Mariam Abou Zahab (3): “Sang Sheenogai (Si Cantik Bermata Hijau)”

in Tokoh

Last updated on January 16th, 2018 09:15 am

Kecintaannya terhadap masyarakat ini memang bersifat timbal balik – bahkan tak jarang melampai melampaui harapannya. Mariam Jan juga dikenal sebagai “Sheenogai” atau “si cantik bermata hijau” di Pashto, dan ia sering bercanda tentang jumlah proposal pernikahan yang dia dapatkan dari komandan Pakhtun selama Jihad Afghanistan.”

—Ο—

Mariam Abou Zahab adalah seorang pelaku sekaligus pengamat sebagian besar krisis yang mempengaruhi Timur Tengah dan Asia Barat sejak awal 1970an dan seterusnya. Dalam jejak perjuangannya, ia juga mengalami transisi dari sebelumnya mendukung kebebasan sekuler, beralih menjadi seorang majahidah, seperti yang umumnya dilakukan oleh masyarakat di tempat itu. Pada awal 1980-an, ia sudah banyak terlibat dalam gerakan pembebasan Palestina, dan sudah pula menghabiskan sebagian hidupnya  berjuang bersama kaum Mujahidin Afghanistan. Bahkan desas-desus yang teredar menyebutkan bahwa kegiatan tersebut masih terus dilakoninya hingga beberapa dekade berikutnya. Salah satunya, sangat mungkin ia terlibat dalam kegiatan militer melawan Soviet atas nama mujahidin Afghanistan.

Pada pertengahan 1980-an, sebuah artikel di majalah Perancis Actuel, bahkan menyarankan agar dia memimpin sekelompok pejuang Afghanistan di Afghanistan selatan. Meskipun rumor ini sebenarnya tidak memiliki dasar, namun cukup luas beredar dan menjadi legenda. Jika pun seandainya ia berjuang dan memihak perjuangan bangsa Afganistan, pada kenyataannya ia hanya membantu mendistribusikan bantuan keuangan kepada penduduk desa yang terkena dampak perang, yang  terkadang memang menjadi sarana untuk melegitimasi kehadirannya dan organisasinya di hadapan komandan kelompok mujahidin setempat.

Sebagai sukarelawan untuk Afrane,[1] sebuah organisasi non-pemerintah Prancis yang dia asosiasikan sejak 1982 dan seterusnya, Mariam juga memberikan perawatan medis kepada orang sakit dan yang terluka, menyebarkan kesadaran di kalangan wanita tentang masalah kesehatan dan mengunjungi sekolah-sekolah setempat untuk menilai kebutuhan mereka. Menurut Eric Lavertu, sukarelawan lain untuk Afrane yang kemudian bergabung dengan kementerian luar negeri Perancis, kasih sayang Mariam kepada anak-anak dan perhatiannya terhadap isu-isu perempuan mendefinisikan sifat kepribadiannya. Sisi ini membantah dugaan radikalisme yang ditautkan pada dirinya. Lebih dari itu, Mariam memiliki sisi romantis yang dengan rasa kagum masih dikenang oleh veteran Afrane yang pernah mengenalnya.

Mariam sering bepergian melintasi provinsi Ghazni, Zabol dan Kandahar, sementara kebanyakan relawan Prancis bekerja di utara Afghanistan atau sekitar Herat di barat. Untuk mendapatkan penerimaan dari populasi yang kepadanya dia membagikan bantuan, dia berkeras bahwa dana untuk pekerjaannya tidak berasal dari pemerintah Perancis. Ia menyatakan, bahwa bantuan yang dibawanya merupakan hadiah, kalaupun dianggap sebagai sumbangan, ini lebih mirip seperti zakat dan sadaqah.

