Mozaik Peradaban Islam

Istana Alhambra: Saksi Bisu Kejayaan dan Keruntuhan Islam di Spanyol (1)

in Arsitektur

Istana Alhambra terletak di Kota Granada, Spanyol. Istana ini adalah pusat kekuasaan Dinasti Bani Ahmar, yang merupakan dinasti Islam terakhir di Andalusia. Istana ini menjadi saksi bisu kejayaan dan juga kehancuran imperium Islam di Andalusia.

—Ο—

Bila kita cermati, dari jutaan hektar wilayah di dunia yang pernah ditaklukkan oleh imperium Islam, hampir semuanya masih meninggalkan jejak yang kuat di tengah masyarakatnya. Sebagian di antaranya bahkan menjadikan Islam sebagai agama mayoritas, bahkan dasar negaranya. Tapi dari semua itu, hanya ada satu kawasan yang dulunya imperium Islam pernah demikian besar dan kuat mengakar, tapi hilang tak bersisa pengaruhnya dalam  masyarakat, apalagi negaranya. Wilayah itu adalah Andalusia, yang terletak di Semenajung Iberia, atau sekarang kita kenal sebagai negara Spanyol.

Tapi meskipun nilai-nilai dan penangaruh Islam di wilayah tersebut hilang, tidak demikian dengan jejak material dan historisnya. Masih cukup banyak artefak dan bangunan bekas peninggalan kejayaan Islam yang tetap terawat baik. Beberapa diantaranya adalah Masjid Cordoba. Dan salah satu yang paling monumental adalah Istana Alhambra yang terletak di Kota Granada, Spanyol. Kerana istana ini, bukan hanya menjadi saksi atas kejayaan Islam, tapi juga tempat terakhir yang melepaskan kepergian kaum Muslimin dari Semenajung Iberia.

 

Imperium Islam di Andalusia

Sebagian besar kaum Muslimin tentu mengetahui bahwa Islam pernah berjaya selama hampir 800 tahun di tanah Eropa, tepatnya di Andalusia, atau sekarang lebih dikenal sebagai Spanyol. Peristiwa penaklukkan Andalusia yang terjadi pada tahun 711 M masih menjadi salah satu kisah paling populer dalam dunia Islam. Kala itu, pasukan kaum Muslimin yang hanya berjumlah sekitar 1700 orang di bawah pimpinan seorang yang bernama Thariq bin Ziyad berhasil merebut dataran Iberia. Penaklukan ini terus berlangsung selama bertahun-tahun hingga akhirnya satu per satu kerajaan di sekitar wilayah tersebut jatuh ke dalam kekuasaan Islam.[1]

Sejak kesuksesan Thariq bin Ziyad, sejumlah kerajaan Islam pun timbul tenggelam di Spanyol, seperti di Toledo (Raja Muda, 711-756 M), Malaga (Raja Hamudian, 1010-1057), Saragoza (Raja Tujbiyah, 1019-1039 dan Raja Huddiyah, 1039-1142), Valencia (Raja Amiriyah, 1021-1096), Badajos (Raja Aftasysyiyah, 1022-1094), Sevilla (Raja Abbadiyah, 1023-1069), Toledo (Raja Dzun Nuniyah, 1028-1039), dan terakhir Daulah Bani Ahmar atau biasa juga disebut Bani Nasr (1232-1492 M). Selama hampir 800 tahun lamanya pengaruh Islam sangat dominan mewarnai daratan Eropa. Hingga akhirnya pada tahun 1492 M, Daulah Bani Ahmar yang berkuasa di Granada, harus hengkang dari tanah Spanyol akibat serangan dari pasukan gabungan yang dipimpin oleh Raja Ferdinan V dan Ratu Isabella.[2]

 

Istana Alhambra di Kota Granada, Spanyol. Sumber gambar: GetYourGuide

Daulah Bani Ahmar, didirikan pada tahun 1232 M oleh rajanya yang pertama bernama Sultan Muhammad bin Al-Ahmar yang masih keturunan Sa’id bin Ubaidah, seorang sahabat Rasulullah Saw dari suku Khazraj di Madinah. Sultan Muhammad bin Al-Ahmar membangun sebuah Istana yang indah di sebuah bukit bernama La Sabica, di kota Granada, Spanyol.[3] Istana ini kemudian dikenal dengan nama Alhambra.  Dalam bahasa Arab, bangunan ini disebut “qa’lat al-Hamra” atau Istana Merah. Disebut demikian, karena dinding Istana ini yang berwarna kemerah-merahan.

