Mozaik Peradaban Islam

Memaknai Revolusi Imam Husein (14): Rahasia Aspek Tempat (1)

in Studi Islam

“Dalam perjalanan menuju Kufah, Sayidina Husein ditawari bantuan 20.000 tentara terlatih untuk melindunginya, namun beliau menolak. Jelas bahwa Sayidina Husein tidak menyiapkan strategi militer. Tujuannya adalah revolusi penyadaran.

–O–

Ilustrasi perjalanan Sayidina Husein. Photo: techofheart.co

Salah satu aspek penting dalam gerakan Sayidina Husein adalah tempat-tempat yang beliau lalui menuju Karbala. Belum ada riset luas mengenai signifikansi khas masing-masing tempat, tapi jelas bahwa semua tempat yang dia singgahi memiliki arti penting bagi keseluruhan strategi dan keberhasilan gerakannya.

Marilah kita mulai dengan kota yang paling penting, Mekkah. Sebagai Muslim, kita percaya bahwa inilah tempat paling suci di muka bumi. Inilah tempat pertama yang Allah bangun sebagai rumah ibadah. Di sini, Nabi Ibrahim melakukan ibadahnya yang mencerminkan tauhid dan melakukan pengorbanan terbesarnya, berupa penyembelihan Ismail. Inilah kiblat, tempat ibadah haji dan berkumpulnya manusia untuk mendekatkan diri kepada Allah. Dan dari sini pula, Nabi mengawali perjuangannya menyebarkan ajaran tauhid.

Keberangkatan Sayidina Husein dari Mekkah semakin mempertegas keserupaan kedua hijrah ini. Dia ingin menjaga keserupaan ini dalam semua dimensinya, termasuk secara lahiriah, sedemikian hingga ingatan tentang Hijrah akan membawa pada ingatan tentang Asyura. Pilihan Mekkah sebagai titik tolak ialah untuk meletakkan hijrah Nabi dan Asyura dalam satu lingkaran misi yang utuh. Barangkali dalam konteks inilah seharusnya kita memahami hadist Nabi yg berbunyi, “Husein dari ku dan aku dari Husein. Allah mencintai siapa saja yang mencintai Husein.”[1]

Setelah beranjak dari Mekkah, ada 13 persinggahan lain yang Sayidina Husein lalui sebelum tiba di Karbala. Penulis akan mengutip beberapa di antaranya dari Route of Sayidina Husein (A.S) from Mekkah to Karbala karya Syed MR Shabbar.[2] Persinggahan pertama Sayidina Husein adalah Saffah. Di sini, Sayidina bertemu dengan Farazdaq, penyair Arab yang ditanyai oleh Sayidina Husein tentang keadaan penduduk Kufah. Mendengar kata-kata Farazdaq yang sudah kita kutip sebelumnya, Sayidina Husein menjawab, “Allah telah mengambil keputusan. Aku serahkan nasibku kepada-Nya yang telah memberiku alasan yang benar untuk bergerak.”

Rute perjalanan Sayidina Husein dari Mekkah ke Karbala menurut Syed MR Shabbar. Sumber gambar: al-islam.org

Selanjutnya, Sayidina Husein singgah di Dzat al-Irq. Di tempat ini, beliau bertemu dengan Abdullah bin Ja’far yang nenyerahkan kedua anak lelakinya, Auwn dan Muhammad, kepada ibunya, Sayidah Zainab, untuk membantu Sayidina Husein. Abdullah membujuk Sayidina Husein untuk kembali ke Madinah, tapi beliau menjawab, “Nasibku di tangan Allah.” Di Zurud, kota atau desa berikutnya, Imam bertemu dengan Zuhair bin Qain. Zuhair bukan termasuk pengikut Sayidina Husein. Namun, ketika Sayidina Husein memberitahukan tujuan perjalanannya, Zuhair menitipkan semua hartanya pada istrinya dan menyuruhnya pulang sendirian, karena dia berniat menjadi syahid bersama Sayidina Husein.

Sesampainya di Zanbala, tidak jauh dari Zurud, Sayidina Husein mendengar berita syahadah Muslim bin Aqil, utusannya untuk menengok warga Kufah. Sayidina Husein berkata, “Innalilahi wa inna ilayhi raji’un. Indallahi nahtasib anfusana” (Kita berasal dari Allah dan pasti kembali kepada-Nya. Pada-Nyalah semua diri kita pasrahkan). Seseorang dari suku Asadi mencoba membujuk Sayidina Husein untuk balik, tapi beliau bergeming. Di sini, Sayidina Husein memberitahukan sahabatnya tentang kematian Muslim dan Hani, dan bahwa orang Kufah telah berkhianat. Sayidina Husein berkata, “Siapa yang ingin pergi, silahkan.” Kumpulan orang dari berbagai suku yang ikut dalam perjalanan dengan harapan mendapatkan rampasan perang menyadari harapan mereka menemui jalan buntu. Mereka pun akhirnya berpencar pulang. Hanya 50 orang yang tetap tinggal bersama Sayidina Husein.

