Kaum Quraisy (15): Kemungkinan Tafsir Surat Quraisy

in Studi Islam

Last updated on May 17th, 2019 09:08 am

Maka tidak mengherankan bila Allah SWT mengutus Rasul pamungkasNya di Kota Makkah, di pusat peradaban dunia. Dan melahirkannya dari kalangan Kaum Quraisy, yang merupakan wangsa Ibrahim, ningrat umat manusia, dan sekaligus kelas elit dalam skema politik dan perdagangan dunia.

Gambar ilustrasi. Sumber: republika.co.id

Terkait dengan Kaum Quraisy, Allah SWT bahkan berbicara mengenai mereka dalam satu surat khusus yang dinamakan Surat Quraisy (QS. 106), yang berbunyi:

لِإِيلَافِ قُرَيْشٍ (1) إِيلَافِهِمْ رِحْلَةَ الشِّتَاءِ وَالصَّيْفِ (2) فَلْيَعْبُدُوا رَبَّ هَذَا الْبَيْتِ (3) الَّذِي أَطْعَمَهُمْ مِنْ جُوعٍ وَآمَنَهُمْ مِنْ خَوْفٍ (4)

Artinya: “Karena kebiasaan orang-orang Quraisy, (yaitu) kebiasaan mereka bepergian pada musim dingin dan musim panas. Maka hendaklah mereka menyembah Tuhan (pemilik) rumah ini (Kabah), yang telah memberi makanan kepada mereka untuk menghilangkan lapar dan mengamankan mereka dari rasa ketakutan.”

M. Quraish Shihab dalam Tafsir Al-Misbah mengatakan, “Dalam surah ini Allah mengingatkan kaum musyrikin Makkah yang mengaku sebagai pembela-pembela rumah-Nya dan tampil di bawah pimpinan suku yang paling berpengaruh di sana yakni suku Quraisy – mengingatkan mereka agar mensyukuri nikmat yang dilimpahkan kepada mereka dengan jalan mengabdi kepada Tuhan Pemilik rumah itu. , Allah berfirman: Karena kebiasaan orang-orang Quraisy, yaitu kebiasaan mereka bepergian pada musim dingin ke Yaman dan musim panas ke Syam, yakni Suriah dan Lebanon.”[1]

Lebih jauh menurut Quraish Shibab, huruf Lam (ل) yang mengawali ayat tersebut memiliki arti “karena”. Sebagian ulama berpendapat bahwa hal itu menunjukkan bahwa ayat Al-Quraisy ini memiliki kaitan dengan kandungan surat sebelumnya, yaitu Surat Al-Fil, yakni Allah SWT membinasakan tentara bergajah itu dan menjadikan mereka bagaikan daun-daun yang dimakan (ulat) adalah untuk menjamin kelancaran jalur perdagangan kaum Quraisy yang telah terbiasa melakukan perjalanan pada musim dingin dan panas.[2]

Adapun kata ilaf yang ada setelah huruf Lam tersebut, Asalnya adalah alifa dengan satu huruf hamzah (ء) yang berarti terbiasa, jinak dan harmonis. Ar-Raghib Al-Ashfahani berpendapat bahwa kata tersebut mengandung makna keterkumpulan dalam harmonisme. Al-Biqai memahami Li Ilaf Quraisy dalam arti bahwa suku ini mewujudkan Ilaf yakni pemahaman atas negeri mereka yang kemudian melahirkan ketenangan mereka serta wibawa dan kekaguman yang bercampur dengan rasa takut orang lain terhadap mereka.[3]

Menurut tafsir Ibnu Katsir, “makna yang dimaksud dengan Ilaf ialah tradisi mereka dalam melakukan perjalanan di musim dingin ke negeri Yaman dan di musim panas ke negeri Syam untuk tujuan berniaga dan lain-lainnya. Kemudian mereka kembali ke negerinya dalam keadaan aman tanpa ada gangguan di perjalanan mereka. Demikian itu karena mereka dihormati dan disegani oleh orang lain, mengingat mereka adalah penduduk kota suci Allah. Maka siapa yang mengenal mereka, pasti menghormati mereka. Bahkan barang siapa yang dipilih oleh mereka untuk menjadi teman perjalanan mereka, maka ia ikut aman berkat keberadaan mereka.”[4]

