Mozaik Peradaban Islam

Kisah Abu Bakar Ash-Shiddiq (16): Membebaskan para Budak

in Tokoh

Last updated on May 18th, 2020 02:43 pm

Bilal digelandang menuju padang pasir, ditelanjangi kemudian ditindih dengan batu panas.  Abu Bakar datang dan berseru, “Apakah kalian akan membunuh seorang laki-laki karena mengatakan bahwa Tuhanku ialah Allah?”

Foto ilustrasi: dailystormer.su

Al-Tabari dalam Tarikh al-Rusul wa al-Muluk berkata:

Tiga tahun setelah penetapan misinya (sebagai Nabi), Allah memerintahkan Nabi-Nya untuk memberitakan pesan ilahi yang telah diterimanya, untuk menyatakannya di depan umum kepada orang-orang, dan menyeru mereka kepada hal itu. Allah berfirman kepadanya:

“Maka sampaikanlah olehmu secara terang-terangan segala apa yang diperintahkan (kepadamu) dan berpalinglah dari orang-orang yang musyrik.” (QS Al-Hijr [15]: 94)

Dalam tiga tahun misi sebelumnya, sampai beliau diperintahkan untuk menyeru orang-orang secara terbuka kepada Allah, beliau tetap merahasiakan dakwahnya dan (melakukannya) secara diam-diam. Kemudian Allah mewahyukan:

“Dan berilah peringatan kepada kerabat-kerabatmu yang terdekat, dan rendahkanlah dirimu terhadap orang-orang yang mengikutimu, yaitu orang-orang yang beriman. Jika mereka mendurhakaimu maka katakanlah: ‘Sesungguhnya aku tidak bertanggung jawab terhadap apa yang kamu kerjakan.’.” (QS Asy-Syuara [26]: 214-216)[1]

Setelah Rasulullah SAW mulai melancarkan dakwahnya secara terang-terangan di Makkah. Pada awalnya orang-orang kafir Quraisy mencoba membendung dakwah Rasulullah dengan cara-cara yang relatif “sopan”, dalam artian tidak melampaui batas sampai ke arah fisik.

Mereka melontarkan ejekan, menghina, mengolok-olok, dan menjadikan Muslim sebagai bahan tertawaan. Mereka juga menjelek-jelekkan ajaran Rasulullah, membangkitkan keraguan-keraguan, dan menyebarkan anggapan-anggapan yang menyangsikan ajaran Islam.

Selain itu, mereka menyebarkan dongeng-dongeng terdahulu agar orang-orang yang sudah pernah mendengarkan ayat Alquran melupakan isinya. Dengan dongeng-dongeng ini mereka berusaha membuat sibuk orang-orang agar mereka meninggalkan Alquran.

Dan yang terakhir, mereka berusaha membuat beberapa penawaran, atau kompromi. Orang-orang Quraisy mengajukan penawaran kepada Nabi Muhammad untuk mempertemukan Islam dan Jahiliyah di jalan tengah.

Di antaranya, sebagaimana diriwayatkan oleh Ibnu Jarir dan ath-Thabrani, mereka meminta agar Rasulullah menyembah sesembahan mereka selama setahun, dan untuk setahun berikutnya barulah mereka menyembah Tuhannya Muhammad.

Namun, setelah berbulan-bulan cara-cara di atas dinilai tidak membuahkan hasil, dan dakwah Islam tetap berjalan, maka orang-orang kafir Quraisy berkumpul kembali, dan bahkan membentuk kepanitiaan khusus yang terdiri dari 25 orang pemuka Quraisy. Pemimpin mereka adalah Abu Lahab, paman Rasulullah sendiri.

Setelah bermusyawarah dan beradu argumentasi, akhirnya mereka membuat keputusan bulat untuk menghadang Rasulullah dan sahabat-sahabatnya dengan cara baru, yakni dengan mengganggu Rasulullah, menyiksa orang-orang yang masuk Islam, dan menghadang mereka dengan berbagai siasat dan cara. [2]  

Salah satu pemuka Quraisy, Abu Jahal, kemudian melancarkan ancaman dan gertakan kepada Muslim, “Engkau berani meninggalkan agama nenek moyangmu padahal mereka lebih baik daripadamu! Akan kamu uji sampai di mana ketabahanmu, akan kami jatuhkan kehormatanmu, akan kami rusak perniagaanmu, dan akan kami rusak harta bendamu!”[3]

Kepada Rasulullah sendiri, yang tadinya mereka masih berusaha menghormati karena beliau dilindungi oleh Abu Thalib, paman Rasulullah yang merupakan tokoh Makkah dan keberadaannya sangat diperhitungkan, kini mulai berani. Mulai dari mengumpat, melempari batu, hingga melempari kotoran, itu semua mereka lakukan terhadap Rasulullah.