Laporan misinya untuk Afrane memuat kesaksian yang unik dan sering kali menyentuh tentang dinamika sosio-ekonomi Afghanistan saat perang. Meskipun konten tersebut tidak terlalu diperhatikan oleh yang membacanya, karena mereka lebih focus pada urusan praktis dan cenderung menyederhanakan hubungan Mariam dengan penduduk lokal. Dia mencatat dengan sangat rinci tentang gangguan ekonomi agraria dan juga mendokumentasikan transformasi sektor pendidikan, menyampaikan keinginan sebagian besar masyarakat untuk sebuah perubahan khususnya di bidang pendidikan untuk anak perempuan. Dia juga menggarisbawahi peran positif madrasah di negara dimana pendidikan sekuler hampir hilang.

Mariam memperoleh pengetahuan yang mendalam tentang Afghanistan dengan mengobservasi secara langsung. Hebatnya, ia memperoleh informasi dan pengetahuan tersebut dengan melalui perjalanan berat dan berbahaya di bawah penutup burqa shuttlecock yang membatasi gerakannya dan di bawah terik matahari yang menyengat. Jean-Pierre Perrin, mantan reporter untuk Libération yang menemaninya dalam perjalanan yang sangat menantang di sepanjang pinggiran gurun Registan selama musim panas 1983, terkesan dengan keberanian dan daya tahannya: “Itu adalah perjalanan yang sangat menyakitkan. Kami harus mengendarai sepeda motor, berlari dengan unta, dan berjalan jauh. Tapi dia menoleransi semua ini, seringkali lebih baik dari saya, “kenangnya. Dia memang tidak terkalahkan, namun: seperti yang diingat Perrin, berjalan jauh di atas jalan bebatuan bukan satu hal yang mudah, terkadang dia pingsan akibat panas dan beratnya perjalanan.

Model aktifitas para relawan kemanusiaan ini yang cukup membedakannya dengan sekarang. Dahulu mereka lebih mendahului profesionalitas. Para relawan ini bekerja secara klandestin dan tanpa adanya telekomunikasi. Semua ini menempatkan mereka ke dalam situasi yang benar-benar seperti terisolasi. Ditambah lagi, Afrane meski secara umum menutupi biaya perjalanan para relawannya, namun mereka tidak digaji. Kondisi ini benar-benar menuntut komitmen professional tanpa batas bagi siapapun. Etienne Gille, salah satu pendiri Afrane, mengingat,” Begitu relawan kami menyeberang ke Afghanistan, kami tidak dapat berkomunikasi dengan mereka selama dua sampai tiga bulan.” Alih-alih menyurutkan semangatnya, penenggelaman total ini justru memperkuat ikatan Mariam Abou Zahab dengan orang Afghanistan, dan juga dengan Pakhtuns pada khususnya.[2] Kecintaannya terhadap masyarakat ini memang bersifat timbal balik – bahkan tak jarang melampuai melampaui harapannya. Mariam Jan juga dikenal sebagai “Sheenogai” atau “si cantik bermata hijau” di Pashto, dan ia sering bercanda tentang jumlah proposal pernikahan yang dia dapatkan dari komandan Pakhtun selama Jihad Afghanistan.[3]

Mariam Abou Zahab dalam salah satu misinya di selatan Afghanistan untuk NGO kemanusiaan Prancis, Afrane, pertengahan tahun1980an. Photo: Laurent Gayer

Tidak sedikit gossip beredar tentang kisah asmaranya dengan beberapa pemimpin pejuang Afganistan. Namun lagi-lagi, semua itu hanyalah rumor yang tidak mendasar. Yang pasti, Mariam memang memiliki totalitas dan kecintaan pada masyarakat Afganistan dan Pakhtun. Pandangannya tentang Taliban Afghanistan juga menimbulkan kontroversi di Perancis setelah ia berpendapat bahwa mereka adalah gerakan sosial, yang sebagian besar otonom dari badan intelijen Pakistan. Alih-alih memproyeksikan Taliban sebagai formasi kuno, dia menggambarkan mereka sebagai reaksi dari lapisan masyarakat Afghan yang lebih miskin dan lebih muda melawan elit tradisional (khans dan maliks). Dia juga melihat kebangkitan mereka sebagai pemberontakan pedesaan melawan kota-kota, yang dianggap sebagai sarang kesalahan.