Menurut pendapat Quraish Shihab, masyarakat Makkah dikagumi dan ditakuti oleh masyarakat sekitarnya karena semua pihak mengagungkan Kabah, sedang kaum Quraisy dengan berbagai cabang-cabang kesukuannya memegang tampuk tanggung jawab memelihara Kabah, memenuhi kebutuhannya serta kebutuhan pokok para peziarahnya. Karena itu mereka memperoleh rasa aman, baik dalam tempat pemukiman mereka di Makkah maupun dalam perjalanan mereka ke luar kota. Penghormatan dan rasa kagum itu bertambah sejak dibinasakannya oleh Allah SWT pasukan gajah yang sengaja datang untuk merubuhkan Kabah yang diurus oleh penduduk Makkah itu (Kaum Quraisy).[5]

Kemudian dalam ayat selanjutnya Allah SWT berfirman: “Maka hendaklah mereka menyembah Tuhan Pemilik rumah ini. Yang telah memberi makan mereka setelah lapar dan memberi mereka rasa aman dari ketakutan.” (Qs. Quraisy: 3-4)

Menurut Quraish Shihab, Allah SWT oleh ayat di atas ditunjuk dengan kalimat “Pemilik rumah ini” yakni Kabah. Agaknya kalimat tersebut sengaja dipilih untuk mengingatkan mereka bahwa kehormatan yang mereka peroleh di tengah masyarakat sekitar, serta rasa aman dan jaminan perjalanan itu disebabkan karena mereka adalah penduduk kota di mana rumah Allah itu ada. Seandainya Allah tidak menempatkan rumah-Nya di sana, niscaya mereka tidak akan memperoleh aneka keistimewaan dan kemudahan itu.[6]

Adapun mengenai pemberian pangan yang dimaksud ayat tersebut, antara lain adalah ketersediaan lahan dan sumber daya alam sehingga dengan anugerah itu mereka tidak kelaparan. Pemberian pangan itu bukan saja melalui keuntungan yang mereka raih dari perjalanan dagang, tetapi juga melalui fasilitas darat dan laut serta udara. Di sisi lain keamanan yang terjamin di Kota Makkah, mengantar para pedagang merasa aman membawa kafilah dan barang dagangan mereka ke sana. Selain itu, kota Jeddah yang merupakan salah satu pelabuhan Laut Merah, juga sering kali dikunjungi oleh perahu- perahu yang datang antara lain dari Ethiopia (hingga pelaut Nusantara).[7] Penduduk Makkah ketika itu hanya membutuhkan dua hari untuk mencapai Jeddah.

Lebih lanjut Quraish Shihab menjelaskan, bahwa dua hal yang disebut oleh ayat terakhir surah ini — yaitu kesejahteraan yang dicapai dengan tersedianya pangan (pertumbuhan ekonomi) serta jaminan (stabilitas) keamanan – merupakan dua hal yang sangat penting bagi kebahagiaan masyarakat. Keduanya saling kait-berkait. Pertumbuhan ekonomi melahirkan stabilitas keamanan, dan stabilitas keamanan memicu pertumbuhan ekonomi. Demikian juga sebaliknya. Krisis pangan menimbulkan kerawanan pangan, dan kerawanan pangan menimbulkan gangguan keamanan. Dua hal tersebut menjadi sangat wajar dimohon dan disyukuri dengan beribadah kepada Allah Pemberi rasa aman serta Pencurah aneka rezeki. Kedua hal ini jugalah yang dimohonkan oleh Nabi Ibrahim as. ketika beliau berkunjung ke Makkah,[8] yakni dengan doa beliau:

Tuhanku, jadikanlah negeri ini negeri yang aman sentosa, dan berikanlah rezeki dari buah-buahan kepada penduduknya yang beriman di antara mereka kepada Allah dan hari Kemudian. ” Allah berfirman: “Dan kepada orang yang kafir pun Aku beri kesenangan sementara, kemudian Aku paksa ia menjalani siksa neraka dan itulah seburuk-buruk tempat kembali” (QS. al-Baqarah [2]: 126).