Pernah suatu waktu, sebagaimana diriwayatkan oleh Abdullah bin Masud, Nabi Muhammad salat di dekat Kabah, sedangkan Abu Jahal dan teman-temannya sedang duduk-duduk. Sebagian di antara mereka ada yang berkata kepada sebagian yang lain, “Siapakah di antara kalian yang berani mengambil kotoran unta yang disembelih di Bani Fulan, dan meletakkannya di punggung Muhammad selagi sedang salat?”

Maka manusia yang paling celaka, Uqbah bin Abu Muith yang melaksanakannya. Dia menunggu dan mengintai. Tatkala beliau sedang sujud kepada Allah, maka dia meletakkan kotoran itu di antara pundak beliau. Mereka kemudian tertawa terbahak-bahak, sampai badan mereka terguncang-guncang mengenai teman di sampingnya.

Saat itu Rasulullah yang sedang bersujud tetap bersujud dan tidak mengangkat kepalanya, hingga Fatimah datang menghampiri beliau, lalu membuang kotoran itu dari punggungnya. Baru setelah itu beliau mengangkat kepala.[4]

Meski demikian, gangguan-gangguan semacam itu tidak begitu berarti bagi Rasulullah karena beliau memiliki kepribadian yang tiada duanya, berwibawa, dan dihormati oleh setiap orang. Di samping itu, bagaimanapun beliau masih mendapat perlindungan dari Abu Thalib, pamannya, sekaligus orang yang paling dihormati dan disegani di Makkah.[5]

Tetapi lain halnya dengan orang-orang beriman yang berasal dari kalangan penduduk Makkah yang lemah dan miskin, atau dari golongan budak belian, orang-orang Quraisy bisa melakukan hal yang jauh melampaui batas terhadap mereka.[6]

Setiap kabilah menyiksa siapapun yang condong kepada Islam dengan berbagai macam siksaan. Sedangkan bagi orang-orang yang tidak memiliki kabilah, maka mereka akan diserahkan kepada para pemuka kaum, untuk mendapatkan berbagai macam tekanan.[7]

Membebaskan para Budak

Dengan latar belakang seperti yang digambarkan di atas, beberapa budak yang telah masuk Islam mengalami penyiksaan dari orang-orang Quraisy, salah satunya adalah Bilal bin Rabah. Setelah berhari-hari disiksa, Bilal digelandang menuju padang pasir, ditelanjangi kemudian ditindih dengan batu panas.

Sementara dia disiksa, datanglah Abu Bakar as-Shiddiq, dia berseru, “Apakah kalian akan membunuh seorang laki-laki karena mengatakan bahwa Tuhanku ialah Allah?”

Kemudian dia berkata kepada Umayyah bin Khalaf, tuan pemilik Bilal, “Terimalah ini untuk tebusannya, lebih tinggi dari harganya, dan bebaskan dia!”

Umayyah adalah seorang saudagar, dia melihat peluang keuntungan di sana, ketimbang membunuhnya, lebih baik dia menjualnya karena akan mendatangkan uang. Umayyah setuju dengan penawaran Abu Bakar.

“Bawahlah dia! Demi Lata dan Uzza, seandainya harga tebusannya tak lebih dari satu ugia, pastilah dia akan kulepas juga,” kata Umayyah.

Abu Bakar kemudian menjawab, “Demi Allah, seandainya kalian tidak hendak menjualnya kecuali seratus ugia, pastilah akan kubayar juga!” Demikianlah akhirnya Bilal memperoleh kebebasannya.

