Mozaik Peradaban Islam

Kiprah Harun al-Rasyid dalam Zaman Keemasan Islam (4): Kertas adalah Mesin Utama Peradaban Baru

in Sejarah

Last updated on May 18th, 2021 02:55 pm

Pada tahun 751 Dinasti Abbasiyah bertempur dengan Dinasti Tang dari China. Mereka tidak pernah menyangka bahwa akhir dari pertempuran ini akan mengubah sejarah dunia, yaitu terciptanya proses alih teknologi pembuatan kertas dari China ke Timur Tengah.

Ilustrasi Pertempuran Talas. Pelukis tidak diketahui.

Meskipun puncak Zaman Keemasan Islam baru terjadi satu generasi atau lebih setelah Kekhalifahan Harun al-Rasyid, namun saat dia memimpin dinasti ini dikondisikannya agar memiliki tingkat keamanan yang tinggi dan kekayaan yang melimpah. Terlebih, dia pun memeiliki rasa cinta yang tinggi terhadap ilmu pengetahuan.

Di antara kontribusi al-Rasyid untuk Zaman Keemasan Islam adalah langkah-langkah yang diambilnya untuk mendirikan tempat penyimpanan buku terbesar di dunia di Baghdad. Tempat ini kemudian akan menjadi pusat pembelajaran dan sastra yang berkembang selama hampir 450 tahun.

Di tempat ini pula gerakan penerjemahan buku-buku asing menggelora, sehingga ia nantinya akan menjadi kekuatan intelektual baru. Meskipun gerakan ini awalnya bertujuan untuk melestarikan dan menyerap ilmu dari buku-buku kuno, namun pada gilirannya ia juga memicu untuk lahirnya pemikiran-pemikiran baru.

Para cendekiawan yang bekerja di Kekhalifahan Harun al-Rasyid memanfaatkan kebijaksanaan kolektif dari setiap — dan tiap-tiap! — peradaban yang mereka temui. Mereka memulai dengan menyalin karya-karya dari Yunani dan Persia kuno.

Jaringan intelektual yang lebih luas kemudian menyebar dari sana, yaitu ketika para cendekiawan ini juga menerima buku-buku untuk diterjemahkan ke dalam bahasa China dan India, serta banyak bahasa Timur Tengah lainnya, termasuk Ibrani, Aram, Siria, dan Asiria.

Sang Khalifah sendiri dikabarkan secara pribadi tertarik kepada puisi dan filsafat. Dia juga mempekerjakan para cendekiawan untuk melakukan penelitian orisinal dalam berbagai cabang ilmu pengetahuan lain, termasuk astronomi, astrologi, kedokteran, fisika, matematika, geologi, dan metalurgi.

Salah satu sebab yang membuat petualangan Harun al-Rasyid berhasil dalam dunia pembelajaran adalah karena dia memanfaatkan pencapaian kekhalifahan sebelumnya, yaitu ketika Dinasti Umayyah berhasil mengadopsi teknologi yang dibutuhkan untuk membuat kertas.[1]

Atau dalam versi lain teknologi pembuatan kertas ini didapat pada masa Dinasti Abbasiyah itu sendiri. Pada tahun 751, tepatnya 18 bulan setelah Bani Abbasiyah menumbangkan Dinasti Umayyah, dinasti ini terlibat pertempuran dengan Dinasti Tang dari China. Para sejarawan menyebut peristiwa ini sebagai Pertempuran Talas.

Pertempuran ini bukanlah pertempuran besar apabila dibandingkan dengan pertempuran-pertempuran lainnya di dalam sejarah. Namun, bahkan para prajurit yang sedang bertarung di sana, tidak pernah menyangka bahwa hasil akhir dari pertempuran ini akan berperan penting dalam proses transmisi penemuan kunci dari China ke seluruh dunia: seni pembuatan kertas, teknologi yang akan mengubah sejarah dunia selamanya.[2]

Pertempuran ini adalah momentum pertemuan dua peradaban besar di titik terjauhnya. Wilayah Talas merupakan titik terjauh ekpansi kekuasaan China ke barat, demikian juga sebaliknya bagi Abbasiyah, wilayah ini adalah titik terjauh ekspansi kekuasaannya ke timur. Di titik ini interaksi antar dua kekuatan adidaya ini bertemu dan saling mengenal.

Alih-alih memperpanjang perselisihan, setelah pertempuran Talas, kedua peradaban ini justru menjalin hubungan yang lebih baik. Hanya empat tahun setelahnya, saat Dinasti Tang kewalahan menghadapi pemberontakan An Lushan, Kaisar Tang meminta bantuan dari Khalifah Abbasiyah untuk memadamkannya.[3]  

Dan setelah 40 tahun berlalu, hubungan kedua negara menjadi sangat erat, yaitu pada masanya  Harun al-Rasyid. Pada masa ini pembuatan kertas dalam skala besar yang biayanya terjangkau – yang teknologinya diadopsi dari China – secara radikal mengubah proses penerjemahan dan memungkinkan penyebaran secara luas melalui cara sederhana untuk menghasilkan banyak salinan dari judul buku apa pun.

Puluhan juru tulis diperlukan untuk pekerjaan terjemahan dan untuk memproduksi banyak salinan dari masing-masing judul. Orang-orang non-Muslim, baik itu Yahudi, Kristen, Zoroastrian, dan cendekiawan-cendekiawan lainnya semuanya bekerja dan dibayar dengan baik. Pekerjaan seperti itu sangat dicari, tanpa memandang ras atau agama.

Ketika orang-orang elit Baghdad yang kaya raya melihat minat dan investasi yang ditanamkan Harun al-Rasyid ke dalam ilmu pengetahuan, mereka memutuskan untuk memberikan sejumlah uang ke arah yang seperti itu juga.

Segera setelahnya para pedagang kaya dan orang-orang militer mensponsori upaya skolastik mereka sendiri. Setelah memulai dengan terjemahan manual matematika dan taktis dari Persia, India, dan China, orang-orang Baghdad sendirilah yang kemudian menghasilkan karya-karya orisinil milik mereka sendiri.[4] (PH)

Bersambung ke:

Sebelumnya:

Catatan kaki:


[1] Eamonn Gearon, The History and Achievements of the Islamic Golden Age (The Great Courses: Virginia, 2017), hlm 24.

[2] Kallie Szczepanski, “The Battle of Talas”, dari laman https://www.thoughtco.com/the-battle-of-talas-195186, diakses 15 Juli 2021.

[3] Lebih detail mengenai hal ini silakan lihat “Pertempuran Talas 751 M (3): Produksi Kertas Skala Besar, Adaptasi Teknologi dari China”, dari laman https://ganaislamika.com/pertempuran-talas-751-m-3-produksi-kertas-skala-besar-adaptasi-teknologi-dari-china/, diakses 15 Juli 2021.

[4] Eamonn Gearon, Op.Cit., hlm 24-25.

Leave a Reply

Your email address will not be published.

*