Kehidupan Muslim di Korea Selatan (5): Mereka yang Muda yang Berdakwah (2)

in Lifestyle

“Saya tidak ingin menjadi Muslim. Saya tidak akan menjadi seorang Muslim! Bagaimana mungkin saya memakai hijab setiap hari?”

–O–

Pada artikel sebelumnya kita telah membahas  dua orang tokoh dakwah anak muda Islam Korea Selatan, yakni Muna Hyunmin Bae dan Ola Bora Song. Kali ini kita akan membahas dua tokoh muda Korea lainnya yang mempromosikan Islam dengan pendekatan hallyu (gelombang ekspansi budaya populer Korea Selatan ke berbagai negara), mereka adalah Omar Choi dan Ayana Jihye Moon.

 

Omar Choi

Omar Choi, yang sebelumnya bernama Daesik Choi adalah salah satu anak muda Korea Selatan yang mempromosikan Islam dengan cara yang unik, yakni dengan kuliner. Bekerja sama dengan Seoul Tourism Organization, Omar mengunjungi restoran-restoran halal di Seoul dan mengunggah video dokumentasinya ke YouTube, yang berjudul “From Kebab to Kebab” (dari Kebab ke Kebab).[1]

Gaya Omar yang seperti kebanyakan anak muda Korea lainnya memudahkan dia untuk lebih diterima. Photo: Instagram @everydaesik

Selain itu, Omar juga seseorang yang aktif di Instagram (nama akunnya adalah @everydaesik)  dengan followers-nya yang mencapai 29 ribu lebih. Walaupun eksplorasi kulinernya kebanyakan dilakukan di Korea, tapi dia juga melakukannya di berbagai negara, seperti di Arab Saudi, Qatar, Malaysia, dan Indonesia. Andai pun dia tidak menemukan restoran yang berlabel halal, paling tidak dia mencari restoran yang tidak mengandung bahan-bahan yang dilarang di dalam ajaran Islam, seperti minyak babi dan alkohol misalnya.

Dengan gaya Omar yang trendi, dan seperti kebanyakan anak muda Korea lainnya, dia dapat dengan mudah bergaul dengan siapapun. Banyak dari followers Omar yang berterimakasih atas review-review yang dilakukan oleh Omar. Selain itu, dia juga membuka kesempatan bagi para followers-nya di dalam sesi komentar untuk bertanya lebih jauh, seperti di mana detail lokasinya, dan pembahasan seputar halal-haram. Tidak hanya untuk Muslim saja, review juga bermanfaat bagi non-Muslim yang ingin tahu lebih jauh tentang Islam, terutama mengenai makanan yang berhubungan erat dengan gaya hidup seseorang.

Tidak hanya melulu soal makanan, Omar juga di dalam postingannya terkadang menyelipkan tema-tema lain seperti tentang film, arsitektur, kunjungan wisata, masjid-masjid bersejarah, dan budaya misalnya. Dengan gaya yang santai, dia mampu menyelipkan nilai-nilai Islam tanpa seperti menggurui atau dengan gaya yang kolot, jadi nuansanya seperti bincang-bincang santai saja. Omar juga sangat piawai dalam menanggapi komentar-komentar yang negatif, dia mencoba menepis citra Islam yang digambarkan buruk oleh kebanyakan media-media Korea Selatan.

 

Ayana Jihye Moon

Bagi orang Indonesia, belakangan nama Ayana Jihye Moon banyak dikenal dan digemari, terutama oleh anak mudanya. Pasalnya Ayana datang ke Indonesia dan beberapa kali tampil di stasiun televisi nasional dan wajahnya banyak menghiasi berbagai media daring di Indonesia. Sama dengan Omar, awalnya Ayana juga mempromosikan Islam melalui media sosial, di Instagram followers-nya telah mencapai satu juta lebih, sementara di YouTube, dia memiliki subscribers sebanyak 17.000 lebih (nama akunnya adalah @xolovelyayana).

Ayana Jihye Moon di Indonesia. Photo: Instagram @xolovelyayana

Gadis cantik ini selain mempromosikan Islam juga menjadi model untuk produk-produk pakaian Muslimah dan kosmetik kecantikan berbahan halal. Belakangan dia juga menjadi model bagi produk-produk asal Indonesia.

Banyak orang bertanya-tanya apa alasan Ayana untuk memeluk agama Islam, pasalnya orang beranggapan bahwa dengan wajah dan postur seperti Ayana, dia masuk kualifikasi untuk menjadi Girls Band Korea yang banyak digandrungi orang. Awalnya Ayana enggan menceritakannya karena beberapa alasan, pertama, dia merasa hanya seorang pemula dalam Islam. Kedua, beberapa orang menilainya dia masuk Islam hanya untuk kepentingan bisnis produk halal. Ketiga, dia khawatir ada orang yang berprasangka tentang Islam melalui dirinya. Keempat, dia khawatir akan mengganggu keluarga dan kawannya yang non-Muslim.