Kemudian pergilah Abu Bakar sambil mengepit Bilal untuk menemui Nabi Muhammad SAW, dan menyampaikan berita gembira tentang kebebasan Bilal sebagai orang merdeka.[8]

Dalam riwayat terkait, Ibnu Abi Hatim meriwayatkan bahwa Ibnu Masud mengatakan bahwa Abu Bakar membeli Bilal dari Umayyah bin Khalaf dan Ubayy bin Khalaf dengan jubah dan sepuluh keping perak (masing-masing kira-kira satu ons), kemudian membebaskannya untuk Allah.

Kemudian Allah menurunkan wahyu, “Demi malam apabila menutupi (cahaya siang)…. (dan seterusnya hingga ayat ke-3)…. sesungguhnya usaha kamu memang berbeda-beda.” (QS Al-Lail [92]: 1-4), yang berarti usaha Abu Bakar, Umayyah, dan Ubayy.[9]

Dalam riwayat lainnya Ibnu Abi Hatim dan at-Tabarani meriwayatkan, Urwah mengatakan bahwa Abu Bakar ash-Shiddiq membebaskan tujuh orang (budak), yang masing-masing disiksa karena Allah, dan ayat tentangnya kemudian turun, “Dan kelak akan dijauhkan orang yang paling takwa dari neraka itu….” (QS Al-Lail [92]: 17-21), sampai dengan akhir surat itu.[10]

Mengenai peran Abu Bakar dalam membebaskan para budak, sejarawan sejarawan Muhammad Husain Haekal berkata, “Ketika dia (Abu Bakar) masuk Islam, hartanya tak kurang dari empat puluh ribu dirham yang disimpannya dari hasil perdagangan. Dan selama dalam Islam dia terus berdagang dan mendapat laba yang cukup besar.

“Tetapi setelah hijrah ke Madinah sepuluh tahun kemudian, hartanya itu hanya tinggal lima ribu dirham. Sedang semua harta yang ada padanya dan yang disimpannya, kemudian habis untuk kepentingan dakwah, mengajak orang ke jalan Allah dan demi agama dan Rasul-Nya.

“Kekayaannya itu digunakan untuk menebus orang-orang lemah dan budak-budak yang masuk Islam, yang oleh majikannya disiksa dengan pelbagai cara, tak lain hanya karena mereka masuk Islam.”[11] (PH)

Bersambung ke:

Sebelumnya:

Catatan Kaki:


[1] Al-Tabari, Tarikh al-Rusul wa al-Muluk: Volume 6, diterjemahkan ke bahasa Inggris oleh W. Montgomery Watt dan M. V. McDonald (State University of New York Press: New York, 1988), hlm 88.

[2] Shafiyyur-Rahman Al-Mubarakfury, Sirah Nabawiyah, terjemahan ke bahasa Indonesia oleh Kathur Suhardi (Jakarta: Pustaka Al-Kautsar, 2001), hlm 114-118.

[3] Khalid Muhammad Khalid, Karakteristik Perihidup 60 Sahabat Rasulullah, diterjemahan ke bahasa Indonesia oleh Mahyuddin Syaf, dkk (CV Penerbit Diponegoro: Bandung, 2001), hlm 246.

[4] Abdullah bin Masud, diriwayatkan kembali oleh Bukhari, dikutip dalam Shafiyyur-Rahman Al-Mubarakfury, Op.Cit., hlm 120.

[5] Shafiyyur-Rahman Al-Mubarakfury, Ibid., hlm 123.

[6] Khalid Muhammad Khalid, Loc.Cit.

[7] Shafiyyur-Rahman Al-Mubarakfury, Loc.Cit.

[8] Khalid Muhammad Khalid, Op.Cit., hlm 107-108.

[9] Jalal ad-Din as-Suyuti, Tarikh al-Khulafa, diterjemahkan ke dalam Bahasa Inggris dengan judul The History of the Khalifahs who took the right way oleh Abdassamad Clarke (Ta-Ha Publishers Ltd: Turki, 1995), hlm 27.

[10] Ibid., hlm 28.

[11] Muhammad Husain Haekal, Abu Bakar As-Siddiq: Sebuah Biografi, diterjemahkan dari Bahasa Arab ke Bahasa Indonesia oleh Ali Audah (Litera Antar Nusa: Jakarta, 2003, Cet. Ketiga), hlm 8.

Leave a Reply

Your email address will not be published.

*