Lalu, Sayidina Husein bermalam di Sorat dan pagi harinya beliau memerintahkan para sahabatnya untuk membawa air sebanyak mungkin. Tak jauh dari Sorat, tepatnya di desa Zuhasm, beliau bertemu dengan Hurr yang membawa pasukan 1000 orang. Mereka kehausan, lalu Sayidina Husein memerintahkan para sahabat untuk memberi air pada mereka. Sayidina Husein sendiri menolong beberapa tentara yang kehausan untuk minum. Bahkan, binatang mereka pun diberi minum. Selepas salat Zuhur berjamaah, Sayidina Husein mengabarkan pada Hurr tentang surat-surat yang dia terima dari Kufah.

Beliau berseru, “Wahai warga Kufah, kalian kirim delegasi dan ratusan surat untuk menyatakan bahwa kalian tidak punya pemimpin dan memintaku datang untuk memimpin kalian di jalan Allah. Kalian menulis bahwa kami Ahlul Bayt lebih pantas mengendalikan urusan kalian daripada para penguasa zalim dan batil. Tetapi, jika kalian mengubah putusan, mengabaikan hak kami dan melupakan janji kalian, maka aku akan kembali.”

Keesokan harinya, Sayidina Husein sampai di Baiza dan memberikan khotbahnya yang terkenal. “Wahai manusia, Nabi telah berkata bahwa jika seseorang menjumpai pemimpin tiran, menyeleweng dari jalan Allah dan Nabi dan menindas orang, tapi tidak melakukan apa-apa lewat perkataan atau tindakan untuk mengubahnya, maka keadilan Allah yang akan menghukumnya. Tidakkah kalian melihat nistanya keadaan kalian… Bukankah kalian melihat kebenaran tidak ditegakkan dan kebatilan tidak dicegah?! Patutlah bagi seorang Mukmin yang melihat keadaan demikian untuk berharap segera bertemu dengan Allah (meraih kesyahidan). Sesungguhnya aku tidak melihat kematian kecuali sebagai kebahagiaan dan kehidupan bersama orang-orang zalim kecuali sebagai kenistaan.”[3]

Di Uzaibul Hajanat, Sayidina Husein bertemu dengan Tsimmah bin Adi. Setelah mengetahui Kufah telah menelantarkan utusannya, Muslim bin Aqil, Sayidina Husein lantas tak kecil hati. Saat Tsimmah menawarkan bantuan 20.000 tentara terlatih dari sukunya untuk mengiringi beliau ke Kufah atau berlindung di pegunungan, Sayidina Husein menjawab, “Semoga Allah memberkahimu dan orang-orangmu. Aku tidak bisa menarik kata-kataku.” Dari jawaban ini jelas bahwa Sayidina Husein tidak menyiapkan strategi militer. Tujuannya adalah revolusi penyadaran. Dia tidak mencoba memobilisasi pasukan militer yang dapat dengan mudah dia lakukan sejak di Hijaz, sebagaimana dia juga tidak mengambil kesempatan mendapat kekuatan militer baru. (MK)

Bersambung…

Memaknai Revolusi Imam Husein (15): Rahasia Aspek Tempat (2)

Sebelumnya:

Memaknai Revolusi Imam Husein (13): Rahasia Aspek Waktu

Catatan Kaki:

[1] Muhibbudin Ath-Thabari, Op.Cit., hal. 231. diakses dari https://archive.org/details/ThakhayirUkba/page/n0 pada 10 Oktober 2018.

[2] Lihat, Ketigabelas tempat tersebut adalah sebagai berikut: Saffah, Dhat-el-Irq, Batn-er-Rumma, Zurud, Zabala, Klan Asadi, Batn-e-Aqeeq, Sorat, Sharaf, Zuhasm, Baiza, Uzaibul Hajana, Qasr-e-Bani Makatil. Lihat, Syed MR Shabbar, Route of Imam Husein (A.S) from Mekkah to Karbala, http://www.islamquery.com/documents/Husain%20Madina%20to%20karbala.pdf, diakses 12 September 2018

[3] Luth bin Yahya bin Said bin Mikhnaf Al-Azdi, Maqtal Al-Husien, diakses dari http://www.ar.islamic-sources.com/download/C121-maqtal%20emam%20hosin.pdf, pada Oktober 2018.