Mozaik Peradaban Islam

Memaknai Revolusi Imam Husein (13): Rahasia Aspek Waktu

in Studi Islam

Last updated on November 5th, 2018 01:10 pm

“Bagi siapapun yang pernah membaca sejarah hijrah Nabi, maka dia akan menemui banyak sekali keserupaan alur dengan hijrahnya Sayidina Husein.”

–O–

Ilustrasi hijrah. Photo: Jansen Fenstermacher

Salah satu aspek penting lain dalam peristiwa Karbala adalah waktu yang dipilih oleh Sayidina Husein untuk pergi dari Madinah sampai hari kesyahidannya. Ada keistimewaan dalam pemilihan waktu yang kita bisa telaah lebih jauh untuk menggali nilai-nilai yang dikandungnya. Pertama, sejarah merekam bahwa Sayidina Husein pergi meninggalkan Madinah menuju Mekkah pada hari ketiga Syakban tahun 60 Hijriah. Mulai hari itu sampai 8 Zulhijjah 60 H, beliau menetap di Mekkah. Di kota suci ini, Sayidina Husein bertemu dengan ribuan kaum Muslimin dari berbagai penjuru dunia. Beliau juga memberikan berbagai wejangan, sekaligus menjelaskan falsafah gerakan perlawanannya. Jelas bahwa keberadaan beliau di Mekkah pada bulan-bulan suci itu merupakan bagian dari rencana matang yang telah beliau persiapkan sejak semula. Dan Syakban dan Ramadhan adalah dua bulan yang banyak mengandung nilai kesucian dalam Islam. Pilihannya berangkat dari Madinah pada bulan Syakban jelas untuk mendukung dan memperjelas posisi kesucian gerakan beliau.

Sudah barang tentu, tidak ada waktu yang lebih tepat untuk mengingatkan kaum Muslim akan kerusakan yang ditimpakan kekuasaan Yazid atas Islam melebihi bulan Ramadhan. Selain akan mendukung pesan-pesan suci beliau, di bulan ini kebanyakan kaum Muslim berada pada tingkat kesucian yang lebih dari biasanya. Di bulan suci ini, Sayidina Husein ingin mengingatkan umat akan kewajiban tertinggi Islam yang merupakan konsekuensi langsung dari tauhid, yaitu menegakkan keadilan dan melawan penindasan.

Kedua, Sayidina Husein juga memilih pekan pertama bulan Zulhijjah, tepatnya tanggal 8, untuk memulai perjalanannya menuju Kufah. Kita tahu bahwa ibadah haji punya dimensi sosial, politik, dan ekonomi yang sangat kental. Pada momen ibadah ini, Sayidina Husein mengumandangkan manifesto gerakannya. Apalagi kita tahu bahwa dalam ibadah haji ini, Allah memerintahkan kita untuk menyatakan baraah (lepas tangan) dari kaum musyrik dan segala kejahatan. Nah, memilih bulan ini untuk menyerukan perintah baraah sangatlah strategis dan tepat sasaran.

Manakala banyak Muslim berihram untuk melaksanakan haji, cucu Nabi ini justru meninggalkan Mekkah. Beliau hanya melakukan umrah dan tidak melanjutkan haji. Setelah bertawaf mengelilingi Ka’bah dan melakukan sa’i antara Shafa dan Marwa, beliau melepas ihram. Kejutan seperti ini beliau maksudkan untuk menambah bobot gerakannya. Beliau berharap masyarakat Muslim bertanya-tanya dan mencari alasan di balik pilihan ini.

Di hadapan jamaah haji yang datang menemuinya waktu itu, Sayidina Husein mengatakan bahwa tidak ada yang dapat beliau lakukan, kecuali beranjak menyambut kesyahidan. Pada hari terakhir keberadaanya di Mekkah, Sayidina Husein berkata, “Aku bisa melihat serigala-serigala padang pasir Irak menyerangku di antara Nawawis dan Karbala lalu merobek-robek tubuhku. Mereka melakukannya demi memenuhi kantong-kantong harta mereka. Urusan mereka adalah memuaskan kerakusan, sedangkan urusanku adalah melawan kerakusan dalam masyarakat dan agama ini. Allah telah memilih kesyahidanku sebagai penyembuh dan jalan perbaikan keadaan…. Hanya orang yang siap mengorbankan nyawanya di jalan Allah yang akan menemaniku.”[1]

Sebagian pengamat sejarah mengatakan bahwa beliau bergegas keluar dari Mekkah lantaran tidak ingin para kolaborator Yazid merusak kesucian Mekkah dan membunuhnya di sana. Beliau khawatir tindakan itu akan menjadi preseden buruk bagi Islam di kemudian hari. Namun, agaknya, upaya beliau meninggalkan ihram dan berangkat menuju Kufah pada tanggal 8 itu juga untuk menunjukkan sikap yang lebih fundamental: bahwa apa yang beliau lakukan lebih penting ketimbang ibadah ritual haji. Dan ini memang tampak jelas bagi siapa saja yang pada waktu itu berkumpul mendengarkan ceramah-ceramahnya di Mekkah.

Saat Muhammad bin Hanafiyah memberitahukan bahwa orang-orang Mekkah dan jamaah haji bertanya-tanya mengapa dia pergi sehari sebelum Hari Raya Haji, Sayidina Husein meninggalkan surat kepada saudaranya yang menerangkan maksudnya dengan jelas. Surat itu antara lain berisi: “Aku tidak keluar untuk melakukan huru-hara atau penindasan. Aku ingin membawa umat ini kembali ke jalan amr makruf nahi munkar. Aku ingin mengajak mereka ke jalan kakekku Rasulullah dan ayahku Ali bin Abi Thalib.”