 

Panorama Kota Granada dari Istana Alhambra. Sumber gambar: airpano.com

 

Istana Alhambra terletak di titik paling strategis kota Granada. Berada pada ketinggian kurang lebih 150 meter, dari tempat ini bisa terlihat pemandangan seluruh kota hingga sejauh mata memandang. Luas komplek Istana Alhambra sekitar 14 hektar, dikelilingi oleh benteng-benteng dengan pola tidak beraturan.[4]

 

Areal Istana Alhambra tampak dari atas. Sumber gambar: airpano.com

Menurut salah satu artikel dari situs www.alhambradegranada.org, komplek Istana Alhambra pada mulanya tidak dibangun oleh Bani Ahmar. Catatan tertua tentang keberadaaan situs ini ditulis pada tahun 889 M oleh seorang bernama Sawwar bin Hamdun. Dalam catatan tersebut dikisahkan, bahwa ketika terjadi perang sipil di masa kekhalifahan Bani Umayyah di Cordoba, Sawwar mencari perlindungan di sebuah benteng bernama Alcazaba. Saat ini Alcazaba diyakini sebagai tempat pertama dan bangunan tertua yang didirikan di areal tempat dimana Alhambra kemudian berdiri.[5]

 

Lokasi Alcazaba dalam komplek Alhambra sekarang. Sumber gambar: guiasgranada.com

 

Kuat dugaan bahwa benteng yang dimaksud adalah bekas peninggalan bangsa Romawi beberapa abad sebelumnya. Setelah peperangan berakhir, Sawwar memperbaiki benteng tersebut dan menjadikanya sebagai miliki pribadi. Bangunan ini kemudian secara bertahap diperluas dan ditambah dengan bangunan-bangunan lain, sehingga menjadi sebuah komplek pemukiman.

Istana Alhambra sendiri baru dibangun kemudian di antara komplek pemukiman yang sudah ada pada abad ke 9 M. Bila dilihat dari karakteristiknya, Istana ini memiliki fungsi strategis yang menjadi pelengkap sistem pertahanan pemukiman tersebut, karena dilengkapi dengan menara pengintai dan sejumlah pos penjagaan.

 

Komplek Istana Alhambra pada masa kekuasaan Islam. Sumber gambar: granadadigital.es

 

Pada tahun 1238, ketika Sultan Muhammad I dari Bani Ahmar menguasai Granada, Istana ini dipilih sebagai pemukiman utamanya. Ketika Sultan Muhammad I memerintah di sini, sejumlah renovasi pun segera dilakukan. Dia memperkuat bagian lama dari benteng Alcazaba, menambah menara pengawas (Torre de la Vela) setinggi 27 meter, serta menara enam lantai (Torre del Homenaje) yang memiliki ketinggian 26 meter, dimana lantai pertama digunakan sebagai tempat penyimpanan dan penjara.[6] Air dari sungai Darro yang terletak di sebelah utara Alhambra dialirkan langsung ke istana. Disamping itu, gudang dan ruang kearsipan juga dibuat.

Pada periode pemerintahan Sultan Muhammad II (1273-1302) dan Muhammad III (1302-1309) mulai dibangun juga tempat pemandian umum dan Masjid Alhamra yang situs itu sekarang sudah digunakan sebagai Gereja Saint Maria. Sejak saat itu, Alhambra tidak lagi sekedar berfungsi secara strategis, tapi juga menjadi objek paling vital di kota tersebut. Karena selain berfungsi sebagai pusat komando pertahanan Negara, Alhambra juga berfungsi sebagai istana Sultan yang menjadi pusat pemerintahan. (AL)

 

Gereja Santa Maria (St. Mary Church) yang terletak di dalam wilayah Istana Alhamra. Sumber gambar: es.slideshare.net

 

Bersambung…

Istana Alhambra: Saksi Bisu Kejayaan dan Keruntuhan Islam di Spanyol (2)

 

Catatan kaki:

[1] Tentang kisah penaklukan Andalusia oleh Tariq bin Zaid, redaksi ganaislamika.com pernah pengulasnya secara rinci dalam serial artikel berjudul “Penaklukan Andalusia”. Artikel tersebut bisa diakses melalui link berikut: https://ganaislamika.com/penaklukan-andalusia-1/

[2] Lihat, Istana Alhambra Warisan Kejayaan Islam Masa Silam, Adzan pun Kembali Berkumandang,  https://www.salam-online.com/2012/07/istana-alhambra-di-spanyol-warisan-kejayaan-masa-silam-kini-adzan-mulai-kembali-berkumandang.html, diakses 25 Oktober 2018

[3] Ibid

[4] Lihat, Alhambra, Granada, Spain, http://www.airpano.com/360photo/Alhambra-Granada-Spain/, diakses 25 Oktober 2018

[5] Lihat, https://www.alhambradegranada.org/en/info/historicalintroduction.asp, diakses

[6] Bangunan pertama yang dibangun di Alhambra adalah menara pengawas (Torre de la Vela) setinggi 27 meter. Yang berikutnya adalah menara enam lantai (Torre del Homenaje) yang memiliki ketinggian 26 meter. Dipercaya bahwa Muhamad I sendiri tinggal di sini, dan lantai pertama digunakan sebagai tempat penyimpanan dan penjara. Lihat, http://www.airpano.com/360photo/Alhambra-Granada-Spain/,