Namun dengan alasan bahwa di Korea jumlah muslim masih sedikit, dan banyak di antara mereka mungkin menjadi canggung di tengah gelombang pandangan negatif tentang Islam, sehingga Ayana memberanikan diri untuk membuat sebuah video dengan harapan dapat mendorong Muslim Korea lainnya untuk juga dapat bercerita tentang keislaman mereka.

Beginilah kisah Ayana, saat dia berusia delapan atau sembilan tahun, terjadi perang di Irak (tahun 2003). Pada saat itulah dia pertama kalinya mendengar tentang Islam. Di masa itu pandangan tentang Islam di mata orang-orang Korea sudah buruk, sebagai anak-anak Ayana pun terpengaruh. Pada awalnya dia memiliki persepsi negatif tentang Islam. Namun hal itu tidak menyurutkan niatnya untuk mencari tahu tentang Islam. “Islam adalah teroris, Islam dan ISIS, Islam dan al-Qaeda, Islam dan Taliban, hal-hal itulah yang ada di dalam pikiranku,” kata Ayana.

Namun semakin dia banyak membaca tentang Islam, membaca kisah orang-orang yang tinggal di Timur Tengah, pikirannya mulai berubah. Karena dia hanya menguasai bahasa Korea, maka sumber referensi yang dia simak hanya yang berbahasa Korea atau terjemahannya. “Saya kira, saya telah menonton semua (film) dokumenter (tentang Islam) dalam (bahasa/terjemahan) Korea,” ujarnya.

Tahun demi tahun berlalu, sebelumnya dia tidak terlalu banyak bicara tentang Islam karena masih anak-anak, hingga masuk SMA, dia sudah mulai semakin dewasa dan berani. “Ketika seseorang berbicara tentang Timur Tengah atau Islam, saya mulai menunjukkan kertertarikan tanpa menyadarinya. Hingga guru dan  keluargaku menyadari bahwa aku tahu banyak tentang Islam,” kata Ayana.

Masih di masa SMA, dia memutuskan untuk mengikuti wamy camp  (semacam summer camp di Amerika Serikat) yang diselenggarakan oleh komunitas Muslim di Korea. Walaupun Ayana tahu banyak tentang Islam, tapi pada waktu itu dia mengaku bahwa di masih takut dengan Islam, karena citra Islam di Korea sangat buruk. Orang tuanya juga mengkhawatirkannya, namun pada akhirnya dia tetap berangkat juga.

Dengan kondisi ketakutan dan khawatir, namun tetap berangkat karena penasaran, kenyataannya apa yang dia alami jauh dari apa yang dia pikirkan. “Apa ini? Apakah saya satu-satunya orang yang selalu berprasangka buruk tentang Islam? Tidak ada seorang pun yang aneh di sini, tidak ada seorang pun di sini yang mengenakan jubah hitam tertutup. Saya merenung cukup banyak pada waktu itu,” kisahnya. Apa yang Ayana lihat berbanding terbalik, dia melihat keindahan dan keramahan orang-orang Islam di dunia nyata.

Setelah acara tersebut Ayana semakin giat mempelajari Islam, meskipun dengan pikiran yang terbolak-balik, satu waktu dia khawatir, waktu lain dia menyukainya, “saya tidak ingin menjadi Muslim. Saya tidak akan menjadi seorang Muslim! Bagaimana mungkin saya memakai hijab setiap hari?” Seiring waktu, Ayana malah semakin jatuh cinta dengan Islam, bahkan sekitar satu tahun terakhir sebelum masuk Islam, dia belajar sangat keras tentang Islam.

“Sebenarnya saya tidak mengalami banyak kesulitan dan penderitaan dalam perjalananku untuk mengatahui tentang Islam sebagaimana yang kalian kira…. Jumlah Muslim di Korea masih sangat sedikit, selama jumlahnya terus bertambah saya harap ceritaku dapat memberi mereka kesempatan untuk menceritakan cerita mereka juga. Dan saya tahu banyak di antara kalian yang penasaran juga…. Saya sangat memahami persepsi dan kesalahpahaman orang-orang Korea terhadap Islam dan Muslim,” kata Ayana.

Sekarang di sinilah Ayana berada, dia sangat terbuka bagi siapapun yang ingin bertanya lebih jauh tentang Islam. Dia menjadi salah seorang pemuda Islam yang mendakwahkan Islam dengan gaya anak muda, mempromosikan Islam melalui sentuhan budaya populer dan media sosial. Kisah lengkapnya dapat disimak melalui video di bawah ini. (PH)

Bersambung ke:

Kehidupan Muslim di Korea Selatan (6): Rahman Lee Ju-Hwa, Imam Umat Islam Korea

Sebelumnya:

Kehidupan Muslim di Korea Selatan (4): Mereka yang Muda yang Berdakwah (1)

Catatan Kaki:

[1] Radu Diaconu  & Athena Tacet, “The Muslims of South Korea”, dari laman https://www.aljazeera.com/indepth/inpictures/2017/11/muslims-south-korea-171114104611451.html, diakses 12 Maret 2018.