Kedua hal itu pula yang hingga kini dibutuhkan serta diusahakan oleh Pemerintah semua negara di dunia ini, betapapun pesatnya kemajuan ilmu dan teknologi mereka. Pada akhirnya, menurut Quarish Shihab, tidak ada persoalan yang dibicarakannya kecuali suku Quraisy yang dituntun oleh surah ini agar mensyukuri nikmat Allah yang dianugerahi Allah keamanan sehingga mereka dapat hidup tenang dan harmonis yang kemudian membuahkan kelanggengan kebiasaan mereka melakukan perjalanan dalam rangka meraih kesejahteraan hidup.[9]

Maka demikianlah Kaum Quraisy itu, takdir sejarah telah membawa mereka duduk di puncak struktur kekuatan dunia. Secara geneologis, mereka adalah anak keturunan Ibrahim, bapak peradaban manusia. Allah SWT sudah meninggikan derajat Kaum Quraisy dengan menjadikan mereka sebagai penjaga rumah suci Nya. Mereka menjadi penjelajah dan pedagang yang ulung di satu sisi, tapi juga menjadi tuan rumah dan pengelola pasar bisnis yang cerdik di sisi lain. Kedua kemampuan ini, membuat mereka demikian disegani, bahkan oleh para adidaya dunia di setiap masa.

Tapi nikmat yang diberikan tersebut, sudah di khianati oleh sebagian dari mereka. Kabah yang merupakan aset terpenting Kota Makkah dikapitalisasi demi kepentingan sesaat. Kaum Quraisy mengelar ratusan berhala di sekitarnya, sehingga membuat rumah suci itu tercemari sedemikian rupa. Para peziarah yang rindu akan panggilan Ibrahim, justru tersesat di kota itu. Tanah yang diberkati itu pun mereka ubah menjadi panggung pagelaran birahi dan festival kemusyrikan.

Dalam kerangka ini, tidak mengherankan bila Allah SWT mengutus Rasul pamungkasNya di Kota Makkah, di pusat peradaban dunia. Dan melahirkannya dari kalangan Kaum Quraisy, sebuah kelas elit kapitalisme dunia dan keturunan ningkat umat manusia. Adanya dua faktor ini yang bisa menjelaskan mengapa dalam waktu sangat singkat risalah Rasulullah demikian cepat bergaung ke seluruh dunia. Kemasyhuran Kaum Quraisy, Kota Makkah dan Kabah, telah berhasil secara siginifikan mengamplifikasi risalah yang dibawa Nabi Muhammad Saw ke segala penjuru bumi; mulai dari Bizantium hingga Persia – dari Afrika hingga ke Asia Timur. (AL)

Bersambung…

Sebelumnya:

Catatan kaki:


[1] Lihat, M. Quraish Shihab, Tafsir Al-Misbah: Pesan, Kesan dan Keserasian Al-Qur’an, Volume 15, Juz Amma (Jakarta: Penerbit Lentera Hati, 2005).  Hal. 535

[2] Ibid

[3] Ibid

[4] Lihat, Tafsir Surat Quraisy, ayat 1-4, http://www.ibnukatsironline.com/2015/10/tafsir-surat-quraisy-ayat-1-4.html, diakses 16 Mei 2019

[5] Lihat, M. Quraish Shihab, Op Cit, hal. 536

[6] Ibid, hal. 537

[7] Menurut Agus Sunyoto, adanya fakta tentang perdaganan rempah-rempah yang sudah mencapai Bizantium sejak berabad-abad Sebelum Masehi, tidak bisa ditafsirkan lain bahwa sudah terdapat hubungan dagang yang cukup intensif antara Nusantara dengan Eropa. Menurut Agus Sunyoto, besar kemungkinan para pelaut Nusantara adalah pembawa barang-barang tersebut hingga ke Laut Merah (Pelabuhan Jeddah?). Dari sana, barang-barang tersebut diangkut denganb menggunakan kendaraan darat oleh para pedagang Arab (Kaum Quraisy). Lihat, Agus Sunyoto, Atlas Wali Songo, (Bandung: Mizan, 2018), hal 33.

[8] Lihat, M. Quraish Shihab, Op Cit, hal. 539

[9] Ibid, hal. 540

Leave a Reply

Your email address will not be published.

*