Kisah Uzair: Orang yang Dianggap “Anak Allah” Oleh Kaum Yahudi (2)

in Studi Islam

Last updated on July 2nd, 2019 08:09 am

Agak berbeda dengan umumnya ahli tafsir, M. Quraish Shibab menjelaskan bahwa, sosok yang dimaksud dalam QS. al-Baqarah: 259, belum tentu uzair. Sebab dalam ayat tersebut tidak dijelaskan siapa orang itu, sebagaimana ayat sebelumnya (QS. al-Baqarah: 258) tidak menjelaskan siapa penguasa yang mendebat Ibrahim as. Memang hampir semua uraian Alquran tentang peristiwa tidak menjelaskan siapa pelakunya, kapan dan di mana peristiwa itu terjadi. Sebab yang dipentingkan adalah pelajaran yang harus diambil dari peristiwa itu.

Gambar ilustrasi. Sumber: telemedellin.tv

Sebagaimana sudah disebutkan pada edisi terdahulu, bahwa umumnya kaum salaf dan kaum khalaf berpendapat bahwa Uzair adalah pahlawan dalam kisah yang diceritakan oleh Allah SWT dalam QS. Al-Baqarah: 259, yang artinya:

AllahSWT berfirman: “Atau apakah (kamu tidak memperhatikan) orang yang melalui suatu negeri yang (temboknya) telah roboh menutupi atapnya. Dia berkata: ‘Bagaimana Allah menghidupkan kembali negeri ini setelah hancur?’, maka Allah mematikan orang itu seratus tahun, kemudian menghidupkannya kembali. Allah bertanya: ‘Berapa lama hamu tinggal di sini ?’ Ia menjawab: ‘Saya tinggal di sini sehari atau setengah hari.’ Allah berfirman: ‘Sebenarnya kamu tinggal di sini selama seratns tahun lamanya; lihatlah kepada makanan dan minumanmu yang belum berubah; dan lihatlah kepada keledaimu itu (yang telah menjadi tulang-belulang): Kami akan menjadikan kamu tanda kekuasaan Kami bagi manusia; dan lihatlah kepada tulang-belulang keledai itu, kemudian Kami menyusunnya kembali, kemudian Kami membalutnya dengan daging.’ Maka tatkala telah nyata kepadanya (bagaimana Allah menghidupkan yang telah mati) dia pun berkata: ‘Saya yakin bahwa Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu.'”

Dalam Tafsir Jalalain, Jalaluddin As-Suyuthi dan Jalaluddin Muhammad ibnu Ahmad Al-Mahally menjelaskan kemungkinan tafsir ayat tersebut adalah sebagai berikut:[1]

“(Atau) tidakkah kamu perhatikan (orang) ‘kaf‘ (أَوْ كَالَّذِي) hanya tambahan belaka (yang lewat di suatu negeri). Orang itu bernama Uzair dan lewat di Baitulmakdis dengan mengendarai keledai sambil membawa sekeranjang buah tin dan satu mangkuk perasan anggur (yang temboknya telah roboh menutupi atap-atapnya), yakni setelah dihancurkan oleh raja Bukhtanashar.[2]

(Katanya, “Bagaimana caranya Allah menghidupkan kembali negeri ini setelah robohnya?”) disebabkan kagumnya akan kekuasaan-Nya (Maka Allah pun mematikan orang itu) dan membiarkannya dalam kematian (selama seratus tahun, kemudian menghidupkannya). Untuk memperlihatkan kepadanya bagaimana caranya demikian itu. (Allah berfirman) kepadanya, (Berapa lamanya kamu tinggal di sini?)[3]

(Jawabnya, “Saya telah tinggal di sini sehari atau setengah hari) karena dia mulai tidur dari waktu pagi, lalu dimatikan dan dihidupkan lagi di waktu Magrib, hingga menurut sangkanya tentulah dia tidur sepanjang hari itu. (Firman Allah SWT., “Sebenarnya sudah seratus tahun lamanya kamu tinggal; lihatlah makanan dan minumanmu itu) buah tin dan perasan anggur (yang belum berubah) artinya belum lagi basi walaupun waktunya sudah sekian lama.[4]

‘Ha‘ pada ‘yatasannah‘ (يَتَسَنَّهْ), ada yang mengatakan huruf asli pada ‘sanaha’, ada pula yang mengatakannya sebagai huruf saktah, sedangkan menurut satu qiraat, tidak pakai ‘ha’ sama sekali (dan lihatlah keledaimu) bagaimana keadaannya. Maka dilihatnya telah menjadi bangkai sementara tulang belulangnya telah putih dan berkeping-keping. Kami lakukan itu agar kamu tahu, (dan akan Kami jadikan kamu sebagai tanda) menghidupkan kembali (bagi manusia. Dan lihatlah tulang-belulang) keledaimu itu (bagaimana Kami menghidupkannya) dibaca dengan nun baris di depan. Ada pula yang membacanya dengan baris di atas kata ‘nasyara‘, sedang menurut qiraat dengan baris di depan berikut zainunsyizuha‘ yang berarti Kami gerakkan dan Kami susun, (kemudian Kami tutup dengan daging).[5]

Dan ketika dilihatnya tulang-belulang itu sudah tertutup dengan daging, bahkan telah ditiupkan kepadanya roh hingga meringkik. (Maka setelah nyata kepadanya) demikian itu dengan kesaksian mata (dia pun berkata, “Saya yakin”) berdasar penglihatan saya (bahwa Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu”). Menurut satu qiraat ‘ilam‘ atau ‘ketahuilah’ yang berarti perintah dari Allah kepadanya supaya menyadari.[6] Demikian menurut Tafsir Jalalain.

