Karen Armstrong (2): Dianggap Pengkhianat Katolik, diterima di Amerika Serikat

in Orientalis

Meskipun Karen Armstrong mendapat tanggapan negatif dari beberapa kalangan Kristen di Amerika Serikat, namun dia telah mendapatkan tempat khusus dalam arus utama diskursus mengenai theologi, bahkan dia diundang oleh Kongres Amerika Serikat (AS) untuk menjadi pembicara tentang Islam.

Diana Eck, profesor perbandingan agama di Harvard, menyebut Armstrong sebagai “salah satu penulis paling berpengaruh tentang Islam dan kepercayaan Ibrahim di Amerika Serikat. Dan Amerika adalah (negara yang memiliki) budaya di mana agama memiliki nilai yang amat besar. Jurang antara banyak akademisi theologi dan masyarakat umum telah melebar selama bertahun-tahun dan sekarang kita memiliki lebih sedikit orang yang menulis tentang masalah theologi yang dapat menjembatani antara pemikiran ilmiah dengan masyarakat umum. Karyanya memiliki pembahasan yang luas dan itu sangat penting pada saat tidak semua orang membaca 10 buku terakhir dari para ahli tentang fundamentalisme.”

Diana Eck, profesor perbandingan agama dari Universitas Harvard. (Photo: scholar.harvard.edu)

Di Amerika Serikat, buku karya Armstrong masuk dalam dafar buku terlaris peringkat ke delapan versi New York Times di minggu pertama setelah diterbitkan. Eck mengatakan Armstrong lebih diterima di AS daripada di Inggris. “Banyak orang di Amerika menganggapnya hanya sebagai theolog dan tidak tahu mengenai buku Through the Narrow Gate.[1] Mengenai biarawati pelarian, mereka ada ratusan di sini (AS), dan itu tampaknya bukan sesuatu yang terlalu penting.”

Tapi di Inggris masa lalunya yang dianggap kurang baik masih membekas. Peter Stanford, penulis tentang isu-isu Katolik, mengatakan bahwa, “mungkin baru-baru ini ada beberapa penghinaan terhadap dirinya, betapa pun cerdasnya dia. Tetapi saya tetap takjub dengan banyaknya (orang) Katolik yang cerdas, artikulatif, dan liberal yang tertarik dengan hubungan antar gereja Katolik yang tanpa menyebut dia (Armstrong) pun akan maju untuk mengkritik dia. Saya pernah menulis sebuah artikel tentang dia untuk Herald Katolik dan segera setelah terbit saya mendapat sebuah panggilan telepon dari seorang biarawati, yang sangat saya kagumi dan sangat radikal dan (dia) telah melakukan pekerjaan luar biasa di Amerika Latin, untuk memberi tahu saya tentang berbahayanya wanita ini (Armstrong). Bahkan walaupun dia tidak pernah melarikan diri dari kehidupan biarawati bagi mereka (dia tetap berbahaya).”

Armstrong menjelaskan sebagian alasan mengapa kebencian yang sedang berlangsung datangnya dari orang-orang Katolik yang lebih tua di Inggris. Menurut Armstrong itu karena mereka merasa defensif. “Saya tidak berpikir umat Katolik dari generasi saya pernah benar-benar merasakan bahasa Inggris,” katanya. “Mereka selalu melihat diri mereka sebagai minoritas kecil yang teraniaya dan ada sesuatu yang berbeda karena Katoliknya (mereka) berorientasi ke Roma, dengan para pendeta, aroma dan bel Irlandia, (dan) patung-patung dengan selera lama dan prosesi yang berlebihan.”

Armstrong mengatakan bahwa dia dilahirkan dalam sebuah “ghetto Katolik di daerah tengah kota. Kami adalah orang-orang Katolik Irlandia, bukan bangsawan Brideshead Revisited. Dan walaupun saya telah berulang kali mengatakan bahwa pengalaman selama saya di biara bukanlah yang seluruhnya negatif, saya tahu itu karena mereka masih merasa berada di bawah ancaman, siapa pun yang menulis tentang hal itu seperti yang saya lakukan akan terlihat seperti mengkhianati mereka.”

Karen Armstrong sewaktu masih menjadi biarawati. (Photo: Huffington Post)

Armstrong lahir di Wildmoor, Worcestershire, pada tahun 1944. Keluarganya pindah ke Bromsgrove dan kemudian ke Birmingham. Ayahnya, pedagang besi bekas yang bangkrut saat Armstrong masih kecil. Mereka datang ke Inggris dari Irlandia ketika Armstrong masih berusia dua tahun. Sementara keluarga dari pihak ibunya telah datang sejak dua generasi sebelumnya. “Sebagai pedagang logam bekas, Ayah saya cukup artistik dan memiliki mata yang bagus untuk barang-barang antik, yang dapat dilihatnya di antara semua sampah dan kotoran. Kebangkrutannya adalah trauma keluarga walaupun mereka mencoba melindungi saya dari hal itu, tapi itu berarti Ibu saya (harus) keluar untuk bekerja dan dia memulai kehidupan yang benar-benar baru dan karir bekerja di bagian pengobatan sosial di Universitas Birmingham. Ketika dia pensiun, dia mengambil gelar dari Universitas Terbuka.”

Armstrong adalah seorang pembaca kuat yang telah membaca semua karya Dickens pada saat dia berusia 14. “Orang tua saya sangat baik, karena mereka tahu saya tertarik, mereka membawa saya melihat semua drama Shakespeare di Stratford meskipun mereka tidak pernah terpikir untuk pergi (ke Stratford) sebelum saya sebutkan itu.” Adik perempuannya, Lindsey, sekarang adalah seorang ahli akupunktur yang tinggal di Portland, Oregon. Dia telah menjadi seorang Buddhis selama 30 tahun dan Armstrong mendedikasikan bukunya yang berjudul Buddha, terbit tahun 2002, untuknya. “Karen selalu membaca saat kecil,” kenang Lindsey. “Saya ingat ayah kami membawa kami ke Paris dan dia ingin kami duduk di Champs Elysées dan menikmati kopi dan kue dan melihat dunia berlalu. Dan saya masih ingat Karen duduk di sana dengan kepalanya (pikiran) di Jane Eyre[2].” (PH)

Bersambung ke:

Karen Armstrong (3): Tahun-tahun Kehidupan di Biara

Sebelumnya:

Karen Armstrong (1): Mantan Biarawati yang Menjadi Theologis

Catatan:

Artikel ini merupakan adaptasi dan terjemahan bebas dari artikel: Nicholas Wroe, “Among the believers”, dari laman https://www.theguardian.com/books/2004/apr/10/society.philosophy, diakses 26 Oktober 2017. Adapun informasi lain yang didapat selain dari artikel tersebut dicantumkan dalam catatan kaki.

Catatan Kaki:

[1] Through the Narrow Gate (1981), buku karya Karen Armstrong yang menceritakan tentang tujuh tahun kehidupan Armstrong sebagai seorang biarawati di tahun 1960an, kisah perlawanannya terhadap gereja Katolik, dan keputusan Arsmtrong untuk meninggalkan kehidupannya sebagai biarawati. Lihat: “Karen Armstrong (1): Mantan Biarawati yang Menjadi Theologis”, dari laman https://ganaislamika.com/karen-armstrong-1-mantan-biarawati-yang-menjadi-theologis/, diakses 28 Oktober 2017.

[2] Sebuah novel karya Charlotte Brontë, terbit tahun 1847.