Mozaik Peradaban Islam

Memaknai Revolusi Imam Husein (3): Celah Kebangkitan Oligarki

in Studi Islam

Last updated on September 11th, 2019 09:51 am

“Sejak pembunuhan Umar bin Khattab, oligarki Quraisy menemukan skema ideal untuk membangun lebih jauh friksi kelas Arab dan non-Arab (yang lebih dikenal dengan istilah Ajam), kelas majikan dan budak, partai pemerintah dan partai oposisi, dan berbagai dikotomi lainnya.”

–O–

Photo ilustrasi: shutterstock

Berbeda dengan oligarki yang tumbang akibat suatu revolusi, amnesti Nabi terhadap anasir oligarki Mekkah tidak lantas membalik mindset dan sistem nilai yang menghunjam dalam dada mereka. Alih-alih sepenuhnya melebur dalam sistem nilai dan peradaban Islam yang baru, oligarki Mekkah itu justru bergerak ke arah sebaliknya. Meski di masa hidup Nabi mereka tak pernah menemukan kesempatan, tapi setelah beliau wafat, kekuatan oligarki itu seperti menemukan momentum untuk berkonsolidasi. Hal itu karena peristiwa wafat Nabi sebagaimana digambarkan oleh para ahli sejarah ibarat ledakan dahsyat yang mengguncang jantung umat, lantaran Nabi bagi mereka bukanlah penguasa melainkan ayah yang merawat umat dengan penuh kasih sayang.

Adil Salahi dalam bukunya yang berjudul Muhammad: Man and Prophet menggambarkan prahara itu seperti ini: “Berita tragis itu menyebar dan masyarakat pun gempar. Kaum beriman merasa seluruh kota Madinah karam dalam gelombang kegelapan. Seperti anak kecil yang kehilangan orangtuanya, mereka tidak tahu apa yang harus dilakukan. Walaupun Nabi sering mengulang-ulang petunjuk mengenai kematian yang akan datang dan kenyataan bahwa Al Qur’an menyebutkan keniscayaan itu secara jelas, namun bagi para sahabatnya, kepergian beliau tetaplah sesuatu yang tidak bisa mereka bayangkan atau gambarkan. Beliau hidup di tengah mereka sebagai orang yang lebih dicintai daripada jiwa mereka sendiri. Beliau adalah matahari bagi kehidupan mereka. Kematiannya berarti mereka akan menjalani kehidupan yang penuh kegelapan. Kehilangan Nabi bagi mereka berarti seperti kehampaan yang tidak akan bisa diisi kembali. Inilah kejadian yang tidak bisa mereka bayangkan atau sukar mereka pahami. Di antara mereka ada yang secara fisik lumpuh tidak berdaya, yang lain menjadi hilang pegangan, dan yang lain lagi terus membuat pernyataan yang tidak bisa mereka pahami dengan baik.”[1]

Bayangkan seorang sahabat senior yang telah lama memeluk Islam dan mengenal Nabi seperti Umar bin Khattab saja digambarkan oleh para ahli sejarah seperti kehilangan orientasi saat mendengar kabar itu. Dia tidak bisa membuat keputusan yang benar. Dia berdiri untuk berkata di hadapan semua orang dengan mengatakan seperti ini: “Orang-orang munafik menduga keras tanpa bukti bahwa Rasulullah telah mati. Beliau belum mati. Beliau telah pergi ke Tuhannya seperti yang pernah dilakukan Musa sebelumnya dan beliau pergi dari kaumnya selama 40 malam. Kemudian beliau kembali lagi setelah semua orang menyangka beliau telah mati. Aku bersumpah bahwa Rasulullah (salam baginya) akan kembali dan memotong tangan dan kaki mereka yang mengatakan bahwa beliau telah mati.”

Bila sahabat senior yang kelak menjadi khalifah kedua saja bisa mengalami keanehan dan kebingungan seperti itu, apa lagi kebanyakan anggota umat lainnya. Hampir seluruh sahabat senior itu seperti tak pernah membaca ayat ini: “Muhammad tidak lain hanyalah seorang Rasul, sungguh telah berlalu sebelumnya beberapa rasul. Apakah jika dia wafat atau dibunuh kalian berbalik ke belakang (murtad)? Barang siapa yang berbalik ke belakang, maka dia tidak mendatangkan mudharat kepada Allah sedikitpun; dan Allah akan memberi balasan kepada orang-orang yang bersyukur.”[2] Maka ketika ayat itu diperdengarkan oleh Abu Bakar, kebanyakan mereka seperti merasa tak pernah mendengar sebelumnya padahal sudah pasti kebanyakan mereka telah mendengarnya dari lisan suci Rasul.

Sebagian sahabat, seperti yang tercatat dalam kitab-kitab sejarah, berupaya ingin segera mengisi kekosongan spiritual dan moral itu dengan mempercepat suksesi. Tapi mereka tidak menemukan kata sepakat tentang cara dan orang yang akan mengisinya. Di saat seperti itulah, oligarki lama melihat celah untuk menusuk masuk ke jantung Islam. Di Saqifah Bani Saidah, mereka mulai menebar racun, yakni memanfaatkan adanya perbedaan kelas, yang dimulai dengan kelas Muhajirin dan Anshar. Meski pada akhirnya sebagian sahabat bersepakat memilih satu nama, yakni Khalifah Sayidina Abu Bakar, tapi isu kelas itu menemukan jalannya ke dalam cara berpikir umat yang sudah dideklarasikan Nabi di hari Pembebasan Mekkah sebagai umat yang setara.

