kehendak Tuhan. “Motif-motif ini menjadi tugas suci. Aku hanyalah sebuah instrumen,” katanya, seperti yang dilaporkan di media Prancis. Dalam sebuah surat pribadi dia menyimpulkan, “Apa yang kami lakukan untuk orang-orang Kristen, kami lakukan karena berkeyakinan terhadap hukum Islam, dan karena menghormati hak asasi manusia.”[4]

Namun, apapun pendapat orang-orang maupun Abdul Qadir sendiri tentang kisah penyelamatannya yang luar biasa, tetapi ada satu penjelasan yang masuk akal, ungkap Elsa Marston. Terlepas dari semua yang Abdul Qadir katakan bahwa dia telah meninggalkan dunia politik, namun dia sendiri tetaplah pengamat politik yang analisanya tajam. Abdul Qadir tahu bahwa serangan terhadap orang-orang Kristen di Suriah akan membuka pintu bagi campur tangan yang meningkat dari kekuatan-kekuatan Eropa. Memang, dia telah mencoba menyampaikan peringatan itu di tengah-tengah kerusuhan, meneriaki massa untuk berpikir tentang apa yang akan terjadi pada “perilaku gila” mereka. Dan dia tahu jika orang-orang lokal dan Ottoman membuka permusuhan terhadap kekuatan Eropa, dia akan terjebak di tengah-tengahnya. Abdul Qadir sadar bahwa dirinya tidak ingin berada di tengah situasi seperti itu.[5]

Kemudian ada alasan mendasar lainnya. Abdul Qadir percaya bahwa Islam, agama yang dia peluk dengan begitu taat, perlu dipulihkan dan diperkuat di hati orang-orang yang beriman. Dia menulis, “Semua agama dalam kitab (Islam, Kristen, dan Yahudi) bertumpu pada dua prinsip — untuk memuji Tuhan dan memiliki kasih sayang terhadap makhluk-makhluk-Nya…. Hukum Muhammad menempatkan kepentingan terbesar pada kasih sayang dan pengampunan…. Tetapi orang-orang yang termasuk dalam agama Muhammad telah merusaknya, dan itulah sebabnya mereka sekarang seperti domba yang tersesat.” Dengan upaya-upayanya dia berharap bagaimana seorang Muslim sejati yang menjalani imannya dapat memberikan contoh.[6]

Atas jasa-jasanya dalam menyelamatkan orang-orang Kristen, pemerintah Inggris menghadiahinya senapan bertatahkan emas, atas nama Ratu Victoria. Prancis, dengan segala dinamika hubungannya dengan Abdul Qadir, menyatakannya sebagai sahabat Prancis, dan menganugerahinya Legiun Kehormatan bersama dengan pensiun tahunan sebesar 150.000 franc. Presiden AS Abraham Lincoln mengirim Abd al-Qadir sepasang pistol hiasan dan ucapan terima kasih dari AS.[7]

Sepasang pistol yang dihadiahkan oleh Abraham Lincoln untuk Abdul Qadir. Photo: johnwkiser

Sementara itu, bagi sebagian Muslim di era kekinian, Abdul Qadir dipertimbangkan sebagai pahlawan terakhir Islam. Shaykh Hamza Yusuf, ulama asal AS, berkata, “Amir Abdul Qadir al-Jaziri, seperti Muslim yang terakhir, karena dia merupakan penjelmaan dari semua nilai dalam Islam. Dia adalah seorang ulama, dia adalah seorang syarif, dia adalah seorang mujahid, dia adalah seorang pemimpin dari sebuah negara. Sangat mengagumkan, dia juga seorang pedagang, benar-benar segalanya. Dia telah mewujudkan Sunah dalam banyak sekali cara.”[8]

Kota Elkader di Iowa, AS, berasal dari nama Abdul Qadir. Pendiri kota tersebut, Timothy Davis, John Thompson, dan Chester Sage terkesan dengan perjuangan Abdul Qadir dalam melawan kekuasaan kolonial Perancis. Mereka memutuskan untuk memilih namanya sebagai nama untuk pemukiman baru mereka pada tahun 1846. Pada tahun 2013, sutradara film asal AS, Oliver Stone, mengumumkan produksi film biografi yang tertunda yang berjudul Emir Abdul Qadir, yang rencananya akan disutradarai oleh Charles Burnett. Abdul Qadir wafat di Damaskus pada 26 Mei 1883, dia dimakamkan di dekat makam sufi besar Ibn Arabi, tokoh yang menjadi panutannya.[9] (PH)

Bersambung ke:

Invasi Prancis ke Aljazair (22): Kolonialisme Total

Sebelumnya:

Invasi Prancis ke Aljazair (20): Abdul Qadir (17)

Catatan Kaki:

[1] Elsa Marston, The Compassionate Warrior: Abd el-Kader of Algeria (Wisdom Tales, 2013), hlm 93.

[2] Ibid.

[3] Ibid.

[4] Ibid., hlm 94.

[5] Ibid.

[6] Ibid., hlm 94-95.

[7] Eamon Gearon, Turning Points in Middle Eastern History, (Virginia: The Great Courses, 2016), hlm 255.

[8] Shaykh Hamza Yusuf, “Last Hero of Islam”, dari laman https://www.youtube.com/watch?v=jwV6fvo2ObI, diakses 7 Januari 2019.

[9] “Abd el-Kader Al-Jaziri”, dari laman https://al-jaziri.weebly.com/, diakses 7 Januari 2019.

Leave a Reply

Your email address will not be published.

*