Teks awalnya tentang asal usul Taliban – yang diterbitkan pada tahun 1996 di jurnal Afrane – tidak menyebutkan secara eksplisit kelas sebagai kategori sosiologis, namun secara menonjol menunjukkan analisisnya. Pendekatan ini menyandarkan tulisannya ke arus sosiologi kritis, jika bukan Marxis. Pengarus-utamaan konsepsi kelas dalam karya-karya semakin jelas dari waktu ke waktu, terutama dalam karya barunya tentang konflik sektarian di Pakistan. (AL)

Bersambung…

Mariam Abou Zahab (3); Jejak Intelektual yang Mengagumkan

Sebelumnya:

Mariam Abou Zahab (2): Seorang Aktifis Tanpa Batas

Catatan: Artikel ini merupakan adaptasi dan diterjemahkan secara bebas dari laman scroll.in, dengan judul “The Frenchwoman who fell in love with Lucknow and launched many jihads in her lifetime”. Adapun informasi-informasi lain yang tidak terdapat di artikel tersebut, kami tuliskan di catatan kaki.

Catatan kaki:

[1] AFRANE (Amitié franco-afghane), atau organisasi persahabatan Franco-Afghanistan, yang bergerak di bidang  sosial, khususnya terkait bantuan kemanusiaan di Afghanistan. Asosiasi ini menganggap bahwa akses terhadap pendidikan untuk pemuda Afghanistan merupakan kunci penting untuk rekonstruksi berkelanjutan negara ini. Mulanya, AFRANE dibentuk oleh sekelompok relawan pendukung Afghan yang mengenal negara ini pada tahun 1970. Setelah invasi Soviet, mereka memutuskan untuk memobilisasi dengan memberikan bantuan kemanusiaan. Misi pertama mereka memberikan uang dan kebutuhan dasar untuk membantu membangun kembali desa. Hibah ini mendukung berbagai inisiatif lokal termasuk pengajaran, perlindungan, pengairan, atau pertanian. Misi ini dilakukan secara sembunyi-sembunyi. Selama enam tahun pertama, 3 juta franc dikirim ke 13 provinsi. Penataan perlawanan dan pendalaman kontak dengan masyarakat setempat mendukung dukungan proyek nyata pembangunan pedesaan dan di wilayah yang lebih jauh. Lihat, http://www.afrane.org/, diakses 11 Januari 2017

[2] Pashtun (kadang juga disebut Pushtun, Pakhtun, Pashtoon, Pathan) adalah orang-orang yang tinggal di Afghanistan tenggara dan provinsi barat laut Pakistan. Mereka adalah salah satu kelompok etnis terbesar di Afghanistan. Tidak ada sejarah tertulis Pashtun di tanah mereka sendiri. Pashtun secara tradisional merupakan masyarakat nomaden (penggembala yang sering pindah untuk mencari tanah penggembalaan) dengan sebuah organisasi kesukuan yang kuat. Setiap suku dibagi menjadi klan, subkelas, dan keluarga patriarkal. Lihat, http://www.everyculture.com/wc/Afghanistan-to-Bosnia-Herzegovina/Pashtun.html, diakses 11 Januari 2018

[3] Pashtun adalah salah satu etnis tertua yang masuk ke berbagai turbulensi politik yang terjadi di Afganistan, Pakistan dan India. Di era modern sekarang mereka lebih dikenal dengan Taliban atau kelompok Jihad Afganistan. Meski begitu, tidak semua mereka adalah bagian dari Taliban, sebagian dari mereka juga bahkan ada yang menjadi lawan-lawan dari kelompok ini. lihat, http://cs.mcgill.ca/~rwest/wikispeedia/wpcd/wp/p/Pashtun_people.htm, diakses 11 Januari 2018

Leave a Reply

Your email address will not be published.

*