Mozaik Peradaban Islam

Memaknai Revolusi Imam Husein (15): Rahasia Aspek Tempat (2)

in Studi Islam

Setiap hari adalah Asyura, dan setiap tempat adalah Karbala.”

–O–

Kompleks pemakaman Sayidina Husein hari ini. Photo: hesham102001

Pada hari pertama Muharam, Sayidina Husein dan rombongan tiba di wilayah Nainawa. Rombongan melanjutkan prosesi melewati Ghadiriyah menuju lokasi yang disebut dengan Karbala. Sebelum berhenti, Sayidina Husein menanyakan nama lokasi itu. Seseorang memberitahunya bahwa tempat itu bernama Karbala. Beliau lalu menjawab, “Memang, inilah tempat karb wa bala (kegelisahan dan prahara). Mari kita berhenti di sini karena kita telah tiba di tujuan. Ini adalah tempat kesyahidan. Inilah Karbala.”

Karbala adalah sebuah tempat yang unik dalam sejarah manusia. Nama-nama lain wilayah ini adalah Nainawa, al-Ghadariyah, dan Tepian Eufrat (syathi al-furat). Masing-masing nama itu sepertinya merujuk pada salah satu karakteristik wilayah tersebut. Sebagai pembukaan, penulis akan mengutip pasase dari tulisan Abdullah Yusuf Ali, penerjemah al-Qur’an yang sangat terkenal itu.[1]

“Dalam rangka memberikan gambaran geografis seputar tempat tragedi besar ini terjadi, saya merasa beruntung punya ingatan pribadi tentangnya. Semua ingatan itu mempertegas gambaran di benak saya, dan mungkin bisa juga membantu anda.

“Ketika saya mengunjungi tempat-tempat itu pada 1928, saya ingat datang dari Baghdad melalui sungai dengan perahu di al-Musaiyib pada pagi cerah bulan April. Benak saya meloncat ke abad-abad silam. Di sisi kiri aliran sungai itu ada tanah tua dari sejarah Babilonia. Di situ, anda menyaksikan salah satu peradaban kuno terbesar. Lantaran mungkin bercampur debu, baru beberapa tahun terakhir ini kita menyadari kebesaran dan keagungan tempat itu.

“Lalu di situ, anda menemukan arus besar sungai Eufrat, yang namanya tiada bandingannya. Sumber air yang berhulu dari berbagai tempat di pegunungan Armenia Timur mengalir meliuk-liuk melewati daerah perbukitan, dan akhirnya menyusuri gurun pasir, seperti yang kita ketahui sekarang. Di tiap cabang atau anak sungainya, ia mengubah gurun menjadi daerah perkebunan buah-buahan. Dalam ungkapan indahnya, Eufrat telah membuat gurun pasir mekar seperti mawar. Sungai ini menyusur sampai ujung Timur gurun Suriah, lalu mengaliri ke rawa-rawa.

“Di bagian yang tidak jauh dari Karbala sendiri, terdapat danau-danau yang menampung air dan menjadi sumber air untuk keperluan hidup. Ke bawah lagi, sungai ini bersatu dengan sungai lainnya, yaitu Tigris, dan gabungan aliran sungai ini dikenal sebagai Shatt al-Arab yang mengalir sampai ke Teluk Persia.”

Namun, gambaran geografis Abdullah Yusuf Ali itu belum menjelaskan rahasia tempat ini, dan mengapa sebenarnya Sayidina Husein memilih Karbala sebagai tanah kesyahidannya? Ada banyak teori yang dikemukakan untuk menjawab soal ini. Secara umum, ada dua teori saling berhubungan yang menyingkap rahasia tempat itu. Pertama, tempat ini dipilih berdasarkan isyarat Ilahi yang diterima oleh Nabi tentang kesyahidan Sayidina Husein. Oleh karena itu, saat mendengar nama Karbala, Imam Husein yang pernah mendengar isyarat Ilahi itu langsung meminta para sahabatnya untuk mendirikan tenda dan menetap di situ. Menurut teori ini, ada misteri Ilahi yang agung dalam pemilihan tempat tersebut.

Kedua, sejalan dengan teori pertama, Sayidina Husein memilih tempat ini karena dia berada di wilayah paling tua sejarah manusia, yakni Mesopotamia. Seperti sudah kita tahu, di Mesopotamia itulah manusia mulai kali pertama mencatat sejarahnya sekitar ribuan tahun sebelum Masehi. Sejak ribuah tahun itu pula, manusia telah membangun ratusan peradaban di antara Sungai Eufrat dan Tigris. Para ahli sejarah menyebut Mesopotamia (secara harfiah berarti, ‘di antara dua sungai’) sebagai cradle of civilization (buaian peradaban). Jadi, Karbala dipilih dengan kesadaran Sayidina Husein akan sebuah konteks transhistoris dari misi yang diembannya. Sayidina Husein sadar betul bahwa Karbala dapat menjadi lambang keabadian misinya. Semua manusia tertindas di muka bumi ini dapat mengaitkan dirinya dengan tanah persaksian tersebut. Dan karena itu, setelah peristiwa Asyura, di mana-mana kita mendengar slogan, “Kullu yaumin ‘asyura wa kullu ardhin Karbala” (Setiap hari adalah Asyura, dan setiap tempat adalah Karbala).

Edward G. Brown, seorang professor di Universitas of Cambridge, pernah menulis: “… Ingatan akan padang Karbala yang bersimbah darah tempat cucu Rasul gugur, tak berdaya, disiksa oleh dahaga, dan dikerubungi oleh para pembunuh keluarganya, sejak waktu itu hingga sekarang ini tetap memadai untuk menimbulkan, sekalipun di hati orang yang paling suram dan tak peduli, semua emosi yang terdalam, kesedihan yang meluap-luap, dan kebangkitan semangat yang di hadapannya semua rasa sakit, bahaya, dan kematian menjadi demikian rendah.”[2]

Derita kesyahidan, dengarlah, adalah hari kegembiraan.

Yazid tidak mendapatkan sebutir atom pun dari cinta ini.

Kematian adalah hujan (berkah) bagi anak-anak Ali.

 

WaLahu a’lam bi al-shawab. (MK)

Seri Memaknai Revolusi Imam Husein selesai.

Sebelumnya:

Memaknai Revolusi Imam Husein (14): Rahasia Aspek Tempat (1)

Catatan Kaki:

[1] Lihat, Imam Husayn and his Martyrdom–Reflections on Karbala by Abdullah Yusuf Ali (d. 1952), https://ballandalus.wordpress.com/2013/11/13/imam-husayn-and-his-martyrdom-reflections-on-karbala-by-abdullah-yusuf-ali-d-1952/, diakses 12 September 2018.

[2] Lihat, A Literary History of Persia, London, 1919, h. 227. Lhat juga, https://www.al-islam.org/nutshell/files/husaynviews-id.pdf, diakses 12 September 2018.