Kehidupan Muslim di Korea Selatan (6): Rahman Lee Ju-Hwa, Imam Umat Islam Korea

in Lifestyle

“Kita dapat menemukan berbagai budaya, agama, dan keyakinan yang berbeda di masyarakat Korea. Saya percaya kita harus mengakui perbedaan agar bisa hidup bersama secara harmonis.

–O–

A. Rahman Lee Ju-Hwa, Imam Umat Islam Korea Selatan, Itaewon, 8 Agustus 2017. Photo: Jeon Han

Awalnya sulit bagi A. Rahman Lee Ju-Hwa, yang masuk Islam pada tahun 1984, untuk memberi tahu teman-temannya bahwa dia tidak dapat berkumpul dengan mereka untuk acara barbekyu dan minum-minum. “Kembali pada hari itu, teman-teman saya tidak mengerti agama saya dan secara paksa meminta saya untuk minum,” katanya. “Butuh beberapa waktu tapi hari ini mereka mengerti saya.” Lee mengingat kembali krisis sandera warga Korea di Ahfghanistan, dan mengingat saat polisi setempat ditempatkan di depan masjid untuk melindunginya dari protes dan ancaman bom sebagai reaksi terhadap penyanderaan tersebut. “Krisis sandera Korea adalah satu titik kritis dalam sejarah Islam di Korea Selatan,” kata Lee.[1]

Saat ini, Lee adalah Imam umat Islam satu-satunya di Korea Selatan yang merupakan etnis asli Korea. Lee menjadi Imam di Federasi Muslim Korea (KMF) yang telah didirikan dari sejak tahun 1965. Lee berkesempatan diwawancarai oleh wartawan dari Korea.net, Kim Young Deok dan Yoon Sojung. Oleh mereka Lee ditanyai berbagai macam hal seperti seperti perkembangan Islam di Korea, fasilitas ibadah di Korea, ajaran Islam, dan banyak hal lainnya. Di bawah ini adalah hasil wawancaranya.[2]

“Pada tahun 1980 dan 1990-an, agama Islam di Korea hanya bisa ditemukan di Seoul, di lingkungan sekitar Itaewon. Namun, sekarang kita dapat menemukan fasilitas dan pelayanan Islami di bandara, terminal, dan tempat-tempat istirahat,” kata Imam A. Rahman Lee Ju-Hwa. Sebagai satu-satunya imam yang beretnis Korea di kalangan pemimpin Islam yang saat ini aktif di Korea, Lee mengatakan, “Itu adalah perubahan penting dalam masyarakat Korea.”

Bagi komunitas Islam, Imam adalah posisi pemimpin. Gelar tersebut mengacu kepada pemimpin yang ditinggikan dalam sebuah komunitas Muslim. Pada tahun-tahun dia di Universitas, Lee terpilih untuk belajar di Universitas Islam Madinah sebagai siswa yang mendapat beasiswa yang diundang oleh pemerintah Arab Saudi. Berkat kesempatan itu, dia belajar bahasa Arab dan Islam di institusi tersebut. Saat ini, dia telah bertugas menjadi imam di Federasi Muslim Korea (KMF).

Korea.net baru-baru ini berbincang bersama Lee, yang sudah menetap sebagai Muslim beretnis Korea selama sekitar 30 tahun. Dia berbicara tentang perubahan yang dia sadari di seluruh masyarakat Korea sehubungan dengan penerimaan Islam, termasuk meningkatnya jumlah fasilitas untuk turis Muslim di Korea, seperti restoran halal, area sholat, dan masjid.

Tolong beritahu kami tentang setiap perubahan yang Anda lihat di Korea, terutama mengenai restoran halal, dibandingkan dengan tahun 1980-an dan hari ini, dan rencana masa depan yang mungkin Anda ketahui terkait restoran halal.

Ada dua restoran halal di Seoul 30 tahun yang lalu. Sejak saat itu, jumlahnya berangsur-angsur meningkat. Bagaimanapun, Muslim yang taat hanya dapat menerima restoran yang bersertifikat halal. Mengingat hal ini, saya yakin kita perlu memiliki lebih banyak restoran bersertifikasi halal yang menerima sertifikasi semacam itu dari KMF.