Agak berbeda dengan Jalaluddin As-Suyuthi dan Jalaluddin Muhammad ibnu Ahmad Al-Mahally, M. Quraish Shihab dalam tafsir Al-Misbah tidak menyatakan secara lugas bahwa tokoh yang dikisahkan oleh ayat tersebut adalah Uzair. Menurutnya, QS. Al-Baqarah: 259 adalah satu kelompok ayat dengan QS. Al-Baqarah: 254-260. Dalam kelompok ayat tersebut Allah SWT menjelaskan sejumlah kisah yang di dalamnya tidak disebutkan secara gambang siapa sesungguhnya tokoh dalam surat tersebut.

Terkait dengan QS. Al-Baqarah: 259, M. Quraish Shibab menghubungkan kondisi tokoh dalam ayat tersebut dengan ayat sebelumnya (QS. Al-Baqarah: 258) yang artinya:

Apakah kamu tidak memperhatikan orang yang mendebat Ibrahim tentang Tuhannya (Allah) karena Allah telah memberikan kepada orang itu kekuasaan. Ketika Ibrahtm mengatakan, “Tuhanku ialah Yang menghidupkan dan mematikan, ” orang itu berkata, “Saya juga dapat menghidupkan dan mematikan. ” Ibrahim berkata, “Maka (kalau demikian) sesungguhnya Allah menerbitkan matahari dan timur, maka terbitkanlah dia dari barat, ”lalu heran terdiamlah orang kafir itu; dan Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang lalim.

Dari dasar pemikiran tersebut, M. Quraish Shihab menjelaskan kemungkinan tafsir ayat QS. Al-Baqarah: 259 adalah sebagai berikut:

Jangan menduga kekuasaan Allah menghidupkan dan mematikan, yang disinggung dalam perdebatan Nabi Ibrahim di atas, dibiarkan berlalu begitu saja. Walaupun dia tidak dikemukakan dalam konteks perdebatan, Allah mengemukakan di sini untuk menjadi peringatan dan pelajaran bagi setiap manusia.[7]

Ada seseorang yang melewati suatu negeri, tidak dijelaskan siapa orang itu, sebagaimana ayat sebelumnya tidak menjelaskan siapa penguasa yang mendebat Ibrahim as. Memang hampir semua uraian Alquran tentang peristiwa tidak menjelaskan siapa pelakunya, kapan dan di mana peristiwa itu terjadi. Sebab yang dipentingkan adalah pelajaran yang harus diambil dari peristiwa itu. Di sisi lain, hal tersebut juga untuk menunjukkan bahwa peristiwa serupa dapat saja terjadi pada setiap orang, kapan, dan di mana saja. Itu sebabnya – menurut Asy-Syarawi – jika ada kisah Alquran yang menyebut nama pelakunya, maka peristiwa itu tidak dapat terjadi lagi.[8]

Ada yang berpendapat bahwa orang yang lewat tersebut adalah Armiya bin Halqiya, salah seorang nabi Bani Israil, ada lagi yang berkata Nabi Khidir. Semua ini hanya dugaan, sebagaimana dugaan yang menyatakan bahwa negeri yang dilewatinya adalah Bait al-Maqdis.[9] (AL)

Bersambung…

Sebelumnya:

Catatan kaki:


[1] Lihat, Jalaluddin As-Suyuthi dan Jalaluddin Muhammad ibnu Ahmad Al-Mahally, Tafsir Jalalain, hal. 28

[2] Bukhtanashar adalah nama Arab dari Nabukhatnezar II. Dia adalah penguasa Babilonia yang hidup antara tahun 630-562 SM. Sejarah mencatat, Nabukhatnezar II pernah menaklukan Yehuda dan Yerusalem serta mengirim orang-orang Yahudi kepembuangan. Oleh rakyatnya dia dijuluki sebagai “Nabukhatnezar Agung”.

[3] Lihat, Jalaluddin As-Suyuthi dan Jalaluddin Muhammad ibnu Ahmad Al-Mahally, Op Cit

[4] Ibid

[5] Ibid

[6] Ibid

[7] Lihat, M. Quraish Shihab, Tafsir Al-Misbah: Pesan, Kesan dan Keserasian al-Qur’an, Vol. 1 (Ciputat: Penerbit Lentera Hati, 2005), hal. 558

[8] Ibid, hal. 559

[9] Ibid

Leave a Reply

Your email address will not be published.

*