Mozaik Peradaban Islam

Masjid Raya Sumatera Barat

in Arsitektur

“Masjid ini dirancang khusus untuk tahan terhadap gempa bumi hingga 10 SR. Masjid ini juga bisa digunakan untuk shelter atau lokasi evakuasi bila sewaktu-waktu terjadi bencana tsunami.”

–O–

Masjid Raya Sumatera Barat atau Masjid Mahligai Minang. Photo: Ikhvan/Flickr

Jika umumnya masjid dibangun dengan kubah diatasnya, lain halnya dengan masjid Raya Sumatera Barat yang tidak memiliki kubah melainkan hanya memiliki atap khas budaya Minangkabau dengan bagian atapnya memiliki desain rumah gadang dengan empat sudut lancip, dan sedangkan bangunannya berbentuk gonjong.[1] Nama lain dari masjid ini adalah Masjid Mahligai Minang.[2]

Atap bangunan menggambarkan bentuk bentangan kain yang digunakan untuk mengusung batu Hajar Aswad. Photo: Debby Soejatna

Sementara itu referensi lain mengatakan bahwa atap bangunan sebenarnya menggambarkan bentuk bentangan kain yang digunakan untuk mengusung batu Hajar Aswad, ketika empat kabilah suku Quraisy di Mekah berselisih pendapat mengenai siapa yang berhak memindahkan batu tersebut ke tempat semula setelah Kabah selesai direnovasi. Nabi Muhammad SAW kemudian mengusulkan agar Hajar Aswad diletakkan di atas selembar kain agar masing-masing dari empat kabilah tersebut dapat mengangkatnya bersamaan.[3]

Suasana masjid di malam hari. Photo: Arjuna Nusantara

Arsitek masjid ini adalah Rizal Muslimin, juara pertama kompetisi arsitektur nasional pada tahun 2016 dalam tema religius. Desain masjid ini terinspirasi dari tiga simbol: sumber mata air, bulan sabit, dan rumah gadang.[4] Masjid ini desainnya mencoba menggabungkan unsur sejarah Islam dan tradisi Padang, yakni adat basandi syarak, syarak basandi kitabullah (adat bersendikan kepada agama, dan agama bersendikan kitabullah [al-Quran]).[5]

Kontruksi masjid bertingkat ini terdiri dari tiga lantai, lantai pertama masjid digunakan sebagai tempat wudlu dan tempat tambahan jika pada lantai utama (lantai dua) para jemaah sudah tidak bisa dimuat. Lantai kedua adalah ruang utama dalam masjid yang digunakan sebagai tempat utama shalat berjama’ah. Sedangkan lantai ketiga juga bisa difungsikan sebagai tempat alternatif untuk para jemaah shalat, ataupun bisa digunakan sebagai tempat istirahat jika pengunjung sepi.[6]

Masjid ini terinspirasi dari tiga simbol: sumber mata air, bulan sabit, dan rumah gadang. Photo: Debby Soejatna

Bangunan utama masjid memiliki luas area sekitar 40.343 meter persegi dengan daya tampung sebesar 20.000 jemaah. Lantai dasar masjid dapat menampung 15.000 jemaah, sedangkan lantai kedua dan ketiganya sekitar 5.000 jamaah. Tak hanya itu saja, masjid ini memang dirancang khusus oleh Rizal Muslimin sebagai masjid yang tahan gempa bumi hingga 10 SR. Jadi selain sebagai tempat ibadah, masjid ini juga bisa digunakan untuk shelter atau lokasi evakuasi bila sewaktu-waktu terjadi bencana tsunami.[7]

Pada bagian interior masjid, bagian mihrabnya dibuat menyerupai bentuk batu Hajar Aswad dengan atapnya yang dihiasi dengan ukiran Asma’ul Husna berwarna keemasan di sebuah latar belakang berwarna putih. Sementara itu  karpet permadaninya yang berwarna merah yang digunakan untuk sajadah ini merupakan hadiah dari pemerintah Turki.[8]

Ruang utama masjid. Photo: Sumbar Traveller
Mihrabnya dibuat menyerupai bentuk batu Hajar Aswad dengan atapnya yang dihiasi dengan ukiran Asma’ul Husna

Pada bagian dindingnya, masjid ini dihiasi oleh ukiran tempat Al-Qur’an dengan empat sudut yang memiliki filosofi yang berasal dari adat budaya Minangkabau, yakni tau di nan ampek, atau empat wahyu dari Allah (al-Qur’an, Injil, Taurat, dan Zabur). Selain ukiran tempat Al-Qur’an, terdapat ukiran segitiga dengan enam sudut didalamnya yang bermakna tiga tungku sajarangan, tiga tali sapilin (Ulama, Ninik Mamak, dan Cadiak Pandai),  mereka adalah para tokoh yang harus memegang teguh enam rukun iman sebagai pengikat dan pemersatu elemen yang ada di tengah masyarakat.[9]

