Mozaik Peradaban Islam

Kisah Abu Bakar Ash-Shiddiq (10): Syahadat

in Tokoh

Last updated on May 9th, 2020 10:16 am

Abu Bakar berkata, “Kata mereka, Allah telah mengutusmu kepada kami agar kami mengibadahi-Nya dan tidak mempersekutukan-Nya dengan apa pun juga.” Muhammad bertanya, “Dan apa jawabanmu kepada mereka, wahai Atiq?”

Foto ilustrasi: Lukisan karya Ludwig Deutsch (Austrian-born French Academic Painter, 1855-1935) “The Philosopher”. Sumber: eastwestdialogue.org

Setelah sampai di rumah dan melepas rindu bersama keluarganya, Abu Bakar merenung. Dia bertanya-tanya di dalam hatinya, apakah Muhammad berbohong, dengan pengakuannya sebagai Nabi? Jika berbohong, maka batal sudah seluruh reputasinya sebagai al-Amin selama ini. Tapi nuraninya lebih memilih mengatakan bahwa Muhammad tidak berbohong.

Namun pertanyaan lain muncul, apa untungnya jika Muhammad mengaku dirinya sebagai Nabi? Bukankah Muhammad sendiri telah menyaksikan bagaimana orang-orang Quraisy meneriaki Zaid bin Amr bin Nufail, penganut agama Ibrahim yang sudah sepuh itu, meskipun dia tidak membawa agama baru?

Apa akibat yang akan diterima Muhammad setelah dia mengaku dirinya sebagai Nabi? Jika ini sekadar mencari sensasi, maka dia akan menerima hukuman-hukuman yang begitu berat dari orang-orang Quraisy. Hanya orang yang tidak waras yang mau menempuh jalan seperti itu.

Namun pikiran Abu Bakar kembali lagi ke sosok Muhammad: dia tidak pernah berbohong, dia tidak mendapatkan keuntungan apa pun dari pengakuannya sebagai Nabi, dan dia orang yang sehat jiwanya (bukan orang gila).

Jika semua prasangka terhadap kemungkinan-kemungkinan keburukkan watak Muhammad di atas tertolak, dengan demikian Abu Bakar menyimpulkan: Pertama, bahwa itu adalah memang risalah yang harus dilaksanakan oleh pembawanya. Kedua, bahwa itu adalah tugas yang diberikan oleh Penguasa mutlak yang tidak dapat dibantah oleh orang pilihan-Nya.

Setelah sampai pada suatu kesimpulan, maka Abu Bakar melangkahkan kakinya ke rumah Muhammad.[1]

Di rumahnya, Muhammad (40 tahun) tinggal bersama istrinya, Khadijah (55 tahun), dan kedua putrinya, yaitu Ummu Kultsum (15 tahun) dan Fatimah (5 tahun).

Sementara itu dua putrinya yang lain, yang lebih tua, telah keluar dari rumah itu dan tinggal bersama suaminya masing-masing, mereka adalah Zainab (19 tahun) dan Ruqayyah (17 tahun).

Selain itu, di rumah itu ada anak laki-laki yang berbadan kurus, dia adalah sepupu Muhammad, Ali bin Abi Thalib (11 tahun); pembantu Muhammad, Zaid bin Haritsah; dan istri Zaid, Ummu Aiman (58 tahun).[2]  

Setibanya di rumah Muhammad, Abu Bakar mengetuk pintu. Muhammad menyambutnya dengan wajah yang ramah, kemudian dipanggilnya Khadijah, “Dia adalah Atiq, hai Khadijah.”

Lalu terjadi dialog di antara mereka, “Benarkah apa yang disampaikan oleh orang-orang itu, wahai teman sebangsa?” tanya Abu Bakar kepada Muhammad.

“Apa yang mereka sampaikan kepadamu?” tanya Muhammad.

“Kata mereka, Allah telah mengutusmu kepada kami agar kami mengibadahi-Nya dan tidak mempersekutukan-Nya dengan apa pun juga.”

“Dan apa jawabanmu kepada mereka, wahai Atiq?”

“Kataku kepada mereka, ‘Jika demikian, maka benarlah dia.’.”

Mendengarnya, Muhammad kemudian berurai air mata dan memeluk Abu Bakar. Dipeluknya Abu Bakar, lalu dicium keningnya. Muhammad lalu menceritakan kepada Abu Bakar mengenai peristiwa yang dia alami di gua Hira, tidak ketinggalan dibacakannya pula wahyu yang dia terima waktu itu:

“Bacalah dengan (menyebut) nama Tuhanmu Yang menciptakan, Dia telah menciptakan manusia dari segumpal darah. Bacalah, dan Tuhanmulah Yang Maha Pemurah, Yang mengajar (manusia) dengan perantaran kalam, Dia mengajar kepada manusia apa yang tidak diketahuinya.” (Q.S Al-Alaq [96]: 1-5)

Sementara itu Abu Bakar menundukkan kepalanya dengan khidmat, sebagai bentuk penghormatan terhadap ayat-ayat Allah yang sedang dibacakan di depannya. Setelahnya, dia mengangkat kepalanya dan dengan kedua tangannya dipegangnya tangan Muhammad seraya berkata:

“Aku bersaksi bahwa engkau adalah orang yang benar dan terpercaya. Aku bersaksi bahwa tidak ada Tuhan selain Allah, dan aku bersaksi bahwa Muhammad adalah Rasululullah.”[3]

Demikianlah, dengan kesaksiannya ini, Abu Bakar telah menyatakan bahwa dirinya masuk Islam. Dia menerima tanpa ragu apa yang diceritakan Rasulullah SAW kepadanya. Sejarawan Muhammad Husain Haekal menyatakan, bahwa sesungguhnya tidak mengherankan jika Abu Bakar langsung menerima Islam, sebab, dari sejak awal dia adalah seorang sosok pemikir yang, meskipun secara diam-diam, menilai bahwa penyembahan kepada berhala itu adalah suatu kebodohan.

Mengenai masuknya Abu Bakar kepada Islam, pada lain kesempatan Rasulullah SAW bersabda, “Tak seorang pun yang pernah kuajak memeluk Islam yang tidak tersendat-sendat dengan begitu berhati-hati dan ragu, kecuali Abu Bakar bin Abi Quhafah. Dia tidak menunggu-nunggu dan tidak ragu ketika kusampaikan kepadanya.”[4] (PH)

Bersambung ke:

Sebelumnya:

Catatan Kaki:


[1] Khalid Muhammad Khalid, Mengenal Pola Kepemimpinan Umat dari Karakteristik Perihidup Khalifah Rasulullah, diterjemahkan oleh Mahyuddin Syaf (CV. Diponegoro: Bandung, 1984), hlm 47-49.

[2] O. Hashem, Muhammad Sang Nabi: Penelusuran Sejarah Nabi Muhammad Secara Detail (Ufuk Press: Jakarta, 2007), hlm 69.

[3] Khalid Muhammad Khalid, Op.Cit., hlm 50-51.

[4] Muhammad Husain Haekal, Abu Bakar As-Siddiq: Sebuah Biografi, diterjemahkan dari Bahasa Arab ke Bahasa Indonesia oleh Ali Audah (Litera Antar Nusa: Jakarta, 2003, Cet. Ketiga), hlm 5-6.

Leave a Reply

Your email address will not be published.

*