Mozaik Peradaban Islam

Islam di Lombok (7): Masjid Kuno Bayan Beleq (1)

in Islam Nusantara

Last updated on June 15th, 2018 01:59 pm

“Tidak semua orang diperbolehkan shalat di masjid ini adalah karena dulunya masjid ini hanya satu-satunya masjid yang berada di Lombok. Bagian dalam masjid hanya mampu menampung sebanyak 40 orang, oleh karena itu hanya pemuka-pemuka agama dari perwakilan tiap daerah Lombok yang bisa salat di sini.”

–O–

Masjid Kuno Bayan Beleq. Photo: @lombokview_tour_and_travel / Instagram

Masjid Bayan Beleq adalah masjid tertua di Pulau Lombok. Masjid ini terletak sekitar 80 Kilometer dari Kota Mataram. Masjid ini tidak tertutup untuk umat Islam saja, melainkan terbuka bagi siapa saja yang ingin mengetahui dan mempelajari sejarah Islam di Pulau Lombok. Untuk mencapainya, bisa menggunakan kendaraan pribadi atau menyewa mobil melalui jalur Mataram-Senggigi-Pemenang-Tanjung-Gangga-Anyar-Bayan. Dari Mataram perjalanan akan ditempuh sekitar 2 jam.[1]

Meski dinamakan masjid, namun fungsi dari masjid tersebut tidak seperti masjid pada umumnya. Masjid Kuno Bayan hanya dipakai pada hari-hari besar atau hari-hari keagamaan tertentu saja. Untuk kegiatan rutinitas, perayaan hanya dilakukan dalam selisih tiga hari. Misalnya, jika Hari Raya Idul Fitri jatuh pada hari Jumat, maka ritual di masjid ini akan dilaksanakan pada hari Seninnya. Selain itu, tidak semua orang dapat shalat di masjid ini, yang diperkenankan shalat di masjid ini hanyalah para Kyai, di antaranya adalah Kyai Pengulu, Kyai Ketip, Kyai Lebe, Kyai Modin, Kyai Raden dan Kyai Santri.[2]

Tidak semua orang diperkenankan shalat di masjid ini. Photo: Mazmuzie

Adapun alasan kenapa tidak semua orang diperbolehkan shalat di masjid ini adalah karena dulunya masjid ini hanya satu-satunya masjid yang berada di Lombok. Bagian dalam masjid hanya mampu menampung sebanyak 40 orang, oleh karena itu hanya pemuka-pemuka agama dari perwakilan tiap daerah Lombok yang bisa salat di sini. Masyarakat biasa tidak diizinkan untuk shalat di sini dan peraturan itu masih berlaku hingga kini.[3]

Masjid ini diperkirakan dibangun sekitar 500 tahun yang lalu, tak seorang pun tahu siapa yang membangun masjid ini.[4] Versi lainnya mengatakan bahwa yang membangun masjid ini adalah Syeh Gaus Abdul Razak, salah seorang penyebar agama Islam di Bayan, dia membangunnya pada sekitar abad ke-16.[5] Versi lainnya lagi, sebagaimana disampaikan oleh Raden Palasari, juru kunci masjid, bahwa masjid ini dibangun sekitar abad ke-15 oleh Sunan Prapen.[6]

Suasana Desa Bayan yang ada di sekitar lingkungan masjid. Photo: lombokinfoterbaru.com

Masjid ini berbentuk persegi, dengan dinding dari bambu setinggi 1,25 Meter. Dibawahnya terdapat pondasi dari batu yang ditata setinggi pinggang orang dewasa. Bagian atapnya berbentuk limas dua tingkat, dibuat dari anyaman daun kelapa. Di bagian puncak disematkan hiasan seperti mahkota. Bentuk atapnya yang seperti ini menandakan adanya pengaruh dari Hindu Jawa sebelum masuknya Islam ke Lombok.[7]

