Kaum Quraisy (13): Abrahah dan Percaturan Politik Dunia (4)

in Studi Islam

Last updated on May 15th, 2019 12:38 pm

Abdul Muthalib menyadari, bahwa tidak ada kekuatan manusia di jazirah Arab yang bisa menghentikan laju pasukan Abrahah. Maka dia sepenuhnya berserah kepada Allah SWT tentang cara mempertahankan Kabah. Namun, setelah lama ditunggu, Abrahah tak kunjung menghancurkan Kabah, dan tak jua dikabarkan kembali ke Yaman. Entah apa yang terjadi?


Gambar ilustrasi. Sumber: redsearch.org


Bila dinilai secara strategis, tampak apa yang dilakukan oleh Abrahah dengan mengerahkan pasukan raksasa lengkap dengan armada gajahnya, sangatlah mubazir. Karena sebagaimana sudah disampaikan pada edisi sebelumnya, masyarakat Kota Makkah yang dikuasai oleh Kaum Quraisy ketika itu sedang terpecah belah menjadi beberapa kabilah. Perpecahan tersebut jelas memperlemah mereka secara militer. Dan Abrahah jelas mengetahui titik lemah ini.

Akan tetapi, Abrahah juga sangat memahami, bahwa yang akan dihancurkannya adalah rumah ibadah umat manusia, yang sekaligus juga merupakan aset ekonomi global terbesar kala itu. Dengan demikian, tidak hanya Kaum Quraisy yang punya kepentingan di sini. Tapi juga sejumlah bangsa dan kelompok di segala penjuru dunia. Berbagai gangguan dan rintangan tentu akan dia hadapi dalam upaya melaksanakan niatnya.

Dan ternyata, perkiraannya tepat. Baru saja dia menyusun pasukannya, berbagai tentangan sudah datang dari sejumlah kabilah Arab di sekitarnya. Di tengah perjalanan, dia dihadang oleh pasukan yang dipimpin oleh lelaki bernama Dhu Nafar/Dunaher. Dia berhasil menggalang kekuatan beberapa kabilah untuk bersama-sama mencegah laju pasukan gajah Abrahah. Tapi pasukan Abrahah memang terlalu tangguh bagi mereka. Dunaher dan pasukannya berhasil disapu bersih sebentar saja.[1]

Setelah Dunaher, pasukan Abrahah kembali dihadang oleh pasukan yang dimpin oleh Nufail bin Hubaid Al-Aslami. Namun lagi-lagi perlawanan yang dilakukan oleh Nufail berhasil dipatahkan oleh Abrahah. Setelah itu, praktis tidak ada lagi halangan berarti yang dihadapi Abrahah dan pasukannya. Sejalan dengan itu, kisah kehebatan pasukan gajah yang dibawa Abrahah pun menyebar dengan cepat, dan akhirnya sampai ke telinga Abdul Muthalib.[2]

Mendengar berita ini, para pemimpin kabilah-kabilah panik, namun Abdul Muthalib tetap tenang, tidak gentar sedikitpun. Kontak pertama Abdul Muthalib dengan Abrahah terjadi ketika Abrahah dan pasukannya mencapai Thaif. Para pemuka suku di Thaif sambil gemetar datang ke Abrahah dan menyatakan bahwa mereka bersedia membantu Abrahah menunjukkan letak Kabah. Mendengar ini, Abrahah lalu mengutus anak buahnya untuk menyelidiki kota tersebut, dan sekaligus menyampaikan pesan Abrahah kepada pemimpin Kota Makkah. Dalam misi kecil ini pasukan Abrahah sempat merampas banyak harta dari Kaum Quraisy serta dari suku-suku lainnya. Dan di antara yang dirampasnya adalah dua ratus unta milik Abdul Muthalib.[3]

Dalam surat yang dibawa oleh utusannya itu, Abrahah menyampaikan bahwa dia tidak datang untuk memerangi mereka, namun dia datang hanya untuk menghancurkan Kabah. Jika mereka tidak menentangnya, maka darah mereka tidak akan ditumpahkan. Lalu utusan itu menemui Abdul Muthalib, dia menceritakan tentang keinginan Abrahah. Abdul Muthalib berkata: “Kami tidak ingin memeranginya karena kami tidak memiliki kekuatan. Kabah adalah rumah Allah SWT yang mulia dan suci, dan rumah kekasih-Nya Ibrahim. Jika Dia mencegahnya, maka itu adalah rumah-Nya dan tempat suci-Nya, namun jika Dia membiarkannya, maka demi Allah kami tidak memiliki kekuatan untuk mempertahankannya.” Kemudian utusan itu pergi bersama Abdul Mutihalib menuju Abrahah.[4]

