Mozaik Peradaban Islam

Kisah Abu Bakar Ash-Shiddiq (24): Konspirasi Pembunuhan Nabi (1)

in Tokoh

Last updated on June 4th, 2020 02:31 pm

Ketika orang-orang Quraisy berkumpul, Iblis datang dengan menyaru sebagai seorang lelaki tua. Dia berkata, “Mungkin kalian tidak akan kurang menilai jika (mendengar) nasihat yang baik darinya.”

Foto ilustrasi: Lukisan karya Frederick Arthur Bridgman (1847–1928), The Messenger, dibuat tahun 1879. Sumber: Public Domain

Pada akhirnya, cepat atau lambat, orang-orang Quraisy mengetahui bahwa Rasulullah telah memperoleh baiat dari penduduk Yatsrib yang terkenal memiliki kemampuan berperang yang tangguh. Selain itu, mereka juga menyadari bahwa posisi  Yatsrib sangat strategis bagi sektor perdagangan, karena ia adalah jalur kafilah melalui pesisir Laut Merah menuju ke Syam.

Omset perdagangan penduduk Makkah sendiri dari perdagangan ke Syam dapat mencapai empat juta dinar emas setiap tahunnya, belum lagi jika ditambah dengan penduduk Thaif dan lainnya. Kelancaran perdagangan ini sepenuhnya bergantung kepada faktor keamanan para kafilah selama dalam perjalanan.

Orang Quraisy mana pun akan menyadari bahaya besar yang mengancam jika penduduk Yatsrib masuk Islam dan melakukan perlawanan kepada mereka. Terlebih, mereka juga tahu bahwa Muhammad adalah sosok pemimpin sempurna yang dengan mudah dapat “membius” para pengikutnya.[1]

Mengenai hal ini, al-Tabari berkata:

Ketika orang-orang Quraisy mengetahui bahwa Rasulullah telah mendapatkan pengikut dan sahabat dari suku selain diri mereka sendiri dari daerah selain mereka (yakni suku-suku Arab di Yatsrib [Madinah]), dan ketika mereka melihat sahabatnya yang berhijrah akan bergabung dengan mereka, mereka menyadari bahwa orang-orang ini (Muslim) telah menemukan sebuah rumah dan menjadi aman dari serangan mereka.

Orang-orang Quraisy sekarang menjadi khawatir jika Rasulullah pergi ke penduduk al-Madinah karena mereka tahu bahwa dia telah memutuskan untuk bergabung dengan orang-orang Madinah untuk berperang melawan Quraisy.

Karena itu mereka mengadakan pertemuan untuk membahas masalah ini di Darun Nadwah, sebelumnya ini adalah rumah milik Qushay bin Kilab, tempat orang-orang Quraisy mengambil keputusan, dan di sana mereka mempertimbangkan apa yang harus dilakukan mengenai Rasulullah, semenjak mereka menjadi ketakutan kepadanya.[2]

Darun Nadwah berasal dari kata dar yang berarti rumah dan nadwah yang berarti pertemuan atau bertukar kata. Pertama kali dibangun oleh kakek dari kakek ayah Nabi yang bernama Qushay bin Kilab.

Balai ini terletak di rumah Qushay sendiri dan dibuat sebagai tempat pertemuan tokoh-tokoh semua kabilah Quraisy untuk memecahkan persoalan penting di kalangan mereka seperti memilih dan mengangkat pemimpin, mengatasi perang antar suku, membina perdamaian, perkawinan, makan bersama, dan lain-lain.

Mawardi dalam al-Ahkam al-Sulthaniyah mengatakan bahwa Darun Nadwah adalah bangunan pertama di Makkah (setelah Kabah).

Para penyair terdahulu telah menyusun syair-syair untuk mengabadikan nama Qushay dan balai pertemuan yang dibangunnnya, misalnya seperti ini:

Bapak kalian adalah Qushay yang pertama kali mengajak kalian berkumpul,

Melaluinya Allah menghimpun kabilah Arab dari berbagai suku.

Sejarawan mengisahkan bahwa Hakim bin Haram telah membeli balai ini dari ahli waris Qushay dan Muawiyah bin Abu Sufyan membelinya kembali dengan harga 100.000 dinar. Sekarang Darun Nadwah telah menjadi bagian dari Masjidil Haram ketika masjid itu diperluas. Letaknya di sebelah barat laut Masjid. Di dekatnya terdapat sebuah pintu yang dinamai Bab an-Nadwah.[3]

Selanjutnya, mengenai apa yang terjadi dan dibicarakan di sana, mari kita dengarkan riwayat dari Ibnu Abbas:

Mereka berkumpul bersama untuk tujuan ini dan pada waktu yang telah ditetapkan pergi ke Darun Nadwah untuk berunding di sana tentang Rasulullah. Pada pagi hari yang telah ditentukan (hari yang disebut al-Zahmah) mereka pergi ke sana, dan Iblis menemui mereka dalam bentuk seorang lelaki tua terhormat yang mengenakan pakaian kasar dan berdiri di pintu rumah.

Ketika mereka melihatnya berdiri di pintu, mereka berkata, “Siapakah orang tua ini?”

Dia berkata, “Aku adalah seorang lelaki tua dari Najd yang telah mendengar apa yang akan kalian bahas dan telah hadir bersama kalian untuk mendengar apa yang akan kalian katakan; mungkin kalian tidak akan kurang menilai jika (mendengar) nasihat yang baik darinya.”

Mereka menjawab, “Tentu saja, masuklah,” maka dia masuk bersama mereka.

Semua bangsawan Quraisy, dari setiap kabilah, telah berkumpul di sana; dari Bani Abd Shams, Shaybah dan Utbah, anak-anak Rabiah dan Abu Sufyan bin Harb; dari Banu Nawfal bin Abd Manaf, Tuaymah bin Adi, Jubair bin Mutim, dan al-Harits bin Amir bin Nawfal; dari Banu Abd al-Dar bin Qushay, al-Nadr bin al-Harits bin Kaladah; dari Banu Asad bin Abd al-Uzza, Abu al-Bakhtari bin Hisyam, Zamah bin al-Aswad bin al-Muttalib, dan Hakim bin Hizam; dari Banu Makhzum, Abu Jahal bin Hisyam; dari Bani Sahm, Nubayh dan Munabbih, putra-putra al-Hajjaj; dan dari Bani Jumah, Umayyah bin Khalaf. Selain itu ada yang lainnya, beberapa dari Quraisy dan yang lainnya tidak dihitung sebagai Quraisy.[4] (PH)

Bersambung ke:

Sebelumnya:

Catatan Kaki:


[1] Shafiyyur-Rahman Al-Mubarakfury, Sirah Nabawiyah, terjemahan ke bahasa Indonesia oleh Kathur Suhardi (Jakarta: Pustaka Al-Kautsar, 2001), hlm 217.

[2] Al-Tabari, Tarikh al-Rusul wa al-Muluk: Volume 6, diterjemahkan ke bahasa Inggris oleh W. Montgomery Watt dan M. V. McDonald (State University of New York Press: New York, 1988), hlm 140.

[3] O. Hashem, Muhammad Sang Nabi: Penelusuran Sejarah Nabi Muhammad Secara Detail (Ufuk Press: Jakarta, 2007), hlm 97-98.

[4] Al-Tabari, Op.Cit., hlm 140-141.

Leave a Reply

Your email address will not be published.

*