Mengenai sertifikasi halal, yang telah dikelola oleh KMF pada paruh pertama tahun 2017 sejak tahun 1994, sekitar 800 tempat telah diakui sebagai lokasi bersertifikasi secara resmi. Jumlah tempat bersertifikat semakin meningkat. Karena tujuan proses sertifikasi halal adalah menyediakan makanan yang aman, terverifikasi, dan bersih bagi umat Muslim yang taat, KMF bertujuan untuk menyediakan restoran yang aman bagi semua umat Islam, dan bukan hanya berfokus pada keuntungan. Untuk alasan ini, kami telah bekerja keras dalam mengamankan kepercayaan dari dalam masyarakat, namun juga memperluas kerja sama dengan otoritas sertifikasi halal terkemuka di dunia.
Bagaimana dengan area shalat bagi umat Islam di Seoul?

Dibandingkan dengan masa lalu, kita memiliki lebih banyak  mushala non-permanen, atau tempat sholat. Akhir-akhir ini, terdapat sebuah aula untuk shalat yang indah di lantai tiga pusat konvensi COEX di Samseong-dong, Seoul Selatan. Tempat-tempat semacam ini juga bisa ditemukan di tempat-tempat lain yang sering dikunjungi oleh wisatawan Muslim, seperti di Lotte World dan di banyak pusat perbelanjaan. Di antara semuanya, yang paling mengesankan berada di Rumah Sakit Umum Cheil di Chunmuro, Seoul, karena rumah sakit tersebut menyediakan ruang shalat yang terpisah untuk wanita dan pria, dan masing-masing dilengkapi dengan tempat wudhu, yang saat ini masih dalam pembangunan. Pengunjung Muslim bisa merasa lega dan nyaman berkat tempat ibadah tersebut.

Contoh kasus lain di luar Seoul berada di Pulau Namiseom. Pulau ini biasanya kurang memperhatikan wisatawan Muslimnya, namun sekarang, karena meningkatnya pengunjung Muslim, di sana ada restoran halal dan ruang shalat yang dibangun di pulau itu.

Seiring dengan perubahan-perubahan ini, apakah Anda memperhatikan adanya ketertarikan yang meningkat terhadap Islam dari masyarakat Korea?

Sejak sekitar tahun 2000, tampaknya orang Korea sudah mulai mengerti Islam dan budaya Islam sedikit lebih banyak, dan saya telah melakukan perjalanan ke banyak tempat di seluruh Korea untuk memberikan ceramah. Tentu, lebih banyak orang mulai mengubah pandangan mereka tentang Muslim. Meski jumlah pemeluk Islam baru belum bertambah, pandangan orang tentang Islam di sini telah berubah. Misalnya, perubahan yang terjadi sehubungan dengan kesalahpahaman tertentu tentang Islam, yang mereka anggap sebagai agama kekerasan, seperti “al-Quran di satu tangan dan pedang di tangan yang lain.”

Meski komunitas kecil anti Islam telah terbentuk, saya juga percaya sekarang saatnya masyarakat Korea menemukan cara untuk saling memahami dengan lebih baik dan hidup bersama.

Apakah ada ayat dari kitab suci Islam yang ingin Anda bagikan kepada orang-orang di sini, kepada sebuah masyarakat yang telah mengalami banyak perubahan?

Ada sebuah paragraf dalam al-Quran yang mengatakan bahwa, “Tujuan utama Tuhan dalam menciptakan berbagai suku, pria dan wanita adalah agar mereka saling mengenal satu sama lain.”

Kita seharusnya tidak hanya berbicara tentang apa yang kita minta, tapi kita juga harus mengakui dan menerima orang lain, karena masing-masing orang ada untuk orang lain. Kita dapat menemukan berbagai budaya, agama, dan keyakinan yang berbeda di masyarakat Korea. Saya percaya kita harus mengakui perbedaan agar bisa hidup bersama secara harmonis. (PH)

Selesai.

Sebelumnya:

Kehidupan Muslim di Korea Selatan (5): Mereka yang Muda yang Berdakwah (2)

Catatan Kaki:

[1] Radu Diaconu  & Athena Tacet, “The Muslims of South Korea”, dari laman https://www.aljazeera.com/indepth/inpictures/2017/11/muslims-south-korea-171114104611451.html, diakses 8 Maret 2018.

[2] Kim Young Deok dan Yoon Sojung, “Korean imam talks about Islam in Korea”, dari laman http://www.korea.net/NewsFocus/Society/view?articleId=148510, diakses 13 Maret 2018.