Ketiga, Sayidina Husein tiba di Karbala pada 2 Muharram. Dan, Muharam adalah bulan hijrah Nabi yang kemudian dijadikan tahun baru Islam. Sayidina Husein memilih tiba di sana pada awal Muharram untuk tujuan yang juga penting. Salah satu tujuannya ialah mengaitkan hijrahnya dengan hijrah Nabi. Dia ingin mengingatkan kita pada tujuan hijrah Nabi ke Madinah yang tak lain adalah membangun masyarakat Islam yang berkeadilan. Nabi tidak berhijrah untuk kekuasaan atau sejenisnya, dan demikian pula Sayidina Husein.

Tahun baru Islam ini juga beliau jadikan momentum untuk menyegarkan kembali kesadaran umat akan Islam yang dibawa Nabi Muhammad. Setidaknya, ada dua esensi Islam yang didengung-dengungkan oleh Sayidina Husein sepanjang perjalanannya, (1) tawhid, yakni tiada Tuhan dan penguasa selain Allah dan bahwa semua kekuasaan yang tidak tegak di atas perintah Allah adalah kekuasaan yang zalim; dan (2) tidak ada keunggulan satu manusia atas manusia lain, kecuali dengan ketakwaan. Dan seperti kita tahu, ketakwaan dalam Islam merupakan istilah generik untuk semua kebajikan.

Kita tahu bahwa di zaman itu, umat Islam diterpa oleh fitnah jahiliah yang mempermainkan sentimen kesukuan, fanatisme kelompok, dan semangat partisan. Banyak kalangan masyarakat Arab yang kembali menjalin koalisi kesukuan dan loyalitas kekelompokan dengan melepas persaudaraan keagamaan sehingga Sayidina Husein mendesak semua orang untuk tidak berpikir dengan landasan konyol seperti itu.

Sejak Nabi wafat hingga kebangkitan Sayidina Husein, masyarakat Islam sering terpecah berdasarkan suku (tribalisme), muhajir versus non-muhajir (partisanisme), Kufah versus Syam (regionalisme), dan sebagainya. Seperti juga kakeknya, Sayidina Husein hendak menyatakan bahwa kelebihan atau kekurangan seseorang adalah karena konsekuensi pilihan bebasnya sendiri, bukan berpijak pada hal-ihwal yang tidak bisa dipilihnya seperti garis keturunan, tempat kelahiran, dan semacamnya. Selain itu, baik Nabi maupun Sayidina Husein sebenarnya sama-sama bergerak untuk menyambut permintaan warga setempat. Mereka sama-sama bergerak dengan niat melayani, bukan memerintah atau menguasai.

Pada kali pertama perjumpaannya dengan pasukan Umar bin Saad di Karbala, Sayidina Husein menyerukan khotbahnya sebagai berikut, “Ingatlah, bila kalian melihat penguasa melanggar larangan Allah dan Rasul-Nya, bergelimang dosa dan menindas rakyat yang dipimpinnya, tetapi kalian tidak berbuat apa-apa untuk menghentikan penguasa macam itu, maka di hadapan Allah kalian dan dia sama-sama berdosa.” Lalu beliau menambahkan, “Orangtuaku tidak membesarkanku untuk tunduk pada penindas yang keji. Aku adalah Imam kalian dan sudah menjadi kewajibanku untuk memberi tahu kalian bahwa kalian telah menyerahkan kemerdekaan pikiran kalian pada cara-cara jahat Yazid. Jika kalian tidak peduli pada Islam, dan tidak takut hari perhitungan, maka setidaknya pedulilah pada karunia Allah yang berharga bagi kalian, yakni kemerdekaan jiwa kalian!

Di samping keserupaan tujuan, hijrah Nabi dan hijrah Sayidina Husein juga memiliki keserupaan dalam pola dan metode. Misalnya, keduanya sama-sama mengutus delegasi untuk memastikan kesiapan warga setempat, melaukan inspeksi lapangan, dan menemui pemimpin suku-suku setempat. Dan tentu bukan suatu kebetulan historis jika elit musuh yang membantai Imam Husein di Karbala tak lain dan tak bukan adalah juga keturunan elit Mekkah yang hendak mengusir, menangkap maupun membunuh Nabi 61 tahun sebelumnya. Allah merekam rencana jahat elit Quraisy ketika itu dalam Surah Al-Anfal ayat 30: “Dan (ingatlah) ketika orang-orang kafir (Quraisy) memikirkan tipu daya terhadapmu (Muhammad) untuk menangkapmu dan memenjarakanmu atau membunuhmu, atau mengusirmu. Mereka membuat tipu daya dan Allah menggagalkan tipu daya itu. Allah adalah sebaik-baik pembalas tipu daya.

Kesimpulannya, yang jelas, siapa saja yang membaca sejarah hijrah Nabi dan gerakan Asyura akan menemukan sekian banyak keserupaan, baik dalam tujuan maupun pola gerakan, aktor-aktor yang terlibat, bahkan genealogi elit yang berhadap-hadapan. Yang berbeda hanya soal waktu dan tempat, tetapi substansi dan alur utamanya serupa. (MK)

Bersambung ke:

Memaknai Revolusi Imam Husein (14): Rahasia Aspek Tempat (1)

Sebelumnya:

Memaknai Revolusi Imam Husein (12): Rahasia Kesucian Gerak (2)

Catatan Kaki:

[1] Ibid.

Leave a Reply

Your email address will not be published.

*