Sebagai seorang pemimpin paling berpengaruh di Kota Makkah, kewibawaan Abdul Muthalib sangat luar biasa. Mendengar berita kedatangannya, Abrahah sontak turun dari singgasananya, dan secara langsung duduk untuk menjamunya. Abdul Muthalib dan Abrahah duduk sejajar di atas sebuah permadani dan terjadilah doalog terkenal antara kedua tokoh tersebut:[5]

Abrahah lalu berkata pada penerjemahnya, “Katakan padanya apa kebutuhannya?” Abdul Muthalib berkata, “Kebutuhanku adalah agar engkau mengembalikan dua ratus ekor unta yang diambil anak mu dariku.”

Ketika Abdul Muthalib mengatakan demikian, wajah Abrahah berubah, lalu dia berkata kepada penerjemahnya, “Katakan padanya sungguh aku merasa kagum ketika melihatnya, kemudian aku merasakan kehati-hatian saat berbicara dengannya, apakah engkau berbicara denganku tentang dua ratus ekor unta yang telah aku ambil, lalu engkau membiarkan rumah yang merupakan simbol agamanya dan kakek-kakeknya, yang aku datang untuk menghancurkannya dan dia tidak menyinggungnya sama sekali?”

Abdul Muthalib menjawab, “Aku adalah pemilik unta, sedangkan pemilik rumah itu adalah Tuhan yang melindunginya.”

Abrahah berkata: “Dia tidak akan mampu melindunginya dariku.”

Abdul Muthalib menjawab: “Lihat saja nanti!”

Demikianlah percakapan tersebut. Abrahah pun mengembalikan dua ratus ekor unta Abdul Muthalib, dan bersiap menghancurkan Kabah. Sedang Abdul Muthalib berbegas pulang bersama unta-untanya. Sesampainya di Makkah, dia memerintahkan kepada penduduk untuk mengosongkan kota dan pergi berlindung kemana saja yang dianggap aman. Secara strategis, Abdul Muthalib sangat menyadari, bahwa tidak ada kekuatan manusia di jazirah arab yang bisa menghentikan laju pasukan raksasa ini. Maka dia sepenuhnya berserah kepada Allah SWT tentang cara mempertahankan Kabah.

Tidak ada satupun orang di masa itu yang mengetahui apa yang akhirnya terjadi dengan pasukan Abrahah. Setelah ditunggu lama, pasukan besar tersebut tak kunjung menghancurkan Kabah, dan tak jua dikabarkan kembali ke Yaman. Sampai akhirnya misteri itu terbuka ketika Allah SWT mengabarkan pada Rasulullah Saw. tentang datangnya burung Ababil yang menghancurkan pasukan Abrahah. Dalam Alquran surat Al-Fil, Allah SWT berfirman:

“Apakah kamu tidak memperhatikan bagimana Tuhanmu telah bertindak terhadap tentara gajah? Bukankah Dia telah menjadikan tipu daya mereka (untuk menghancurkan Ka ‘bah) itu sia-sia? Dan Dia mengirimkan kepada mereka burung yang berbondong-bondong, yang melempari mereka dengan batu (berasal) dari tanah yang terbakar, lalu Dia menjadihan mereka seperti daun yang dimakan (ulat).” (QS. al-Fil: 1-5)

Bersambung…

Sebelumnya:

Catatan kaki:


[1] Lihat, The History of al-Tabari (Tarikh al-rusul wal-mulk) VOLUME V, The Sasanids, The Byzantines, The Lakhmids, and Yemen, translated and annotated by C. E. Bosworth, (University of Manchester: State University of New York Press, 1999), hal. 222

[2] Lihat, Sirah Nabawiyah Ibnu Hisyam, Jilid I, (Beirut: Danjl Fikr, 1994), hal. 43

[3] Ibid

[4] Lihat, The History of al-Tabari (Tarikh al-rusul wal-mulk) VOLUME V, Op Cit, hal. 224

[5] Ibid, hal. 226

Leave a Reply

Your email address will not be published.

*