 

Pembangunan Belum Selesai

Masjid Raya Sumatera Barat adalah masjid terbesar di Sumatera Barat, terletak menghadap Jalan Khatib Sulaiman, Kecamatan Padang Utara, Kota Padang. Masjid ini sebenarnya masih dalam tahap konstruksi sejak peletakan batu pertama pada 21 Desember 2007. Pembangunan dikerjakan secara bertahap karena keterbatasan anggaran dari provinsi.[10]

Berikut ini adalah tahap-tahap pembangunannya: tahap pertama, pembangunan struktur bangunan selama dua tahun sejak dimulai pada awal tahun 2008 yang menghabiskan dana 103,871 miliar. Tahap kedua, pengerjaan ruang shalat dan tempat wudlu pada tahun 2010 yang menghabiskan dana 15,288 miliar. Tahap ketiga, pemasangan keramik lantai dan eksterior masjid yang menghabiskan 31 miliar. Tahap keempat, penyelesaian ramp atau teras terbuka yang langsung menuju jalan raya yang menghabiskan dana 25,5 miliar. Dari keempat tahap tersebut sampai masjid dapat difungsikan, dana yang sudah dipakai lebih dari 175 miliar.[11]

Meski tidak rutin, Masjid Raya Sumatera Barat telah dipusatkan sebagai tuan rumah kegiatan keagamaan skala regional seperti tabligh akbar, pertemuan jemaah, penyelenggaraan Shalat Ied hingga Shalat Jumat setiap minggunya. Sejak awal tahun 2012, pemerintah provinsi memusatkan kegiatan wirid rutin jajaran pegawai negeri sipil untuk memperkenalkan masjid. Namun, sampai akhir 2017 lalu, frekuensi pemakaian masjid untuk aktivitas ibadah masih terbatas karena belum rampungnya fasilitas listrik dan ketiadaan air bersih.[12]

Pada Maret 2018, menara masjid masih belum rampung. Photo: langkan/kumparan

Adapun bangunan lainnya yang masih belum selesai adalah menara setinggi 85 meter. Menara tersebut nantinya selain digunakan untuk melihat hilal juga difungsikan untuk menjadi objek wisata di Sumbar. Meski sudah uji coba dan bisa digunakan, tetapi kemungkinan besar pembukaan menara untuk umum baru dilakukan akhir 2018 atau awal 2019 setelah proyek itu benar-benar selesai. Nilai pembangunan menara ini sebesar 19,5 miliar.[13] (PH)

 

Catatan Kaki:

[1] “Masjid Raya Sumatera Barat – Masjid Tahan Gempa Bergaya Minangkabau”, dari laman https://kontraktorkubahmasjid.com/masjid-raya-sumatera-barat-masjid-tahan-gempa-bergaya-minangkabau/, diakses 8 Juni 2018.

[2] “Masjid Mahligai Minang Julukan Masjid Raya Sumatera Barat”, dari laman https://aet.co.id/unik/masjid-mahligai-minang-julukan-masjid-raya-sumatera-barat, diakses 8 Juni 2018.

[3] “Masjid Raya Sumatera Barat”, dari laman http://www.urbane.co.id/project/masjid-raya-sumatera-barat/, diakses 8 Juni 2018.

[4] Ibid.

[5] Bayu Haryanto, “Masjid Raya Sumatera Barat, Megah dan Tahan Gempa!”, dari laman https://travel.detik.com/dtravelers_stories/u-2962987/masjid-raya-sumatera-barat-megah-dan-tahan-gempa, diakses 8 Juni 2018.

[6] “Masjid Raya Sumatera Barat – Masjid Tahan Gempa Bergaya Minangkabau”, Ibid.

[7] Bayu Haryanto, Ibid.

[8] Ibid.

[9] Ibid.

[10] I Gede Leo Agustina, “Bangganya Sumatera Barat Punya Masjid Raya nan Megah”, dari laman https://travel.detik.com/dtravelers_stories/u-3680596/bangganya-sumatera-barat-punya-masjid-raya-nan-megah, diakses 8 Juni 2018.

[11] “Masjid Raya Sumatera Barat – Masjid Tahan Gempa Bergaya Minangkabau”, Ibid.

[12] I Gede Leo Agustina, Ibid.

[13] Ani Nursalikah, “Menara Masjid Raya Sumbar Dibuka untuk Umum”, dari laman https://www.republika.co.id/berita/dunia-islam/islam-nusantara/18/04/22/p7ks17366-menara-masjid-raya-sumbar-dibuka-untuk-umum, diakses 8 Juni 2018.