Ketika Khulafah Rasyidin kedua Sayidina Umar bin Khattab ditikam seorang bernama Piruz Nahavandi atau yang lebih dikenal dengan julukan Abu Lu’luah yang non-Arab—cara pandang dikotomis dan diskriminatif yang telah dihembuskan di tengah kaum Muslimin itupun menemukan titik ledaknya, yaitu dalam bentuk konsolidasi ashobiyah kesukuan dan partisan. Sosok Khalifah Umar yang di dalam dirinya terhimpun segenap keunggulan; yaitu sebagai orang Arab, sahabat utama, kaum Muhajirin, dan yang terpenting beliau adalah seorang khalifah, dikontraskan dengan sosok Abu Lu’luah, yang non-Arab, bekas jenderal Persia yang kalah perang dan dijadikan budak serta buruh oleh Al-Mughirah ibn Syuʿbah di Madinah.[3]

Sejumlah peneliti sejarah mencurigai peran Al-Mughirah ibn Syuʿbah yang dikenal luas sebagai satu dari empat ahli taktik Arab (Duhat Al-‘Arab) di era Jahiliah di balik skenario pembunuhan Khalifah kedua. Di antara yang tegas menyatakan kecurigaan itu adalah Syaikh Abdullah Al-‘Alayili[4] dalam kitabnya, Al-Imam Al-Husein. Menurutnya, al-Mughirah adalah elit partisan lama yang kehilangan status sosial dan politiknya dengan merebaknya dakwah Islam. Ambisinya tak lain adalah bagaimana mengguncang situasi dan memecah barisan umat agar orang seperti dia dan partai berkuasa lama dapat kembali meraih posisi. Itulah mengapa, kata Syaikh Al-‘Alayili, orang harus mencurigai alasan Al-Mughirah membawa Abu Lu’luah ke Madinah dan memperkerjakannya sebagai pandai besi, padahal Khalifah kedua telah tegas melarangnya. Baginya, pembunuhan Khalifah kedua itu bukanlah skenario jenderal non-Arab yang telah dikalahkan melainkan skenario elit lama yang ingin kembali memulihkan partai dan oligarki lama di tengah umat.[5]

Sejak itu, oligarki Quraisy menemukan skema ideal untuk membangun lebih jauh kelas Arab dan non-Arab (yang lebih dikenal dengan istilah Ajam), kelas majikan dan budak, partai pemerintah dan partai oposisi, dan berbagai dikotomi lainnya. Dengan luasnya wilayah penaklukan di masa kekhalifahan Sayidina Umar yang membentang mulai dari Syam hingga Yerusalem sampai Afrika Utara dan Persia, elit partisan lama memerlukan isu untuk mengukuhkan superioritas bangsa Arab dalam rangka melakukan konsolidasi, kontrol, dan dominasi. Dengan menunggangi sistem nilai inilah, kelompok yang semula memeluk Islam karena terpaksa itu berupaya memperkuat posisinya sebagai partai berkuasa. (MK)

Bersambung ke:

Memaknai Revolusi Imam Husein (4): Puncak Perlawanan Kaum Oligarki Lama

Sebelumnya:

Memaknai Revolusi Imam Husein (2): Oligarki Jahiliah Vs Egalitarianisme Islam

Catatan Kaki:

[1] Adil Salahi, Muhammad: Man and Prophet, bab terakhir, edisi revisi 18 Maret 2010, Islamic Foundation, Markfield, United Kingdom.

[2]  (QS 3:144).

[3] Dalam kitabnya yang terkenal mengenai geneologi suku-suku Arab, Ansab Al-Asyraf, Al-Baladzuri menyebutkan bahwa al-Mughira pernah berkata mengenai Sayidina Ali demikian, “Demi Allah, terkutuklan fulan bin fulan (maksudnya Ali) lantaran melanggar apa yang ada dalam Kitab-Mu dan meninggalkan sunah Nabi-Mu, memecah persatuan, menumpahkan darah, dan terbunuh sebagai penindas.” Rujuk Al-Baladzuri, Ansab Al-Asyraf, juz 13, entri Bani Amr bin Tamim dan Banu Tsaqif, cetakan pertama 1417 H, Dar Al-Fikr, Beirut. Kutipan yang sama dapat dibaca pada entri Wikipedia, merujuk pada karya Alfred Felix Landon Beeston (1983). Arabic Literature to the End of the Umayyad Period, Cambridge University Press. p. 146. Retrieved 2018-09-06.

[4] Untuk mengenal sosok ulama ahli bahasa dan sejarah ini, rujuk tautan Wikipedia berikut ini:  https://ar.wikipedia.org/wiki/عبد_الله_العلايلي

[5] Abdullah Al-‘Alayili, Al-Imam Al-Husein, hal. 31, cetakan 1986, Dar Maktabah Al-Tarbiyah, Beirut.

Leave a Reply

Your email address will not be published.

*