Tepat di depan pintu masjid terdapat sebuah gentong, yang di letakkan dan diikat di bawah pohon Semboja. Gentong ini merupakan tempat untuk menampung air wudhu. Untuk masuk ke dalam Masjid Bayan Beleq, anda harus membungkuk karena pintu masuknya cukup pendek. Di bagian dalam, lantai masjid hanya berupa tanah. Anda bisa melihat empat pilar di dalam masjid. Keempat pilar tersebut merupakan simbol dari empat desa yang turut membantu pendirian masjid ini.[8]

Suasana di dalam masjid. Photo: Wisata Lombok

Berdasarkan informasi dari Pemangku Adat, tiang utama ini dipergunakan bagi para pemangku Masjid yang masing-masing tiang mempunyai fungsi yang berbeda yaitu : tiang sebelah Tenggara difungsikan untuk Khatib, tiang di sebelah Timur Laut untuk Lebai, tiang di sebelah Barat Laut untuk Mangku Bayan Timur, sedangkan tiang sebelah Barat Daya untuk Penghulu. Disamping tiang utama dilengkapi pula dengan tiang keliling berjumlah 28 buah, termasuk dua buah tiang Mihrab. Tinggi tiang keliling rata-rata 1,25 meter dan tiang Mihrab 80 cm.[9]

Tiang-tiang ini selain berfungsi sebagai penahan atap pertama, juga berfungsi sebagai tempat menempelkan dinding yang terbuat dari bambu yang dibelah dengan cara ditumbuk, disebut pagar rancak. Khusus dinding bagian Mihrab terbuat dari papan kayu berjumlah 18 bilah. Perbedaan badan dinding ini bermakna simbolis, bahwa tempat kedudukan imam(pemimpin) tidak sama dengan makmum (pengikut atau rakyat). Berbeda tempat kedudukan, tetapi dalam satu areal tidak terpisahkan. Sedangkan bagian atap berbentuk Tumpang terbuat dari bambu (disebut santek).[10]

Pada bagian puncaknya terdapat hiasan Mahkota”. Pada bagian Blandaratas terdapat sebuah Jaityaitu tempat untuk menaruh hiasan terbuat dari kayu berbentuk ikan dan Burung. Ikan adalah binatang air yang melambangkan dunia bawah yaitu tentang kehidupan duniawi. Sedangkan burung sebagai binatang yang terdapat di udara melambangkan dunia atas artinya yaitu kehidupan di alam sesudah mati (akhirat). Makna perlambang yang ada dibalik itu artinya manusia hendaknya selalu menjaga keseimbangan antara tujuan hidup dunia dan akhirat.[11] (PH)

Bersambung ke:

Islam di Lombok (8): Masjid Kuno Bayan Beleq (2)

Sebelumnya:

Islam di Lombok (6): Dakwah Tuan Guru (2)

Catatan Kaki:

[1] “Masjid Bayan Beleq Lombok”, dari laman http://id.lombokindonesia.org/masjid-bayan-beleq/, diakses 13 Juni 2018.

[2] Hanani, “Masjid Kuno Bayan Beleq dan Masyarakat Adat”, dari laman http://akumassa.org/id/masjid-kuno-bayan-beleq-dan-masyarakat-adat/, diakses 13 Juni 2018.

[3] Afif Farhan, “Tak Sembarang Orang Bisa Salat di Masjid Tertua di Lombok”, dari laman https://travel.detik.com/destination/d-2303721/tak-sembarang-orang-bisa-salat-di-masjid-tertua-di-lombok, diakses 13 Juni 2018.

[4] Hanani, Ibid.

[5] “Masjid Bayan Beleq Lombok”, Ibid.

[6] Afif Farhan, Ibid.

[7] “Masjid Bayan Beleq Lombok”, Ibid.

[8] Ibid.

[9] Artanegara, “Zonasi Masjid Bayan Beleq”, dari laman https://kebudayaan.kemdikbud.go.id/bpcbbali/2018/03/05/zonasi-masjid-bayan-beleq/, diakses 13 Juni 2018.

[10] Ibid.

[11] Ibid.

Leave a Reply

Your email address will not be published.

*